Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 199 (Season 3)


__ADS_3

"Aku juga akan memaafkan mu jika ... kamu mengakui kesalahan. Kita anggap semua ini tidak terjadi apa-apa dan permasalahan bisa selesai tanpa berkepanjangan," lanjut Zaidan mengejutkan.


Bola mata sang pianis bergulir memandangi sang pria yang begitu dicintainya. "Tidak bisakah aku mendapatkan hatimu?" tanyanya tanpa malu dengan suara lirih.


Dengan tegas dan cepat Zaidan menggeleng. "Tidak! Aku sudah menikah dan ... aku sangat mencintai Alina."


Zanna mendengus kasar seraya memalingkan wajah. "Sungguh kata-kata yang membuatku mual. Semua orang sama saja. Semua orang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memahami orang lain. Kalian semua egois, sangat egois."


Zanna terus meracau membuat Alina semakin memperhatikannya. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang bisa ia tangkap.


Alina, Zaidan, maupun Dimas membiarkannya mengungkapkan semua isi hati. Dalam linangan air mata Zanna mencurahkan kepelikan di dada. Ia semakin dan semakin terlihat menyedihkan kala ungkapan isi hati dalam bentuk kata-kata tercetus sudah.


Beberapa menit kemudian, ia pergi begitu saja menyisakan keheningan bagi ketiganya. Alina memahami apa yang tengah dirasakan Zanna saat ini.


"Dia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Seberat apa beban yang ia tanggung? Tidak mungkin wanita se-anggun Zanna bisa berubah seperti ini. Dia ... seperti orang lain," benak Alina berspekulasi.


Zaidan pun menghampirinya, merangkul punggung sempit itu perlahan. Ia mengelusnya menyalurkan kekuatan dan menangkan sang istri yang terlihat gelisah.


"Sudah jangan dipikirkan," ujarnya, Alina hanya mengangguk singkat.


Baru saja menginjakan kaki di pekarangan kediaman Zaidan, Zanna mendapatkan panggilan tidak terjawab beberapa kali.


Ia lalu melihat banyak sekali pesan dari Ardiansah yang membuatnya terkejut bukan main. Pesan itu berisikan kata-kata ancaman.


"Mana uang yang kamu janjikan padaku? Bukankah kamu sudah mengatakan akan melunasinya pagi tadi? Sudah dua puluh empat jam aku menunggu, tetapi tidak ada niatan apa pun darimu!"


Melihat itu Zanna buru-buru menghubungi nomor tersebut. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban apa pun. Di panggilan kedua baru pria di seberang menerima telepon darinya.


"Aku akan mentransfernya nanti sore ... aku tidak akan melupakan janji yang sudah kuperbuat. Aku mohon pengertianmu, di sini-"

__ADS_1


"Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun darimu. Kamu tahu sendiri sekalinya janji itu tidak ditepati, aku akan melakukan berbagai cara. Kamu sudah salah berurusan denganku, Zanna. Tidak ada kata teman dalam urusan bisnis seperti ini. Maka nikmatilah balasan dariku!"


Setelah itu panggilan pun berakhir secara sepihak. Zanna mematung menjauhkan ponsel dari telinganya. Seketika degup jantung bertalu kencang saat ada notifikasi yang memberitahukan keadaan mencengangkan.


Zanna mengklik pemberitahuan tersebut dan sedetik kemudian kedua maniknya melebar sempurna. Bibir merah itu pun terbuka lebar menyaksikan apa yang baru saja menghampiri.


Tubuh sintalnya bergetar, keringat dingin bermunculan di pelipis saat melihat pemandangan memilukan hati.


"Di-dia benar-benar ... apa yang sudah dilakukannya? Aku bilang ... aku akan melunasinya nanti sore. Kenapa dia ... kenapa dia menyebarkan video ini di beberapa situs? Da ... dan hanya wajahku saja yang terlihat jelas," racaunya ketakutan.


Zanna melihat jika video yang dibuat oleh Ardiansah sudah tersebar di beberapa situs. Meskipun bukan dirinya di dalam tayangan tersebut, tetapi wajah sang wanita sudah diedit menyerupainya, sedangkan sang pria diburamkan.


Genggaman dalam ponsel mengerat seiring emosi, amarah, bercampur jadi satu. Zanna bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung meng gas kendaraannya pergi dari sana.


Seketika hujan turun dengan deras, guntur saling bersahutan bersama angin berhembus kencang. Rintikan air yang turun dari langit pun bertubrukan langsung ke jendela mobil.


Zanna memfokuskan pandangan kala uap dari hujan menghalau pandangan. Meskipun sudah menyalakan wiper kaca, tetap saja tidak membersihkan seutuhnya.


"Iya mah, ada apa aku sedang di-"


"Apa yang sedang kamu lakukan, hah? Bisa-bisanya kamu melakukan hubungan itu lagi dengan pria lain? Apa kamu sudah tidak punya malu? Kamu benar-benar sudah membuat keluarga kita malu. Kakekmu dari luar negeri bahkan sampai menelepon dengan marah. Tetua Zyva juga sedang mengamuk sekarang. Kamu ... kamu memang aib, Zanna. Jangan pernah memperlihatkan batang hidungmu lagi di hadapan keluarga kita! Kamu membuat kita malu!"


Sang ibu meracau memberikan kata-kata paling menyakitkan baginya di dunia. Sekarang ia sudah dianggap aib bahkan keberadaannya dianggap tidak ada dalam keluarga.


Panggilan itu terputus sepihak sebelum Zanna menjelaskan semuanya. Semua sudah terlambat orang yang paling ia percayai tidak memberikan kesempatan.


Sang ibu, orang yang sangat ia cintai dan kasihi tidak ingin lagi melihat sosoknya. Kesakitan akan fakta yang menerjangnya mengalirkan luka tak berkesudahan.


Air mata menganak tak tertahankan. Emosi yang tadi saja belum sembuh kini ditimpa lagi, kesakitan itu semakin bertubi-tubi menghantam hatinya.

__ADS_1


Ia menangis sejadi-jadinya menjadikan stir sebagai sasaran tinjuan. Ia terus memukul-mukulnya kuat dengan napas sesak tak tertahankan.


Tindakan itu membuat mobil yang sedang ia kendarai oleng beberapa kali. Di tambah jalanan licin menjadikan kendaraannya tidak stabil. Pengguna jalan lain pun memberikan klakson atas kesembronoannya.


Namun, Zanna tidak peduli. Ia tetap menangis, meraung, serta berteriak mencoba mengenyahkan perih di hati.


"Aku sudah mati-matian mengikuti apa maunya kalian. Kenapa? Kenapa aku selalu saja yang disalahkan? Aku berusaha menjadi Zanna yang mereka inginkan, bahkan aku sudah melakukan apa yang mereka suruh."


"Dijodohkan sampai aku jatuh cinta pada pria itu. Kenapa? Kenapa di saat situasi seperti ini kalian tidak mau membantu atau mendengarkan dulu penjelasanku? KENAPA MEREKA SEPERTI INI?" Zanna berteriak kencang seraya melajukan mobil dengan kecepatan maksimal.


Ia terus menangis dan menangis tanpa menyadari jika dirinya mengambil jalur yang salah. Hingga membuat mobilnya bertemu dengan kendaraan besar.


Ia yang tidak sempat menginjak rem pun seketika terjadi kecelakaan sangat keras. Benturan itu membuat mobil Zanna berguling beberapa meter. Sang pengendara pun ikut berguling-guling hingga tubuhnya terbentur beberapa kali.


Peristiwa mengerikan itu terjadi di tengah hujan deras. Kendaraan besar yang bertubrukan dengannya pun terhenti seketika.


Orang-orang yang berada di lingkungan itu bergegas berlarian saat mendengar benturan. Mereka melihat darah mengalir dari kendaraan kecil yang terbalik, lalu berbisik-bisik dan berspekulasi sendiri mengenai keadaan sang pengemudi.


Di tengah kesadaran yang kian menghilang, Zanna menyaksikan orang-orang berlarian. Rasa sakit yang ia terima tidak sebanding dengan luka menganga di hatinya.


"Tuhan jika memang ini akhir dari hidupku-" perkataan dalam benak pun terputus saat kesadarannya menghilang.


Kejadian tersebut seperti kedipan mata, hal tidak terduga mendatanginya sebagai sebuah ganjaran. Zanna mengalami kecelakaan parah membuat kondisinya benar-benar mengenaskan.


Semua orang bergerak cepat membantu mengeluarkannya. Mereka pun bergegas menghubungi pihak kepolisian dan ambulans.


Orang-orang yang berdatangan berlarian ke sana ke mari menambah kericuhan. Kemacetan pun tidak bisa dihindarkan, tidak sedikit dari mereka mengambil jejak kejadian tersebut menggunakan ponsel masing-masing. Seketika itu juga beritanya langsung naik di media sosial.


Tidak peduli hujan masih turun dengan deras, mereka berjibaku membantu korban. Air yang turun dari langit itu pun mengalirkan cairan merah kental terus mengalir menyisakan kepedihan mendalam. Zanna, sang pianis mengalami kecelakaan hebat.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2