
Asha membentang membentuk sebuh siluet mimpi kian datang menerjang. Harapan setinggi angan tercetus dalam sanubari menebarkan raksi yang kian menyengat. Mimpi di siang bolong boleh saja berakhir, tetapi mimpi untuk menggapai kebaikan harus tetap dicapai.
Sang penguasa alam begitu hebat merancang semua cerita bagi setiap hamba-Nya. Skenario-Nya kadang mengundang air mata, tetapi begitu menakjubkan kala keajaiban datang setelahnya.
Semuanya mengandung misteri yang tidak bisa ditebak kedatangannya. Namun, di balik air mata, perihnya luka, pedihnya kecewa, terdapat kebaikan yang tidak bisa diukur oleh nalar. Allah selalu punya cara memberikan kejutan pada hamba-Nya.
Alina merasakan kisah kehidupannya kian berliku, menanjak, dan terjal, tetapi ia yakin pasti ada hadiah yang sudah Allah siapkan untuknya.
Perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Kejahatan pada akhirnya akan kalah dan kebaikan pun menang dengan sendirinya.
Sepeninggalan Safira kini Zaidan pun duduk kembali di kursi sebelah ranjang, sedangkan Dimas dan Zara menemani Raihan serta Naura bermain.
"Terima kasih, sudah membantuku sampai sejauh ini," kata Alina memulai seraya menundukan pandangan.
Zaidan tersenyum saat kembali melihat Alina begitu menjaga pandangan. "Karena inilah yang bisa aku lakukan untuk ... wanita yang aku cintai. Aku rela berkorban apa pun untuk kebaikanmu, Alina."
Kata-kata lambut nan hangat menyentuh hati terdalam menelusuk ke relung perasaan. Baru kali ini Alina mendengar kalimat lembut tersebut dari seseorang.
Embun hadir di kedua manik jelaganya membuat ia menoleh ke samping kiri menyembunyikan keharuan.
"Aku menghargai semua usaha yang Mas lakukan untukku, tapi ... tolong jangan memberi harapan yang sudah kita tahu jawabannya." Suara Alina bergetar menahan tangis.
Zaidan terperangah dan menegakan tubuh seraya sedikit condong ke depan. "Jawabannya karena aku mencintaimu. Kata-kata ini bukan dusta, ataupun kebohongan semata, tetapi aku benar-benar telah jatuh cinta padamu, Alina."
Alina terdiam, terpaku dengan semua ungkapan perasaan yang Zaidan lontarkan. Sedetik kemudian kedua sudut bibirnya melengkung sempurna.
Ia kembali menatap lurus ke depan menyaksikan dinding bercat putih sebagai objek tumpan. "Ali bin Abi Thalib pernah berkata Apa yang akan menjadi milikmu, akan menemukanmu. Bagiku, jika kita mencintai seseorang lebih baik pasrahkan perasaan itu pada sang pemilik cinta. Allah ... Allahlah pemilik segalanya. Allah pulalah yang memberikan perasaan itu pada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika Mas, memang benar-benar mencintaiku, maka relakanlah."
__ADS_1
"Pergi dan bawa perasaan itu menghadap pada sang Illahi. Apa cinta itu benar-benar untukku atau tidak. Buktikan apa Mas mencintai sang pencipta atau ciptaan-Nya. Jangan sampai perasaan itu lebih condong kepada ciptaan-Nya. Karena Allah maha cemburu juga, Mas."
"Aku sudah merasakan bagaimana rasanya mencintai begitu kuat pada ciptaan-Nya, dan ternyata semua itu berbalas dusta. Aku ... lelah dan juga bersalah, dulu meskipun dia terus menyakiti, cinta yang aku rasakan akan tetap memaafkan. Namun, semua itu tidak cukup jika tidak berdasar pada cinta pada Illahi Saat ini aku hanya ingin lebih dekat pada sang pencipta dan membesarkan Raihan," celoteh Alina panjang lebar.
Tanpa terasa air mata menitik membasahi punggung tangan. Zaidan terperangah dan terdiam kaku mendengar kata-kata penuh syahdu dari wanita yang dicintainya.
Alina benar, selama ini ia lebih condong mencintai ciptaan-Nya bahkan dirinya terkadang melupakan kewajiban.
Liquid bening terus meluncur tanpa henti membuat pria berusia tiga puluh tujuh tahun tersebut menundukan kepala dalam.
Kata-kata yang berdengung di dalam ruang inap pun mempengaruhi Dimas dan Zara. Mereka pun terdiam membungkam mulut rapat. Seperti secercah cahaya menelisik ke dalam kegelapan, apa yang Alina ucapkan barusan membuat mereka sadar.
Jika kita ingin mendapatkan atau mengharapkan sesuatu dekatilah sang pencipta. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Pada setiap hamba-Nya yang berdo'a dan memasrahkan semuanya pada Allah semata, Allah akan memberikan jauh dari apa yang hamba-Nya inginkan. Termasuk, cinta.
...***...
Hal tersebut pun memberikan dampak positif bagi kehidupannya. Ia mulai meninggalkan gemerlapnya dunia, pesta-pesta yang tidak ada manfaatnya, juga memutuskan kerja sama dengan pengusaha yang dinilai kurang bermanfaat.
Dimas pun ikut merasakan dampaknya dan mengikuti apa yang dilakukan sang tuan. Perubahan itu membuat ayah dan ibunya heran. Karena tidak biasa melihat putra sematawayangnya condong ke arah religius.
"Akhir-akhir ini Mamah perhatikan kamu lebih rajin salat di masjid dan menghabiskan waktu di sana, ada apa?" tanya sang ibu, Nyonya Moana Zulfan yang diangguki ayahnya, Farras Zulfan.
Zaidan yang tengah menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya mendongak memandangi mereka bergantian.
"Seseorang mengingatkanku untuk lebih mencintai sang pencipta. Mamah, Papah, mulai saat ini berhenti memperkenalkanku pada wanita-wanita yang memakai pakaian mini. Auratnya saja tidak bisa dijaga bagaimana akan merawatku sebagai suaminya nanti?" Celoteh Zaidan lalu memasukan nasi ke dalam mulut.
Mendengar perkataan sang buah hati bagaikan tangan tak kasat mata menampar pipinya kencang. Moana tercengang dan terus memandangi Zaidan yang acuh tak acuh menikmati santapannya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa kalian tidak mengatakan apa pun?" tanyanya kembali.
"Kamu membuat Mamah malu," kata Moana menghentikan aksi putranya.
"Hah? Apa yang Mamah katakan?" Zaidan masih tidak mengerti.
"Perkataanmu barusan sudah seperti menyindir ibumu sendiri," jelas sang ayah.
Seketika bibir kemerahan itu terbuka dan terdiam kaku. "A-aku tidak bermaksud seperti itu, Mah. Iya, alangkah lebih bagus jika Mamah mulai belajar mengenakan hijab. Kita harus berubah juga Yah, jangan terus dunia saja yang dikejar," tuturnya.
Ayah dan ibunya terdiam lalu saling pandang tidak menyangka mendapatkan ucapan seperti itu dari Zaidan. Karena selama ini putranyalah yang lebih semangat untuk menghadiri pesta pora di berbagai undangan.
Namun, ada perasaan lega nan senang saat mendapati Zaidan berubah. Sudah hampir satu bulan ia terus bolak-balik antara mengurus perusahaan dan memperdalam ilmu agama.
Selama itu pula ia tidak pernah menemui Alina lagi, seolah wanita itu menghilang dalam pandangan. Namun, tetapi saja perasaan tidak bisa dihapuskan begitu saja. Diam-diam ia sering menyelipkan do'a meminta yang terbaik untuk masalah percintaannya.
Karena ia sadar jika wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut ada dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 26 yang artinya:
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
Zaidan memahami dan terus memperbaiki diri agar lebih pantas mendapatkan seseorang yang baik, terutama baik agamanya.
Ia ingin membangun sebuah keluarga atas dasar pada Illahi Rabbi dan tidak hanya cinta semata. Ia mendambakan keluarga kecilnya nanti bisa salat bersama dan lebih dekat pada agama. Karena selama ini ia dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari hal tersebut.
Zaidan tidak ingin nanti anak keturunannya mengikuti jejak ayahnya yang tidak baik. Ia berharap dan terus berharap bisa mendidik buah hatinya lebih baik dari dirinya sendiri.
...Bersambung......
__ADS_1