
Kabut terus memenuhi bangunan berlantai satu di tengah-tengah padang rumput. Tidak ada satu pun orang terlihat, hanya beberapa binatang kecil berseliweran di sana dan memberikan tatapan mengintimidasi. Seolah kedatangan mereka mengganggu ketenangannya.
Setelah melihat sebuah adegan menggetarkan lewat CCTV, Alina dan kedua rekannya bergegas keluar dari mobil. Sarah yang berhasil meretas sistem keamanan membuatnya bebas melakukan apa pun di sana tanpa diketahui sang pemilik.
Alina terdiam tepat di depan pintu masuk dan mendongak melihat ada satu CCTV di atasnya. Setelah itu ia mencoba membuka pintu, tetapi terkunci. Angga mencondongkan tubuh ke depan melihat pintu digital terpasang di sana.
"Kita harus membukanya menggunakan sandi," jelasnya.
"Wah, ternyata persiapannya cukup matang juga," balas Alina. "Kira-kira apa yang akan dia gunakan sebagai sandi?" lanjutnya menyimpan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagu.
"Kita kan tadi melihat dari rekaman CCTV jika di dalam ada seseorang, kemungkinan ada hubungannya. Jadi, apa yang Teteh pikirkan?" tanya Sarah menatapnya.
Alina berpikir dan merenung kemungkinan besar apa yang akan dilakukan wanita itu untuk dijadikan sebagai sandi pintu.
"Ini pasti sesuatu yang penting. Ah jangan-jangan-" Alina pun memasukan beberapa angka ke dalamnya, tetapi tidak membuka pintu.
"Bukan yah? Em, jadi apa?" Ia terus memikirkan dan menyambungkannya dengan situasi sekarang.
"Yasmin Fauziah datang ke kehidupan kami enam bulan yang lalu, tepatnya tanggal dua belas mei dua ribu dua puluh dua-"
"Jadi itu yang kamu masukan?" tanya Angga memotong ucapannya dan Alina pun mengangguk.
"Ingatan Teteh sungguh luar biasa," ucap Sarah sambil terkekeh pelan.
"Coba kamu ingat-ingat hal penting apa yang membawa Yasmin ke kehidupan kalian, apa-"
Seketika Alina melebarkan kedua mata dan memandangi mereka bergantian. Seolah mengerti apa yang dipikirkannya, Sarah dan Angga pun melakukan hal sama.
"Itu dia," ucap mereka bertiga kompak sambil menunjuk satu sama lain.
Alina pun buru-buru memasukan angka lain dan seketika itu juga pintu terbuka. Mereka bergegas masuk dan menelusuri ruangan di dalamnya.
"Aku tidak menyangka dia menggunakan hari ulang tahun mas Azam sebagai sandi?" tutur Alina di tengah-tengah pergerakan mereka.
__ADS_1
"Begitulah cinta, membuat orang melakukan apa pun," balas Angga dan hanya ditanggapi anggukan oleh Alina.
Mereka pun terus mencari tahu ruangan yang menaungi satu kehidupan di sana. Sampai ketiganya tiba di lorong bawah tanah dan melihat satu-satunya pintu bercat silver.
Ketiganya bergegas mendakat dan mencoba membukanya. Tanpa keamanan pintu itu pun terbuka dan langsung memperlihatkan keadaan di dalam.
Alina masuk seorang diri, sedangkan Angga mencegah Sarah dengan menggenggam pergelangan tangannya. Sang empunya menoleh melihat sang suami menggelengkan kepala.
"Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri, kita tunggu saja di sini," ucapnya. Sarah hanya mengangguk dan menutup pintu.
...***...
Alina mematung di tempatnya berdiri, udara dingin dan aroma disinfektan menyapa begitu ia masuk. Ia melihat satu berankar seperti di rumah sakit, obat-obatan, dan beberapa buku tergeletak di atas nakas.
Ruangan berbentuk kotak itu hanya di cat abu-abu sederhana tanpa hiasan apa pun. Alina menelusuri kamar tersebut hingga tatapannya jatuh pada satu-satunya orang yang menghuni tempat tersebut.
Tepat di depan mata kepalanya sendiri ia melihat wanita yang sudah tujuh tahun pergi dalam kehidupannya.
Wanita itu tengah duduk di atas berankar dan melebarkan mata saat pandangan mereka saling bertubrukan.
Suara yang sama seperti dulu menendang indera pendengaran, tanpa sadar Alina meneteskan air mata dan menghapusnya kasar.
Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, lalu berjalan mendekat kemudian duduk di kursi kayu tepat di sebelah ranjang.
"Mbak .... Mbak Jasmin?" Panggilnya pelan.
Jasmin, wanita itu melebarkan manik jelaganya dengan bibir pucatnya terbuka perlahan. Ia menunduk sekilas dan langsung mengulas senyum membalas tatapan sang lawan bicara.
"Kamu tahu nama itu?" tanyanya.
"Aku tahu semuanya, Mbak. Mbak ... bukanlah Yasmin, tapi Jasmin Zakkiyah istri dari Rusdyan Azam Zabran dan Mbak ... adalah adik kembar identik dari Yasmin Fauziyah," ungkap Alina membuat Jasmin melebarkan pandangannya lagi.
Ia tidak percaya mendengar penjelasan dari madu suaminya ini. Tujuh tahun ia menghilang dalam pandangan mereka serta dianggap sudah meninggal, tetapi kenyataannya ia masih hidup dan sehat.
__ADS_1
"Aku bersyukur Mbak Jasmin masih hidup dan sehat. Mbak harus kembali pada mas Azam, dia sangat mencintaimu. Tujuh tahun ... tujuh tahun Mbak pergi, tetapi perasaan mas Azam tidak pernah hilang. Aku terus menunggu dan menunggu agar mas Azam mau membalas perasaanku, tetapi-" Alina menggelengkan kepala beberapa kali. "Tetapi, cintanya begitu besar untuk Mbak," tuturnya lagi.
Jasmin menundukan kepala dalam, tetes demi tetes air mata berjatuhan membasahi punggung tangannya. Alina hanya diam memberikan kesempatan pada lawan bicaranya untuk menenangkan diri. Ia sadar tidak mudah untuk kembali pada kehidupan semula setelah apa yang terjadi.
"Tidak Alina," ucap Jasmin seraya menggelengkan kepala. "Tidak, kamu salah. Mas Azam sama sekali tidak tahu siapa aku. Mas Azam mencintai Yasmin, kan? Itu dia, bukan aku," lirihnya mendongak menatap hazelnut Alina lagi.
Lengkungan bulan sabit hadir di wajah ayunya, Alina menggenggam hangat tangan Jasmin menyalurkan kekuatan.
"Tapi mas Azam mencintai Yasmin yang ada dalam diri Mbak. Aku mengerti, selama ini mungkin Mbak sudah melewati masa sulit. Sekarang saatnya Mbak harus bahagia."
"Dan mengorbankan kebahagiaanmu, Al? Tidak ... Mbak tidak bisa. Kamu sangat mencintai mas Azam dan begitu tulus menyayanginya. Mbak minta maaf, kamu harus ikut ke dalam permasalahan Mbak dan Yasmin."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak?" tanya Alina sedari tadi terus penasaran kenapa bisa wanita yang dianggapnya Yasmin ini masih hidup.
Jasmin melepaskan kontak mata dengan Alina dan memandang lurus ke depan seolah di sana sedang diputar film ke beberapa tahun ke belakang. Ia pun menceritakan kehidupan masa kecilnya sampai sekarang.
Jasmin Zakiyyah dan Yasmin Fauziyah merupakan saudara kembar identik yang lahir dari pasangan pengusaha terkenal di negaranya.
Mereka tumbuh besar bersama dan begitu disayangi oleh kedua orang tuanya. Namun, kehidupan manis itu tidak bertahan lama.
Sejak keduanya berusia dua belas tahun, Jasmin Zakiyyah sering sakit-sakitan. Kedua orang tuanya begitu khawatir dan memprioritaskan sang adik.
Yasmin Fauziyah yang merasakan ayah dan ibunya memperlakukan mereka berbeda pun sakit hati. Sampai mereka beranjak dewasa sikap orang tuanya semakin terlihat signifikan. Apa pun yang diinginkan Jasmin keduanya langsung menuruti, tetapi sebaliknya Yasmin tidak mendapati hal itu.
Hingga kejadian yang membuat hatinya benar-benar terluka adalah pada saat ia menemukan tambatan hati. Ia pun mempertemukan orang tuanya dengan pria yang dicintainya dan berharap bisa bersamanya. Namun, keadaan tidak terduga itu telah meruntuhkan pertahanan seorang Yasmin. Ia merasa dikhianati dan ditusuk dari belakang berkali-kali oleh keluarganya sendiri.
Tepat di depan mata kepalanya sendiri ayah dan ibunya malah mempertemukan Jasmin kepada Azam. Orang tuanya berkata, "Kamu sebagai kakak harus mengalah pada adikmu. Kamu lihat, Jasmin sudah sakit-sakitan dari kecil. Bahkan dokter sudah mendiagnosa dia mengidap leukemia, untuk itu relakan Azam menikahi Jasmin sebagai penggantimu."
"Tidak bisa Mah, aku sangat mencintai mas Azam. Aku yang pertama kali bertemu dengannya bukan Jasmin. Aku-"
"Jangan membantah, jika tidak menuruti apa kata Mamah dan Ayah, kamu tidak akan kami anggap anak lagi," jelas sang ibu tegas.
Setelah itu terucap orang tuanya benar-benar menikahkan Azam dan Jasmin, namanya pun diganti menjadi Yasmin. Bukan hanya kebahagiaannya saja yang direnggut, tetapi namanya diambil juga.
__ADS_1
Seketika kehidupan Yasmin hancur berantakan, dunia seolah tidak adil untuknya. Ia pun pergi keluar negeri guna menata hatinya yang telah rapuh hingga menumbuhkan dendam dalam dada.