Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 174 (Season 3)


__ADS_3

"Sayang, Raihan! Apa yang kamu lakukan? Kenapa membentak ibumu seperti itu?" tanya Zaidan seraya masuk ke dalam kamar jagoannya.


"Kamu jangan seperti itu, bagaimanapun sekarang Mamah sedang mengandung adik bayi. Kamu-"


"Sudah cukup ... adik bayi, adik bayi, adik bayi ... aku muak mendengarnya!" Raihan berteriak menyingkap selimut kasar memandangi kedua orang tuanya.


Ia duduk di atas tempat tidur dengan berlinang air mata. Napasnya terasa sesak, dadanya naik turun berusaha mengatur emosi yang kian memuncak.


"Apa selama ini kalian mempedulikanku? Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang bayi itu. Aku-"


"RAIHAN!" Alina menyentaknya dengan meninggikan suara. Ia bangkit dari duduk menatap serius sang buah hati.


Mata memerah ibunya pun membuat Raihan takut. Hatinya bertambah sakit kala pikiran jika sang ibu lebih memilih adik bayi semakin kuat.


"Kamu jangan berkata seperti itu, Sayang. Kami tidak pernah melupakanmu, bahkan kami sangat peduli padamu. Mamah dan Ayah-"


"BOHONG. Kalian semua bohong! Selama ini Ayah dan Mamah sudah mengungsikan ku ke rumah Ayah Azam, sebab ingin menghabiskan waktu bersama adik bayi tanpa kehadiranku, kan? Aku tahu selama ini aku hanya beban bagi kalian."


"Aku sadar ... aku bukan anak kandung Ayah. Hanya meminta sedikit waktu dari Ayah saja, aku tidak bisa mendapatkannya. Bahkan sekarang kalian lebih memperhatikan bayi itu yang belum lahir ke dunia."


"Aku sakit ... aku sangat sakit, Mah. Ayah Azam dan ibu Jasmin memang memperlakukan dengan baik, tapi kenapa? Kenapa Mamah dan Ayah tidak menjemput ku setelah liburan selesai? KENAPA MAH?"


"Dan setelah kita bertemu lagi kalian ... kalian lebih memperhatikan adik bayi dan mengabaikan ku. Saat liburan kemarin pun Ayah dan Mamah lebih memilih menghabiskan waktu bersama."


"Aku hanya ingin bermain bersama Ayah dan Mamah, apa aku salah menginginkan itu? Aku sadar Mamah dan Ayah lebih bahagia dan membangun keluarga baru tanpa kehadiranku. Terima kasih sudah menampungku selama ini. Semoga Ayah dan Mamah bahagia bersama keluarga baru kalian."


Setelah mengungkapkan perasaan terdalamnya, Raihan pergi menyisakan keheningan. Alina tidak sanggup menopang berat badannya lagi, kedua kakinya lemas dan hampir terjatuh. Beruntung dengan cepat Zaidan menahannya lalu mendudukkan sang istri di tempat tidur.


Air mata sudah tidak bisa ditahan lagi, mengalir, menganak bagaikan sungai. Ia menangis sejadi-jadinya mendengar penuturan serta air muka kepedihan dalam diri Raihan.

__ADS_1


Alina tidak menyadari jika selama ini sikap yang sudah diberikannya bersama sang suami menyakiti sang buah hati. Isak tangis pun tak terelakan berdengung serta bergema dalam kamar jagoan kecilnya.


Zaidan membawa tubuh bergetar itu ke dalam pelukan dan memberikan elusan pelan di punggungnya. Ia juga merasa bersalah atas apa yang terjadi hingga membuat Raihan terluka. Ia tidak menyadari jika sikapnya yang selalu menolak ajakan sang anak sambung beruntun panjang.


"Aku sangat bersalah ... aku bersalah sudah membuat Raihan terluka. Aku sudah menyakitinya ... aku menyakiti Raihan lagi,"adu Alina sesenggukan.


"Shut, tidak Sayang. Kita melakukan kesalahan yang tida disadari. Aku juga bersalah sudah mengabaikannya, tapi ... Raihan tidak boleh tahu apa yang terjadi dalam keluarga kita."


"Kita tidak bisa membebani pikirannya dengan masalah besar seperti itu," kata Zaidan terus menyalurkan kekuatan.


Dalam pelukannya Alina hanya mengangguk serta terus menangis lagi dan lagi. Ia sakit menyaksikan air mata berlinang di wajah tampan Raihan.


...***...


Setelah sedikit pertengkaran terjadi bersama sang ibu, Raihan menghubungi Azam meminta ayahnya untuk menjemput.


Setibanya di kediaman ayah kandung, ia tidak pernah lepas dari pelukan Azam. Raihan menyembunyikan wajah berair di dada bidangnya.


Ia meletakan dua gelas yang berisi teh dan susu hangat lalu duduk di sebelah suaminya. Ia ikut mengusap puncak kepala Raihan, sayang.


"Sayang, apa yang terjadi di rumah, hm? Kamu bisa menceritakannya pada Ibu atau Ayah, Nak. Apa Mamah tahu kamu datang ke sini?" tanya Jasmin beruntun.


Di balik dada sang ayah, Raihan menggeleng singkat. Azam menghela napas pelan, membawa kepala bulat itu untuk mendongak.


Azam dan Jasmin terpaku kala menyaksikan linangan air mata membasahi wajah tampannya. Perlahan Azam mengusap buliran bening di pipi Raihan.


"Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Jagoan Ayah tidak pernah menangis seperti ini," ucapnya lalu membubuhkan kecupan hangat di dahi lebar Raihan.


Sang putra mencoba menahan isak tangis yang kian mendera. Ia merasa bersalah sudah membentak ibunya, tetapi Raihan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengungkapkan perasaan terdalam.

__ADS_1


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi Sayang?" tanya Azam kemudian.


Raihan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menunduk menyembunyikan kepedihan tercetus dalam sorot mata dan tidak ingin jika Azam melihatnya.


Ia menceritakan semua yang terjadi di rumah. Di sela-sela perkataannya Raihan sesenggukan kala kesakitan itu kian menguat.


Ia merasa serba salah dalam posisinya saat ini, mendengar semua penuturan Raihan, Azam menoleh pada Jasmin yang juga tengah menatapnya.


Kedua orang dewasa itu ikut merasakan sakit menyaksikan Raihan mengungkapkan isi hati. Sedikitnya mereka ikut andil dalam permasalahan yang terjadi. Karena awal dari gejala tersebut terjadi di rumah tangganya.


"Sayang, dengar." Azam menangkup kedua pipi berisi jagoannya.


Raihan kembali mendongak menatap ke iris kelam sang ayah. "Mamah tidak mungkin mengabaikan mu, Sayang. Mamah ... sangat menyayangimu, mungkin saat ini mamah dan ayah Zaidan hanya sedang semangat hendak menyambut adik kecil."


"Mereka tidak akan melupakan keberadaan mu, Sayang. Mamah dan ayah Zaidan sangat menyayangimu ... mereka hanya membutuhkan waktu, tapi percayalah ... mamah dan ayah Zaidan tidak akan pernah mungkin mengabaikan mu." Azam berusaha meyakinkan Raihan.


"Tapi kenapa mereka hanya fokus kepada adik bayi? A-apa keberadaan ku hanya beban bagi mamah dan ayah Zaidan? Hanya karena mereka akan mendapatkan anak sendiri, aku jadi dilupakan?" Air mata mengalir menandakan kerapuhan.


Azam tidak kuasa membendung rasa sakit menyaksikan buah hatinya seperti itu. Ia memeluknya erat sembari memberikan kecupan di puncak kepala Raihan beberapa kali.


"Tidak apa-apa, mamah mungkin tidak bermaksud seperti itu. Kamu jangan berpikir yang macam-macam yah, Sayang."


"Shut, jangan menangis lagi, jagoannya Ayah harus kuat. Raihan, kan akan menjadi seorang kakak. Sudah yah, di sini masih ada Ayah, Ibu Jasmin, dan Kak Aqeela. Raihan tidak sendirian, Sayang. Beri waktu untuk mamah, yah," tutur Azam seraya terus mengusap punggungnya pelan.


Raihan hanya mengangguk sebagai jawaban tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia terus menangis menumpahkan sesak dalam dada.


Jasmin yang melihat itu tidak menyangka jika anak sebaik Raihan bisa begitu rapuh. Ada perasaan bersalah yang juga melingkupinya.


Menyaksikan ayah dan anak tepat di hadapannya, ia tidak bisa membendung air mata. Liquid bening itu pun meluncur cepat dan memberikan kecupan mendalam di puncak kepala Raihan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2