Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 137 (Season 3)


__ADS_3

Setelah dari ruangan rahasia yang berada di lantai satu, Alina dan Zaidan memutuskan untuk kembali ke kamar. Keduanya berbaring dan memunggungi satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


Masih segar dalam ingatan bagaimana ekspresi yang tercetus dari sang kepala keluarga saat Alina menjelaskan penemuannya. Berbagai praduga dan prasangka pun seketika memenuhi kepala bulat itu. Alina tidak bisa tidur dan terus memikirkan kejadian beberapa saat lalu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasa Mas Zaidan menyembunyikan sesuatu? Ya Allah, ada apa lagi dengan rumah tangga hamba kedua ini?" benaknya khawatir.


Firasatnya terus mengatakan jika Zaidan tengah menyimpan sebuah rahasia yang tidak ingin ia ketahui. Di tengah kebingungan, Alina merasakan tangan tegap terulur memeluknya dari belakang.


Ia pun menatap ke bawah melihat lengan berotot sang suami bertengger nyaman di atas perut ratanya. Tanpa membalas atau mengatakan apa pun, Alina hanya mendiamkannya begitu saja.


"Sayang." Suara baritone teredam di ceruk lehernya.


Alina meremang dan terus diam menunggu apa yang hendak di sampaikan Zaidan selanjutnya.


"Kita akan selalu bersama, kan? Sampai kapan pun kita akan tetap saling mencintai, kan?" Pertanyaan itu mengundang rasa penasaran lain.


Alina tidak menyangka mendengar penuturan tersebut dari suaminya. Dari nada suara itu ia menduga jika Zaidan mengkhawatirkan sesuatu yang sangat besar.


"Kenapa Mas bertanya seperti itu?" tanya Alina balik.


"Karena ... karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin kita terus bersama-sama sampai kapan pun itu. Aku sangat mencintumu, Alina ... sangat," akunya dengan nada gemetar.


Alina semakin tidak mengerti dan seketika langsung berbalik menghadapi suaminya. Ia melihat dengan jelas bagaimana raut muka Zaidan begitu cemas nan khawatir.


"A-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mas berkata seperti itu?" tanya Alina takut.


Zaidan menangkup wajah sang istri hangat lalu membubuhkan kecupan mendalam di dahi lebarnya.


"Berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi kamu tidak akan pernah meninggalkanku dan ... kamu akan percaya padaku," ujarnya kembali.


Alina yang masih tidak mengerti pun hanya bisa mengangguk cepat. Ia tidak mau membuat suaminya semakin khawatir.


"Baiklah, apa pun yang terjadi pada kita ... aku tidak akan meninggalkanmu dan ... aku percaya padamu, Mas," ungkap Alina.


"Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," lanjut benaknya.


"Terima kasih, Sayang." Zaidan kembali mencium wajah Alina lalu memeluknya erat.


Bisa ia rasakan degup jantung sang suami bertalu kencang. Alina hanya bisa bertanya-tanya dalam diam atas perbuahan sikap suaminya.

__ADS_1


...***...


Di tengah sarapan tiba-tiba saja Alina beranjak dari duduk menuju wastafel yang berada di dekat kompor. Ia memuntahkan cairan yang terus bergejolak di dalam perut.


Zaidan dan Raihan yang melihat itu langsung mendekat khawatir takut terjadi sesuatu pada istri dan ibu mereka.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zaidan sambil merangkul bahunya.


Alina yang masih membersihkan mulut pun menggeleng pelan.


"Ayah, Mamah kenapa?" tanya Raihan memandangi kedua orang tuanya.


Zaidan menunduk melihat sang putra mencengkram kuat celana jeansnya. Ia lalu tersenyum dan mengusap puncak kepala itu lembut.


"Mamah, baik-baik saja, Sayang," balas Zaidan menenangkan.


"Tapi kenapa Mamah muntah-muntah seperti itu?" tanya Raihan lagi.


Alina yang masih mengusap sisa air dari sudut mulut pun menunduk sambil mengusap pipi kiri buah hatinya.


"Mamah tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah sarapannya?" tanya Alina.


Alina tersenyum lemah menatap hangat sang putra pertama. "Benar, Mamah baik-baik saja. Mamah ... hanya mual. Kalau Raihan sudah selesai sarapan sekarang siap-siap yah, sebentar lagi kita akan ke rumah nenek."


Raihan mengangguk pelan sambil melepaskan pelukan. "Baiklah." Setelah itu ia berjalan menjauh dan sesekali menoleh ke belakang memastikan jika ibunya benar baik-baik saja.


Sepeninggalan Raihan, Zaidan pun menuntun Alina duduk di kursi. Ia lalu mengambil segelas air dan diberikan pada sang istri.


Alina menerima lalu meneguk singkat. "Terima kasih."


Zaidan mengangguk pelan kemudian bersimpuh di samping Alina. Kedua tangan itu menggenggam erat jari jemari pujaan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu muntah-muntah seperti itu? Bukankah semalam baik-baik saja?" tanya Zaidan beruntun.


Alina menggeleng singkat seraya memandangi suaminya lekat. "Aku juga tidak tahu, Mas. Tiba-tiba saja aku mual dan kepalaku juga pusing sekarang."


"Apa kamu sakit?"


"Aku tidak tahu."

__ADS_1


Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Alina terus memijit pelipis mencoba meredakan pusing di kepala. Melihat itu Zaidan beranjak dan ikut memijit kepalanya pelan.


"Sebelum ke rumah Mamah, lebih baik kita mampir dulu ke rumah sakit yah?" usul Zaidan.


Alina yang masih menikmati sentuhannya pun terdiam beberapa saat, sampai... "tidak usah, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin saja."


"Tapi Sayang, aku khawatir sesuatu terjadi padamu. Aku-"


"Mas, aku benar tidak apa-apa, sungguh," kata Alina menegaskan.


Zaidan menghela napas masih dengan memijit kepala sang istri. "Baiklah kalau begitu."


Tidak lama setelah itu keluarga kecil Zaidan langsung pergi untuk bertandang ke rumah orang tuanya.


Beberapa minggu sebelumnya, Moana menghubungi sang putra untuk datang guna menyambut kepulangan sang kakek. Orang tua dari pihak ayahnya itu adalah pria yang tegas, berdedikasi tinggi, berkarisma, dan keras kepala.


Apa pun yang diinginkannya tidak boleh dibantah dan apa pun yang tidak disukainya harus dilakukan. Sebagai petinggi keluarga Zulfan, sang kekak memiliki peran yang sangat penting untuk kelangsungan hidupnya.


Mendengar jika kakek suaminya akan datang, Alina pun tidak kalah terkejut. Karena selama ini ia belum pernah sekalipun bertemu dengannya.


Saat pernikahan mereka waktu itu pun keberadaan sang kakek tidak diketahui. Namun, ia mendengar jika pria baya tersebut berada di luar negeri tengah mengurus sesuatu yang sangat penting.


Momen mendebarkan kali ini membuat Alina tidak berdaya. Semenjak mobil mewah suaminya meninggalkan rumah, jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan tenang.


Instingnya mengatakan untuk berhati-hati dan bersabar menghadapi tetua dari sang suami.


"Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa, kenapa aku merasa tidak enak hati?" benaknya sepanjang perjalanan.


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, mobil hitam itu memasuki gerbang mansion keluarga Zulfan. Deretan kendaraan roda empat berjajar membuat Alina membuka mulut takjub.


Ia tidak menyangka jika keluarga Zaidan begitu terpandang dan benar-benar definisi orang kaya sesungguhnya. Ia merasa kecil hati dan tidak sanggup jika harus menampakan batang hidung ke dalam.


Namun, bagaimanapun juga saat ini Alina sudah menjadi bagian dalam keluarga mereka. Mau tidak mau ia harus menemani ke manapun suaminya pergi.


Selesai memarkirkan mobil, Zaidan keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi sang istri. Melihat sikap manis suaminya Alina menjadi tenang dan menggandeng lengan kekar itu masuk ke dalam.


Zaidan bersama istri dan anaknya pun tiba di kediaman orang tuanya. Di sana ia melihat sudah banyak keluarga yang menunggu. Hingga pandangannya pun jatuh pada satu sosok yang membuatnya terdiam membeku.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2