Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 48


__ADS_3

Tidak percaya menjadi teman setia kala fakta mengejutkan datang menerjang. Setelah beberapa saat hanya ada isak tangis membayang, kini di ruang inap tersebut keheningan menyapa cepat. Alina terus menunduk berusaha meredakan kepedihan, ia tidak menyangka sudah kehilangan sosok yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri.


Yasmin pergi bukan untuk kembali, tetapi ia sudah pulang selamanya. Sekarang yang tersisa hanyalah cerita miliknya sendiri. Seketika ingatan tentang sang suami pun menyadarkan, Alina menoleh cepat ke arah Angga yang tengah terdiam di sampingnya.


"Bawa aku ... bawa aku menemui Mas Azam," pintanya lalu menyibakan selimut rumah sakit.


Kedua kakinya menggantung di atas ranjang kala Angga menghadangnya. Alina pun mendongak menatap manik sembab dokter muda tersebut. Sorot mata penuh harap kini tengah memandanginya membuat pria itu mengalihkan pandangan.


"Ma-mas Angga, aku mohon bantu aku menemui Mas Azam," katanya lagi sangat.


"Tapi kamu belum sembuh Alina. Kamu juga baru sadar dan belum pulih sepenuhnya," jawab Angga kembali menatapnya.


Alina menggelengkan kepala sekilas, "Aku tidak peduli ... aku hanya ingin bertemu dengan mas Azam, sekarang juga!" tegasnya mengantarkan lengkungan bulan sabit merekah di wajah tampan Angga. Melihat hal itu kedua alis Alina pun saling bertautan.


"Ke-kenapa Mas Angga tersenyum? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanyanya lagi.


Angga menggeleng singkat masih kukuh menampilkan senyum manis membuat pipinya membulat sempurna. "Tidak, aku hanya baru sadar jika ... kamu sangat mencintai Azam?"


Alina tercengang seketika, maniknya melebar dengan bibir pucat sedikit terbuka. Ia lalu memalingkan wajah yang dihiasi rona merah. Ia menjadi gugup seketika kala mendengar kata-kata cinta tercetus dari mulut sahabat sang suami.

__ADS_1


"Kamu masih mencintai Azam, kan?"


"A-apa yang ka-kamu katakan aku ... aku tidak mengerti," gugup Alina.


Angga menghela napas pelan dan duduk di kursi samping ranjang. Iris moccanya masih setia memandangi lawan bicara. Ia lega melihat dan menjadi saksi atas perjalanan kedua insan tersebut. Cinta yang melekat dalam diri keduanya tidak bisa diputuskan begitu saja, janji suci di hadapan Tuhan pun tidak sembarang diingkari.


Keheningan menyambut keduanya, Angga tidak mengakatakan apa pun lagi dan membiarkan Alina terbuai dengan lamunannya. Ia memberikan kesempatan untuknya berpikir dan merasakan perasaan yang tersimpan dalam lubuk hati. Tidak lama kemudian Alina pun kembali bersuara.


"Mencintainya menjadi bagian terindah dalam hidupku. Bertemu dengannya tidak pernah kusesali sama sekali. Dia seperti hadiah istimewa yang sudah Allah kirimkan untukku. Bersamanya menjadi mimpi yang sangat ingin kuraih. Berada di sampingnya merupakan harapan yang sudah lama aku idamkan. Aku pikir semua itu tidak bisa terjadi, karena kami terpisah jarak dan waktu. Namun, Allah punya cara lain mempersatukan kami, aku menjadi istri kedua yang jauh dari bayangan. Berperan ganda sebagai ibu dan istri di hari pertama pernikahan tidak pernah aku pikirkan, tetapi itulah yang harus aku jalani. Aku mencintainya ... sungguh mencintainya. Perasaan ini tidak mudah dilupakan begitu saja."


Kata demi kata yang terlontar dari bibir mungil Alina bergema dalam ruangan. Cairan bening pun kembali terus berjatuhan. Ia menjadi seorang wanita yang sudah mencintai Azam selama bertahun-tahun. Memendam perasaan dalam diam dari masa remaja hingga dewasa bukan perkara mudah, Alina pun sempat untuk melupakannya dan membiasakan diri hidup tanpa bayang-bayang Azam.


Namun, takdir kembali mempertemukan dan bukan hanya itu mereka pun pada akhirnya dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Berumah tangga bersama seseorang yang ia cintai dari dulu menjadi keinginan terbesar, tetapi menjadi istri kedua jauh dari pengharapan. Alina hanya bisa menerima jalan cerita yang sudah Allah berikan dan berharap semuanya menjadi lebih baik.


Kedua belah sudut bibir Angga melengkung sempurna, tatapan itu pun tidak lepas darinya. Ia melihat ketulusan dan keikhlasan yang tersimpan apik di sana. Selama ini Alina pandai menyembunyikan perasaan hingga yang terlihat hanyalah kekecewaan.


"Ternyata kamu sangat mencintai Azam, aku senang mendengarnya," balasnya dan hanya mendapati anggukan ringan dari Alina. "Jadi, apa kamu siap bertemu dengannya lagi?" lanjut Angga membuat wanita itu mendongak dan menatapnya lagi dengan berurai air mata.


"Be-benarkah? Benarkah Mas mau membawaku menemui mas Azam?" tanya Alina, Angga mengangguk yakin dan membuatnya tersenyum.

__ADS_1


...***...


Hening, sepi dan kosong menjadi teman setia yang melingkupi perasaan Azam saat ini. Di rumah megah itu hanya ada ia seorang diri yang sudah kehilangan istri pertamanya. Banyak kenangan yang mereka lewati bersama dan menikmati waktu mendebarkan berdua. Kejadian itu seperti baru terjadi kemarin sore, tetapi kini sosok yang dicintainya tidak bisa dilihat lagi.


Setetes liquid bening mengalir menemani kesendirian. Azam yang tengah duduk di sofa ruang keluarga hanya bisa memandangi potret tak bernyawa dalam album foto. Yasmin yang tengah tersenyum seketika menusuk sanubari. Cinta yang begitu kuat tidak mudah dilupakan begitu saja, terlebih sudah bertahun-tahun keduanya bersama.


Lembar demi lembar foto tertangkap pandangan sampai pada bagian terakhir Azam kembali termangu. Cairan di dalam mata semakin merembes keluar dan mengalir menganak bagaikan sungai. Dalam diam ia menangis merasa sesak dalam dada. Bibir pucatnya terkatup mencoba meredakan isakan, tetapi sekuat apa pun ditahan akhirnya terlontar juga.


Dalam ruangan itu hanya ada suara tangisan Azam yang bergema. Potret pernikahan kedua yang tengah ia pandangi menamparnya kuat pada kenyataan. Jika kini masih ada satu sosok wanita yang sangat dicintainya. Namun, keadaan menyakitkan harus datang ia tidak tahu bagaimana keadaan Alina saat ini. Ketakutan pun mengukungnya cepat dengan pikiran negatif hinggap dalam kepalanya.


"Alina ... Sayang," panggilnya lirih.


Kesepian makin kian menjadi ia rasakan. Ia pikir dua wanita yang dicintainya kini benar-benar sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Namun, pada kenyataannya tanpa ia sadari beberapa menit lalu sosok Alina sudah berdiri tepat di belakangnya.


Ia ikut menangis kala merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang sangat dicintai. Ia juga sangat terpukul saat mengetahui Yasmin sudah meninggal. Rasa sakit itu mengingatkan ia pada mendiang orang tuanya.


Memang tidak mudah melepaskan orang tercinta pergi untuk selamanya, tetapi belajar ikhlas jauh lebih baik. Karena Allah tahu mana yang terbaik. Alina pun menghapus air matanya pelan dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap punggung rapuh sang suami seraya menguatkan diri pada kenyataan yang ada.


"Mas Azam." Panggilan itu pun menggema menggetarkan jiwa Azam.

__ADS_1


Ia mematung sesaat lalu menoleh ke belakang. Seketika itu juga manik jelaganya semakin melebar. Ia beranjak dari duduk dan berdiri kaku, hanya sofa panjang serta jarak beberapa meter yang kini memisahkan mereka. Azam terdiam dengan air mata kembali mengalir.


Seulas senyum yang terpendar di wajah cantik Alina menenangkan dirinya. Manik yang basah itu pun berbinar tidak percaya melihat istri kedua berada tepat di hadapannya. Kesedihan dan keharuan menyeruak menjadi satu membentuk emosi yang tidak bisa dibendung.


__ADS_2