Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 65 (Season 2)


__ADS_3

Gelap menyambut lagi, panasnya siang hari berganti dinginnya kelam. Di tengah keheningan, Alina duduk di sofa tunggal dalam kamar.


Sudah beberapa hari ini ia tidak berbicara nyaman dengan suaminya. Azam terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia tahu disela-sela pekerjaannya sang suami menghabiskan waktu bersama Yasmin.


Hubungan terlarang itu terjalin membentuk luka lain dalam hati Alina. Selama ini ia tahu jika Azam memang berkhianat di belakangnya. Namun, ia tidak peduli dan hanya menunggu kapan bom waktu akan meledak.


Siang ini langit begitu gelap, awan kelabu berkumpul menandakan hujan sebentar lagi datang. Tanpa adanya angin, udara dingin menyambut kengerian.


Di ruangan yang seharus digunakan bekerja, Azam malah sibuk membunuh waktu bersama Yasmin. Wanita berprofesi sebagai desianer interior tersebut menggunakan pekerjaannya untuk bisa bertemu sang kekasih.


"Mas, kemarin Alina mendatangiku. Dia mengatakan aku wanita tidak baik, perebut suami orang. Padahal aku sama sekali tidak melakukan apa pun kepadanya. Aku hanya mencoba yang terbaik untuk berada di sisimu," keluhnya seolah tidak bersalah.


Azam yang tengah duduk di sampingnya langsung merangkul pundaknya erat. Ia membawa tubuh ramping itu ke dalam pelukan. Aroma vanilla seketika menyapa indera penciuman, ia mematung beberapa saat teringat mendiang istrinya lagi.


Namun, Azam sudah tidak sesedih dulu. Karena sekarang ada Yasmin yang begitu mirip dengan almarhumah. Ia melupakan semua pengorbanan Alina selama ini yang telah menyembuhkannya dari kehilangan.


Ia terlena bersama bujuk rayu fatamorgana. Ia lupa jika kesalahan yang dirinya buat, suatu saat pasti mendatangkan sebuah penyesalan. Azam bermain dengan takdir dan berkhianat di dalamnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Alina hanya tidak tahu bagaimana kamu sebenarnya. Kamu tidak usah mempedulikan apa kata orang, toh yang menjalani kita. Cukup aku dan kamu, selebihnya biarkan mengalir seperti air," kata Azam menguatkan.


Yasmin mengangguk di dada bidangnya, bibir ranum itu tersenyum cerah. Ia menyamankan posisi seraya mendengarkan degup jantung sang terkasih. Di ruangan hanya ada mereka berdua, dentingan jam menjadi saksi bisu atas hal gila yang dilakukan.


Dari arah luar, di balik jendela kecil Zara memandangi kebersamaan mereka. Getir rasa sakit menyapa perasaannya kuat. Ia harus bersabar untuk melancarkan segala aksi yang sudah direncanakannya dari awal.


Ia mengarahkan benda pintarnya dan langsung memotret kebersamaan dua sejoli di dalam.


"Meskipun aku sangat sakit, tapi inilah yang harus dilakukan. Aku tidak bisa sakit sendirian," gumamnya dan mengirimkan foto tadi kepada seseorang. Sebelah bibirnya terangkat seolah yakin atas rencana dalam diamnya.


...***...


Alina baru saja bersantai setelah membereskan rumah dikejutkan dengan getaran ponsel di atas meja. Ia tengah duduk di taman belakang sambil menikmati secangkir teh hangat.


Kepala berhijabnya menunduk ke sebelah kanan melihat pesan masuk dari nomor yang pernah memberitahunya mengenai sang suami.

__ADS_1


Dahi lebar itu mengerut dalam menangkap gambar kamera terpampang dari pesan tersebut. Dengan tenang Alina membawa benda pintarnya dan membukanya.


Sebuah foto memperlihatkan begitu jelas keintiman suami sahnya bersama wanita lain. Ia tertegun, tetapi sudah tidak terkejut lagi. Alina sudah siap mengenai segala sesuatu yang akan dilakukan Azam di belakangnya.


"Lihat, suamimu sudang bermesraan bersama rekan kerjanya. Apa kamu tidak marah? Apa kamu tidak kecewa? Mas Azam bermain gila di belakangmu," kata Alina membaca isi pesan tersebut.


Tanpa membalas, ia meletakan kembali ponsel di meja. Ia menatap lurus ke depan seraya menggenggam gelas.


Senyum hadir di wajah cantiknya, kedua kaki dilipat anggun menyuguhkan ketegaran seorang istri. Tidak ada ekspresi apa pun, mimik mukanya datar dan dingin.


"Mereka terlalu asyik bermain-main, sehingga tidak memikirkan apa yang terjadi. Tenang saja, Allah tidak pernah tidur dan menyaksikan semuanya," gumamnya lagi. Ia pun kembali menyesap tehnya singkat dan memperlihatkan lengkungan bulan sabitnya lagi.


Senja datang meleburkan awan gelap tadi siang. Indahnya warna pastel menyembur di Ufuk Timur menarik perhatian kepada penikmatnya.


Sore ini Alina tengah berada di lobi perusahaan Azam. Sedari lima menit yang lalu ia terus menunggu seseorang.


Keberadaannya menarik perhatian para karyawan yang sudah mengetahui siapa ia sebenarnya. Namun, Alina tidak menghiraukan mereka dan acuh terhadap keadaan sekitar.


Samar-samar ia bisa mendengar beberapa karyawan membicarakan suaminya. Alina berpura-pura tidak tertarik dan diam-diam memperhatikan tiga orang itu.


"Yasmin," jawab keduanya.


"Iya itu, aku dengar dari bagian pemasaran mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama. Apa pekerjaan mereka memang harus berdua seperti itu? Aku dengar juga yah, bos Azam dan Yasmin ketahuan makan di restoran mewah. Apa coba namanya kalau bukan kencan," cerocos wanita tersebut.


"Aku juga diberitahu jika hari ini mereka berduaan di ruangan bos Azam, apa jangan-jangan mereka terlibat suatu hubungan?" timpal salah satunya.


"Apa lagi coba kalau bukan seperti itu," balas satunya lagi.


"Wah, menarik apa bos kita akan terkena skandal perselingkuhan?"


"Pasti perusahaan ini akan ramai nanti."


Mereka terlihat asyik dengan pembicaraannya sendiri, sampai membuat Alina hanya bisa tertawa masam. Ia tidak menyangka jika kedekatan sang suami bersama rekan kerjanya sudah tersebar. Ia menggelengkan kepala dan mendengus pelan.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan aku sudah tidak peduli. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mengungkap semuanya," bisik Alina.


Di saat hendak berbalik pergi dan mengurungkan niat bertemu seseorang, ia tidak sengaja berpapasan dengan sosok asing yang hampir saja membuat keduanya bertubrukan.


Buru-buru Alina menangkup kedua tangan di depan dada seraya menunduk pelan.


"Maaf," ucap Alina singkat.


"Ah, tidak apa-apa. Saya juga tidak melihat, maaf hampir menabrak Anda," balasnya.


Alina menoleh sekilas dan tersenyum simpul. Ia kembali menunduk kemudian berlalu dari hadapannya. Pria dengan stelan jas itu pun membalikan badan melihat kepergiaannya.


"Baru kali ini aku bertemu dengan wanita santun seperti itu," gumamnya.


"Apa yang Tuan Muda bicarakan?" tanya pria di sebelahnya.


"Tidak ada, ayo pergi," ajaknya kemudian.


...***...


Alina beranjak dari duduk saat pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari gedung. Ia berjalan mendekat dan memanfaatkan situasinya yang sedang tidak memperhatikan sekitar. Kepalanya menunduk terus sibuk bersama ponsel menghiraukan keadaan.


"Naura Gibran, dia cantik sekali yah."


Perkataan tersebut sontak membuatnya menghentikan langkah dan langsung berbalik melihat punggung ramping di hadapannya.


Cardigan panjang berwarna hitam menutupi tubuh kecilnya dengan kupluk menyembunyikan kepalanya. Ia pun berbalik mengejutkan sang lawan bicara.


"A-Alina?" cicitnya teredam.


Alina membuka kupluk yang menghalangi wajah cantiknya lalu memberikan senyum lebar. "Hai Zara, sudah lama kita tidak bertemu. Ah, baru dua hari lalu kita bertatapan, bukan? Sungguh takdir tidak terduga."


"A-Apa yang kamu inginkan? Dari mana kamu tahu nama itu?" tanya Zara takut-takut.

__ADS_1


Namun, Alina hanya tersenyum memberikan misteri di baliknya. Manik cokelat Zara bergetar mengetahui jika wanita itu sudah mengetahui rahasianya, dan ia pun merasakan sebuah ancaman.


__ADS_2