Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 197 (Season 3)


__ADS_3

Denyut jantung bertalu kencang, Zanna menegang di tempatnya berdiri. Niat untuk memamerkan keberhasilan pada Alina malah berbanding terbalik. Wanita berhijab itu sudah lebih dulu selangkah di depannya.


Alina pun beranjak dari kursi kayu berjalan perlahan mendekati Zanna. Sang pianis masih membungkam mulut dan mengikuti ke mana wanita itu pergi.


Sampai mereka pun berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat. Alina masih mengacungkan beberapa foto dalam genggaman.


"Tepat setelah kamu memberitahuku jika kalian sedang bersama ... aku mencari tahu kebenarannya. Kalian- ah, tidak kamu ... benar-benar menggunakan cara yang luar biasa," kata Alina, "bahkan aku saja tidak kepikiran untuk melakukannya. Keberanianmu patut diapresiasi." Alina melemparkan foto tadi hingga bertebaran di udara.


Ia lalu bertepuk tangan di tengah aksinya. Foto-foto yang ia dapatkan pun berjatuhan di atas lantai. Gambar tersebut memperlihatkan sebuah adegan di mana Zanna tengah bersama seorang pria bertopi di sebuah kafe.


"Ardiansah, seorang video editing yang sudah bekerja di berbagai perusahaan ternama. Ia merupakan seorang ahli di bidangnya dan juga sudah mengedit video jutaan kali. Akurasinya benar-benar akurat, bahkan siapa saja bisa diubahnya menjadi orang lain."


"Berapa uang yang kamu keluarkan untuk merubah orang di video ini menjadi dirimu dan mas Zaidan?"


Alina menayangkan sebuah video dalam tablet yang diperlihatkan pada Zanna. Wanita itu terbelalak dengan mulut menganga sempurna.


Sang lawan memperlihat dua video yang sama dengan pemain berbeda. Zanna semakin menegang tidak percaya.


"Apa yang kamu katakan? Siapa yang meminta bantuan orang lain? Apa kamu tidak percaya apa yang aku lakukan dengan mas Zaidan? Aku sudah mengatakan kebenarannya, jika mas Zaidan memiliki tanda lahir di pinggang sebelah kiri, kan?" tuturnya mencoba dan terus mencoba meyakinkan Alina.


Namun, wanita itu mengulas senyum penuh arti. "Itu memang benar, tetapi tidak bisa menegaskan apa pun yang sebenarnya terjadi. Kalian hanya bersama di pagi hari tanpa melakukan apa-apa, benar?"


"Apa kamu sebegitu naif nya? Bagaimana bisa seorang wanita dan pria di satu kamar dalam keadaan tidak mengenakan pakaian tidak melakukan apa pun? Apa kamu sepolos itu, Alina?" Zanna menyeringai memandang remeh lawan bicaranya.


Alina tidak bergeming ataupun terpancing emosi. Ia berusaha tenang menghadapi wanita yang banyak menggunakan trik seperti ini.


"Jika kalian memang benar melakukannya, aku siap menyerahkan dia untukmu, tetapi ... jika terbukti salah apa yang akan kamu lakukan?" tantang Alina kemudian.


"Aku akan menyerah dan tidak lagi menganggu rumah tangga kalian. Aku-"

__ADS_1


"Pegang kata-katamu itu, Zanna."


Satu lagi saksi datang mengejutkan Zanna. Alina menoleh ke sebelah kiri di mana pintu depan dibuka seseorang.


"Ba-bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanyanya heran.


"Kenapa? Apa kamu terkejut melihat Mas Dimas ada di sini? Apa penjagaan di sana begitu buruk?" tanya Alina sembari melipat tangan di depan dada.


Ingatannya pun berputar saat malam tadi...


Alina, Sarah, dan Angga masih berkutat dengan penelitian. Mereka terus mencari dan mencari kapan dan di mana semula kejadian itu terjadi.


Di tengah kelimpungan yang mendera, Alina hampir menyerah. Karena tidak ada satu pun bukti yang didapatkannya ia berputus asa.


Alina mengusap wajah gusar menutup kedua mata erat menahan emosi yang mendera. Kenyataan menampar keras jika sang suami tengah bersama wanita lain.


Sarah yang berada di sebelah mengusap punggungnya pelan. "Sabar Teh. Ini bukan akhir dari segalanya, kita bisa menemukan buktinya."


Ketiganya pun menoleh ke arah yang sama dan terkejut mendapati pria berkacamata datang dengan keadaan kacau balau.


"Mas Dimas?" Panggil Alina seraya beranjak dari duduk.


Dimas mengatur napasnya yang memburu dan berjalan terseok-seok mencapai kursi di sebelah Angga. Di sana ia mencoba menenangkan diri dengan keringat membanjiri pelipis.


"Apa yang terjadi? Kenapa Mas Dimas datang sendirian? Di mana Mas Zaidan?" tanya Alina lagi.


Dimas pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku kabur dari kota Z. Tadi malam kami dijebak oleh orang-orang di sana."


"Hah? Apa yang Mas katakan?" tanya Sarah kemudian.

__ADS_1


"Semalam aku menghadiri pertemuan dengan kolega bersama tuan muda. Sesampainya di sana kami dijamu dengan baik, mereka juga mengundang Zanna. Dia-"


"Apa bagaimana bisa? Jadi maksudmu ini semua sudah direncanakan?" potong Angga menggebu.


Dimas mengangguk cepat. "Itu benar. Bahkan di tengah-tengah pertemuan yang belum membahas pekerjaan tiba-tiba saja aula di hotel itu di penuhi gas beracun. Belum sempat aku menyelamatkan tuan muda ... di tengah kelimpungan aku ditarik paksa keluar."


"Mulutku dibekap seseorang, setelah itu ... aku diikat di sebuah ruangan yang kemungkinan masih ada di sekitar hotel. Di sana aku melihat Zanna dan presdir Kang tengah memandangiku remeh."


"Mereka mengatakan jika aku tidak boleh ikut campur dengan urusannya. Rupanya presdir Kang sudah lama kenal dengan Zanna. Mereka bekerja sama untuk menjatuhkan tuan muda hingga membuat nama perusahaan hancur."


"Tidak hanya itu saja, Zanna menginginkan tuan muda seutuhnya dan berharap tuan meninggalkan istrinya. Mengetahui niat busuk mereka aku berusaha melepaskan diri dan Alhamdulillah ... aku bisa terbebas dan segera mencari keberadaan tuan muda."


"Saat itu aku melihat tuan muda yang sudah tidak sadarkan diri diseret oleh dua orang pria menuju salah satu kamar. Aku bersembunyi di balik tembok melihat apa yang akan mereka lakukan. Sampai aku melihat Zanna masuk dan ... aku cukup mengerti apa yang selanjutnya terjadi."


"Buru-buru aku mencegah pintu kamar mereka sebelum tertutup. Di sana Zanna terkejut melihat kedatanganku, kami pun sempat adu mulut dan berhasil mengusir wanita itu," ungkap Dimas panjang lebar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Baik Alina, Sarah, dan Angga, mereka tidak percaya jika Dimas serta Zaidan sudah mendapatkan pengalaman buruk di kota orang.


Alina tidak menyangka kepergian sang suami bisa mendatangkan malapetaka lain. Ia juga heran jika ternyata Zanna masih mengikuti pernikahannya. Tanpa ia sadari ada dendam dalam hati wanita itu untuk menghancurkan rumah tangganya.


"Lalu, kenapa dini hari tadi mereka bisa bersama? Aku sempat melakukan video call dengan Zanna," jelas Alina membuat Dimas termenung.


"Mungkin dia masih ingin melakukannya, tetapi percayalah semalam tidak ada yang terjadi," kata Dimas lagi.


"Di mana, kapan, dan tempat apa saja yang sudah kamu datangi? Siapa tahu kita bisa mencari tahu lewat sistem keamanan di sana," ujar Angga kemudian.


Dimas pun mengatakan sedetail mungkin. Secepat kilat Angga dan Sarah langsung mengeksekusi semua tempat yang disebutkan pria berkacamata itu.


Tidak lama berselang Sarah mendapatkan sebuah kafe yang didatangi Zanna. Ia mencari tahu ke mana pianis itu pergi kemarin malam. Ia terus mengikuti Zanna lewat kamera CCTV yang menangkap keberadaannya.

__ADS_1


"Beruntung sistem keamanan kota Z memang tersebar di mana-mana. Kita bisa mudah melihat apa yang dilakukan wanita itu." Sarah menggulirkan laptopnya di tengah-tengah meja membuat ketiga orang lain itu bisa menyaksikannya.


...Bersambung......


__ADS_2