
Sama seperti sebuah buku, di dalamnya terdapat catatan yang dibuat oleh sang pengarang. Ada kisah runyam, senang, sedih, letih sampai pedih tergambar jelas. Tinta pena menggores kata demi kata untuk melukiskan perasaan seseorang. Jatuh cinta, terluka tersampaikan dengan jelas. Meskipun kadang tidak terlihat oleh pembaca, tapi tersirat penuh makna bagi penulis.
Ada air mata mengiringi setiap kisah yang berlangsung.
Ada senyum kebahagiaan hadir menepikan kekecewaan.
Ada marah yang tersebunyi di balik topeng kepalsuan.
Kesabaran menjadi kunci utama jika apapun yang terjadi harus dihadapi. Tidak ada gunanya mengeluh dan meratapi keadaan. Karena apapun sudah memiliki ketentuannya masing-masing. Sama seperti sebuah perasaan, cinta pada dasarnya akan hadir pada siapa saja tanpa bisa dicegah.
Begitulah yang tengah dirasakan Alina. Dari dulu sampai detik ini perasaannya untuk pria bernama Azam tidak pernah berkurang sedikitpun. Ia sudah hampir menyerah kala tahu jika pria yang dikaguminya sudah menikah dan pergi dari kehidupannya. Namun, takdir kembali mempertemukan hingga mereka dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Alina tidak pernah membayangkan akan menjadi yang kedua. Ia memang mencintai Azam, tapi bukan dengan cara seperti itu untuk bisa bersamanya. Ia lebih baik tidak menikah dengannya jika harus terjebak dalam keadaan rumit seperti sekarang.
Mengemban peran sebagai istri dan ibu di hari pertama menikah sudah menjadi bahan omongan orang. Peran ganda yang harus ia lakoni tidak mudah untuk dilakukan. Terlalu banyak air mata dan kekecewaan mengiringi jalan ceritanya.
Masih sama seperti hari-hari kemarin, dikehamilannya memasuki bulan kelima ia masih sibuk mengurus sang suami dan putri sambungnya, Aqeela. Sarah yang menjadi saksi mata merasa kasihan dan mungkin tidak akan sanggup jika harus berada dalam posisi Alina.
Namun, wanita itu melakukan tugasnya dengan sangat baik. Meskipun berkali-kali terluka, ia tetap memperlihatkan senyum menawannya.
"Mas, hari ini mau ke rumah sakit lagi? Bagaimana keadaan mbak Yasmin? Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Alina beruntun seraya memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya.
Azam memandanginya dalam diam seraya terus memperhatiakan sosok di hadapannya tanpa niatan untuk menjawab pertanyaan sang istri. Merasakan suaminya terus diam, Alina mendongak menatap sorot mata sayu di sana.
__ADS_1
Dahinya seketika mengerut tidak mengerti apa yang tengah dipikirkan Azam.
"Mas, Mas Azam," panggil Alina sedikit keras.
Azam terperanjat dan sadar dari lamunan. "A-ahh yah aku akan ke rumah sakit. Ya-yasmin sudah lebih baik," jawabnya gugup kala mengatakan nama Yasmin. Itu bukan seperti dirinya, pikir Alina.
Senyum pun mengembang di wajah cantik Alina dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Mas pasti sudah tidak sabarkan untuk melihat mbak Yasmin kembali ke rumah? Aku juga sangat menantikannya, semoga bisa kumpul bersama lagi."
Tidak ada kata kita ataupun kami yang terucap dari mulut Alina. Ia sudah pasrah dan menerima keadaan yang tengah ditanggungnya sekarang. karena kata kita atupun kami tidak akan pernah ada dirinya di dalamnya.
Alina cukup tahu diri dengan posisi sekarang. Sudah hampir satu tahun usia pernikahannya dengan Azam, tapi sampai saat ini sang suami tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai seorang istri. Masa-masa indah yang pernah mereka lewati bersama kemarin, mungkin hanya sebagai bonus. Azam melakukannya hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai suami.
"Sudah selesai," ucap Alina, berjalan mundur lalu menunduk membawa bekal makan di atas meja ruang keluarga.
Azam terdiam memandangi kotak bekal itu dalam diam. Alina kembali menautkan kedua alisnya, "Mas, kenapa Mas melamun lagi? Ini ambilah lihat Mas sudah hampir terlambat. Jika sampai Mas terlambat akan berdapak buruk untuk karyawan, bukan?"
Tidak melihat adanya tanda-tanda Azam akan mengambil, Alina pun menyerahkannya dengan paksa. Seketika itu juga Azam kembali sadar dan bergegas mengambil tas kerja. Sebelum berjalan keluar rumah Azam mendekati sang istri lagi dan menyodorkan tangannya.
Alina yang mengerti pun langsung menyalaminya seperti biasa. Tanpa diduga Azam membubuhkan kecupan hangat di dahi lebarnya Alina membuatnya mematung dan membiarkan angin membawa suaminya pergi.
Ia tidak pernah menyangka setelah satu bulan mereka tidak bersinggungan Azam masih melakukan hal yang sama. Seketika degup jantung bertalu tak karuan, ternyata perasaan itu masih menempati hati terdalam.
"Aku harus segera melupakannya," gumam Alina. Ia menghela napas berat dan mengusap perut membuncitnya, "maafkan Mamah, sayang. Mamah tidak bisa mengatakan pada ayahmu jika hari ini jadwalmu konsul. Kamu mau memaafkan mamah, kan?" racaunya menahan pedih dalam dada.
__ADS_1
Sepanjang jalan Azam memikirkan apa yang baru saja terjadi dalam dirinya. Ia tidak percaya Alina masih melakukan hal yang sama seperti biasanya. Ia pikir setelah kata perpisahan terucap maka sang istri kedua akan berubah. Azam tidak menyangka jika pernikahannya dengan Alina akan bertahan 4 bulan lagi. Memikirkan hal tersebut membuatnya diambang kebimbangan, disatu sisi ia tidak mau berpisah dengan Alina. Namun, disisi lain ia juga tidak bisa terus menerus membuatnya terluka.
"Jika akhirnya seperti ini aku tidak akan mau menerima pernikahan ini. Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Hamba tahu perceraian sangat dibenci oleh-Mu, tapi-" ucapannya pun terputus masih memikirkan kemungkinan yang terjadi.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah 2 siang. Selesai melaksanakan kewajibannya Azam berancana untuk pergi ke rumah sakit menemui sang istri, Yasmin. Ia menyerahkan pekerjaan kepada sekertarisnya, Zara. Wanita berusia 27 tahun itu sudah terbiasa dengan beban yang sering diberikan padanya, terutama jika sang atasan tengah menemani istri tercintanya.
"Kenapa aku sampai lupa jika berkas ini harus segera ditanda tangani? Baiklah aku pergi ke rumah sakit saja sekalian menjenguk mbak Yasmin."
Zara bergegas membereskan berkas-berkas yang berserakan dimejanya kemudian beranjak dari sana.
Setibanya di sana Zara segera memarkirkan kendaraan roda empatnya. Baru saja ia hendak membuka pintu pergerakannya terhenti. Ia mengerutkan dahi dalam kala menangkap bayangan wanita berhijab lebar memasuki gedung rumah sakit. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Zara melainkan seseorang yang berjalan berdampingan dengannya.
"Bukankah itu tadi istri kedua bos Azam? Pria itu? Siapa dia? Apa Alina mengidap kanker juga? Ehh tunggu ini bukan rumah sakit khusus kanker." Zara meracau seraya mendongak melihat ke atas bangunan tersebut.
"Kalau begitu aku harus memastikan sesuatu."
Setelah itu Zara keluar dan mengikuti ke mana perginya Alina bersama seseorang yang tidak ia ketahui. Ia berjalan tidak jauh dari keberadaan mereka, rasa penasaran semakin kuat kala senyum mengembang di wajah keduanya menarik perhatian.
Zara bersembunyi di balik tembok kala kedua sosok itu saling berhadapan. Perut buncit Alina kini menjadi antensi terbesarnya. Zara kembali menautkan alis saat melihat instraksi mereka.
"Apa yang sedang diperbuatnya? Apa Alina akan memeriksakan kandungan? Bersama pria itu? Kenapa tidak dengan bos Azam?"
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi kepalanya. Zara tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Ia yang tengah memendam sesuatu mengepalkan kedua tangannya erat.