Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 5


__ADS_3

Langit terlihat agak mendung pagi ini. Matahari enggan keluar dari persembunyiannya. Jalanan ibu kota terlihat padat seperti hari-hari biasanya. Awan kelabu ikut berputar dalam kedua mata seorang Alina.


Saat ini ia tengah duduk bersama sang suami dalam kendaraan roda empat. Keheningan tercipta kala kecanggungan terus mengitari keduanya. Dalam buaiannya Aqeela tertidur begitu lelap. Ia berharap waktu berlalu dengan cepat. Ia tidak kuasa terus berlama-lama bersama suaminya. Alina tahu jika perasaan tidak bisa dipaksakan. Namun, bisakah itu tersampaikan?


Alina hanya mengingkan kelegaan dalam dadanya. Bukan rasa sesak yang setiap kali datang menerpa. Bisakah itu menghilang? Atau bisakah sang suami menerimanya? Kepala berhijab tersebut menggeleng kala beberapa pertanyaan berputar dalam pikiran. Alina sadar jika dirinya bukanlah sebagai peganti, melainkan seseorang yang bisa membantu keluarga suaminya.


Tak apa Alina bisa menerimanya dengan lapang dada, meskipun harus ada air mata mengitari. Ia berharap musim hujan segera menghilang dalam dirinya. Namun, itu hanya angan-angan saja. Nyatanya sang suami hanya menganggapnya sebagai seorang perawat, tidak lebih dari itu.


"Aku minta maaf."


"Ehhh....!"


Kata maaf yang terlontar dari Azam seketika mengejutkan Alina. Wanita itu langsung menoleh pada suaminya yang tengah serius menyetir. Apa ia tidak salah dengar? Azam meminta maaf? Pikirnya berkecambuk.


"Maaf karena sudah menyusahkanmu, tapi ini satu-satunya jalan. Aku tidak ingin melihat Yasmin semakin menderita. Aku hanya ingin melihatnya terus tersenyum. Karena senyumannya adalah bahagiaku." Seulas senyum pun terpendar di sana.


Alina yang terus menatapnya mengerti. Satu hal yang ia yakini jika Azam, "Mas, sangat mencintai Mbak Yasmin, kan?"


"Eung, aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa kehilangannya. Maka dari itu apapun keinginannya akan aku lakukan."


"Yah termasuk pernikahan ini." Benak Alina melanjutkan.


Bagaikan ada duri yang menancap dalam dadanya, Alina mengepalkan tangan kanannya kuat. Ia berusaha untuk tidak menggangu Aqeela yang tengah tertidur dalam dekapannya. Namun, sekuat apapun ia menahan rasa sakit itu terus bersemayam.


"Sampai kapan aku berada di posisi ini? Ya Allah, apa hamba sanggup bertahan? Hah~ tidak..... tidak Alina kamu harus bertahan. Ada Allah yang menguatkan." Benaknya lagi seraya menunduk dalam berusaha mengenyahkan kepedihan.


Sekilas Azam melihatnya. Ia tidak mengatakan apapun lagi hanya membiarkan keheningan mendominasi. Ia tahu seperti apa perasaan Alina. Sikapnya yang terlihat malu-malu begitu jelas menggambarkan rasa itu. Jika Alina mencintainya.


"Aku minta maaf," batin Azam.


Tidak lama berselang mereka pun tiba di salah satu klinik milik bidan senior di sana. Alina lalu turun dan bergegas membawa Aqeela untuk imunisasi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia pergi begitu saja. Azam mengerti dan tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Akhirnya kecanggungan pun usai. Alina bisa sedikit bernapas lega, setidaknya terbebas dari kebersamaan dengan Azam.


...***...


Satu bulan berlalu, kehidupan rumah tangga Alina dan Azam sama sekali tidak ada perkembangan. Bagaikan cangkang kosong di dalamnya tidak ada apapun. Hampa, tidak ada harapan cahaya untuk bersinar. Hanya gelap yang terus menyelimutinya. Hanya ada air mata yang keluar setiap saat.


Pedih, perhin, tapi tidak bisa berbuat apapun. Alina sadar dengan posisinya di sana.


Alina terus menyembunyikan perasaan terdalamnya. Namun, seberapa pintar ia menyembunyikan hal tersebut maka akan terhembus juga.


Sama seperti kali ini, Yasmin yang tengah duduk di ruang keluarga melihat dengan jelas bagaimana madunya tengah memasangkan dasi di kerah kemeja sang suami. Kecanggungan dan semburat merah di pipi wanita itu membuatnya melengkungkan bulan sabit.


"Ahh, ternyata dia benar-benar mencintai suaminya. Aku tidak salah menikahkan mereka berdua. Mas Azam, dicintai wanita yang tepat. Jika nanti aku pergi Mas Az-"


"Yasmin?" panggil sang suami yang memotong ucapannya dalam benak. Yasmin tidak menyadari jika Azam sudah berjongkok tepat di hadapannya.


"Ahh Mas, iya?" tanyanya kikuk lalu menampilkan senyuman.


"Tidak ada apa-apa." Yakinnya dan kembali melengkungkan bulan sabit di bibir ranum itu.


Azam tersenyum menatap wajah cerah istrinya. Sudah lama ia tidak melihat Yasmin seperti ini. Ia yakin penyakit yang bersarang dalam diri sang istri bisa disembuhkan. Harus, ia tidak bisa kehilangan pujaan hatinya.


"Aku senang," lirih Azam membuat Yasmin mengerutkan dahi, heran.


"Hmm?"


"Aku bisa melihatmu tersenyum lagi, Sayang. Terima kasih sudah bertahan untukku dan anak kita." Azam menyatukan dahinya dengan sang istri.


Senyum mengembang di bibir keduanya. Tidak hanya itu saja, Azam pun membubuhkan kecupan hangat di kening sang belahan jiwa. Tanpa menyadari jika ada hati yang terluka.


Alina yang masih berdiam diri tidak jauh dari keberadaan mereka hanya tersenyum masam. Kepalanya menggeleng sekilas lalu beranjak dari sana. Ia tidak bisa melihat lebih lama lagi keharmonisan yang dilayangkan oleh suami dan istri pertamanya.

__ADS_1


Itu seperti menabur perasan jeruk lemon di atas luka. Perih sangat perih. Bagaikan menelan empedu, terasa pahit untuk di rasakan.


Alina memilih pergi dan memendam semuanya, lagi.


Mendengar langkah kaki, Yasmin mendorong kedua bahu sang suami. Netranya lalu memandang ke mana Alina pergi. Ia tahu jika saat ini wanita itu tengah memendam perasaannya. Seketika rasa bersalah menghantuinya.


"Mas, lain kali jangan berbuat seperti ini jika di depan Alina."


Azam menautkan kedua alisnya mendengar penuturan sang istri. "Ehh, memang kenapa? Kitakan suami istri.


"Tapi Alina juga istri Mas. Aku tidak mau menyakiti hatinya. Aku ingin Mas juga memperlakukannya sama. Seharusnya sebelum berangkat kerja Mas kecup dulu dahi Alina. Dan Alina menyalami tangan Mas, kaliankan suami istri juga," tutur Yasmin membuat Azam terdiam.


Ia lalu beranjak dan mengambil tas kerja di sebelah Yasmin. "Aku berangkat dulu," ujar Azam tanpa membalas perkataan istrinya tadi.


Yasmin hanya menghela napas pasrah. Ia juga mengerti jika sang suami masih belum membuka hatinya untuk wanita lain, meskipun itu istrinya sendiri.


"Aku berharap sebelum pergi Mas sudah mencintai Alina." Lirihnya sambil menatap kepergian Azam.


Di pekarangan Alina tengah duduk memangku Aqeela seraya menatap kosong ke depan. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setiap kali melihat kemesraan suami dan istri pertamanya. Ia sadar jika Azam sama sekali tidak menganggap pernikahan mereka. Namun, tetap saja Alina berharap ada sedikit saja rasa menghargainya sebagai seorang istri.


Cinta terkadang memberikan kejutan tak terduga. Ia akan singgah pada siapa saja yang dikehendakinya. Alina pun tidak menyangka jika rasa itu tumbuh dengan cepat untuk suami orang. Ia berpikir untuk melepaskannya saja. Namun, ternyata rencana Allah tidak ada yang tahu. Allah menyatukannya dalam ikatan suci pernikahan.


"Aku pergi kerja dulu, Assalamu'alaikum." Suara berat dan tepukan pelan di puncak kepalanya membuat Alina terkejut.


Ia tidak menyadari kedatangan Azam yang secara tiba-tiba. Seketika itu juga degup jantungnya bertalu kencang. Alina tersentak saat sentuhan di kepalanya masih terasa. Ia terus memandangi sosok sang suami hingga eksistensinya menghilang dalam pandangan.


"Wa-wa'alaikumsalam," gugupnya.


Itu pertama kali sejak mereka menikah Azam berpamitan padanya. Seketika seulas senyum hadir di wajah cantik Alina. Setidaknya keberadaan ia di dalam rumah itu masih dihargai. Meskipun hanya sedikit.


"Sakit, tapi aku bahagia bisa bersama pria yang kucintai. Aku yakin suatu saat nanti, rumah tangga kami akan berubah," batin Alina.

__ADS_1


__ADS_2