Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 33


__ADS_3

Kenangan akan selalu ada dan tersimpan dalam dasar memori ingatan. Sekuat apa pun untuk melupakan, nyatanya akan ada yang tertinggal dan tersisa di sana. Cinta tidak selamanya menyimpan kata "bahagia", terkadang mengandung racun empedu yang sedetik saja bisa menyebarkan kepahitan.


Kehidupan akan terus berjalan dan setiap insan pemilik kisah akan terus berjuang bagaimana pun keadaannya, baik dan buruk sudah menjadi tanggungan. Namun, di balik itu semua terdapat kebaikan yang sudah Allah rencanakan. Kebaikan selepas perginya rasa sakit jauh lebih manis hingga membuat lupa seperti apa pedihnya luka.


Tidak ada yang salah dengan takdir-Nya, meskipun terkadang menyimpan kesedihan dan luka teramat dalam yang tidak diharapkan. Allah sudah mengatakannya sendiri dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 yang artinya :


..."Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguynya bersama kesulitan ada kemudahan."...


Allah ingin menegaskan jika di balik rasa sakit pasti akan selalu ada senyum kebahagiaan. Tidak akan selamanya Allah membiarkan seorang hamba terpuruk dalam kesakitan.


Allah memberikan suatu cobaan, karena Allah tahu hamba-Nya bisa melalui itu semua.


Begitulah yang saat ini tengah Alina pikirkan. Banyak kejadian tidak diharapkan datang silih berganti. Alina tidak pernah berharap menjadi istri kedua dan mengusik rumah tangga pria yang dicintainya. Sebesar apa pun perasaan yang dimiliki Alina, kala mengetahui Azam telah menikah maka ia berusaha untuk menghilangkan itu semua. Karena ia tidak ingin mengganggu ketenangan rumah tangga mereka.


Perasaan itu akan ia kubur sedalam-dalamnya, tapi pada kenyataannya takdir berkata lain. Ia harus menikah serta membina rumah tangga bersama Azam dan menjadi ibu sambung untuk Aqeela.


Jauh dari harapan dan khayalan. Peran ganda harus diembannya dalam satu waktu.


Air mata sudah berkali-kali jatuh kala teringat lagi hari-hari kemarin. Sudah tidak tersisa episode menyenangkan yang pernah ia lalui dan bagi bersama dengan sang suami. Semua itu dikalahkan oleh kepedihan dan kesalahpahaman. Perlakuan Azam sudah menutup mata hati Alina untuk segalanya. Ia tidak punya kepercayaan diri untuk menjelaskan, karena kekecewaan sudah lebih mendahului benak sang suami. Ia pergi untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Assalamu'alaikum, sayang. Bagaimana keadaanmu di dalam perut, Mamah? Semoga selalu baik. Kita akan selalu kuat bersama, yah. Meskipun tidak ada ayah, Mamah akan berjuang sekuat tenaga untuk kebahagiaan kita." Celoteh Alina seraya mengelus pelan perut membuncitnya.

__ADS_1


Kedua iris kecoklatan menatap ke depan di mana jendela besar di hadapannya menampilkan taman depan rumah. Di sana ditumbuhi berbagai jenis tanaman membuat pandangannya terasa sejuk seketika.


Alina duduk seorang diri di sana serta teringat kembali apa yang sudah terjadi beberapa bulan ke belakang. Seula senyum terpendar di wajah cantiknya kala merasakan tendangan sang malaikat kecil di dalam perut.


Ia sudah bertekad akan menutup buku kelam dan membuka lembaran baru dengan catatan mendebarkan sebagai gantinya. Ia hanya wanita biasa yang bisa merasakan sakit dan terluka.


Sudah satu bulan berlalu, waktu berputar begitu cepat mengikis hari demi hari yang terus berubah. Tidak terasa kandungan Alina menginjak tujuh bulan. Bukan hal yang mudah ketika ia tengah berbadan dua kejadian demi kejadian menyakitkan terus berdatangan. Selama itu pula ia terus berjuang seorang diri untuk memperbaiki fisik dan mentalnya demi kebaikan calon buah hati.


Ia pikir jika dirinya hamil sikap Azam akan terus berubah menjadi lebih baik. Namun, pada kenyataannya hal manis itu hanya terjadi di awal dan berakhir malah sebaliknya. Azam semakin kejam dan tidak berperasaan.


Menyerah bukan menjadi pilihan Alina saat ini, ia hanya pergi untuk menyelamatkan hati dan buah hatinya. Sebagai seorang ibu baru, ia harus melakukan yang terbaik. Ada kehidupan lain dalam dirinya yang harus ia beri perhatian lebih. Calon buah hati, jantung kehidupan, jiwa raga seorang ibu yang tidak ternilai oleh apa pun. Ia akan tutup mata seolah tidak ada yang terjadi dan menyembunyikan tangisan di balik senyum baik-baik saja.


"Aku percaya di balik ini semua Allah tengah menyiapkan sesuatu yang terbaik. Aku tidak pernah menyesali pernikahan ini. Karena bagaimanapun akan ada kejutan tidak terduga di dalamnya. Salah satunya kamu, sayang." Oceh Alina tersenyum lebar seraya menunduk melihat perut besarnya. "Mamah kuat, karena adanya kamu, nak," lanjut Alina.


"Apa yang kamu lakukan? Memandangi awan mendung?"


Pertanyaan dari seseorang mengejutkan. Alina menoleh ke belakang mendapati lengkungan bulan sabit hadir di wajah tampan di sana.


"Mas Angga? Kamu datang lagi?"


Angga, dokter muda sekaligus sahabat sang suami datang lalu berdiri sedikit jauh dari keberadaan Alina.

__ADS_1


Hening menyapa, hanya detikan jam dinding mengalun menjadi penengah. Dalam diam Angga terus memperhatikan Alina yang masih nyaman membungkam mulut ranumnya. Ia menghela napas pelan dan mengikutinya memandang ke depan dengan kedua tangan berada dalam saku celana.


"Sudah satu bulan, apa yang akan kamu lakukan?"


Lama Alina tidak menyahuti perkataan Angga membuatnya harap-harap cemas.


"Toko kuemu sedang berjalan sekarang, lalu bagaimana dengan suamimu, Azam. Aku lihat dia seperti depresi saat kamu per-"


"Bisa kita tidak membahasnya sekarang? Aku harap mulai hari ini kamu tidak usah menyebut namanya lagi." Balas Alina cepat lalu beranjak dari duduk, "karena aku tidak ingin tahu apa pun tentangnya."


Setelah mengatakan itu Alina melangkahkan kaki menuju kamar, sebelum mencapai pintu ia menolehkan kepala ke samping dengan tatapan mengarah ke bawah.


"Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu sudah memberikan bantuan. Jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, silakan pergi. Aku tidak ingin ada fitnah."


Alina pun benar-benar menghilang dalam pandangan Angga. Seketika ia terdiam, mematung bak bongkahan es kala tidak menyangka reaksi Alina saat nama Azam disebut berubah drastis.


"Seberapa besar rasa sakit yang kamu torehkan, Zam? Sampai membuat Alina enggan mengetahui keadaanmu sekarang. Apa yang akan kamu lakukan jika tahu istri keduamu seperti ini? Semoga Alina bisa menemukan kebahagiaannya juga." Gumam Angga seraya terus memperhatikan pintu jati tidak jauh dari keberadaannya. Setelah itu ia pun angkat kaki dari sana membiarkan Alina kembali sendirian.


Sedangkan di dalam kamar, Alina memandang cincin pernikahannya di atas meja rias dengan lekat. Sorot matanya berbicara mengenai perasaan terdalam.


Sudah banyak momen yang ia lewati bersama Azam, tetapi lebih baik lagi air mata yang dikelurkan. Alina berpikir jika sudah cukup berada dalam hubungan yang tidak menentu, ia kembali merelakan sang suami untuk terus bersama istri pertamanya.

__ADS_1


"Karena dari awal keberadaanku tidak ada di antara mereka. Aku juga tidak akan menyebut ini sebuah kesalahan." Lirih Alina lalu memasukan cincin tersebut ke dalam laci.


Setidaknya ia ingin bahagia, meskipun tidak bersama pria yang dicintainya.


__ADS_2