Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 218 (Season 3)


__ADS_3

Jalan kehidupan seseorang untuk meraih hidup menjadi lebih baik berbeda-beda. Kadang kala ujian yang menghampiri tidak mudah untuk dilalui.


Namun, jika mengandalkan Allah di dalamnya maka sebelum ujian itu datang kemudahan sudah didapatkan.


Seperti yang dialami oleh Zanna, pianis itu sudah mengalami pengalaman hidup, tetapi ia terlalu terbuai akan manisnya gemerlap dunia sementara.


"Alhamdulillah, Mamah ikut senang mendengarnya. Semoga kamu benar-benar bisa berubah dengan baik," kata Mentari menyadarkan keduanya.


Alina dan Zanna melepaskan pelukan, memandangi wanita paruh baya itu yang tengah menyunggingkan senyum manis.


"Mamah." Zanna melemparkan diri ke dalam rengkuhan hangat sang ibu.


Mentari mengusap punggung putri semata wayangnya lembut. Ia ikut merasakan perubahan yang dialami Zanna.


Ia juga menyesali sudah menganggap buah hatinya sebagai aib keluarga. Mentari merasa beruntung bisa bertemu dengan Alina yang juga telah mengubah Zanna.


Beberapa saat kemudian pasangan ibu dan anak itu pun melepaskan pelukan. Mereka kembali memandangi Alina yang tengah memperhatikannya lekat.


"Alina, terima kasih sudah mengubah Zanna menjadi seperti ini. Kamu memang wanita yang sangat baik," kata Mentari lagi.


Kepala berhijab itu menggeleng pelan. "Tidak Nyonya, justru Zanna lah yang baik. Dia bisa menerima hidayah dari Allah dan menyesali perbuatannya."


"MasyaAllah, kamu benar-benar luar biasa Alina. Beruntung Mas Zaidan bisa memilikimu," timpal Zanna menoleh sekilas pada pria di hadapannya.


Zaidan yang tengah memangku Zennia pun tersenyum lebar. "Aku memang beruntung dan ... aku juga turut bahagia pada akhirnya kamu menerima hidayah dari Allah."


"Kamu tahu ... aku juga seperti ini karena ... ada peran istriku di dalamnya. Peran ganda yang dilakukan Alina mampu mengubahku menjadi lebih baik."


"Kadang kala perubahan bisa datang kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Salah satunya aku mendapatkan perubahan itu dari Alina," tutur Zaidan terus memandangi sang istri lekat.


Alina tersipu mendapatkan rentetan pujian dari suami dan juga orang-orang sekitar. Ia menatap mereka satu persatu dengan lengkungan bulan sabit bertengger di wajah cantiknya.


"Alhamdulillah, puji dan syukur hanya ditujukan pada-Mu ya Allah. Semua yang baik itu berasal dari Allah dan aku kembalikan pada-Nya," balas Alina merendah.


"MasyaAllah, aku benar-benar beruntung bisa dipertemukan denganmu, Alina. Meskipun dengan jalan yang kurang beruntung, tetapi aku sangat bersyukur. Terima kasih," ujar Zanna lagi.


Ia menggenggam hangat tangan Alina, memberikan tatapan lembut serta berurai air mata.


Melihat pemandangan di depannya, Alina tidak kuasa untuk menghapus kristal bening di kedua pipi sang pianis.

__ADS_1


Tangannya terulur menangkup pipi memerah Zanna. Sang empunya pun terkejut atas tindakan tiba-tiba Alina.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Zanna kembali memeluk Alina erat. Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala penyesalan yang melanda.


"Sudah-sudah, jangan menangis lagi," ucap Alina mengelus pelan punggung ramping Zanna.


Wanita itu berkali-kali mengangguk dan semakin merengkuhnya erat. Ia benar-benar malu sekaligus menyesal atas apa yang diperbuatnya selama ini.


...***...


Siang melanda, Alina dan Zanna tengah berada di lantai dua kediaman Zaidan. Mereka berada di salah satu kamar dan menghadap meja rias.


Zanna duduk di kursi roda dengan Alina di belakang. Wanita itu merentangkan selembar kain panjang membuat sang pianis terpaku.


"A-apa aku akan memakai itu?" tunjuk Zanna ke dalam cermin.


Alina yang tengah memandanginya dalam pantulan pun mengangguk singkat.


"Benar, bukannya kamu ingin berhijab? Itu sekarang, kan?" tanya Alina memastikan.


Zanna mengangguk perlahan dan terus memandangi selembar kain hitam yang tengah Alina genggam. Ia tidak pernah menyangka jika mulai detik ini auratnya akan tertutup.


"Bisakah, kamu memakaikannya padaku?" pintanya kemudian.


Zanna menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "InsyaAllah aku siap."


"Baiklah, bismillahirrahmanirrahim." Alina mulai mengikat rambut panjang Zanna lalu memakaikan dalaman hijab.


Setelah itu ia kembali merentangkan kain hitam tepat di belakang kepalanya. Dengan tangan gemetaran Alina memakaikan hijab pada Zanna. Beberapa detik kemudian, wanita pianis itu pun sudah menutup rambutnya dengan sempurna.


"Alhamdulillah, sudah selesai," kata Alina memperlihatkan hasilnya pada Zanna.


Tanpa bisa dicegah air mata itu menetes lagi. Zanna menangis dalam diam melihat pantulan diri sendiri dalam cermin.


"A-apa itu aku?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Benar, itu kamu Zanna, masyaAllah kamu sangat cantik mengenakan hijab" puji Alina meyakinkan.


"MasyaAllah, Ya Allah. Alhamdulillah, terima kasih Alina," Zanna menangkup wajah berairnya menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Ia menangis dan menangis meraskaan perubahan yang terjadi pada dirinya. ia tidak pernah menyangka bisa mengenakan hijab dengan proses yang luar biasa.


Selama ini ia tidak pernah membayangkan akan mengenakannya. Membayangkannya saja tidak terlintas dalam benak, apalagi sampai menggunakannya tidak terpikirkan sama sekali.


Meskipun sejak lahir ia sudah menjadi seorang muslim, tetapi menjadi muslimah sesungguhnya tidak ia pikirkan.


Selain lingkungan yang tidak bersahabat, Zanna tidak mendapatkan pendidikan agama lebih dalam. Ia terlalu terbuai dan terlena akan gemerlapnya harta yang dimiliki.


Ia melampiaskan beban yang ditanggungnya hanya kepada dunia kelam saja. Kepada sang pencipta? Dirinya acuh tanpa mengingat jika segala kenikmatan yang diterimanya hanya dari Allah semata.


Zanna masih menangis sesenggukan, Alina mengusap punggungnya pelan dan ikut terharu atas perubahan yang dialaminya.


Ini ketiga kali ia melihat seseorang memutuskan untuk berhijab. Mulai dari Zara, ibu mertuanya Moana, sampai Zanna.


Ketiga wanita itu mengalami fase-fase luar biasa dalam menerima hidayah dari Allah. Begitu banyak kejadian yang harus dilalui sampai menyadari jika perintah Allah itu mutlak untuk dilaksanakan.


Tidak ada kenikmatan yang lebih nikmat selain bergantung kepada Allah. Allah senantiasa mengawasi setiap hamba-Nya dan memberikan kenikmatan berupa ujian.


Meskipun sulit dan tidak mudah untuk dilalui, tetapi selepas kepedihan itu pergi akan ada balasan kebaikan setelahnya.


Fa bi-ayyo aalaaa- robbikumaa tukazzibaan


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman)


"Alhamdulillah, semoga kamu istiqamah yah Zanna," ucap Ayana lagi.


Zanna mengangguk beberapa kali lalu melepaskan tangannya memperlihatkan wajah berair itu.


"Terima kasih, Alina. Aamiin, semoga aku bisa istiqamah di jalan-Nya."


"Aamiin."


"Ya Allah begitu banyak nikmat yang sudah Kau berikan kepada hamba. Sekarang hamba sudah mendapatkan ganjarannya dan ... terima kasih atas hidayah yang Kau datangkan. Istiqamah Kan lah hamba di jalan-Mu ya Rabb," monolog Zanna dalam benak.


Alina terus memandanginya, mengerti apa yang sedang wanita itu pikirkan.


"Ya Allah sudah banyak jalan cerita yang Kau hadirkan. Semoga kali ini Zanna pun bisa istiqamah bertaubat kepada-Mu. Baarakallahu fiikum, MasyaAllah, terima kasih banyak ya Allah," benak Alina.


Keduanya pun saling melempar senyum merasakan kenikmatan Allah tiada akhir. Alina maupun Zanna terus mengucap syukur atas kelimpahan hidayah yang diberikan.

__ADS_1


Ujian datang itu pertanda jika Allah masih memperhatikan hamba-Nya dan tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.


...Bersambung......


__ADS_2