Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 161 (Season 3)


__ADS_3

"Bisa aku bergabung bersama kalian?" pinta Alina yang sudah berdiri tepat di belakang sang suami.


Sontak hal itu pun mengejutkan hingga mereka terlonjak sadar dari keseriusan. Kempat orang itu kompak menatap Alina yang tengah mengembangkan senyum.


"Maaf mengejutkan kalian," ujarnya merasa bersalah menatap mereka bergantian.


"Sayang? Kenapa kamu bangun?" Zaidan beranjak lalu menuntun istrinya duduk.


Alina pun sudah bersama-sama mereka lagi hendak mendengarkan lebih jauh. Ia menjelaskan jika dirinya penasaran pada pembicaraan di sana pada sang suami.


"Jadi, bisa Mas lanjutkan pembicaraan tadi?" tanya Alina mengundang tanda tanya yang lain.


Merasakan tatapan penuh penasaran itu Alina terkekeh dan memadangi mereka satu persatu. "Tadi, aku tidak sengaja mendengar kalian bicara," ungkapnya.


Zaidan menggenggam hangat tangan sang istri membuatnya menoleh. "Kamu seharusnya tidur saja, Sayang. Ada baby yang harus dijaga."


"Sayang, aku dan baby baik-baik saja. Kami ingin tahu kebenaran Ayahnya," ungkap Alina.


Sarah dan Angga pun berdehem membuyarkan drama romantis tepat di depan mata. Alina dan Zaidan tersenyum pada mereka lalu kembali pada pembicaraan awal.


"Maaf, terbawa suasana," kata Zaidan begitu saja.


"Seharusnya Tuan tahu tempat," balas Dimas berdeham guna mengalihkan topik.


"Iya-iya aku salah, maaf sudah mengganggu waktumu bersama Zara," sindir Zaidan membuat Dimas tersenyum lebar.


"Baiklah, jadi bagaimana kelanjutannya?" tanya Angga mencela.


Dimas membetulkan letak kacamata dan kembali bersikap serius. Ia pun mengatakan hal sebenarnya siapa pria yang sudah membantunya keluar dari sarang Zanna malam itu.


Calvin Alfero merupakan seorang anak yang lahir dari keturunan keluarga Zulfan. Namun, sayang keberadaannya selama ini tidak diketahui.


Ayahnya adalah anak kedua dari istri pertama Dawas, Calia. Fawaz Zulfan yaitu adik kandung dari Farraz Zulfan ayah dari Zaidan. Seorang anak yang tidak diketahui keberadaannya itu pun menjadi rahasia terbesar keluarga tersebut.

__ADS_1


Keberadaan Calvin Alfero pun sedikit orang yang tahu, hanya Farraz, Amar, dan juga Dimas. Zaidan sama sekali tidak tahu menahu jika mempunyai seorang sepupu laki-laki yang lebih muda dua tahun darinya.


Saat itu Dimas tidak sengaja bertemu Calvin di ruang kerja Farraz yang berada paling pojok di mansion. Ia hendak melaporkan kinerja Zaidan selama satu bulan bekerja. Namun, tanpa sengaja ia malah mendengar pembicaraan mereka hingga membuatnya terjebak di sana.


Pada saat itulah Dimas mengetahui jika Zaidan memiliki sepupu laki-laki dan keberadaannya harus dirahasiakan.


"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan fakta besar ini dariku?" Zaidan tersulut emosi membuat Alina yang berada di tengah-tengah tuan dan pengawal itu pun mencekal tangan sang suami.


"Sabar Mas, kita dengarkan dulu penjelasan Mas Dimas," ucapnya menenangkan.


Zaidan menghela napas dan menatap nyalang pengawalnya. "Sebenarnya aku juga ingin memberitahu tuan muda, tetapi tuan besar mencegahku untuk mengatakannya. Kata beliau ini adalah rahasia yang tidak boleh dikatakan pada siapa pun."


"Apa? Kenapa seperti itu?" tanya Zaidan masih penasaran.


"Aku rasa, Tuan harus bertanya langsung pada tuan besar. Beliau sendiri yang harus menjelaskannya pada Tuan muda," usulnya.


"Itu benar, Mas. Lebih baik kamu yang bertanya pada ayah," lanjut Alina.


"Lalu kenapa kamu menghubungi Calvin untuk membantumu pada malam itu?" tanya Angga mengingatkan.


"Selama ini aku sudah berhubungan baik dengan dia. Lalu Calvin sesekali membantuku untuk menuntaskan berbagai masalah. Jadi, selanjutnya kalian bisa memikirkannya sendiri," ungkap Dimas.


"Jadi, maksud Mas malam itu adalah Calvin yang sudah tidur bersama Zanna?" tanya Alina. Dimas mengangguk mengiyakan.


"Teteh kan melihat video itu, bagaimana penamilannya?" tanya Sarah menarik atensinya.


Alina berpikir mencoba mengingat kembali tayangan tadi siang. "Wajahnya memang sangat mirip dengan Mas Zaidan, tetapi tubuhnya sedikit lebih kecil."


"Jadi, sudah jelas sekarang wanita itu berpikir jika video tersebut dirinya dan Zaidan. Tujuannya masih sama untuk meminta pertanggung jawaban Zaidan, tetapi sekarang bertambah dengan keinginannya untuk menghancurkan hubungan kalian. Aku mempunyai video itu agar kalian bisa percaya." Dimas memperlihatkan tayangan tidak senonoh itu ke hadapan mereka.


Zaidan, Angga, dan Sarah tidak menyangka jika pria itu sangat mirip dengan Zaidan. Pantas saja dengan percaya diri Zanna memperlihatkan video serta foto mereka pada Alina.


"Wanita itu benar-benar melakukan berbagai cara untuk membuat pernikahan kalian hancur," kata Angga setelahnya.

__ADS_1


"Itu memang tujuannya. Karena selama ini Zanna wanita licik yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau," balas Dimas lagi.


Di tengah pembicaraan mereka, Sarah meletakan ibu jari serta jari telunjuknya di bawah dagu. Ia terus memperhatikan tayangan di dalam layar memikirkan sesuatu.


Alina yang melihat itu pun menautkan kedua alis. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya sembari mengetuk meja tepat di depan Sarah.


"Apa kita bisa mengatur strategi untuk memperlihatkan kebusukannya ini pada tetua Zulfan agar beliau membatalkan perjodohan kalian?" Sarah mengakat kepala memandang lurus pada Alina dan Zaidan.


Pasangan suami istri itu pun saling pandang dan memikirkan hal yang sama. "Bisakah kita melakukannya? Aku sudah muak dengan perjanjian konyol itu. Aku juga ingin kakek sadar jika wanita yang selalu dibelanya tidak sebaik itu," kata Zaidan.


"Kita bisa melakukannya, aku punya ide." Angga menarik perhatian semua orang.


Mereka pun mencondongkan tubuh ke depan siap mendengarkan ide yang tercetus dalam pikirannya. Keempat orang itu mengangguk-anggukan kepala kala mendengarkan dengan seksama apa yang diutarakan Angga.


"Bagaimana menurut kalian?" tanyanya menatap mereka bergantian.


"Aku setuju, kita tinggal berbicara pada Calvin jika dia mau bekera sama dengan kita maka semuanya akan selesai. Rumah tanggaku bisa aman dan keberadaannya pun bisa diketahui," timpal Alina.


"Aku juga setuju, aku harap kakek tidak terus mendesakku," lanjut Zaidan.


Angga mengangguk beberapa kali. "Baguslah kalau begitu, tiga hari lagi kita akan mengeksekusi apa yang harus dilakukan. Sekarang kita istirahat dan memulihkan tenaga, ada beberapa kamar kosong di sebelah bangunan ini yang bisa kalian gunakan."


Setelah itu pertemuan mereka pun berakhir. Zaidan menggandeng tangan Alina dan berjalan beriringan keluar. Sedari tadi ia terus menatap sang istri dengan senyum lega mengembang di wajah tampannya.


"Aku harap setelah ini tidak ada gangguan apa pun lagi menimpa keluarga kami. Ya Allah, lancarkanlah apa yang hendak kami lakukan. Serta berikanlah kemudahan dan lindungilah keluarga hamba," benak Zaidan dalam diam.


Tidak ada yang tahu bagaimana misteri terjadi esok hari. Keberadaannya tidak pernah terduga dan kedatangannya tidak disangka.


Kejutan itu akan datang di saat yang tepat. Zaidan pun masih tidak menyangka jika selama ini dirinya mempunyai keluarga lain.


Ia pikir nenenknya sudah meninggal, tetapi pada kenyataannya masih ada nenek lain yang tidak pernah diketahui. Apa yang sudah dilakukan sang kakek di masa lalu membuat ia semakin penasaran. Selama ini ia pikir keluarganya hidup baik-baik saja tanpa ada rahasia besar di dalamnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2