
Sudah satu minggu berlalu cinta bermekaran dalam rumah tangga Alina danAzam. Selama itu pula hubungan keduanya terus membaik. Azam memperlakukan Alina layaknya istri sesungguhnya. Tidak ada lagi kecanggungan. Tidak ada lagi perlakuan buruk yang menyakiti hati. Setiap hari hanya ada senyum yang terbingkai.
Luka yang pernah tercipta memudar seiring berjalannya waktu. Peran ganda tidak menjadi beban dalam diri seorang Alina. Ia bisa melakoninya dengan baik berkat adanya sang suami di sisinya. Ia seakan sudah menjadi seorang ibu yang melahirkan Aqeela.
Seperti saat ini, ia tengah menggendong bayi perempuan itu di ruang keluarga. Sarah yang ditugaskan menjadi babysitter tersenyum senang melihat sang bayi berada dalam pelukan ibunya lagi. Karena selama ini hanya ia yang terus menjaga dan mengurus Aqeela.
"Assalamu'alaikum, ayah pulang."
Azam datang memberikan kecupan hangat di puncak kepala sang istri dan buah hatinya. Alina mendongak mengikuti pergerakan suaminya yang duduk tepat di sampingnya.
"Mas mau makan atau mandi dulu?" tanya Alina kemudian.
Dengan senyum yang masih membingkai wajah tampannya, Azam mencondongkan tubuhnya tepat di sebelah telinga kanan Alina.
"Jika aku berkata ingin kamu, bagaimana?" ucapan lembut yang mengalun di indera pendengarannya seketia membuat kedua pipi bulat itu merah padam.
Alina menatap suaminya horor yang tengah menyeringai tanpa dosa. "Apa yang Mas katakan? Ada Sarah di sini."
"Aku tahu. Karena itu aku mengatakannya pelan."
Alina tidak bisa membalasnya lagi dan menundukan kepalanya dalam. Melihat gelagat majikannya, Sarah pun undur diri memberikan privasi untuk mereka.
Sepeninggalan Sarah, Azam langsung menyerang istrinya. Gelak tawa pun terdengar nyaring di ruangan tersebut. Tidak pernah Alina pikirkan akan merasakan manisnya rumah tangga bersama Azam. Selama seminggu ini perlakuan Azam memberikan kenyamanan. Rumahku istanaku, Alina sudah merasakannya sendiri.
Alina melupakan jati dirinya menjadi yang kedua. Namun, untuk saat ini ia merasa menjadi prioritas. Seperti inikah rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai? Pikir Alina setiap saat mendapatkan perlakuan hangat dari sang suami.
Musim hujan yang nyatanya menebarkan udara dingin dan lembab justru memberikan kesyahduan tiada tara.
"Sudah Mas hentikan, kasihan Aqeela. Dia bisa terjepit," ucap Alina berusaha menghentikan suaminya.
Azam seperti seekor kucing yang lengket terhadap majikann Pria itu terus memeluk Alina dan memberikan kecupan hangat di wajah cantiknya.
Mendengar itu Azam pun akhirnya melepaskan dekapannya dan memandangi sang istri. Senyum yang terbingkai di wajah tampan itu membuat Alina kembali merona. Ia masih belum terbiasa dengan ketanangan tersebut.
__ADS_1
"Ke-kenapa Mas memandangiku seperti itu?" gugup Alina seraya mengalihkan pandangan.
"Entah kenapa setiap malam aku selalu menginginkanmu."
Bola mata Alina melebar sempurna. Ia terus menunduk menyembunyikan degupan yang terus bertalu kencang. Melihat reaksinya Azam tersenyum senang lalu merunduk menatap sang buah hati.
"Sayang, kamu juga merasakannya, kan? Jika Mama Alina sangat baik dan juga cantik," ucapnya.
Alina terpaku dan diam-diam memperhatikan sang suami yang tengah berusaha bercengkrama dengan Aqeela. Bayi 3 bulan itu tersenyum menimpali perkataan ayahnya, seolah mengerti apa yang dikatakan.
"Anak baik, anak sholehah. Ayah sangat menyayangimu, Sayang." Lanjut Azam kemudian membubuhkan kecupan di dahi putrinya.
"Aku mau mandi dulu."
Ia beranjak dari duduk dan bersiap untuk meninggalkan istri dan anaknya. Namun, sebelum itu Alina lebih dulu mencelanya. "Aku siapkan air hangatnya dulu."
Tubuh Alina menegang seketika saat Azam tiba-tiba saja mencium pipinya kilat. Wanita itu selalu dibuat terkejut dengan tindakan mendadak suaminya.
"Terima kasih," perkataan lembut itu menyapa pendengaran. "Sayangnya ayah, ayo kita ke bibi Sarah dulu."
...***...
Berada di tempat tidur yang sama untuk kesekian kalinya benar-benar kebahagiaan tiada tara. Ditambah adanya Aqeela dalam dekapan membuat Alina terus menerus menyunggikan senyum. Selama 24 tahun ia hidup, baru kali ini Alina merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Tangan tegap yang tengah merangkulnya memberikan perlindungan. Kata-kata halus menjadi melodi pengantar kebersamaan. Tawa renyah sesekali terdengar kala perkataan mengandung kelucuan diucapkan sang suami.
Untuk detik yang berlalu saat ini menjadikan ia seperti dirinya sendiri.
Air mata menghilang seiring berjalannya waktu dan berganti keceriaan. Entah sampai kapan, yang jelas Alina ingin terus merasakannya.
"Mas," panggilnya.
"Hm?" Azam yang tengah menyandarkan tubuhnya pada sang istri menoleh cepat.
__ADS_1
"Terima kasih," lanjut Alina membuatnya mengerutkan dahi, bingung.
Azam lalu menegakan tubuhnya dan memegang kedua pundak istrinya untuk berhadapan. Seketika pandangan mereka saling bertemu, Alina tidak mengerti dengan tindakan suaminya hanya bisa terdiam dan menunggu.
"Tidak usah mengatakan terima kasih."
"Ehh?! Kenapa?"
Alina terkejut mendengar perkataan Azam dengan mimik serius. Ia takut sesuatu hal tidak mengenakan akan terjadi. Air mukanya sudah berubah menjadi sedih membuat pria itu kelabakan. Buru-buru ia menangkup kedua pipinya.
"Jangan menangis, Sayang. Tidak usah berterima kasih, karena aku suamimu. Di antara suami istri tidak ada kata seperti itu, karena cinta yang tulus tidak membutuhkan terima kasih. Hanya saling percaya dan memberikan kasih sayang sebagai balasannya."
Tanpa bisa dicegah air mata kelegaan meluncur begitu saja. Azam menggunakan ibu jarinya mengusap keristal bening itu dengan pelan lalu mengecup pelipis sang istri hangat.
"Aku mencintaimu."
Dua kata mengandung banyak arti tersebut terucap oleh Azam. Alina melebarkan pandangan tidak percaya mendengar ucapan itu meluncur dari bibir suaminya. Penantian selama bertahun-tahun ini apa benar sudah terbalas?
Ia pun mendongak kembali memandangi iris kecoklataan di hadapannya. "Ma-mas tadi mengatakan apa?"
"Aku mencintaimu, Alina."
Tekannya sekali lagi. Wanita itu masih mematung tidak tahu harus berekasi seperti apa. Rasanya waktu seolah berhenti sekejap saja.
"Tap-
"Tapi bagaimana dengan mbak Yasmin?" tanyanya dalam benak.
Alina tidak bisa mengatakan hal tersebut secara langsung. Ia tidak ingin merusak momen hangat itu dengan pertanyaan yang mengganggu dirinya sendiri. Perlahan, Azam membawanya ke dalam pelukan hangat.
Tangan tegap itu mengusap lembut puncak kepala sampai punggungnya berkali-kali. Diperlakukan hangat oleh suaminya memberikan kenyamanan tiada tara. Alina terbuai merasakan sentuhan demi sentuhan yang Azam berikan.
"Baiklah, untuk saat ini aku hanya bisa menikmatinya. Ya Allah semoga tidak ada lagi kejadian apapun setelah ini. Aku sangat bahagia bisa mendengar ungkapan cinta Mas Azam, tapi apa benar demikian? Satu minggu berlalu, dan kami tidak membahas mbak Yasmin dalam hal apapun. Apa yang sedang suamiku pikirkan? Apa benar dia mencintaiku? Ahh, Alina jangan berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah kamu sudah merasakan kebaikannya? Mas Azam pasti sudah memiliki perasaan itu untukku, terima kasih," monolog Alina dalam diam.
__ADS_1
Ia tersenyum dengan kebahagiaan yang terus menerus mendatanginya. Berharap pelangi benar-benar hadir selepas badai pergi.