
Hening menyapa sanubari menyisakan harapan yang kian menepi. Mimpi untuk terus bersama mungkin kandas di tengah jalan. Cinta tidak selamanya menebarkan kebahagiaan, kadang kala menyuguhkan kepedihan menghasilkan air mata.
Kepercayaan pupus ketika pengkhianatan terendus penciuman. Ketulusan tandus kala kepelikan berdengung di atas angan yang melambung tinggi.
Tidak percaya diri merundung kepedulian dibalas dengan kebohongan. Dusta menari di atas nestapa, kepedihan menunjukan jika tidak selamanya kebahagiaan itu terus datang.
Sepulang dari kantor sang suami, Alina duduk sendirian di ruang keluarga. Ia terus memikirkan apa yang terjadi di rumah tangganya. Orang ketiga, keempat, hadir tanpa diundang, menjadikannya harus bertahan di segala situasi.
"Apa ini rencana Zara? Jika memang demikian, apa yang sebenarnya dia inginkan? Apa dia masih mencintai mas Azam? Lalu, bagaimana dengan wanita yang mirip mendiang mbak Yasmin itu? Aku harus mencari tahunya sendiri," gumamnya.
"Mamah." Panggilan itu sontak mengejutkan.
Alina menoleh ke samping memandangi putri sambungnya. Ia pun memaksakan senyum memperlihatkan semua baik-baik saja.
"Iya, Sayang?" tanyanya.
Aqeela berjalan mendekat lalu duduk tepat di sebelah sang ibu. Iris jelaganya memandang lekat sosok Alina mencari tahu kebenaran.
"Mamah sudah menangis? Kenapa? Apa ada yang terjadi?" tanyanya beruntun.
Alina mengulas senyum singkat dan merangkul pundak kecilnya.
"Menangis? Tidak, tadi Mamah habis keluar dan terkena asap jadi merah matanya. Sungguh, Mamah baik-baik saja, Sayang," balasnya tenang seraya mengusap kepala Aqeela.
Sang empunya mengangguk singkat kemudian menunduk. "Saat tahu Mamah bukanlah ibu kandungku ... saat itu aku tidak peduli. Karena aku bersyukur bisa mempunyai seorang ibu yang sangat baik seperti, Mamah. Dari kecil hanya Mamah yang ada di sampingku, memperlakukanku layaknya anak kandung. Aku berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan kalian. Aku terus memperhatikan Mamah, karena ... aku tidak ingin melihat Mamah sedih. Termasuk ... oleh ayah. Aku ingin selalu melihat Mamah tersenyum bahagia."
Kata-kata yang terlontar dari mulut kecil Aqeela mengundang air mata. Alina tidak bisa menahan tangis dan langsung memeluknya begitu saja.
Selama kurang lebih delapan tahun lamanya ia sudah menganggap Aqeela seperti anak sendiri. Anak itu tidak salah apa pun dan Alina sangat menyayanginya.
Dari Aqeela masih bayi sampai sekarang perasaannya tidak berubah. Alina beruntung bisa mendapatkan anak sambung sebaik, semandiri, dan sepeka itu.
__ADS_1
Kata terima kasih terus terucap dengan kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya. Alina tidak bisa mengatakan apa pun selain terima kasih.
Saat ini perasaannya begitu campur aduk, di satu sisi ia tidak tega melihat Aqeela tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu. Namun, di sisi lain ia begitu tersiksa kala mengetahui fakta, jika sang suami belum bisa merelakan dan melupakan mendiang istrinya.
Cinta yang terucap bagaikan debu tersapu angin. Tidak berbekas dan tidak meninggalkan apa pun. Semuanya semu hanya mimpi yang ia tinggikan selama tujuh tahun.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menguatkan, Mamah. Kamu yang membuat Mamah bisa bertahan. Mamah sangat menyayangimu, terima kasih karena sudah mengerti dengan keadaan kita," monolognya dalam benak.
"Mamah jangan pernah menangis sendirian, jika ayah melakukan sesuatu yang menyakiti beritahu aku. Aqeela akan selalu ada di samping Mamah terlepas dari apa yang ayah lakukan. Aqeela minta maaf jika ayah menyakiti perasaan Mamah," lanjutnya lagi seakan membaca isi hati ibunya.
Alina terpaku beberapa saat dan kembali mengusap kepalanya lembut. Ia terpana atas pikiran dewasa putri kecilnya dan langsung memeluk tubuh kecil itu hangat.
"Tidak Sayang. Kamu jangan berpikir terlalu jauh, yah. Ayah dan Mamah baik-baik saja, kita akan selalu bersama selamanya. Karena Mamah sangat menyayangimu."
Aqeela pun membalas pelukannya dan turut menangis. Setahun yang lalu ia diberitahu jika Alina bukanlah ibu kandungnya. Waktu itu ia dan sang suami menceritakan kebenarannya mengenai Yasmin. Mereka pikir lebih cepat lebih baik, agar Aqeela mengerti dengan keadaan yang sudah terjadi.
Aqeela sama sekali tidak menangis ataupun terkejut, gadis kecil itu mengulas senyum dan memeluk orang tuanya dan mengatakan, "Meskipun Ibu sudah ada di syurga, tetapi aku merasa tidak kehilangannya. Karena di sini aku memiliki Mamah ... aku sangat menyayangi Mamah."
"Mamah, Kakak, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Raihan yang baru saja pulang.
Alina dan Aqeela melepaskan pelukan lalu memandanginya dengan senyuman.
"Sini, Sayang," titah Alina seraya melebarkan kedua tangan.
Tanpa pikir panjang Raihan pun berlari menerjang tubuh hangat sang ibu dan Alina kembali membawa Aqeela ke dalam pelukan.
Di ruangan itu kehangatan seorang ibu dan dua buah hatinya begitu menebarkan raksi keharmonisan. Alina melupakan rasa sakit yang beberapa saat lalu hinggap di hati. Keberadaan Aqeela dan Raihan menjadi obat mujarab.
Kehadiran mereka sebagai pelepas penat, sakit, pedih, dan perih akan perjalanan rumah tangganya.
...***...
__ADS_1
Malam tercipta mendatangkan kehampaan, hujan kembali datang membasahi tanah gersang. Aroma khas menelisik ke indera penciuman.
Alina lagi-lagi berdiam diri di kamar mendiang Yasmin. Ia berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan keadaan luar.
Kedua tangan melipat di depan dada sambil menggenggam figura foto berukuran sedang. Kepala berhijabnya mendongak menatap langit gelap nan mencekam.
Tidak lama berselang pintu dibuka seseorang. Ia sudah tahu siapa yang mendekatinya, sedari tadi Alina terus menunggu dan menginginkan sebuah penjelasan.
"Wanita itu seorang desainer interior? Em, namanya Yasmin Fauziah, sangat kebetulan sekali. Tidak hanya wajah, tetapi nama mereka juga sama? Beruntung sekali, ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini. Kerinduan yang Mas rasakan selama tujuh tahun pasti terobati," ucap Alina tanpa sekalipun membalikan badan.
Azam terdiam, sorot matanya memandangi punggung ramping sang istri. Ia menyadari ada luka yang berusaha disembunyikannya.
Namun, apa yang dikatakan Alina barusan memang benar adanya. Ia bermain dengan takdirnya sendiri dan menciptakan keruntuhan rumah harmonis yang diinginkan Alina.
"Em ... kamu benar," balas Azam tanpa keraguan.
Seketika itu juga Alina berbalik melihat kedua matanya menyendu. Ia menghela napas dan berusaha tegar menjalani semuanya.
"Alasan Mas tidak memperbolehkanku masuk ke kamar ini ... karena Mas tidak ingin merusak kenangan kalian saat bersama dengan kehadiranku, bukan? Sekarang aku ada di sini, apa yang akan Mas lakukan? Apa Mas akan membawa wanita itu ke sini dan memperlakukannya seperti mendiang mbak Yasmin?" tanya Alina beruntun.
Perlahan Azam menundukan pandangan, kedua tangan mengepal menahan gejolak emosi dalam dada.
Seketika petir menyambar, bersamaan itu Azam mendongak menyaksikan wajah sang istri yang tengah tersenyum.
Di bawah cahaya gemerlap kilatan yang menyambar, wanita yang sudah ia nikahi selama delapan tahun lamanya mengatakan sesuatu tak terduga.
"Itu yang Mas inginkan. Aku tidak peduli jika nantinya Mas berakhir dengan siapa, Zara? Ataukah Yasmin Fauziah, tetapi selama aku masih berada di sini jangan harap kedua wanita itu masuk ke dalam keluarga kita. Aku-" Alina menjeda kalimatnya lalu mengangkat pigura dalam genggaman dan seketika itu juga ia melepaskannya hingga hancur berantakan.
"Seperti itulah gambaran rumah tangga kita jika adanya orang ketiga. Selamat menikmati kegelisahanmu, Mas. Aku akan menunggu dengan tenang dan jangan harap mereka bisa mudah menjatuhkanku."
Alina pun pergi menyisakan kegundahan merundung hatinya. Azam mematung tidak bergerak sedikit pun dan memandangi foto yang tergeletak di sana.
__ADS_1
Itulah foto pernikahannya bersama Alina.