Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 207 (Season 3)


__ADS_3

Malam semakin larut, langit pun nampak gelap tanpa adanya bintang maupun bulan sebagai peneman. Angin berhembus pelan mengantarkan mimpi pada setiap orang yang tengah tertidur.


Namun, dari sekian banyak jiwa yang terlelap, di balkon mansion keluarga kecil Zaidan, Ayana tengah menikmati keheningan.


Pemandangan sekitar rumah menjadi tumpuan kala keletihan datang. Sudah banyak kisah terajut dalam kehidupan. Selama itu pula banyak pelajaran yang bisa diambil.


Alina bisa merasakan apa itu sebuah perjuangan, kesabaran, kesetiaan, sampai pengorbanan. Ia bangga atas pencapaian dirinya menghadapi setiap permasalahan. Ia juga sadar semua itu adalah skenario Allah yang hebat.


Tidak lama berselang sepasang lengan kekar merengkuhnya dari belakang. Semerbak sabun mint menyapa indera penciuman.


Bulan sabit berpendar merasakan kehangatan menjalar. Alina menutup mata menikmati setiap jamahan dilayangkan sang suami.


"Ini sudah malam, Sayang. Kenapa kamu masih belum tidur, hm?" Suara serak nan dalam menyapa.


Alina tahu apa yang dipikirkan Zaidan. Kelopak matanya kembali terbuka memperlihatkan sepasang kelereng beningnya lagi.


"Aku hanya sedang menikmati udara segar," balas Alina yang nyaman bersandar di dada bidang suaminya.


Zaidan meletakan dagu di atas kepala sang istri menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dalam dirinya.


"Hm, udara malam itu tidak baik, Sayang," kata Zaidan kemudian.


Alina menggenggam erat lengan yang melilit di perut. "Baik jika menikmatinya dengan seseorang yang sangat aku cintai."


Zaidan terperangah, beberapa detik pikirannya buntu mendengar penuturan Alina. Ia masih belum terbiasa jika sang istri melayangkan kata-kata manis.


"Yang sangat kamu cintai? Siapa?" Ia mencoba menggodanya balik.


Seketika Alina merenggangkan pelukan Zaidan dan berbalik menatapnya. Tatapan mereka mengunci satu sama lain.


Bibir ranum itu melengkung sempurna sembari kedua tangan mengalung di leher jenjang pasangan halalnya. Angin kembali berhembus ikut merasakan kebahagiaan kedua insan tersebut.


Entah ada keberanian dari mana, Alina lagi-lagi memberikan kejutan untuk suaminya. Kedua kaki ramping itu menjinjit lalu melayangkan kecupan hangat nan mendalam di benda kenyal sang imam dalam keluarga.


Sekitar lima detik kemudian, Alina melepaskan pagutan itu dan melihat reaksinya. Ia tidak bisa menahan tawa kala Zaidan hanya mengedip-ngedipkan mata, seolah dirinya tidak ada di sana.

__ADS_1


"Sayang." Panggil Alina sedikit kencang.


"A-ah, i-iya Sayang?" gugupnya.


Alina semakin tertawa tidak sanggup melihat kelucuan tepat di depan mata. Zaidan tersadar sudah menjadi bulan-bulanan istrinya sendiri.


Di tengah tawa yang masih berdengung, Zaidan menyeringai lalu sedetik kemudian memegang pangkal leher Alina dan terjadi penyatuan.


Sang empunya terbelalak, terkejut. Alina tidak siap dengan serangan mendadak tersebut. Kurang lebih lebih sepuluh detik berlalu Zaidan melepaskannya.


Ia menangkup pipi memerah Alina hangat dan menyunggingkan senyum manis. Ibu jari kanannya lalu bergerak menuju bibir bawah sang pujaan.


"Jangan menggodaku, Sayang. Kamu sendiri tahu jika aku tidak akan bisa menahannya." Zaidan berbisik lirih membuat Alina semakin merona.


Ia menghempaskan tangan suaminya pelan, berbalik kembali menghindari godaan besar. Namun, Zaidan tidak mengizinkannya dan menarik pergelangan tangan Alina hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukan.


"Aku senang melihatmu merona karena ku, Sayang. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini dan tidak menyerah pada keadaan. Aku sangat mencintaimu." Lagi dan lagi kata cinta tercetus jua.


Alina membalas pelukannya tak kalah erat. "Em, terima kasih juga untuk tidak melepaskan ku. Aku sangat mencintaimu."


Trauma akan masa lalu kandas sebelum berkembang, ia sudah berhasil mendapatkan Alina seutuhnya. Pernikahan keduanya tidak pernah lupus dari masalah demi masalah datang menerjang.


Namun, baik Alina maupun Zaidan, mereka sama-sama saling percaya satu sama lain dan tidak menyerah pada keadaan.


Sampai mereka pun bisa merasakan bagaimana sebuah perjuangan dalam mempertahankan ikatan suci pernikahan.


...***...


Keesokan harinya, Zanna yang tengah duduk sendirian di ruangan dikejutkan dengan kedatangan seorang pria.


Ia menoleh ke samping kanan kala mendengar suara pintu digeser. Manik sayu itu pun melebar menyaksikan senyum manis yang disunggungkan pria di hadapannya.


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa kamu bisa datang ke sini? Apa maumu, Calvin?" tanya Zanna beruntun.


Calvin, sepupu Zaidan itu pun berjalan mendekat dan duduk di kursi samping ranjang. Ia mendongak menatap dalam iris cokelat di hadapannya.

__ADS_1


"Tentu saja, menjenguk mu, apa lagi?" ujarnya begitu saja.


"Apa?" Zanna tidak mempercayainya.


Calvin mengangguk singkat dan terus menatapnya. Diperhatikan seperti itu membuat Zanna tidak nyaman.


Ia memalingkan wajah ke samping melihat pemandangan luar. Baru kali ini ada orang lain yang menjenguknya selain Ayana, Angga, dan Zaidan. Meskipun mantan kekasihnya di masa lalu itu tidak pernah mengatakan apa pun selain menemani sang istri.


Ada perasaan tidak enak menyapa relung hati terdalam. Zanna sekuat tenaga mencengkram selimut yang menutupi kedua kaki.


"Percaya atau tidak ... sejak kejadian dua malam itu, aku ... selalu memikirkan mu, Zanna. Aku sering mengawasi mu dan berharap kamu tidak pernah tidur dengan pria lain. Aku-"


Zanna kembali menoleh dengan air mata sudah berlinang. Calvin terkejut bukan main membuat netra jelaganya terbelalak lebar.


"Za-Zanna?" panggilnya gugup.


"Kenapa? Apa kamu menyesal sudah melakukan itu padaku? Atau kamu mau memastikan jika aku semakin rusak dan bermain dengan pria lain? Apa itu maumu, hah?" tutur Zanna dengan nada ketus.


Kata-katanya menandakan betapa ia begitu terluka. Hal itu pun menyayat-nyayat perasaan Calvin. Entah kenapa sejak ia melakukan hubungan suami istri dengan Zanna sebanyak dua kali, dirinya semakin tidak karuan.


Ada perasaan bersalah dan tidak nyaman terus menerus menyapa perasaan. Calvin tahu jika perbuatannya tidak dibenarkan, ia sudah berhubungan sebelum adanya ikatan pernikahan.


"Tidak seperti itu, kamu salah paham. Aku ... benar-benar merasa bersalah. Aku ... ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatanku," ungkap Calvin jujur.


Zanna terperangah, air mata berhenti mengalir menyaksikan keseriusan tepat di depannya. Ia tidak menyangka ada seorang pria yang begitu tulus untuk bertanggungjawab.


"Kenapa? Kenapa kamu ingin bertanggungjawab? Aku tidak pernah menuntutmu apa pun setelah kita berhubungan dua kali saat itu," ucap Zanna penasaran.


"Karena aku menyukaimu Zanna, tidak ... aku sangat mencintaimu. Kamu tahu ... meskipun aku terlihat seperti anak yang kurang ajar, brengsek, tidak terdidik, tetapi aku selalu menjaga diri. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun dan bahkan ... aku tidak pernah berkencan dengan siapa pun. Karena aku sadar ... aku hanyalah orang kecil yang tidak bisa membahagiakan wanita manapun."


"Aku takut mereka akan kecewa. Selama ini aku hanya bisa memendam rasa suka pada seseorang yang tidak pernah berhasil diungkapkan. Namun, percayalah kamu wanita pertama yang membuatku ... benar-benar jatuh cinta," ungkap Calvin mengutarakan perasaan.


Zanna terpaku, terperangah, dan tidak percaya atas semua yang dikatakan pria di sebelahnya. Baru kali ini ia juga mendapatkan ungkapan seperti itu.


Air mata kembali mengalir membuatnya semakin terisak. Kepala bersurai hitam panjangnya menunduk dalam menyembunyikan wajah berairnya yang terhalang rambut.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2