Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 241 (Season 3)


__ADS_3

Awan sendu harus datang lagi. Namun, di balik udara sejuk itu keluarga Alina masih memberikan keceriaannya.


Selepas merayakan ulang tahun pertama Zenia, mereka memutuskan untuk pergi liburan bersama empat pasangan lain.


Alina, Zaidan, Dimas, Zara, Sarah, Angga, Azam, Jasmin, Calvin, Zanna, beserta buah hati mereka pun begitu menikmati waktu pribadi tersebut.


Para pasangan itu pergi ke puncak dan menyewa villa besar di sana.


Kurang lebih memakan waktu satu setengah jam, mereka pun tiba. Orang-orang yang semula terlibat dalam sebuah permasalahan kini sudah menjadi sebuah keluarga besar.


Mereka bergegas memasuki villa dan menempati kamar masing-masing.


Bangunan bergaya modern itu dihiasi dengan ornamen-ornamen klasik mengingatkan mereka pada tempo dulu.


Nuansa putih begitu kental di sana, di ruang keluarga terdapat perapian untuk menghangatkan diri. Di lantai dua hanya ada kamar-kamar untuk waktu pribadi setiap pasangan.


Setelah membereskan barang-barang bawaan, para istri bergegas menyiapkan makan malam. Karena sesampainya di sana jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


Suara hewan-hewan kecil di taman belakang pun menemani mereka. Keriuhan semakin tercipta kala Raihan, Aqeela, Zenia, Nuara, serta Arkara bermain di tengah villa, sedangkan para pria tengah mengobrol di ruangan sebelah.


"Apa kamu tidak apa-apa? Lebih baik istirahat saja, ibu hamil jangan banyak bergerak dulu," kata Zara pada Sarah.


"Tidak apa-apa, Mbak. Aku baik-baik saja," balas Sarah yang tengah memotong-motong sayuran dengan perut besarnya.


"Kamu juga, seharusnya istirahat saja di kamar," lanjut Sarah pada Zanna yang duduk di kursi roda di belakang mereka.


Alina dan Jasmin pun menoleh pada wanita yang saat ini masih berada di kursi roda. Zanna memandangi mereka satu persatu dan berakhir pada manik cokelat susu Alina.


"Em, baiklah. Maaf aku tidak bisa membantu." Setelah mengatakan itu Zanna menarik kedua roda ke belakang meninggalkan keempat wanita tersebut keluar.


Alina yang menyaksikan ada sesuatu tersembunyi di balik sorot matanya pun meletakkan pisau.


"Aku akan menyusul Zanna dulu," katanya melangkahkan kaki.


Sarah memandangi kepergian Alina lalu mendapati kedua wanita yang lebih tua darinya itu tengah menatapnya lekat.

__ADS_1


"Apa? Kenapa Mbak Jasmin dan Mbak Zara menatapku seperti itu? Apa aku salah bicara?" tanyanya langsung.


Zara dan Jasmin saling pandang lalu menghela napas pelan. Mereka pun kembali melanjutkan kegiatannya membuat Sarah semakin kebingungan.


...***...


Alina melihat Zanna berada di tepi kolam renang, airnya yang tertiup angin menimbulkan riak pelan. Mantan pianis itu pun melihat bayangan dirinya di sana. Kegelisahan timbul begitu jelas membuat perasaan kian tidak menentu.


"Apa aku menganggu liburan kalian?" tanya Zanna mengejutkan Alina yang menyadari kedatangannya.


Wanita itu terperangah dan semakin berjalan mendekat.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Justru aku senang bisa menghabiskan liburan bersama kalian," balas Alina ramah.


"Iya itu kamu, tapi bagaimana yang lain? Aku masih belum bisa berjalan dan ke mana-mana harus menggunakan kursi roda ini. Itu sebabnya aku pasti menyusahkan kalian," katanya pesimis.


"Jangan berkata seperti itu, Zanna. Aku yakin mereka juga senang kita menghabiskan liburan bersama. Jangan memandang disi sendiri sebelah mata. Karena aku yakin kamu wanita hebat yang mampu menghadapi masalah dengan baik. Sarah, dia hanya memperhatikanmu tidak lebih," ucap Alina mencoba menenangkan dirinya.


"Aku tahu hanya saja ... ah maaf aku selalu saja emosional." Zanna mengusap wajah pelan dan terus menunduk dalam.


"Meskipun kamu masih belum bisa berjalan secara normal lagi, tapi ... kamu harus ingat. Perjuangan ini untuk membuktikan seberapa yakin kamu pada ketetapan Allah. Bisa saja dengan situasi sekarang Allah ingin menghapus semua kesalahanmu di masa lalu." Kata-kata yang Alina ucapkan seketika menusuk ke relung hati terdalam.


Bukan rasa sakit yang menetap di sana, melainkan kebahagiaan. Zanna melemparkan dirinya memeluk Alina lekat.


"Terima kasih," ucapnya kemudian. Alina hanya bergumam "hm" sebagai jawaban.


Tanpa mereka sadari adegan tersebut menjadi tontonan menarik bagi para suami. Kelima pria itu ikut mengembangkan senyum atas apa yang terjadi tepat di depan mata kepalanya.


"Mbak Alina selalu saja memberikan aura positif pada orang-orang di sekitarnya. Beruntung Mas bisa mempersunting wanita itu," ucap Calvin sembari menyikut sang kakak sepupu.


Zaidan pun mengangguk setuju. "Sangat beruntung."


"Jaga dan cintai dia sepanjang hidupmu. Karena dulu aku hanya bisa menyakitinya saja," timpal Azam kemudian.


"Kamu tidak usah khawatir, aku akan selalu menjaga, mencintai, menyayangi, serta membahagiakannya. Aku tidak akan membiarkan Alina menangis," jawab Zaidan tegas.

__ADS_1


"Aku suka dengan gayamu, pertahankan lah! Alina sudah cukup menderita," timpal Angga yang menjadi saksi bagaimana kisah kelam Alina di masa lalu.


"Tenang saja, kalian tidak usah khawatir aku yakin Tuan Zaidan bisa membahagiakan Alina." Dimas pun membela tuan mudanya.


Zaidan hanya mengembangkan senyum dan memandangi istrinya lekat. Jauh di lubuk hati paling dalam ia benar-benar sangat beruntung.


Malam menjelang setelah melaksanakan kewajiban berjamaah, mereka pun menikmati makan malam bersama.


Canda dan tawa berdengung di sana mengenyahkan keheningan. Sudah lama rasanya para pasangan tersebut tidak menikmati kebersamaan seperti itu.


Di tengah-tengah santap malamnya, Sarah pun meminta maaf jika dirinya tadi sudah menyinggung perasaan Zanna. Wanita itu mengangguk mengerti dan tidak menyalahkan siapa pun atas perasaan sensitifnya.


"Aku senang sekali kita bisa liburan seperti ini," kata Sarah memulai pembicaraan lagi.


"Iya, seharusnya kita punya jadwal sendiri, agar bisa terus menjalin silaturahmi," balas Zara kemudian.


"Aku setuju, supaya kita bisa menjadi keluarga besar yang selalu hidup rukun," timpal Alina.


"Meskipun yah diawali dengan perseteruan yang tidak menyenangkan," ucap Sarah lagi dan lagi membuat mereka saling pandang dan tertawa bersama.


Jauh dari harapan ataupun bayangan, Alina bisa duduk di satu waktu dengan orang-orang yang berada di masa lalu.


Di sana ada mantan suami, maru, orang ketiga di pernikahan pertamanya, perusak rumah tangga, turut hadir menjadi bagian penting dalam kehidupan.


Alina mengembangkan senyum menyaksikan wajah-wajah yang pernah berseteru dengannya.


"Ya Allah, rencana-Mu memang tidak ada yang tahu. Sekarang di hadapan hamba, ada orang-orang yang Kau hadirkan sebagai ujian. MasyaAllah, ya Rabb takdir-Mu sungguh luar biasa. Sekarang kami bisa menjadi satu keluarga dan merasakan kebahagiaan," benak Alina dalam diam.


Tidak lama setelah itu ia merasakan tangan kanannya di genggam seseorang. Ia menoleh pada sang suami yang tengah menebar senyum pada orang-orang di depannya.


Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah ayu Alina, menyaksikan jika kebahagiaan sesungguhnya bersama orang yang tulus mencintainya.


Ia bersyukur dan tidak berhenti mengucap syukur kepada Allah yang sudah menghadirkan Zaidan sebagai pelengkap sekaligus mengobati luka hati.


Bersama Zaidan, ia merasakan bagaimana cinta sejati yang sesungguhnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2