
Bagaikan kisah klasik, episode lama kembali terulang. Keberadaannya mampu menyadarkan jika tidak selamanya hidup berada dalam kebaikan.
Pasang surutnya mengantarkan kepada sebuah perasaan dangkal. Bagaikan menaiki wahana roller coaster rintangannya tidak mudah dilalui dan menegangkan.
Malam menjelang, Alina baru saja selesai memasak dan berjalan ke lantai dua hendak memanggil putra sulungnya.
Sebelum masuk ke kamar Raihan, ia mengetuk pintunya beberapa kali dan membukanya pelan. Ia mendapati sang buah hati berada di meja belajar nampak serius.
"Sayang, waktunya makan. Belajarnya diteruskan nanti saja, yah," kata Alina mendekat.
"Aku tidak lapar, Mah," balas Raihan tanpa sedikitpun melihat pada sang ibu.
Dahi lebar Alina mengerut dalam, tidak biasanya Raihan seperti itu. Ia berjongkok tepat di sampingnya dan mencengkram pelan kedua bahu sang jantung hati.
"Sayang," kata Alina sembari menarik anak pertamanya untuk menghadapnya.
"Ada apa? Tadi siang juga kamu tidak memakan bekal yang Mamah berikan," ujar Alina lagi.
Raihan diam beberapa saat, pandangannya pun jatuh ke bawah menghindari tatapan sang lawan bicara. Ia tidak mau Alina mengetahui atas apa yang terjadi di sekolah.
"Aku hanya sedang tidak selera makan, Mah," balasnya, menoleh singkat pada Alina dan kembali menunduk.
Alina pun menangkup pipi mulus itu membuat sang empunya mendongak lagi.
"Apa kamu tidak enak badan?" tanyanya cemas lalu meletakan punggung tangan di dahi Raihan.
Ia pun menggeleng pelan dan memaksakan senyum. "Tidak, aku hanya sedang tidak ingin makan saja. Bisakah Mamah biarkan aku sendirian? Masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan."
"Baiklah, kalau seperti itu Mamah tidak akan memaksamu. Nanti Mamah bawakan susu dan buah-buahan yah," kata Alina lagi.
"Okay Mah. Mamah tidak usah khawatir, aku tidak apa-apa," lanjut Raihan.
Air mukanya berubah cerah membuat Alina sadar jika kepekaan sang anak terus bertambah kuat. Ia tahu jika Raihan menyadari kesalahan yang dibuatnya dan tidak ingin Alina khawatir.
"Em, semangat belajarnya, Sayang." Raihan mengangguk dan kembali menghadap meja.
__ADS_1
Alina berjalan perlahan seraya terus memperhatikannya. Tidak lama berselang ia pun kembali keluar dan membiarkannya sendirian.
Raihan menghela napas pelan dan menatap ke arah pintu masuk. "Aku minta maaf, Mah. Aku tidak ingin membuat Mamah khawatir," gumamnya.
Zaidan pun pulang disambut hangat oleh senyuman istri dan putri kecilnya. Ia membubuhkan kecupan hangat di dahi lebar mereka.
Ia mengambil alih Zenia dari sang ibu lalu menyerahkan tas kerja pada istrinya. Ia pun menyapukan pandangan kala tidak mendapati putra sambungnya.
"Di mana Raihan?" tanyanya pada sang istri.
"Raihan ada di kamar, sedang mengerjakan tugas sekolah," jelas Alina, Zaidan pun mengangguk pelan.
"Apa Mas mau makan dulu atau mandi dulu?" tawar Alina kemudian.
"Aku sudah lapar ... aku mau makan dulu," balas Zaidan.
Keluarga kecil itu pun beriringan menuju meja makan dan menikmatinya bersama-sama tanpa kehadiran Raihan.
Setelah itu, Alina menyiapkan susu dan buah-buahan untuk putranya. Ia masih mendapati Raihan mengerjakan tugas di meja belajar.
Ia menasehatinya untuk tidak tidur terlalu malam. Raihan pun mengiyakan dan berusaha fokus pada kegiatannya menghindari tatapan sang ibu. Mau tidak mau Alina pun memberikan ruang sendiri untuk sang putra.
"Ada apa?" tanyanya sembari mengusap punggung Alina lembut.
Ia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku khawatir pada Raihan. Baru kali ini dia tidak memakan bekal yang aku kasih ... bahkan dia juga tidak makan malam. Apa di sekolah sudah terjadi sesuatu?"
Mendengar penuturan tersebut membuat Zaidan pun tersadar. Ia ingat dengan kejadian tadi pagi di sekolah putra sambungnya.
Ia pun menceritakan semua yang dilihat pada Alina. Sang istri terkejut dan tidak menyangka jika teman sekolah Raihan bisa berkata seperti itu.
"Apa mungkin Raihan terpengaruh oleh ucapannya? Mas tahu, Raihan sangat peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Aku jadi khawatir jika dia-"
"Shut, aku yakin tidak terjadi apa-apa. Raihan mungkin hanya tidak ingin membuatmu khawatir, anak itu sudah beranjak remaja. Aku yakin Raihan tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu jangan banyak berpikir yang macam-macam, yah," kata Zaidan, Alina hanya mengangguk sebagai jawaban.
...***...
__ADS_1
Pagi menjelang, Raihan turun dari lantai dua hendak ikut sarapan bersama keluarganya. Alina terus memperhatikan sang putra yang masih sama seperti tadi malam.
Raihan terus diam tidak banyak bicara. Hal tersebut sudah pasti mengundang kekhawatiran pada ibunya. Alina tidak mau anaknya memikirkan banyak hal dan mengganggu belajarnya.
Kurang lebih lima belas menit berselang, mereka sudah selesai sarapan. Raihan duduk di ruang tamu tengah memakai sepatu sekolah.
Alina datang sembari menenteng kotak bekal makan siang lalu duduk di sebelahnya dan merangkul bahu sempit itu hangat.
"Sayang, boleh Mamah bertanya sesuatu?" tanya Alina hati-hati.
"Em tentu. Mamah ingin bertanya apa?" tanya balik Raihan tanpa mengalihkan pandangan.
"Apa ada sesuatu di sekolah? Sejak kemarin Raihan terus saja diam, Mamah jadi khawatir. Mamah takut kamu ada masalah dengan teman-teman. Apa-"
"Mah." Panggil Raihan memotong ucapan Alina.
Ia mendongak menyelami manik jelaga wanita yang sudah melahirkannya. Seketika itu juga Alina terperangah menyaksikan sorot mata sedih.
"Aku tidak malu memiliki dua ayah dan ibu. Aku bangga mempunyai kalian di hidupku. Apa aku salah memiliki dua ayah dan ibu? Tidak ... itu tidak salah sama sekali. Mereka yang tidak tahu bagaimana senangnya aku ... tidak bisa memahami," tutur Raihan.
Mulut ranum Alina terbuka sedikit, maniknya melebar perlahan mendengar penuturan hangat buah hatinya.
Ia pun menarik Raihan ke dalam pelukan dan mengelus punggungnya pelan.
"Tidak ada yang salah sama sekali. Mereka yang tidak merasakan, pasti memang tidak akan pernah mengerti. Kamu harus menjelaskan pada siapa pun jika ayah tiri tidak seburuk kedengarannya. Memang ayah sambung tidak sama seperti ayah kandung, tetapi ... Ayah Zaidan maupun ayah Azam sama-sama menyayangimu."
"Kamu anak beruntung bisa memiliki dua ayah dan ibu yang sangat menyayangimu. Mamah rasa jika temanmu yang tidak suka melihatmu mempunyai dua ayah ... kemungkinannya ada dua-"
"Apa itu, Mah?" tanya Raihan kembali memotong ucapannya.
Alina melepaskan pelukan, menangkup kedua bahu putranya pelan, dan memandangi iris hitam legam di depannya lekat.
"Pertama, bisa saja temanmu atau siapa pun itu tidak mempunyai seorang ayah, atau yang kedua ... dia berada di posisi yang sama seperti Raihan, tetapi tidak seberuntung kamu," lanjut Alina membuat Raihan berpikir keras.
Ia pun mengangguk saat mengerti apa yang baru saja diucapkan sang ibu.
__ADS_1
"Aku mengerti ... aku hanya harus menjelaskan padanya jika memiliki dua ayah itu tidak memalukan, tetapi sebaliknya. Aku juga harus membuat mereka mengerti dengan posisiku, dan memberikan nasehat yang baik jika situasinya sama, tetapi tidak seberuntung aku," tutur Raihan membuat Alina mengangguk lalu menjawil hidung bangirnya pelan.
...Bersambung......