
Suasana tiba-tiba hening seketika saat Zaidan menginjakan kaki masuk ke dalam bangunan megah milik sang kakek yang diwariskan kepada orang tuanya. Genggaman tangan semakin kuat membuat Alina mendongak melihat rahang tegas sang suami.
"Mas." Panggil Alina pelan mencoba menyadarkan.
Sedetik kemudian Zaidan terperangah menoleh ke samping melihat istrinya mengerutkan dahi dalam. Seulas senyum terpendar di bibir menawan itu, tanpa mengatakan sepatah kata ia menarik keluarga kecilnya mendekati sang tetua.
"Assalamu'alaikum, Kakek. Apa kabar?" tanya Zaidan basa-basi.
"Wa'alaikumsalam, sangat baik." Suara serak nan dalam menyapa.
Zaidan menyalami tangan sang kakek singkat dan menegakan tubuhnya lagi. Ia lalu melangkah sekali ke belakang memperkenalkan istri beserta anaknya.
"Ini istri dan anakku, Kek," ungkap Zaidan bangga.
Tibalah saat paling mendebarkan bagi orang-orang yang ada di sana. Keluarga dari pihak ayah yang terdiri dari tiga bersaudara tersebut menatap diam momen itu.
Ayah Zaidan merupakan anak pertama, memiliki dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Keluarga adik-adiknya pun turut datang ke kediaman sang kakak pertama guna menyambut kepulangan Dawas Zulfan.
Pria baya berusia tujuh puluhan itu menatap Alina dan Raihan bergantian. Sebelah sudut bibirnya terangkat perlahan membuat wanita berhijab di hadapannya semakin tidak nyaman.
"Assalamu'alaikum, Kek. Saya Alina," kata Alina sambil mengulurkan tangan hendak menyalami pria baya di depannya.
Namun, bukannya membalas, Dawas beranjak dari duduk dan mengambil tongkat berjalan. "Sudah waktunya makan siang," katanya tegas.
Alina yang diperlakan seperti itu hanya bisa diam memandangi tangannya mengambang di udara. Zaidan bergegas mendekat dan merangkul bahunya hangat.
"Mungkin kakek masih lelah, beliau baru sampai tadi malam," katanya menenangkan.
Alina hanya mengangguk patuh dan mengikuti ke mana Zaidan membawanya. Keluarga lain yang melihat itu saling pandang lalu bergegas ke meja makan di mana sang tetua sudah berada di sana.
Dalam diam Raihan memerhatikan reaksi pria tua tersebut. Kedua alis tegasnya saling bertautan kala menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kakek buyut seperti itu?" benaknya.
Keadaan di meja makan begitu canggung dan mendebarkan. Di sana hanya terdengar suara sendok dan garpuh saling bergesekan dengan piring.
Sesekali Zaidan, Moana, dan Farraz memandangi Alina yang sedari tadi hanya diam memandangi makanannya. Perasaan tidak enak merambat ke hati mereka mengingat kejadian tadi, ketiga orang itu takut jika perlakuan Dawas menyinggung.
"Jika orang lain memberimu makan maka hargailah dengan memakannya. Apa kamu tidak diajarkan sopan santun?"
Spontan semua orang menoleh ke ujung meja menatap Dawas tengah menuatkan kedua tangan memandangi wanita satu-satunya berhijab di sana.
Merasa jika semua atensi mengarah padanya, Alina mengangkat kepala dan memandangi mereka bergantian. Ia lalu menoleh ke samping di mana kakek dari sang suami tengah menatapnya lekat.
"Ah, saya minta maaf. Bukannya saya tidak menghargai orang yang sudah memasak makanan ini , tetapi saya-"
"Saya tidak suka alasan apa pun. Jika tidak bisa menghargai kerja keras orang lain, bagaimana kamu bisa menghargai orang lain?" Dawas menyela ucapan Alina.
"Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya-"
"Sudah saya katakan barusan ... saya tidak suka orang yang suka beralasan. Zaidan, kenapa kamu menikahi wanita seperti ini? Apa kamu tidak bisa memilih yang lebih baik?" Dawas memandang ke arah cucunya.
Dawas mendengus menatap mereka. "Apa yang sudah wanita ini lakukan sampai-sampai kamu membangkang perkataan Kakekmu sendiri waktu itu? Apa kamu pikir dengan memilihnya kalian bisa hidup bahagia?"
"Sebagai keluarga Zulfan kita tidak boleh asal memilih pasangan hidup. Kita harus tahu babat, bebet, dan bobotnya terlebih dahulu dan lagi ... dia sudah pernah menikah dan punya anak? Di mana harga dirimu, Zaidan? Kamu seharusnya memilih wanita yang sekelas dengan kita, Kakek dengar dia hanya seorang anak yatim piatu yang besar di panti asuhan?" Dawas berdecih saat memandangi anak berusia delapan tahun tengah duduk di samping istri dari cucunya.
Seketika Alina menutup kedua telinga sang buah hati agar tidak mendengar perbincangan orang dewasa di sekitar.
"Sayang, bisa kamu tunggu Mamah di luar?" pintanya sangat.
"Kenapa Mah?" tanya balik Raihan penasaran.
"Em, nanti Mamah akan mengatakannya padamu."
__ADS_1
Tidak ingin membuat sang ibu cemas, Raihan pun mengangguk dan turun dari kursi meninggalkan meja makan.
"Lihat itu, orang tua sedang bicara dia malah menyuruh anaknya pergi." Sindir Dawas kemudian.
Alina menegakan kepala memandanginya lekat. "Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Tuan Dawas Zulfan dan semua keluarga Zulfan ... saya memang tidak terlahir dari keluarga terpandang maupun terhormat ... tetapi, saya punya harga diri yang tidak bisa dengan mudah direndahkan seperti ini. Saya memang bukan wanita yang terpelajar, tetapi saya tahu bagaimana harus menghormati orang lain. Saya memang tidak punya gelar hebat, tetapi saya mengerti apa yang benar dan apa yang salah. Saya minta maaf jika sudah menikahi cucu Anda."
Alina meletakan serbet di atas meja dan bangkit dari duduk. "Satu lagi ... saya seorang ibu yang tidak bisa membiarkan anak saya mendengarkan pembicaraan orang dewasa yang merendahkan orang lain."
Setelah mengatakan itu Alina mulai melangkahkan kaki, tetapi sebelum benar-benar pergi dari sana langkahnya terhenti saat wanita cantik berambut sepinggang masuk ke dalam.
"Kamu memang tidak tahu malu. Kalangan bawah memang tidak akan pernah bisa masuk ke keluarga kami. Oh Tuhan, Nak Zanna kamu sudah datang?" Dengan wajah sumeringah Dawas menyambut kedatangan seorang wanita bergaun hitam tersebut.
"Iya Kek, aku datang," ucap wanita bernama Zanna lalu berjalan mendekat ke arah mereka.
Dawas memandangi Alina sekilas yang berbalik menyaksikan hal tersebut. "Seperti yang sudah beberapa bulan lalu, Kakek ingin kalian berhubungan kembali. Zaidan kamu harus memenuhi janji kepada tetuanya, jika kamu ... akan bersama Zanna."
Mendengar hal tersebut bola mata Alina melebar sempurna, bak drama dalam serias televisi kejadian tepat di depan mata kepalanya membuat ia mendengus pelan.
"Apa kamu masih ingat foto ini?" Dawas merogoh jas dalamnya mengeluarkan selembar foto yang berisi dua orang pria dewasa masing-masing tengah memangku seorang bayi.
"Ini adalah foto Kakek bersama dengan kakeknya Zanna. Kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian dan menjadi keluarga besar. Sejak kamu berusia delapan belas tahun kalian sudah ditetapkan untuk bersama, bahkan ... kamu sendiri yang mengatakan akan terus menjaga Zanna," jelas Dawas mengingatkan.
"Apa-apaan ini? Foto itu," lirih Alina menatap foto yang tengah diacungkan sang kakek.
"Cukup Kek!" Zaidan bangkit dari duduk sambil menggebrak meja.
"Lihat itu semuanya, Zaidan sudah berani membentak Kakeknya sendiri, dari mana pengaruhnya berasal jika bukan dari wanita-" Dawas menggulirkan bola matanya ke samping di mana Alina masih berdiri tidak jauh dari keberadaan mereka.
Seraya menyeringai dan mengangguk-anggukan kepala Alina kembali melangkahkan kaki dari sana. Zaidan mengusap wajah gusar sambil menatap kakeknya lagi.
"Sudah cukup yah, Kek. Aku sudah menikah dan punya anak ... aku tidak ingin melakukan apa pun yang Kakek suruh. Janji itu hanya antara kakek dan keluarganya saja, aku tidak ada sangkut pautnya. Aku pergi!" Zaidan pun angkat kaki menyisakan kekesalan dalam diri sang kakek.
__ADS_1
"Anak itu," geramnya mengepalkan kedua tangan erat dengan sorot mata tegas nan dalam.
...Bersambung......