Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 107 (Season 2)


__ADS_3

Perlahan angin sejuk datang menemani kebersamaan. Detik demi detik jam terus berdentang mengenyahkan keheningan. Aroma vanilla dari lilin aromatherapy menyeruak di dalam kamar berbentuk kotak tersebut.


Alina masih setia mengusap punggung buah hatinya dan memikirkan kata-kata Raihan. Pemikiran sang anak membuat ia tercengang.


Meskipun usianya masih sangat belia, Raihan memiliki pemikiran dewasa sebelum waktunya dan hal tersebut membuat Alina bangga. Ia mempunyai seorang jagoan yang akan melindunginya sampai kapan pun.


"Menurut Raihan, bagaimana dengan paman Zaidan?" tanya Alina lagi.


"Paman Zaidan?" ulang Raihan, Alina mengangguk meskipun putranya tidak melihat. "Paman Zaidan sangat menyukai Mamah. Raihan setuju jika Mamah menikah dengan paman Zaidan dan ... Raihan pasti akan senang sekali jika paman Zaidan menjadi ayah baru."


"Astaghfirullah, dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu?" Alina terkejut dan sedikit merenggangkan pelukan.


Raihan terkekeh pelan seraya memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. "Raihan mendengar tante Zara yang mengatakan jika paman Zaidan sangat mencintai Mamah."


"Ya Allah, kamu mendengarnya kapan?" tanya Alina terkejut.


"Em, Raihan tidak tahu. Karena Raihan sering mendengarnya," aku jujur sang putra sambil tertawa pelan.


Alina menghela napas dan kembali mendekap hangat tubuh kecilnya. Raksi yang menguar dalam diri Raihan seketika memberikan ketenangan.


Anak adalah titipan dari Allah pada setiap hamba yang dipercaya. Anak juga merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai. Keberadaannya mampu menyembuhkan luka dan menjadi semangat untuk memulai kehidupan baru.


Alina bersyukur setidaknya Raihan menjadi bukti pernikahan yang sempat merasakan kebahagiaan. Ia tidak menyesali apa pun atau menyalahi keadaannya yang pernah membina rumah tangga bersama Azam. Karena di balik itu semua ia yakin akan ada kebaikan setelahnya.


"Apa kamu mau jika paman Zaidan jadi ayahmu, Sayang?" tanya Alina lagi.


Raihan mendongak seraya memamerkan deretan gigi susunya lagi. "Sangat mau, Raihan juga lihat paman Zaidan sangat menyukai Mamah."


Alina lagi-lagi mengulas senyum lembut. "Jika boleh memilih antara paman Zaidan dan ayah, siapa yang akan Raihan pilih?"

__ADS_1


Pertanyaan itu pun lolos begitu saja dari mulut kemerahan Alina. Ia sendiri juga terkejut dan tersentak dengan apa yang diucapkannya.


"Ah, maksud Mamah-"


"Paman Zaidan itu sangat baik dan Raihan juga sayang ayah, tetapi ... ayah selalu membuat Mamah menangis. Raihan hanya ingin Mamah tersenyum, meskipun tanpa ayah." Kata-kata hangat yang dilontarkan buah hatinya kembali mendamaikan.


Raihan dituntut dewasa sebelum waktunya, perceraian yang terjadi antara kedua orang tuanya tidak membuat ia sedih. Dalam pikirannya sudah tertanam jika kebaikan sang ibulah yang utama.


"Mamah sangat menyayangimu, Sayang." Alina mendekap Raihan erat menyalurkan betapa dirinya begitu menyayangi putra tunggalnya ini.


...***...


Fajar menyingsing, lukisan Allah di awal hari begitu memanjakan mata dan mendamaikan jiwa. Panorama matahari terbit menjadi buruan para pelancong yang datang ke laut.


Beberapa wistawan bahkan sudah menunggunya sedini mungkin untuk bisa melihat keindahannya. Di tambah deburan ombak yang begitu tenang menjadikan pemandangan alam tersebut semakin diburu.


Kamera ponsel pun seketika mengabadikan momen itu sebagai kenangan. Melihat betapa antusiasnya mereka menyuguhkan bulan sabit melengkung indah di wajah cantik wanita berhijab hitam.


"Matahari terbit begitu indah menyuguhkan panorama alam yang begitu syahdu. Kata-kata tidak akan bisa menggambarkan betapa cantik lukisan Allah yang satu ini. Perasaan mendalam bagaikan musik simfoni membentuk sebuah harmoni. Cinta datang tanpa diundang dan pergi tanpa permisi. Kasih sayang yang begitu luas ... seluas samudera menyuguhkan kerinduan. Air mata-"


"Berhenti, apa yang kamu lakukan? Pagi-pagi sudah puitis seperti itu." Alina menepuk pelan pundak sahabatnya.


Zara terkekeh yang tengah duduk di sebelahnya. Mereka menikmati objek yang sama dan hanya bisikan alam menemani dua wanita tersebut.


Alina dan Zara, merupakan salah satu dari begitu banyaknya korban keegoisan seorang pria. Mereka kini sudah membuktikan jika melepaskan lebih baik daripada bertahan. Hidup juga adalah sebuah pilihan, lepaskan yang membuat luka dan sambut yang memberikan kebahagiaan.


"Kemarin menjadi sebuah cerita yang tidak akan pernah aku lupakan. Bersamaan dengan lamaran yang dilayangkan mas Zaidan padamu ... mas Dimas pun mengakui perasaannya. Alina, kenapa kita selalu berada di situasi yang sama?"


Perkataan Zara tadi seketika menarik atensi Alina. Kepala berhijabnya menoleh ke samping di mana sang lawan bicara tetap berada di posisi yang sama.

__ADS_1


Iris cokleat susunya melebar tdiak percaya. "A-apa? Mas Dimas juga mengakui perasaannya? Pria dingin itu mengakui cintanya padamu? Pria berkacamata itu-"


"Iya Alina, pria dingin, berkacamata bernama Dimas itu mengakui cintanya padaku!" tegas Zara languang memandanginya lekat lalu bibir ranumnya mengerucut.


Alina terkekeh menyaksikan reaksinya. "MasyaAllah, bagus untukmu, Zara. Sudah aku duga jika mas Dimas memang menyukaimu. Kamu ... berhak bahagia atas apa yang sudah terlewati."


"Kata-kata itu aku kembalikan padamu, tetapi ... trauma dan ketakutan itu masih ada. Aku takut untuk membina rumah tangga lagi. Aku-"


"Zara." Alina memotong ucapannya cepat.


Zara terdiam kaku dan menunggu apa yang hendak dikatakan Alina selanjutnya. "Seperti kamu meyakinkan diri untuk berhijab, awalnya memang takut, bukan? Namun, setelah kamu menggunakannya ... apa yang kamu rasakan?" tanyanya kemudian.


"Aku merasa nyaman, tenang, dan jauh lebih terlindungi."


"Begitu pula dengan membuka hati untuk yang baru. Kamu pasti akan merasakan hal yang serupa, sebab semua orang tidaklah sama. Aku yakin mas Dimas bisa membahagiakanmu dan Naura, terlebih putri kecilmu sudah sangat dekat padanya." Seketika itu juga Alina tertawa ringan. "Mudah memang menasehati orang lain, padahal aku sendiri tidak jauh berbeda dari kamu, Zara."


Wanita pemilik senyum manis itu pun tertawa pelan. "Aku juga terkejut mendengarnya. Seperti kataku tadi, apa yang kamu katakan aku kembalikan. Karena bagaimanapun juga kita berhak bahagia, ada ataupun tidak seorang pendamping. Aku pasrah dan menyerahkan semuanya pada Allah."


Alina mengangguk setuju, "begitu pula denganku."


"Tapi bagaimana menurutmu tentang lamaran kemarin? Apa kamu memikirkannya" tanya Zara penasaran.


"Aku ... memikirkannya. Semalam aku juga sempat berbicara dengan Raihan. Dia tahu jika mas Zaidan menyukaiku, katanya Raihan mendengar kata-kata itu darimu. Entah sengaja atau tidak Raihan mendengar ucapanmu," jelasnya.


Seketika itu juga Zara tertawa terbahak saat melihat rona merah merebak di pipi putih sahabatnya. "Bukankah itu bagus? Kamu jadi tidak usah menjelaskan padanya lagi. Raihan saja tahu jika mas Zaidan sangat menyukaimu. Aku yakin dia mampu membahagiakanmu dan melepaskan rasa sakit yang sudah mas Azam berikan."


"Entahlah, untuk saat ini aku masih harus memikirkannya. Orang tuanya sangat baik, aku tidak ingin menjadi noda untuk orang baik itu."


"Kamu terlalu pesimis, Alina. Aku yakin mereka semua menerima kamu apa adanya," kata Zara menyemangati.

__ADS_1


Alina hanya mengulas senyum dan kembali memandang ke depan di mana sang raja siang sudah mulai duduk di singgasannya. Perasaan itu seketika menghangat kala keseriusan yang Zaidan berikan sampai ke dalam relung hatinya.


...Bersambung......


__ADS_2