Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 79 (Season 2)


__ADS_3

Udara dingin terus menyambut kedatangan orang asing di dalam sebuah rumah kecil di tengah-tengah padang rumput.


Sarah dan Angga yang sedari tadi diam serta mendengarkan cerita Jasmin mengenai saudara kembarnya, tidak bisa berkata-kata.


Seseorang bisa saja berubah tergantung bagaimana ia diperlakukan. Baik dan buruk situasi yang pernah dilewati sedikitnya memberikan pengaruh pada mental seseorang.


Yasmin menjadi salah satu korban dari keegoisan orang tuanya. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya salah mereka, jika ditelaah lebih dalam dan menerima semua keadaan bisa berubah ke hal yang baik.


Namun, begitulah sakit hati akan menumbuhkan dendam dalam jiwa seseorang.


"Aku tidak percaya jika kehidupan Yasmin begitu memilukan. Semoga teh Alina bisa kuat menjalaninya," cicit Sarah yang sedari tadi terus mengusap kedua lengannya.


Melihat itu Angga langsung melepaskan mantel dan menyampirkannya pada sang istri. gerakan implusif itu pun mengundang kedua sudut bibir Sarah melengkung membentuk kurva sempurna.


"Terima kasih," ucapnya.


Angga hanya berdehem pelan lalu memasukan kedua tangan ke saku celana dan bersandar kembali pada dinding di belakangnya.


"Tapi kita juga tidak bisa menyalahkan siapa pun, sebab mental seseorang tidaklah sama. Yah, kita hanya bisa berdo'a semoga Alina kuat menghadapinya," ucap Angga membalas ucapan sang istri tadi.


"Em, Mas benar. Aku ingin teh Alina bahagia, tanpa atau tidak dengan tuan Azam," ujarnya lagi.


"Aku juga berharap seperti itu. Azam ... dia adalah sahabatku yang sudah menyianyiakan istri sebaik Alina."


"Itu sebabnya Mas tidak pernah menemuinya lagi, bahkan saat kita menikah pun Mas tidak mengundangnya," ungkap Sarah sambil menoleh pada suaminya.


Angga mengangguk pelan dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Aku bukannya tidak mau melihatnya lagi, hanya saja ... aku masih belum bisa melupakan bagaimana dia pertama kali menyakiti Alina. Aku berpikir jika dia bisa menerima dan mencintainya sebagai pengganti Yasmin. Namun, setelah bertahun-tahun dia masih sama saja, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dia pikirkan?"

__ADS_1


"Dulu saat Alina melarikan diri, karena sudah tidak sanggup bersamanya, Azam datang dan mencari keberadaannya, tetapi ternyata malah disia-siakan lagi," jelasnya menggebu-gebu.


"Mas, sangat menyayangi Alina, yah?" Sarah kembali melebarkan senyum manis.


Angga menoleh menatap ke dalam manik cokelat bening pujaan hatinya. "Sangat ... karena aku seperti melihat ibuku dulu. Bagaimana ibu disia-siakan oleh ayah sampai meninggal. Aku tidak bisa melihat wanita diperlakukan seperti itu. Karena itulah aku tidak bisa meninggalkan Alina begitu saja. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya lagi dan ... aku juga sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Karena berkat keberadaannya aku bisa bertemu denganmu." Ia langsung menggenggam erat tangan sang istri dan menuatkan jari jemari mereka.


Sarah tidak bisa membendung kebahagiaan. Ia pun merasakan hal yang sama, sejak pertemuan pertamanya dengan Alina. Ia tidak pernah menduga jika majikannya mempunyai dua istri, bahkan tinggal satu rumah.


Hari-hari itu tidak akan pernah Sarah lupakan, bagaimana Alina begitu tegar dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya yang harus dibagi. Ia juga menyadari jika Alina mempunyai perasaan yang begitu tulus pada Azam.


"Sekarang aku yakin perasaan itu hanya bisa ia relakan," batin Sarah.


...***...


Alina masih menggenggam hangat tangan Jasmin, istri pertama Azam sesungguhnya. Ia terus melempar senyum dan mengatakan jika Azam masih mencintainya.


"Aku tahu bagaimana perasaan Mbak Jasmin. Mbak ... masih mencintai mas Azam, kan? Kembalilah, aku yakin mas Azam akan sangat senang saat mengetahui Mbak masih hidup," ungkapnya lagi.


Jasmin kembali menggeleng untuk kesekian kalinya. "Tidak, Al. Mas Azam hanya mencintai Yasmin ... dia tidak pernah tahu sosok Jasmin. Aku tidak bisa tiba-tiba saja muncul di hadapannya setelah tujuh tahun menghilang. Biarkanlah Yasmin yang kalian kenal benar-benar meninggal."


"Untuk itu muncullah sebagai Jasmin. Sebagai diri Mbak yang sesungguhnya. Karena selama ini hanya Mbak yang bisa membahagiakannya. Aku memang mencintainya ... sangat mencintainya, tetapi aku tidak bisa memberikan kebahagiaan dan kenyamanan padanya. Yasmin yang sekarang datang pada kehidupannya belum tentu memberikan itu semua. Aku yakin mas Azam masih mengharapkan keberadaan Mbak. Aku-"


"Aku tidak bisa melihatmu menangis lagi, Alina. Aku tahu tujuh tahun yang lalu, kamu selalu menangis melihat kebersamaan kami. Aku minta maaf sudah egois dan menginginkan mas Azam untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa melakukan itu lagi padamu," ucap Jasmin menyesal dan terus menunduk.


Alina tercengang dan diam beberapa saat kala memori tujuh tahun lalu hinggap dalam ingatan. Ia hanya bisa tersenyum simpul kala masa lalu berputar bak film tanpa henti.


Waktu itu ia hanya bisa menahan sakit kala keberadaannya tidak dianggap. Karena bagaimanapun juga Azam terlalu mencintai istri pertamanya, tetapi, ia tidak menyalahkan siapa pun, sebab semua itu sudah menjadi jalan cerita yang telah Allah berikan.

__ADS_1


Namun, sekarang ia sudah tidak sanggup lagi. Meskipun Yasmin sudah tidak ada Azam tetap melabuhkan hati dan perasaannya untuk wanita itu.


Tujuh tahun ia menerima kata-kata dusta yang sering kali Azam lontarkan dan sekarang ia paham munkin sang suami mengharapkan Yasmin kembali. Saat ini Alina sudah berhadapan dengan istri pertamanya lagi dan berharap mereka bisa bersama.


"Aku tidak apa-apa, Mbak. Aku sudah memutuskan jika-" Alina merogoh saku selempangnya dan mengeluarkan surat beramplop cokelat persegi panjang ke hadapan Yasmin. "Aku akan berpisah dengan mas Azam."


Mendengar penuturan tersebut Jasmin kembali menoleh sambil menautkan kedua alis dalam. "A-apa yang kamu katakan? Kamu akan berpisah dengan mas Azam?"


Alina mengangguk sekilas dan memperlihatkan surat tersebut pada Jasmin. "Tekadku sudah bulat. Aku hanya akan mencari momen yang pas untuk memberikan surat ini.


"Tidak Alina ... kamu jangan bercanda. Kamu sangat mencintai mas Azam ... kamu tidak boleh melakukan ini," ucap Jasmin sambil menggeleng-gelengkan kepala dan sesekali melihat amplop di genggamannya.


Alina tersenyum hangat dan mencoba melepaskan tangan Jasmin yang terus menariknya untuk membatalkan niatnya.


Ia pun bangkit dan balik mencengkram pergelangan tangan sang lawan bicara. "Cinta saja tidak bisa membuatku bahagia. Aku ingin menyelamatkan putraku dari hubungan toxic orang tuanya. Karena sama saja jika seorang anak tumbuh di keluarga yang tidak harmonis maka hanya akan menimbulkan rasa sakit di hatinya. Sebelum itu terjadi aku ingin menyelamatkannya. Aku seorang ibu ... jadi bagiku kebahagiaan Raihan yang utama. Mbak juga seorang ibu, aku yakin ... Mbak paham maksudku."


Alina berhasil melepaskan genggaman tangan Jasmin dan meletakan di pangkuannya pelan. Pandangan mereka kembali bertemu, air mata mengalir di wajah cantik pucat itu perlahan. Ia mengulurkan tangan dan menghapusnya pelan.


"Jangan menangis, Mbak harus bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan."


Hening menyapa, Jasmin hanya mampu menatap ke dalam manik jelaga Alina. Sorot mata itu memancarkan ketegaran serta ketegasan seorang ibu.


"Teteh sudah selesai? Sudah saatnya kita pergi," ucap seseorang dari arah pintu masuk.


Keduanya pun menoleh kompak, Alina mengangguk pelan, sedangkan Jasmin mematung tidak percaya.


"Sa-Sarah? Mas Angga?"

__ADS_1


"Apa kabar Nyonya Jasmin?" panggil Sarah pelan dan Angga hanya menyunggingkan senyum hangat.


__ADS_2