
Kelam yang menghantui menjadikan diri berusaha untuk berubah lebih baik. Kepelikan dalam hidup mengantarkan pada titik kebenaran. Setiap kejadian yang terdapat ditiap episode tidak luput dari rencana Tuhan. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Setiap orang bersinar di waktu dan tempat yang tepat. Sama seperti matahari dan bulan. Kala bulan hadir di siang hari maka sinarnya tidak akan terlihat, begitu pula sebaliknya. Karena bulan akan menampilkan cahaya indahnya di malam yang gelap. Meskipun berada dalam pekatnya cakrawala, jika berada di tempat yang tepat bulan akan terlihat terang benderang.
Begitu pula jika menemukan orang yang tepat, bagaimanapun kondisi pasangan seseorang akan menerima dan menganggap hal itu terindah. Namun, jika bersama orang yang salah maka kelebihan apa pun dalam diri akan nampak kurang.
Azam, sebagai seorang suami yang dianugerahi dua orang istri tidak pernah melihat kelebihan dalam diri Alina. Ia hanya memberikan luka dan luka sampai membuatnya pergi dan kini menyisakan penesalan yang sudah tiada guna.
Namun, selagi masih ada jalan Azam ingin mempertahankan rumah tangganya bersama Alina meskipun harus berjuang sekuat tenaga.
Sudah hampir satu bulan kehidupan tenang Alina diusik oleh keberadaan sang suami. Sebagai seorang istri yang masih sah dari pernikahannya mau tidak mau ia harus berperan dengan baik. Senyum pun mengembang di wajah tampan Azam, setidaknya istri kedua masih menganggapnya suami.
"Ini terakhir kali aku mau memasak untuk Mas." Kata Alina seraya menaruh sepiring nasi goreng ke atas meja pengunjung.
Azam mendongak tersenyum hangat menatap air muka sang istri yang kesal. Alina memutar bola mata jengah dan hendak pergi dari hadapannya. Namun, sebelum itu terjadi Azam lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya pelan membuat sang empunya kembali menoleh.
"Temani aku makan, yah?" pinta Azam dengan sorot mata mengiba seperti seekor kuncing yang minta dipungut.
Alina menghela napas lelah dan duduk di hadapannya seraya melipat tangan di depan dada. Tanpa berbicara apa pun ia membuang muka tidak mau bersitatap dengan sang suami. Hal tersebut sudah cukup bagi Azam jika istrinya masih peduli dan menganggap keberadaannya.
"Eum, masakanmu sangat enak tidak berubah sama sekali. Terima kasih sudah membuatkannya untukku." Oceh Azam di tengah-tengah menikmati makanannya.
Alina hanya menoleh sekilas tidak ada niatan untuk membalas. Detik demi detik jam terus bergerak tanpa mempedulikan apa pun. Atmosfer di sekitar suami istri tersebut dingin dan berjarak, dalam diam keduanya mencuri-curi pandang memperhatikan satu sama lain.
__ADS_1
Ada perasaan menggelitik dalam dada. Sudah hampir satu bulan ini Azam bersikap baik dan sangat peduli padanya, Alina tidak menyangka jika kini sang suami berubah setelah apa yang terjadi. Penyesalan terkadang selalu datang terlambat.
Alina terkejut kala sang buah hati yang berada dalam perut bergerak sangat aktif akhir-akhir ini. Apa itu karena keberadaan sang ayah? Pikir Alina. Ia cukup memahami jika perkembangan janin dipengaruhi oleh keadaan dirinya dan juga orang sekitar. Ia sadar usia kandungannya saat ini sudah memasuki Sembilan bulan, waktu yang singkat untuk bertemu buah hatinya.
Ketegangan dan kekalutan pun terasa setiap hari menunggu momen mendebarkan. Namun, karena keberadaan Azam hal tersebut tidak terlalu terasa. Seorang ibu hamil seharusnya memang didampingi oleh sang suami.
Tidak lama berselang, Azam pun menyelesaikan sarapan. Ia mendongak mendapati sang istri tengah mengelus perut buncitnya seraya masih menoleh ke samping. Senyum yang entah apa artinya pun timbul menggetarkan perasaan sesak dalam dada.
"Sayang."
Panggilan lembut itu pun membuat Alina menoleh dan mendapati senyum lemah dari suaminya.
"Hanya satu jam, tidak bisakah kita seperti dulu lagi? Aku tahu, aku banyak melakukan kesalahan dan dosa, tapi apa sudah tidak ada kesempatan kedua? Aku sangat menyesal........." Azam menghela napas berat dan menundukan kepala lalu menggeleng sekilas menahan air mata.
"Aku tahu, sudah tidak ada tempat bagiku di hatimu lagi, tapi aku ingin memperbaiki semuanya dan membuatmu merasakan rumah tangga seutuhnya." Azam mendongak melihat wajah dingin Alina, "bisakah?" pintanya kemudian.
Kedua hazelnut Alina melebar sempurna dengan jantung berdegup kencang. Ia tidak menyangka setelah banyak hari yang dilaluinya bersama, baru kali ini mendapati tatapan mengiba dan tulus dari sang suami. Ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya diam dengan pikiran kosong.
Bayangan hari kemarin berputar bagaimana setiap hari Azam selalu datang dengan membawa buket bunga dan membantu mengelola toko kue tanpa mengindahkan pekerjaannya. Hanya akan ada senyum mengembang di celah bibirnya meskipun Alina terus berbuat dingin.
"Bisakah.....bisakah aku menyentuh perutmu? A-aku ingin merasakan tendangan anak kita."
Dengan ragu Alina mengangguk membuatnya langsung beranjak dari duduk dan berjalan ke hadapannya. Pria yang berstatus suaminya itu pun kini berjongkok tepat di depannya. Ia terkejut saat tangan tegap Azam menyentuh permukaan perut dan seketika itu juga bayi yang berada di dalam menendang dengan kencang membuat sang ibu terperangah.
__ADS_1
Alina tercengang melihat air mata tergenang di pelupuk sang suami. Azam buru-buru mengalihkan pandangan tidak ingin sampai cairan bening meluncur bebas di kedua pipi.
"A-aku minta maaf," lirihnya.
Sepersekian detik Azam pun kembali mengelus perut sang istri dan merasakan lagi tendangan demi tendangan sang buah hati. Sesak dalam dada kian menumpuk dan pada akhirnya meledak menimbulkan cairan bening meluncur deras dikedua pipi.
Tubuh tegapnya bergetar kuat membuat pertahanan Alina sedikit goyah dan memandangi Azam lekat. Ia merasakan kening sang suami bertengger di permukaan perut. Air mata merembes mengenai baju yang dikenakannya.
"Aku minta maaf, sudah menyia-nyiakan kalian. Bahkan aku sempat meragukan bayi ini. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal."
Kembali kata maaf meluncur dengan ringan mengantarkan gerakan demi gerakan aktif sang jabang bayi. Alina kembali termenung melihat kesungguhan Azam. Ingatannya pun kembali berputar ke beberapa bulan lalu di mana luka demi luka terus berdatangan menoreh kepedihan dalam dada.
"Ayah minta maaf, nak sempat meragukanmu. Ayah, sadar jika tidak mungkin Mamah melakukan itu. Ayah minta maaf, Sayang."
Azam berceloteh pada bayi dalam kandungan dengan senyum hangat terpendar di wajah tampannya. Ia lalu mengelus pelan perut istrinya memberikan kenyamanan, kecupan ringan pun turut diberikan mengantarkan kebingungan dan juga keharuan dalam diri Alina.
Keristal bening tidak bisa dicegah, buru-buru Alina menghapusnya kasar dan menoleh ke samping. Hormon seorang wanita hamil berubah-ubah, ia merasakan nyaman saat Azam melakukan hal tersebut kepada buah hati mereka. Ia sadar jika dalam masa kehamilan keberadaan sang suami memiliki peran penting untuk perkembangan malaikat kecilnya dan juga dirinya.
"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Baru kali ini aku merasakan kenyamanan seperti ini. Sayang, apa kamu senang bertemu dengan Ayah?" monolognya dalam diam.
Keharuan tidak bisa dibendung dan menimbulkan tangisan tanpa isakan. Saat ini langit tengah tersenyum manis pada mereka. Langit biru yang terbentang luas memberikan kesempatan pada awan untuk berarak dengan tenang.
Semilir angin berhembus mengenyahkan kegundahan dan keresahan. Atmosfer di sekitar terasa hangat membalut pasangan suami istri yang tengah bersama berinteraksi dengan calon buah hati mereka.
__ADS_1