Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 209 (Season 3)


__ADS_3

Seburuk apa pun kelakuan anak tetap masih ada ruang maaf untuknya di hati kedua orang tua. Tidak ada yang namanya bekas anak, meskipun kesalahannya amat sangat banyak.


Kasih sayang orang tua sepanjang masa, meskipun tak jarang ada saja air susu dibalas air tuba. Namun, tetap saja pintu maaf akan terbuka lebar bagi anak-anak yang mau berubah.


Begitulah kisah seorang Zanna yang sudah mendapatkan ganjaran dari segala perbuatan. Balasan yang tidak mudah dilalui, nyatanya menimbulkan sebuah pembelajaran.


Alina menjadi saksi bagaimana ikatan anak dan orang tua itu terjalin kembali. Ia senang bisa melihat keluarga mereka akur satu sama lain.


"Alhamdulillah, aku senang Zanna dan orang tuanya bisa berhubungan lagi. Semoga setelah ini akan ada kebaikan untuk mereka," ucap Alina yang tengah menikmati waktu bersama keluarga kecilnya.


Zaidan yang sedari tadi merangkul bahu sang istri pun mengangguk setuju. "Aamiin, semoga dengan kejadian ini Zanna bisa bertaubat."


"Aamiin, itu yang aku inginkan juga," balas Alina lagi.


Zaidan menoleh, membubuhkan kecupan hangat di pelipis pasangan hidupnya. Alina pun berbalik membuat pandangan mereka saling bertubrukan.


Senyum mengembang begitu indah, menandakan jika keduanya bahagia dengan kehidupannya saat ini. Alina bersandar nyaman di bahu sang suami memandangi kedua anaknya yang sedang bermain bersama.


Gelak tawa berdengung menjadi lantunan harmoni sebuah keluarga. Kehangatan menyeruak dalam ikatan persaudaraan.


Meskipun mereka tidak satu ayah, tetapi Raihan sangat menyayangi adik kecilnya, Zenia. Ia begitu overprotektif terhadap situasi yang tengah di hadapi sang adik.


"Putri kecil, kamu jangan makan ini. Ini bukan makanan, tapi mainan." Raihan langsung mengambil mainan bayi yang sedari tadi diemut Zenia.


Bayi yang sudah memasuki lima bulan lebih itu terbaring di atas ayunan kecil di tengah-tengah ruangan. Di sana terdapat sofa panjang yang tengah diduduki orang tuanya, serta televisi menayangkan acara kartun favorite menemani interaksi adik dan kakak di sana.


Karena kehilangan mainannya, Zenia pun merengek. Raihan yang melihat itu seketika kelimpungan dan langsung menatap sang ibu meminta bantuan.


"Mamah, kenapa putri kecil ini menangis?" tanyanya takut-takut.


Alina pun melepaskan diri dari cengkraman suaminya dan beralih mendekati mereka. Ia duduk di samping Zenia yang sudah berkaca-kaca.


Bibir pinknya mengerucut lucu dengan pipi bulat memerah menahan tangis. Bola mata besarnya begulir menatap Alina seolah meminta bantuan.


"Itu karena, Kakak mengambil mainan putri kecil," kata Alina lalu menggendong anak keduanya.

__ADS_1


Raihan menunduk melihat benda berbentuk buah yang berada dalam genggamannya. "Tapi ini bukan makanan, Mah," balasnya membela diri.


Alina terkekeh, tangan kanannya terulur mengusap pelan pipi mulus putra pertama. "Ini namanya teether, Sayang. Mainan yang bertekstur lembut agar mudah digigit. Fungsinya memang untuk digigit putri kecil kita."


"Benarkah?" Raihan mendongak menyaksikan raut muka cerah ibunya.


"Tentu saja, waktu Kakak bayi ... Kakak juga Mamah kasih ini," balas Alina menunjuk mainan di tangan anaknya.


"Apa ini sudah disterilkan? Nanti ada kuman yang masuk ke tubuh putri kecil kita bagaimana?" tanya Raihan waspada.


"Tentu saja sudah, Sayang. Ayah yang mensterilkan nya." Ziadan ikut bergabung memeluk anak sambungnya dari belakang.


Raihan menoleh sekilas dan kembali menatap mainan itu. "Kalau begitu, ini." Ia mengembalikannya pada Zenia.


Secepat kilat bayi itu langsung mengambilnya dan digigitnya lagi. Alina, Raihan, dan Zaidan pun tertawa di buatnya.


Mereka gemas dengan setiap tingkah polos sang bayi. Keberadaan Zenia bagaikan pelengkap dalam keluarga.


Kelahirannya bisa membuat hubungan ibu dan keluarga Zulfan pun membaik. Alina dan Zaidan bersyukur dianugerahi putri secantik Zenia.


Malam sudah datang, selesai menikmati makan bersama, Alina menemani Raihan di kamarnya. Sudah lama sekali sejak permasalahan demi permasalahan menerpa ibu dan anak itu tidak menghabiskan waktu bersama.


Dari sekian banyak waktu yang sudah terlewat, baru malam ini mereka bisa seperti dulu lagi. Alina berbaring di samping Raihan yang tengah bersandar nyaman di bahunya.


"Sayang, Mamah minta maaf yah," kata Alina sembari membelai punggung sang buah hati.


Kelopak mata itu kembali terbuka, Raihan mendongak melihat rahang ramping ibunya.


"Kenapa Mamah minta maaf?" tanyanya heran.


"Karena beberapa hari terakhir ini Mamah tidak pernah punya waktu untuk berduaan denganmu," balas Alina.


Raihan tersenyum senang dan memeluk ibunya semakin erat. "Itu tidak masalah, Mah. Selagi Mamah bisa mengatasinya dan tidak melupakan aku maupun adik bayi ... itu sudah cukup. Karena apa pun yang Mamah lakukan, aku akan mendukungnya. Aku tidak ingin melihat Mamah menangis dan menderita lagi."


"Jika aku melihat Mamah seperti itu ... hatiku rasanya sakit, Mah," tutur Raihan mengungkapkan perasaan terdalam.

__ADS_1


Alina terpaku, lupa jika dirinya mempunyai seorang anak yang sangat peka. Ia tidak menyadari perbuatannya selama ini juga sudah menyakiti perasaan jantung hatinya.


Embun seketika merembes di dalam manik jelaganya. Keharuan menyeruak mengalirkan kebahagiaan membentuk rasa syukur.


Ia memberikan ciuman hangat di puncak kepalanya dalam, lalu meletakan dagu di sana. "Mamah minta maaf," katanya lagi.


"Tidak usah minta maaf, Mah. Aku tidak ingin mendengarnya," balas Raihan menutup kelopak matanya lagi.


"Em, terima kasih, Sayang."


Raihan hanya mengangguk-anggukan kepala. Berada dalam dekapan seorang ibu dengan aroma yang menenangkan sudah membuat ia bahagia.


Tidak ada yang paling istimewa selain bersama sang ibu. Dari kecil Raihan hanya dekat dengan Alina, ayah kandungnya Azam selalu sibuk dengan pekerjaan.


Namun, ia bersyukur jika hubungannya bersama sang ayah sudah jauh lebih baik. Dulu, Raihan pikir jika Azam tidak menginginkan keberadaannya.


Seiring berjalannya waktu, ia menyadari jika ada konflik terjadi di antara mereka. Ia yang masih kecil tidak bisa berbuat apa-apa pun hanya menyaksikan dalam diam.


Ia sangat terpukul setiap kali melihat ibunya menangis dan menangis. Keputusan Alina untuk pergi dari rumah waktu itu, menurut Raihan adalah keputusan yang terbaik.


Karena ia berpikir jika sang ibu pergi dari sana, maka tidak akan ada tangisan lagi. Ia sangat menyayangi ibunya lebih dari apa pun.


"Aku sayang, Mamah."


Kata-kata spontan itu membuat Alina tidak kuasa membendung air mata kebahagiaan. Ia terkejut dan terharu mendapatkan ungkapan perasaan dari sang buah hati.


Dari dulu hingga sekarang, Raihan satu-satunya orang yang paling mengerti akan dirinya. Alina bersyukur Allah menghadirkan seorang anak yang sangat luar biasa.


"Mamah juga sangat menyayangimu, Sayang," balas Alina, suaranya teredam menahan tangis haru.


"Em, Raihan tahu."


Mendengar dirinya menyambut Raihan pada diri sendiri Alina menyadari jika, "Raihan masih anak kecil yang membutuhkan kasih sayang. Maaf Sayang, kamu harus bersikap dewasa sebelum waktunya. Semoga perpisahan Mamah dan ayah tidak mempengaruhi tumbuh kembangmu. Terima kasih sudah mengerti keadaan kami. Kamu putra Mamah yang sangat luar biasa ... terima kasih Ya Allah sudah menganugerahi anak sepintar ini," monolognya dalam diam. Ia menunduk melihat wajah damai Raihan yang terlelap. Ia pun membelai puncak kepalanya dan memberikan ciuman lagi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2