
Deru napas saling bersahutan di ruangan sang atasan. Peluh bercucuran membasahi pelipis dan wajah masing-masing.
Kesyahduan makin bergelora mengikat satu sama lain. Di tengah terik matahari aktivitas pasangan suami istri itu tengah terjalin.
Aroma khas melebur menjadi satu dengan hawa panas yang meluncur di balik bibir menawan keduanya. Keheningan menjadi saksi bisu bagaimana sepasang insan tengah saling terlena akan sebuah kenikmatan.
"Tu-tunggu dulu, bagaimana jika ada seseorang yang datang ke sini?" Suara serak nan dalam merambat ke indera pendengaran.
Zaidan yang tengah menjamah leher mulus sang istri menarik diri lagi lalu mencondongkannya ke dapan.
Ia menekan telepon di atas meja yang langsung terhubung ke sekertaris sekaligus asisten serta pengawalnya di luar sana.
"Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan saya. Tunda semua pekerjaan untuk siang ini sampai sore nanti," katanya tidak ingn dibantah. Sebelum orang di luar menyahut, Zaidan sudah memutuskan panggilan.
Dimas mematung dalam diam atas pemberitahuan yang baru saja di terimanya. Ia menautkan kedua alis saat samar-samar mendengar nada bicara memburu di ruangan sang atasan.
Ia berdecak sekilas dan menggelengkan kepalanya singkat.
"Benar-benar dia itu, apa tidak tahu tempat? Yang benar saja, pasangan halal memang bebas terlebih dia pemilik perusahaan ini sekarang," gumamnya menatap lekat pada telepon di hadapannya.
"Ah, aku jadi rindu Zara," kata Dimas lalu menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia beranjak dari sana dan berjalan menjauhi ruangan sang bos.
...***...
Alina tidak percaya jika sang suami bisa melakukan apa pun seenaknya bahkan di tempat kerja. Ia hanya bisa pasrah atas permainan yang tengah dilakukan.
"Dari mana datangnya ide gila ini?" kata Alina sembari mengatur napas dan mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami.
Bibir kemerahan itu melebar sempurna, ia bertumpu pada meja kerja yang saat ini tengah diduduki Alina. Kedua matanya menatap lekat sang pujaan dengan sorot mata hangat serta memuja.
"Sejak kamu datang ke kantorku. Entah kenapa aku ingin melakukannya di sini," balas Zaidan begitu saja.
Alina mengerucutkan bibir membuat prianya gemas, Zaidan pun mengecupnya pelan. Sang istri terkejut, melebarkan mata sempurna.
"Ma-Mas Zaidan," panggilnya lagi.
"Iya apa, Sayang?" Tanpa rasa malu ia terus menerus memberikan perhatian serta kelembutan pada istrinya.
__ADS_1
Alina menerawang ke atas memandangi ada satu kamera di pojok ruangan. Ia lalu menatap horror pada suaminya kala menyadari sesuatu.
"Di-di sini ada kamera CCTV?" tanyanya takut-takut.
Zaidan mengangguk cepat mengiyakan ucapan itu. "Benar, di sini memang di pasang CCTV, kenapa?" Ia senang menggoda pasangan halalnya.
Alina kembali terperangah, jantungnya bertalu kencang menyadari jika ia sudah lancang melakukan hal tersebut di tempat sang suami mencari nafkah.
"Kenapa Mas tidak mengatakan padaku dari awal? Kenapa Mas-"
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah mematikannya sebelum kita melakukan hal itu tadi," ucap Zaidan memotong perkataan Alina.
Pukulan ringan pun mendarat berkali-kali di dada lebar itu. Zaidan tergelak atas tingkah manis pujaan hatinya.
Ia menggenggam pergelangan tangan Alina membuat sang empunya kembali mendongak.
"Jangan marah, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu, Sayang. Sudah lama kita tidak berduaan seperti ini, kan?" katanya lagi.
"Ta-tapi tetap saja, aku merasa tidak enak sudah-"
"Shut, jangan berkata seperti itu lagi. Kita sudah menikah, lagipula gedung ini telah menjadi milikku," jelas Zaidan membuat Alina dibuat terkejut lagi.
"Sebulan yang lalu mamah sudah meresmikan jika perusahaan ini jatuh ke tanganku. Karena aku satu-satunya anak mamah, jadi yah beginilah. Lagi pula perusahaan Zulfan sudah ada Calvin yang menghandle nya," ungkap Zaidan kemudian.
Alina tidak bisa berkata-kata dan hanya menganggukkan kepala saja. Mereka kembali saling tatap menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Baik Alina maupun Zaidan, mereka sama-sama tidak pernah bosan memandangi wajah pasangan halalnya.
"Aku sangat mencintaimu." Kata cinta terlontar lagi untuk kesekian kali.
Alina terkekeh pelan dan menangkup wajah tampan miliknya itu. "Apa Mas tidak bosan terus menerus mengatakan cinta padaku?"
"Tentu saja tidak. Kalau perlu aku ingin mengatakannya setiap hari, agar semua dunia tahu jika ... aku benar-benar mencintaimu, Sayang," ungkapnya lagi.
Zaidan merunduk membubuhkan kecupan mendalam di dahi lebar Alina. Beberapa saat kemudian ia pun melepaskannya membuat kening mereka saling menempel.
Suhu panas kembali menjalar membangkitkan semangat yang tadi sempat tertahan. Wajah keduanya pun menyatu lagi melanjutkan kegiatan yang belum selesai. Alina membiarkan sang suami melakukan apa pun yang diinginkannya.
__ADS_1
Gerakan mereka yang sedikit kasar membuat barang-barang di atas meja berjatuhan. Suara itu menjadi musik pengiring akan harmoni penyatuan dua insan.
Detikan jam menjadi saksi bisu lagi atas kegiatan yang mereka lakukan. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa menghabiskan waktu bersama orang terkasih.
...***...
Senja kembali datang, cahayanya teredam di balik gumpalan awan gelap hingga menghasilkan pesona yang menyilaukan pemandangan bagi si penikmat. Allah selalu saja menyuguhkan alam dengan keindahannya tersendiri.
Setelah seharian mengubur kegiatan bersama, Alina dan Zaidan pulang menuju kediamannya lagi. Mobil yang mereka tumpangi membelah angin sore melewati jalanan besar dan saling susul menyusul dengan kendaraan lain.
Sedari tadi tangan kirinya menggenggam hangat jari jemari sang pujaan. Alina terus menatap ke depan di mana lukisan di atas langit sangat menarik perhatian.
"Terima kasih, Sayang sudah datang ke kantorku," katanya lalu menarik tangan Alina dan memberikan ciuman di punggung tangannya.
Sang empunya menoleh dan melihat bulan sabit terpendar di wajah tampan itu. Seketika cahaya senja menyoroti mata bening sang pasangan membuatnya terpesona.
"Bagaimana aku bisa berpaling jika Allah sudah menghadirkan suami seindah ini," kata Alina begitu saja.
Zaidan yang berusaha fokus menyetir pun dibuat terperangah. "MasyaAllah, Alhamdulillah, aku senang mendengarnya, Sayang."
Alina tertawa pelan, melepaskan pautan tangan mereka. "Lepaskan, Mas harus fokus menyetir," katanya.
Zaidan mempautkan bibir pelan dan menarik tangannya lagi.
"Jangan cemberut seperti itu nanti tampannya hilang," ucap Alina senang melihat tingkah laku sang suami.
Zaidan masih enggan mengeluarkan suara, Alina terkekeh pelan lalu menarik diri untuk mendekati pasangan hidupnya.
Ciuman secepat kilat pun menyambar pipi sebelah kiri. Zaidan kembali melebarkan senyum dan memandangi istrinya lagi.
Mereka saling pandang dan kemudian tertawa bersama menyadari tingkah konyol keduanya. Alina maupun Zaidan bahagia atas kehidupan yang sudah Allah berikan.
Kepelikan yang pernah merenggut kedamaian rumah tangga telah berganti dengan kebaikan tiada akhir. Mereka berharap pernikahannya bisa bertahan selamanya dan hingga ke jannah-Nya.
Keduanya menjunjung tinggi kehidupan yang berlandaskan kepada Illahi Rabbi. Balasannya pun sungguh luar biasa membuat pasangan suami istri tersebut tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur.
Keberadaan sang anak menjadi pelengkap rumah tangga mereka hingga menjadi sebuah keluarga harmonis.
__ADS_1
...Bersambung......