
Langit bertabur bintang membentang begitu luas, indahnya cahaya bulan menemani gelapnya malam. Musik lembut mengalun membersamai pertemuan menegangkan dua insan di balkon gedung.
Manik jelaga Alina masih membulat sempurna tidak percaya tengah berhadapan bersama seseorang penting di negaranya. Ia terkejut dan tidak menyangka jika pria di hadapannya sekarang menjadi salah satu rekan kerja sang suami.
"Hallo, apa kamu tidak apa-apa?"
Lambaian tangan tepat di depan wajah seketika membuat Alina terperangah. Ia sadar dari lamunan seraya menghadap lagi ke depan.
"Eh, tunggu tadi Anda memanggil nama saya. Apa Anda mengenal saya?" tanya balik Alina.
Zaidan pun mengiyakan. "Aku sudah tahu. Sangat menyenangkan melihat perseteruan kalian tadi."
Alina mengangguk beberapa kali hingga tanpa sadar perkataan terakhir Zaidan mengejutkannya lagi. "Eh?" Ia menoleh ke samping kiri melihat bibir menawan tersebut tengah menyunggingkan senyum lebar.
Alina mengerutkan dahinya lagi tidak mengerti, Zaidan mendengus pelan dan memandangi langit malam.
"Selama ini, aku mencari tahu mengenai Tuan Azam. Aku tidak percaya dia memiliki dua istri? Bahkan sejak delapan tahun yang lalu."
Mendengar penjelasan dari mulut pria yang baru dikenalnya, mengundang kecurigaan. Beberapa detik Alina terus memandangi bola mata keabuan sang lawan bicara.
"Astaghfirullah hal adzim," bisiknya pelan sambil menundukan pandangan.
Lagi-lagi Zaidan tersenyum hangat melihat kepolosan serta kemuliaan wanita di sebelahnya. Setelah pertemuannya dengan Alina satu minggu yang lalu, ia memeriksa latar belakang Azam.
Ia pikir jika wanita itu ada hubungannya dengan Azam, rekan kerja yang baru bergabung dengan perusahaannya. Setiap orang yang hendak bekerjasama dengan Zulfan Family, secara diam-diam mereka dicari tahu mengenai asal usulnya.
Namun, hanya satu menarik perhatian Zaidan, yaitu wanita yang ia temui di lobi perusahaan Azam. Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan sosoknya yang begitu rupawan.
Tidak ingin bersentuhan dan langsung menundukan pandangan, membuat ia berpikir wanita tersebut merupakan sosok yang mulia.
Ia yang dibesarkan dalam keluarga penuh aturan dan menjunjung tinggi tatakrama begitu terkekang, dan meskipun dirinya lahir sebagai muslim ajaran tersebut tidak pernah diberikan padanya secara penuh.
Hanya dunia, dunia, dan dunia yang mereka tuju. Hanya kesenangan sementara, sedangkan ketenangan batin tidak ia temukan. Hatinya kosong dan hampa, walaupun bergelimbangan harat Zaidan tidak merasa tenang.
Wanita seperti Alina sudah menarik perhatian. Kesederhanaannya dan ketegarannya yang terpancar dari wajah serta sorot matanya menyadarkan mengenai nilai kehidupan.
"Kamu wanita yang sangat mulia," tutur Zaidan tanpa sadar.
Alina menoleh sekilas dan menatap lurus ke depan lagi. "Salah jika Anda hanya menilai seseorang dari penampilannya saja. Sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari banyaknya kesalahan serta kehilafan. Di sini saya hanya ingin berjuang melawan keadilan, tidak ada manusia yang sempurna. Karena-" Alina menjeda jawabannya dan melangkah mundur ke belakang.
__ADS_1
"Karena kesalahan itu ada untuk diperbaiki."
Alina pun pergi dari hadapannya bersama angin malam menyapu hijab panjangnya. Zaidan terperangah dan terus memandangi sosok itu yang menghilang dalam lautan manusia.
Lengkungan bulan sabit menambah ketampanan, wajah putih bersih tersebut merona tanpa sadar.
"Iya, kamu benar. Karena kesalahan itu ada untuk diperbaiki. Aku harus lebih mengenal lagi kepercayaanku sendiri," gumamnya.
...***...
Azam yang baru saja menyapa tamu undangan bersama Yasmin terpaku kala menyaksikan sang istri tengah menikmati kudapan bersama rekan kerja barunya.
Tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri, ia melihat Alina tertawa riang di tengah-tengah kerumunan orang-orang.
Meja bundar di tengah-tengah itu pun di isi beberapa orang, termasuk Zara di dalamnya. Tanpa pikir panjang ia langsung berjalan ke sana dan mendekati Alina. Yasmin yang melihat itu pun mengepalkan kedua tangan merasa ditinggalkan.
"Wanita itu selalu saja merusak rencanaku," gumamnya.
Azam sudah berdiri tepat di belakang Alina, kedua tangannya mendarat di kedua bahu pasangannya. "Sayang." Panggilan itu pun sontak membuat sang empunya mendongak ke atas mendapati suaminya.
"Mas," jawabnya menyunggingkan senyum.
Azam terdiam beberapa saat dan menerima tangannya. Setelah itu mereka pun duduk tepat di kedua sisi Alina.
"Yasmin? Kenapa kamu berdiri di sana? Ayo sini duduk." Alina melambai padanya menyuruh Yasmin duduk di depan. Tanpa menolak Yasmin pun mengikuti permainan yang sedang Alina mainkan.
Kini di meja itu dipenuhi oleh orang-orang penting. Mereka menikmati hidangan mewah yang sudah disediakan sang tuan rumah.
Diam-diam Azam memperhatian sang istri yang terus berbicara dengan Zaidan seputar pekerjaan. Ia tidak tahu jika wanita yang sudah hidup selama delapan tahu lamanya mengerti mengenai dunia perbisnisan.
"Wah, Tuan Azam, istri Anda sangat luar biasa. Anda pasti bangga mempunyai pendamping hebat seperti, Alina," ungkap Zaidan tiba-tiba.
Alina terperangah mendengarnya, kerlingan mata diberikan membuat ia mengerti. "Tuan bisa saja," timpalnya.
"A-ah, terima kasih. Anda terlalu memuji," balas Azam kemudian.
"Tidak-tidak-tidak, ini bukan sekedar pujian, tetapi, memang kenyataannya begitu. Istri Anda wanita yang istimewa," lanjut Zaidan terus menyanjungnya.
"Anda terlalu memuji Tuan dia hanya ibu rumah tangga biasa," balas Yasmin ikut bergabung.
__ADS_1
"Oh Anda salah Nona, beliau bukan ibu rumah tangga biasa," jawab Zaidan lagi membalas tatapan Yasmin.
"Saya lebih baik menjadi ibu rumah tangga biasa, daripada menjadi luar biasa karena menjadi orang ketiga." Senyum pun melengkung indah di wajah cantik Alina.
Yasmin sadar jika ucapan itu sepenuhnya menyindir dirinya. Sedari tadi ia sudah tahu jika Alina sedang bermain-main. Sejak kedatangannya ke pesta tersebut wanita di hadapannya ini sangat ingin menjatuhkan dan mempermalukannya.
"Apa maksud Anda?" tanya salah satu pria lain di sana.
"Ah, tidak. Saya hanya asal bicara," ujar Alina lalu mengambil minuman hangat di depannya dan meneguknya pelan sambil iris cokelat itu memandangi Yasmin.
"Apa yang sedang dia rencanakan?" benaknya kemudian saat melihat senyuman itu.
"Tuan-tuan, Anda tahu kue ini sebenarnya buatan Nona Alina sendiri. Secara pribadi beliau ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua, karena sudah bekerjasama dengan suaminya, Tuan Azam," timpal Zara semakin menuangkan bensin ke dalam api yang menyala.
"Wah, benarkah? Pantas saja rasanya enak sekali. Selain pintar, ternyata istri Anda sangat pandai memasak. Saya iri kepada Anda, Tuan," tutur Zaidan lagi memandangi Azam yang tengah duduk di sebelah Alina.
Azam hanya menyunggingkan senyum canggung. Ia juga tidak tahu jika Alina menyiapkan hidangan itu seorang diri.
"Seharusnya kamu tidak usah memaksakan diri, Sayang," bisik Azam.
"Kenapa? Aku juga ingin berterima kasih pada mereka," balas Alina sambil menangkup pipi sang suami hangat.
Mellihat keharmonisan tepat di depan matanya, semua orang berteriak kegiarangan. Alina menatap mereka satu persatu dengan tersenyum lebar. Sampai pandangannya terhenti tepat di manik berlensa cokelat Yasmin.
"Sungguh menyenangkan bisa berinteraksi dengan suami sah kita terang-terangan, bukan?"
Di pungkas dengan lengkungan bibir ranumnya, Alina memberikan tatapan nyalang pada Yasmin. Wanita itu hanya diam seraya mengepalkan kedua tangannya lagi dalam pangkuan.
"Wanita ini benar-benar pejuang tangguh," batin Zaidan memandangi sosok di sebelahnya.
"Iya, memang sangat menyenangkan," balas Yasmin kemudian.
"Em, aku peringatkan jangan mau jadi orang ketiga. Karena selain tidak nyaman, tapi juga bisa menjadi gunjingan orang," lanjut Alina lagi.
"Eh, apa maksudnya. Memangnya di sini ada orang ketiga?" tanya salah satu rekan Azam yang lain.
Alina terus tersenyum pada Yasmin tanpa sekalipun mengalihkan pandangan. Azam yang merasakan suasana di sana mulai memanas langsung menarik tangan sang istri.
"Selamat menikamti hidangannya, saya permisi dulu," ucapnya.
__ADS_1
Untuk yang terakhir kali Alina mengedipkan sebelah mata pada Yasmin membuat wanita itu semakin kesal.