
Bertemu dengannya seperti cuaca, kadang hujan, berangin, panas maupun gersang. Sikapnya yang tidak mudah ditebak mengantarkan kepiluan, kesedihan dan kebahagiaan. Seperti hari ini, langit masih menampilkan awan kelabu di atas sana. Tidak berangin, tapi mengantarkan udara dingin. Tenang, tidak ada satu pun pepohonan yang tersapu angin.
Sama seperti atmosfer yang Alina rasakan sekarang. Ia tengah duduk manis menikmati sarapan bersama sang suami dan juga istri pertamanya, Yasmin. Tidak jauh dari keberadaan mereka, Sarah tengah menggendong Aqeela. Dilihat dari sudut mana pun keluarga tersebut terlihat harmonis. Dua wanita menikahi pria yang sama hidup berdampingan dalam satu rumah.
Namun, tidak ada yang tahu jika masing-masing dari mereka menyimpan luka tak kasat mata. Hanya bisa bertahan, karena semua sudah menjadi suratan takdir dari Allah untuk terus di jalani. Memang sakit dan penuh air mata. Tetapi, keadaan itu terus berlangsung dan menjadi sebuah kebiasaan.
"Hemm, hoek-"
Di tengah-tengah kebersamaan mereka tiba-tiba saja Alina merasa mual. Buru-buru ia pergi dari sana menuju wastafel yang berada dalam kamarnya. Ia tidak mau mengganggu dan akhirnya mengasingkan diri.
Azam menegang di tempat dan mengikuti ke mana istrinya pergi. Yasmin mengulas senyum dan terus menikmati sarapannya.
Tidak lama berselang Azam mendobrak pintu kamar dan bergegas mencari istrinya berada. Di dalam kamar mandi itu Alina terduduk lemas dengan wajah pucat pasi. Kekhawatiran seketika menyeruak dalam dada, Azam pun langsung membopong sang istri dan membaringkannya di tempat tidur.
"Apa yang terjadi Al? Kenapa kamu muntah-muntah?" tanyanya kemudian.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku tiba-tiba merasa pusing dan mual," adunya.
"Mungkin Alina hamil, Mas."
Pernyataan tersebut membuat keduanya menoleh ke samping. Di sana Yasmin tengah berdiri dan menyandar di palang pintu. Senyum lemah hadir menggetarkan nyeri dalam ulu hati Alina. Bagaimana mungkin di situasi yang belum memungkinan dirinya bisa hamil?
"A-aahh tidak mungik Mbak. A-aku mungkin masuk angin saja," kilahnya.
"Mas, lebih baik sekarang bawa Alina ke rumah sakit. Pastikan apa benar Alina hamil atau hanya masuk angin biasa." Titahnya, Azam lalu mengangguk setuju.
Tanpa persetujuan Alina, ia kembali menggendongnya dan membawanya keluar. Alina terkejut bukan main dan takut di waktu bersamaan. Tatapan kedua wanita itu sekilas saling bertemu membuat Alina semakin dirundu sembilu.
"Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Ya Allah bukannya hamba menolak rejeki dari-Mu, tapi-" racaunya dalam benak.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba di rumah sakit pusat. Keduanya tengah harap-harap cemas menunggu hasil dari sang dokter. Alina sungguh takut dan belum siap dengan kemungkinan yang terjadi. Sedari tadi wanita itu terus menunduk dalam duduknya, Azam yang menyadari hal tersebut pun langsung menggenggam tangannya kuat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."
Kata-kata penenang dari sang suami sedikit membuat Alina damai. Senyum lemah pun hadir saat mereka saling bertatapan.
Tidak lama dokter wanita bernama Kinan datang seraya membawa selembar kertas. Senyum lebar nan lembut tersungging di wajah ayunya. Ia pun duduk tepat di depan pasangan suami istri itu membuat keduanya tidak sabar.
"Ba-bagaimana hasilnya, dok?" tanya Alina gugup.
"Alhamdulillah, selamat yah Bu, Anda positif hamil," jawaban sang dokter menegangkan Alina.
Ia diam tidak merespon apapun. Sedangkan Azam melengkungkan kedua sudut bibirnya sempurna. Ia bahagia mendengar berita baik tersebut.
"Ha-hamil dok? Alhamdulillah," balasnya kemudian.
"Benar Pak, usia kandungan istri Anda baru memasuki dua minggu. Karena masih rentan saya akan memberikan resep penguat kandungan, vitamin dan penambah darah. Mohon untuk memperhatikan istri Anda. Karena seorang wanita yang sedang hamil terkadang sangat sensitif, perubahan hormonnya membuat mereka ingin selalu dimanja." Kata sang dokter membuat Azam berkali-kali mengangguk mengiyakan.
Ditengah dokter Kinan menuliskan resep, Alina masih diam mematung dan sedetik kemudain tangan kanannya terangkat lalu mengelus pelan perut ratanya. Azam tersenyum haru melihat sang istri. Ia tahu Alina juga bahagia, tapi ada sesuatu yang mengganggunya.
"Ini resepnya, jangan sampai istri Anda setres. Jaga baik-baik kandungannya."
Setelah itu Azam membawa Alina keluar dengan kebahagiaan yang kian membuncah.
Sepanjang lorong Azam terus mengumbar kata-kata sebagai bentuk rasa syukur atas kehamilan Alina. Wanita itu sesekali menimpalinya dengan senyum lembut dan merasa sedikit malu saat lengan kekar Azam melingkar di pinggangnya.
Perkataan yang tidak henti keluar dari mulut menawan sang suami menjadi musik pengiring setiap langkah kaki menepi. Tidak sengaja irisnya beradu pandagan dengan seorang wanita yang baru saja melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.
Wanita berambut sepundak itu pun berhenti tepat di hadapan keduanya.
"Bos," panggilnya langsung.
Azam pun seketika menggantungkan ucapannya dan memandang ke depan, "Zara? Sedang apa kamu di sini? Apa kamu sedang sakit?" tanya Azam. "Ahh, Sayang wanita ini sekertarisku di kantor."
__ADS_1
Alina lalu tersenyum hangat. "Alina," ucapnya memperkenlakan diri.
"Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya." Lanjutnya seraya menganggukan singkat. "Apa yang Bos lakukan di sini? Apa Nyonya sedang sakit? Beliau terlihat pucat."
"Tidak Nyonya baik-baik saja, beliau sedang mengandung," ungkap Azam begitu saja. ia terlihat bangga dengan kehamilan istri keduanya ini.
"A-ahhh begitu, selamat untuk kalian berdua."
"Terima kasih, kalau begitu kami duluan."
Setelahnya Azam pun kembali menggiring sang istri keluar dari sana. Iris berlensa hitam itu menatap lekat pada kedua insan tersebut yang terus menjauh. Zara mengerutkan dahinya dalam, sesuatu dalam dadanya mencoba memberontak keluar.
"Jadi, dia istri keduamu mas? Bukankah kamu sangat mencintai Yasmin? Apa yang sedang terjadi di sini? Wanita itu mengandung anakmu?" gumamnya.
...***...
Azam dan Alina masih duduk diam di dalam mobil. Sedari tadi Alina terus memainkan jari jemarinya mencoba mengenyahkan kegundahan. Pria itu mengerti apa yang membuat sang istri begitu khawatir dengan keadaannya sekarang. Ia kembali menggenggam tangannya hangat dan berusaha membalikan tubuh Alina untuk menghadapnya.
"Sayang, lihat aku," titahnya.
Dengan berat Alina menoleh dan membalas tatapan sang suami. Ketegasan kembali terlihat membuatnya enggan berlama-lama memberikan perhatian. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku takut, Mas." Cicitnya menunduk menyembunyikan kesedihan.
"Apa yang kamu takutkan, Alina?"
Lama ia tidak menjawab pertanyaan suaminya dan dengan setia Azam menunggu sampai Alina benar-benar siap. Sampai,
"Aku takut menyakiti mbak Yasmin. Aku tahu pernikahan kita hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Da-dan bagaiamana bisa sekarang aku hamil. Aku pasti sudah sangat menyakiti mbak Yasmin. Aku tidak bisa melihatnya menangis kar-"
Belum sempat kata-katanya selesai diucapkan, Azam seketika memeluknya dengan erat. "Jangan berkata seperti itu. Perjanjian di atas kertas batal, aku menariknya kembali. Kamu bukan pengasuh Aqeela atau perawat Yasmin, tapi kamu istriku. Istri yang sekarang sedang mengandung buah hati kita. Kamu tidak pernah menyakiti Yasmin, karena dari awal bukan keinginanmu untuk menikah denganku. Ini takdir yang harus kita jalani, aku bahagia. Sungguh aku tidak berdusta, aku benar-benar bahagia kita akan segera mempunyai anak."
__ADS_1
Kembali ucapan Azam mengantarkan ketenangan dalam batinnya. Alina pun membelas pelukan itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Ia menangis dalam diam dan berusaha untuk menerima kenyataan. Karena bagaimana pun anak adalah rejeki dan anugerah yang sudah Allah berikan padanya.
"Aku tidak akan menyianyiakan anak ini, terima kasih sayang sudah hadir dalam hidup mamah," benaknya. Ia merasakan kebahagiaan tanpa batas.