Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 216 (Season 3)


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh setelah acara di sekolah berlangsung, membuat dua keluarga itu menjadi satu.


Mereka menggunakan kendaraan milik Zaidan untuk pergi ke suatu tempat. Canda dan tawa berdengung sepanjang jalan, terutama dari kakak beradik itu.


"Bagaimana? Apa Kakak juga terharu melihat penampilanku tadi?" tanya Raihan yang duduk di sebelah Aqeela di jok tengah.


Azam dan Jasmin yang berada paling belakang pun memandanginya. Keduanya tersenyum senang melihat keakraban mereka.


Aqeela yang sedari tadi tengah memandang ke arah luar menoleh pada sang adik. "Hm? Sungguh pertunjukan yang sangat jelek."


"Kakak," kata Jasmin mengingatkan.


"Bohong itu, Kak Aqeela bahkan sampai nangis sesenggukan pada Ibu," lanjut Azam membuat putri pertamanya menatap nyalang dan sang ayah tergelak seketika.


Mendengar itu Raihan mendongak menatap lekat sang kakak seraya menggerakkan kedua alis ke atas dan ke bawah.


"Hm," balas Aqeela mengalihkan pandangan lagi lalu melipat tangan di depan dada.


"Kak Aqeela memang tidak mau mengaku. Seharusnya Kakak bangga punya adik sepertiku, sudah tampan, baik hati, dan yang terpenting-" Raihan mendekatkan diri pada kakak perempuannya. "AKU SANGAT MENYAYANGI KAK AQEELA," teriaknya begitu saja.


"Yaaa! Berisik," balas Aqeela menutup kedua telinga.


Tanpa rasa bersalah Raihan tertawa begitu saja sembari memegang perut yang terasa berdenyut. Ia senang bisa menggoda kakaknya seperti itu.


"Sayang, jangan terus menggoda Kakaknya," timpal Alina menghentikan aksi tawa Raihan.


"Tuh dengerin apa kata Mamah," serobot Aqeela langsung saat mendapatkan pembelaan.


"Iya Mah, Raihan minta maaf," katanya lagi.


Melihat wajah bersalah sang adik, diam-diam Aqeela pun mengembangkan senyum. Ia lalu bersiap dan mencubit gemas kedua pipi Raihan.


Sang empunya pun mengaduh kesakitan. "Sakit Kak, ampun sakit."


"Suruh siapa menggoda Kakak, hm?" Kini giliran Aqeela tertawa melihat wajah melar adik laki-lakinya.


"Sayang, sudah hentikan. Lihat Raihan kesakitan itu," ucap Azam mengingatkan.


Namun, Aqeela tidak mengindahkannya dan semakin menarik pelan pipi Raihan. Ia terus mengaduh kesakitan meminta belas kasih pada kakaknya.

__ADS_1


Tidak melihat tanda-tanda Aqeela hendak melepaskannya, Raihan pun mengangkat sebelah sudut bibir kala selintas ide muncul di kepala.


Raihan merentangkan kedua tangan dan menggelitik perut kakaknya. Aqeela tergelak merasakan geli atas tindakan sang adik.


Melihat kakak beradik itu saling melempar canda, orang tua mereka pun ikut senang dibuatnya. Suasana di dalam mobil menjadi hangat dan juga akrab.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, mereka pun tiba di salah satu tempat makan.


Nuansa asri pegunungan, hijaunya pepohonan, sejuknya udara puncak menambah kenyamanan. Keluarga itu pun memilih salah satu saung dan duduk lesehan di sana.


Mereka langsung memesan makan siang untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Pasangan yang sudah berpisah itu pun nampak akrab satu sama lain dengan keluarga masing-masing.


Namun, meskipun demikian mereka masih dipersatukan oleh anak yang mengikatnya. Mereka pun menjadi keluarga besar dan hidup rukun layaknya tidak ada perseteruan.


"Mah, boleh Qeela gendong adik cantik?" tanya Aqeela mendekati Alina.


"Tentu, Sayang. Ini." Alina menyerahkan Zenia kepada kakak perempuannya. Seketika Zennia tergelak senang berada dalam gendongan Aqeela.


"Wah, adik bayi semakin berat yah. Em, wangi sekali," kata Aqeela mengendus aroma yang menguar dalam tubuh adik sambungnya.


"Karena adik bayi sudah bisa makan sekarang," balas Alina.


"Tentu saja, Sayang."


"Yeee!" Aqeela menciumnya membuat Zenia tertawa lagi.


Tidak lama setelah itu makanan pun datang. Mereka langsung menikmatinya bersama dengan canda tawa, perbincangan hangat terjadi sebagai peneman.


...***...


Senja kembali datang, indahnya lukisan Allah yang satu ini memberikan kenyamanan. Alina salah satu orang dari sekian banyak pencintanya pun tengah menikmati semburat orange di atas langit.


Kedua sudut bibir melengkung sempurna membentuk kurva. Ia menutup mata merasakan kehangatan sang raja siang mulai pulang ke peraduan.


Kesendirian membuat ia merasa damai akan kehidupan yang dijalaninya saat ini. Sudah banyak episode kehidupan yang dilewati mengantarkan kepada kebahagiaan.


Berumah tangga tidak semudah membalikan telapak tangan. Di dalamnya pasti terdapat suatu kebaikan dan terkadang ujian datang sebagai pelengkap.


Hidup dan kehidupan sudah pasti tidak pernah luput dari yang namanya ujian serta cobaan. Allah sebaik-baiknya tempat bergantung dan berserah diri. Sampai Ia pun memberikan balasan dari buah kesabaran.

__ADS_1


Alina sudah memasrahkan semuanya hanya kepada Allah semata. Ia hanya berusaha dan bersabar atas apa yang telah diberikan.


Sampai kebaikan itu mendatangi dan menggantikan kepedihan dengan kesenangan. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah, semuanya pasti mendapatkan balasan.


"Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang sudah Engkau berikan," gumam Alina mengucap syukur.


Ia lalu menatap lurus ke depan di mana tidak jauh dari keberadaannya, kedua buah hati tengah bermain bersama Zaidan.


Selepas menikmati makan siang bersama Azan dan Jasmin, mereka pun berpisah serta pulang kembali ke rumah masing-masing.


Alina saat ini tengah berdiri di balkon yang berada di dekat taman belakang. Ia melihat ketiga orang tercintanya tertawa lepas.


Ia ikut menyunggingkan senyum dengan kebahagiaan mereka. Tidak ada yang lebih berharga baginya saat ini selain bisa bersama keluarga kecilnya.


"Mamah sini," teriak putra pertamanya.


Alina mengangguk dan bergegas mendekat. Mereka pun bermain bersama-sama di bawah langit senja. Aura kehangatan yang memancar dari keluarga itu menjadi saingan kala sore mulai menghilang.


Malam pun datang menggantikan cantiknya senja. Langit berubah menjadi gelap dan bintang satu persatu bermunculan.


Tidak ada yang bisa menggantikan indahnya pemandangan malam. Nuansa yang hanya didapatkan pada waktu-waktu tertentu itu pun menjadi peneman bagi setiap penikmatnya lagi.


Waktu yang sudah dihabiskan di siang hari menjadi pembelajaran berarti. Rasa syukur tidak henti-hentinya tercetus dari bibir menawan pasangan suami istri tersebut.


Pertemuan yang hanya dilakukan dalam waktu dekat mengantarkan mereka pada sebuah penyatuan. Ikatan suci pernikahan membuat hubungan keduanya menjadi lebih serius.


Tidak ada yang lebih serius jika perasaan tidak dilabuhkan pada janji suci di hadapan Allah. Cinta sejati mereka dapatkan setelah ijab kabul berdengung.


Kata-kata cinta terus bergelora dalam dada membentuk suatu kepercayaan satu sama lain. Kasih sayang sebagai penambah kekuatan untuk terus menjalani kehidupan rumah tangga selamanya dan bisa mencapai jannah-Nya.


Cinta yang mereka miliki berlandaskan pada Illahi Rabbi. Baik Alina maupun Zaidan, keduanya sering mengingatkan satu sama lain untuk tidak lupa beribadah kepada Allah semata.


Mereka pun mengajarkan kedua anaknya untuk mengenal Allah lebih dekat. Alina dan Zaidan maupun Azam serta Jasmin terus mengingatkan anak-anak mereka agar senantiasa mencintai Allah.


Keluarga mereka semakin harmonis kala ada cinta Allah di dalamnya. Terkadang dua keluarga itu pun mengadakan pengajian bersama entah itu dikediaman Azam ataupun Zaidan.


Mereka sering mengundang anak-anak yatim piatu serta membagikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.


Kehidupan mereka pun semakin makmur dan bertambah berkah. Mereka percaya jika tujuannya kepada Allah semata, maka Allah akan mempermudah segalanya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2