Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 37


__ADS_3

Alina tengah berada di rumah sakit untuk pemeriksaan rutin. Usia kandungannya sudah memasuki delapan bulan lebih, kurang dari satu bulan lagi sang malaikat kecil akan hadir ke dunia. Perasaan membuncah, tidak karuan merundungnya setiap malam. Ia tidak sabar untuk bertemu dan melihat buah hatinya.


Di tengah keramaian ia duduk di ruang tunggu menunggu giliran. Banyak ibu hamil di sana, tidak sedikit pula mereka datang bersama pasangan. Tanpa sadar Alina memandangi salah satu pasangan tersebut yang sedang melempar senyum. Tangan pria berada di atas perut membuncit sang istri seraya mengelusnya pelan. Entah apa yang mereka katakan, Alina hanya melihat binar kebahagiaan dalam sorot mata keduanya.


Ia lalu menunduk melihat ke bawah di mana perutnya sama seperti wanita itu. Setiap hari semakin besar dan membesar. Pergerakan bayinya pun semakin aktif, Alina mengelusnya perlahan dan mengulas senyum "kita baik-baik saja."


Terkadang rasa rindu akan kebersamaan bersama sang suami terus hadir menimbulkan keinginan lain. Namun, sekuat tenaga Alina menahan dan mencoba menyibukan diri dengan membuat berbagai macam kue baru.


Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sudah tiga bulan berlalu hanya menunggu hitungan hari hubungannya degan Azam akan segera berakhir. Ia sudah mengatakan untuk berpisah dengannya setelah melahirkan.


Namun, jauh dari lubuk hatinya paling dalam Alina tidak menginginkan hal tersebut dan berharap bisa memperbaiki semuanya. Meskipun ia sadar jika cinta Azam terhadap Yasmin begitu besar tidak bisa terbagi pada orang lain, termasuk Alina istri keduanya yang kini tengah mengandung darah daging Azam.


Rasa sakit mengalahkan segalanya membuat Alina yakin dengan keputusan tersebut.


Perpisahan memang menyakitkan, tapi itu jauh lebih baik jika bertahan dengan air mata.


Itulah yang setiap saat sering ia tekankan pada dirinya.


"Nyonya Alina."


Gilirannya pun datang. Alina beranjak dari duduk dan sedikit kesusahan lalu berjalan pelan menuju ruangan. Dokter cantik bername tag Sabrina mengulum senyum kala kedua mata saling beradu pandang. Alina pun langsung berbaring di atas berankar setelah dipersilakan kemudian menarik gamisnya ke atas.

__ADS_1


Gel dingin mendarat di atas permukaan perut serta alat penguji pun menari di sana.


"Lihat, bayinya aktif sekali. Jenis kelaminnya masih sama seperti bulan lalu. Kemungkinan besar bayi Nyonya berjenis kelamin laki-laki. Sehat, semua lengkap, Alhamdulillah."


Perkataan Dokter Sabrina membuat Alina tidak kuasa membendung air mata. Ia bersyukur melihat perkembangan sang anak dalam layar dan terus mengucap Alhamdulillah dalam benak.


Setelah melakukan pemeriksaan, Alina kini tengah berjalan di lorong hendak kembali ke kediamannya. Namun, sepertinya nasib tidak selalu berjalan mulus. Baru saja ia keluar dari gedung seorang wanita mendatanginya.


Suara hangat yang memanggil namanya membuat Alina mendongak. Tatapan mereka mengunci satu sama lain, senyum yang bertengger di wajah cantik itu mengantarkan firasat tidak enak menghinggapi diri. Alina mundur selangkah ke belakang dan meletakan tangan di belakang punggung menyembunyikan hasil USGnya hari ini.


"Mba-mbak Zara?"


"Nyonya Alina? Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, apa Anda punya waktu siang ini?" tanya Zara dengan senyum manis bertengger.


Keheningan melanda keduanya, hanya deru mesin mobil sebagai pengiring kebersamaan. Jalanan terlihat lengang belum waktunya makan siang. Diam-diam Zara memperhatikan Alina yang tengah duduk di sampingnya. Sesekali senyum yang entah apa artinya timbul begitu saja.


Sedangkan Alina terus memeluk perut buncitnya kala insting seorang ibu mengatakan jika sesuatu akan terjadi.


Tidak lama berselang mereka pun tiba di salah satu café dekat rumah sakit. Keduanya masuk ke dalam dan duduk di dekat jendela. Setelah memesan minuman secara acak, Alina dan Zara saling berhadapan. Tanpa basa-basi sekertaris sang suami langsung mengatakan tujuannya.


"Baiklah, hilangkan saja formalitas ini. Aku ingin mengatakan jika selama ini sudah mencintai Mas Azam. Awalnya aku bisa menerima dia menikah dengan Yasmin, tapi pernikahan keduanya denganmu aku tidak bisa terima."

__ADS_1


Iris jelaga Alina melebar sempurna dengan jantung bertalu kencang. Ia tidak menyangka wanita cantik yang kini duduk di hadapannya mengaku mencintai suami orang lain dan pria itu suaminya, Azam. Ia tidak tahu bagaimana hubungan mereka, seberapa lama keduanya saling mengenal, tapi mendengarnya secara langsung kala pernikahan itu masih terjalin tetap saja menimbulkan luka.


Ia pun mengepalkan kedua tangan dalam pangkuan dan membalas tatapan Zara tak kalah serius.


Senyum hadir mengantarkan tanda tanya pada diri Zara.


"Sebelumnya saya minta maaf. Karena tidak tahu bagaimana perasaan Anda terhadap suami saya. Dan saya tidak mengenal Anda, pernikahan ini atas keinginan mbak Yasmin sendiri. Saya awalnya menolak, tapi mbak Yasmin terus mendesak dan mengingat kesehatannya saat ini, saya menerima dengan terpaksa. Namun, sama seperti Anda, saya mencintai mas Azam juga." Jeda sejenak Alina memperhatikan ekspresinya.


Tanpa mengindahkan perkataan Zara tadi, ia terus bersikap formal. Rasanya tidak perlu bersikap akrab terhadap seseorang yang menjadi parasit di dalam rumah tangganya.


Zara sedikit terkejut dan terus mempertahankan air muka datar. Alina kembali melengkungkan bulan sabit sempurna. Ia harus maju di medan perang kala pertempuran tengah terjadi.


"Saya sama sekali tidak merasa bahagia sudah menikah dengannya dan menjadi istri kedua. Sepertinya saya tidak bisa berbicara banyak, mungkin Anda sudah tahu jika saat ini hubungan pernikahan kami sedang tidak baik-baik saja. Satu bulan lagi, setelah melahirkan, saya akan berpisah dengan tuan Azam. Sampai saat itu tiba bisakah Anda menunggu sebentar lagi? Terima kasih sudah berbicara dengan saya hari ini, selamat tinggal."


Setelah menyesap minumannya singkat, Alina beranjak dari duduk mengantarkan angin segar dalam diri Zara. Ia mematung tidak menyangka mendengar semua penuturan yang keluar dari mulut istri kedua pria dicintainya.


Bak bunga baru mekar, harapan setitik debu bisa berkembang. Zara menikmati minumannya sendirian dengan seringaian hadir di sana.


"Berpisah? Aku tidak menyangka jika akhirnya akan jadi seperti itu. Aku tidak sabar menunggu waktunya tiba." Gumam Zara seraya memandang keluar melihat para pejalan kaki berlalu lalang.


Alina sudah berada di dalam taksi, sedari tadi ia terus menekan-nekan dada sebelah kiri menahan kepedihan yang enggan pergi. Tiga bulan bukan waktu singkat, selama itu ia berusaha untuk melupakan perasaan. Namun, tetap saja rasa itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah.

__ADS_1


"Mungkin tugasku untuk mencintainya sudah selesai, tapi bagaimana pun juga mas Azam tetap ayah kandung anak ini. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, mau pergi ke manapun bayangnya akan tetap mengikuti. Ya Allah, hamba mohon berikanlah kebaikan untuk kami. Semoga ada titik terang dalam permasalahan ini. Aku harus kuat untuk anakku," monolog Alina dalam diam.


Siang itu menjadi titik terakhir ia bisa membuka pintu hati untuk sang suami. Namun, setelahnya ia tidak menginginkan untuk kembali. 


__ADS_2