
Duduk untuk kesekian kali di samping ranjang seorang pasien rumah sakit, Alina terus memanjatkan doa kepada sang pemilik kehidupan untuk menyadarkannya.
Netra bening itu menatap lekat Zanna yang begitu damai tenggelam dalam alam bawah sadar. Layar monitor berbentuk kotak di sebelah pun memperlihatkan denyut jantung sang pianis.
Ruangan berbau disinfektan tersebut sudah hampir satu bulan menjadi teman kesendirian. Di dalam keheningan Alina sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebagai penenang.
Ia berharap Zanna cepat sadar dan segera taubat dari perbuatannya. Tidak ada niatan atau hal apa pun kala Alina terus datang menjenguk.
Ia hanya kasihan dan berpikir jika bukan dirinya siapa lagi yang akan menemani Zanna. Keluarga Zyva masih enggan untuk menemuinya.
Karena selama ini Alina mengetahui alasan mereka tidak menjenguk Zanna di rumah sakit, sebab video syur miliknya sudah tersebar luas di mana-mana.
Banyak warga net yang membicarakannya dan terkadang menjelek-jelekan mereka. keluarga Zyva yang kena imbasnya pun hanya tutup mulut tanpa menggubris perkataan yang kerap kali datang.
Mereka juga terus menyalahkan Zanna dan menganggapnya sebagai sebuah aib keluarga. Mengetahui hal tersebut Alina khawatir dan cemas jika nanti sang pianis sadar lalu menanyakan keberadaan keluarganya, terutama orang tua.
Di tengah kegiatan Alina yang kembali membaca Al Qur'an, ia dikejutkan dengan kedua kelopak di hadapannya terbuka.
Alina menutup kitab tersebut lalu meletakkannya di atas nakas. Ia mencondongkan tubuh ke depan kala iris itu menyipit menyesuaikan cahaya di sekitar.
"Zanna, kamu sudah sadar?" tanyanya semangat. Bola mata cokelat bening itu pun bergulir memandangi wajah berseri Alina.
Tanpa menunggu jawaban Zanna, Alina langsung menghubungi pihak medis. Tidak lama berselang seorang dokter dan perawat pun datang memeriksa keadaannya.
Beberapa saat kemudian dokter bername tag Saputra itu pun menyelesaikan tugasnya. Alina yang sedari tadi berdiam diri tidak jauh dari ranjang pun berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya penasaran sekaligus takut.
"Keadaan beliau sudah stabil, tetapi ... beliau mengalami kelumpuhan ringan. Kedua kakinya tidak bisa digerakkan, lalu ada kebocoran di kepalanya dan sekarang sudah menjadi lebih baik. Juga, butuh beberapa waktu agar pasien bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Karena pasien mengalami koma selama tiga minggu, otot-otot di tubuhnya masih kaku dan butuh banyak perawatan yang harus dilakukan," jelas pria berjas putih itu.
__ADS_1
Alina menutup mulut menganga tidak percaya. Ia terkejut mendengar sendiri seperti apa keadaan Zanna pasca kecelakaan itu terjadi.
Wanita yang tengah berbaring di atas ranjang itu pun terkejut mendengar kondisinya. Ia membelalakkan mata tercengang dan ingin sekali berteriak kencang jika semua ini hanyalah mimpi.
"Begitu yah, Dok. Kira-kira berapa lama untuk pasien benar-benar sembuh total?" tanya Alina kemudian.
"Jika pasien memiliki semangat untuk sembuh dan mengikuti terapi dengan baik, insyaAllah, penyembuhannya akan cepat," balas Dokter Saputra lagi.
Alina hanya mengangguk-anggukan kepala lalu berterima kasih. Setelah itu sang dokter pun berlalu dari ruangan dan menyisakan perawat yang membantu melepaskan alat bantu bernapas di wajah Zanna, lalu menyuruhnya berbicara.
Dalam diam Alina memperhatikan mereka. ia bersyukur saat mengetahui Zanna sudah sadar, tetapi dirinya juga sedih mengenai kondisinya saat ini.
"Ya Allah sembuhkanlah, Zanna. Hanya Engkau maha pemberi kesembuhan," benaknya dalam diam.
...***...
Senja hadir memberikan lukisan yang begitu indah. Ketenangan di sore hari tidak membuat perasaan Alina membaik.
Ia memandangi suaminya yang baru saja turun dari lantai dua. Pandangan mereka saling bertemu dan terdiam beberapa detik.
Sampai Alina pun berlari dan menerjang tubuh atletis Zaidan yang baru saja menginjakan kaki di lantai satu. Dahi yang tertutup surai lembutnya mengerut perlahan merasakan tubuh sang istri bergetar.
"Hei Sayang, apa yang sudah terjadi? Apa ada sesuatu di jalan?" tanya Zaidan khawatir. Alina menggeleng pelan dan semakin memeluk suaminya erat.
"Hari ini Zanna sadar-"
"Benarkah? Alhamdulillah, lalu?" tanya Zaidan memotong ucapannya cepat.
"Iya Mas, Alhamdulillah, tetapi-" Alina menggantung perkataannya. Zaidan dengan sabar menunggu seraya mengusap punggungnya hangat.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kondisinya benar-benar parah?" tanya Zaidan penasaran.
Alina mengangguk sekali dan mencengkram kaos belakang suaminya. Zaidan merasakan firasat buruk dan buru-buru menangkan sang istri.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," katanya menenangkan.
Alina lagi-lagi mengangguk mengiyakan. "Aamiin, aku juga berharap seperti itu. Zanna ... dia mengalami lumpuh sementara. Mas, apa Zanna bisa sembuh?"
Zaidan terkejut mendapati jika wanita yang sedari kecil sudah menjadi temannya itu pun mengalami nasib malang. Namun, tidak akan ada asap jika tidak ada api, apa yang sudah ditanam itu yang akan dituai.
Semua mempunyai balasannya masing-masing sebagaimana roda kehidupan terus berputar. Zaidan tidak bisa membayangkan bagaimana terpuruknya Zanna saat ini, terlebih tidak ada keluarga di sisinya.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, Sayang. Tinggal Zanna nya saja, apa ia mau melewati prosesnya dengan baik atau malah sebaliknya," tutur Zaidan hangat.
"Em, aku mengerti. Aku juga ingin Zanna sembuh seperti sedia kala. Aku tidak bisa melihatnya menanggung beban seberat itu, terlebih tidak ada sanak saudara yang menemani. Bahkan orang tuanya saja tidak mau menjenguknya." Alina menahan pengap dalam dada.
Zaidan melepaskan pelukan mereka dan mencengkram pelan kedua bahu Alina. "Aku bangga memiliki istri sepertimu, Sayang. Kamu begitu peduli pada tangan yang sudah hampir mencelakakan rumah tangga kita. Tidak ada dendam atau kebencian dalam dirimu untuk mereka yang telah menorehkan luka. Aku sangat beruntung memiliki, Sayang. Sangat!" tekannya.
Alina mengembangkan senyum simpul dan memandangi sepasang manik jelaga sang pasangan hidup. Perasaannya menghangat mendengar untuk kesekian kali ungkapan cinta dari Zaidan.
"Bohong jika aku sama sekali tidak marah ataupun benci terhadapnya, tetapi ... aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Aku tidak sebaik apa yang terlintas dalam benakmu-" Alina mengusap dada bidang sang suami pelan. "Dan ... aku juga tidak seburuk apa yang kamu pikir. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, "Aku tidak sebaik yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas di hatimu." Yah, seperti itulah kira-kira." Alina mengembangkan senyum melunturkan kesedihan yang tadi datang.
Zaidan terperangah, terpaku, serta terpesona dengan setiap tutur kata yang Alina katakan. Bagaikan mendapatkan keberuntungan berkali-kali lipat, ia beruntung bisa mendapatkan wanita sepertinya.
"MasyaAllah, begitu lapang hatimu, Sayang," kata Zaidan mengusap puncak kepala Alina sayang. Sang empunya memperlihatkan lengkungan bulan sabit yang semakin mempercantik wajahnya.
"Allah yang melapangkannya," balas Alina lagi.
Zaidan tersenyum haru lalu memberikan kecupan lembut di balik kelopak manik jelaga sang istri. Alina terdiam menikmati setiap sentuhan yang diberikan.
__ADS_1
Dalam dentingan jam yang terus berdetak, kisah akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang kekal selagi roda kehidupan berputar.
...Bersambung......