
Keberadaan orang tua di sisinya memberikan penyembuhan signifikan bagi Raihan. Anak laki-laki yang baru saja menginjak usia delapan tahun tersebut terus menampilkan senyum lebar di wajah tampannya.
Binar kebahagiaan pun begitu kentara kala sorot mata hangat menyala menatap ibu serta sang ayah. Gelak tawa terdengar merdu menjadi musik pengiring kebersamaan.
Sudah tiga hari ia dirawat di rumah sakit, keadaannya pun berangsur-angsur membaik. Semangatnya untuk sembuh begitu kentara membuat Alina maupun Azam dibuat takjub.
"Sayang, Ayah minta maaf tidak ada saat kamu ulang tahun kemarin. Maaf terlambat, tapi ... selamat ulang tahun, Sayang. Putra Ayah yang paling tampan." Azam merentangkan spanduk ucapan selamat ulang tahun tepat di depan ranjangnya.
Raihan yang duduk bersandar terpaku dan membelalakan kedua mata lebar. Wajah sumeringahnya memperlihatkan betapa ia sangat bahagia.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Mamah buatkan kamu kue ulang tahun." Dari arah samping Alina pun berdiri seraya membawa kue dengan lilin angka delapan.
Ia membuat kue itu di rumah sakit dan meminta izin pada petugas. Beruntung mereka mengizinkan dan membuat ibu satu anak itu merasa lega dan bahagia.
Obsidian hitamnya bergulir menatap sang ibu yang tengah tersenyum lebar. Alina dan Azam pun berjalan mendekat dan duduk dikedua sisi Raihan.
Sang putra memandangi mereka bergantian, "Alhamdulillah, Raihan senang sekali bisa merayakan ulang tahun bersama Ayah dan Mamah. Terima kasih Mah, terima kasih Yah," ujarnya haru.
"Sama-sama, Sayang. Jagoan Ayah, semoga cepat sembuh, panjang umur, sehat selalu, Sayang. Ayah menyayangimu," kata Azam mengutarakan perasaannya lalu membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala Raihan.
"Jagonnya Mamah, selamat ulang tahun yah, Sayang. Maaf kami baru bisa merayakannya sekarang," lanjut Alina yang juga memberikan ciuman hangat di dahi.
"Raihan sayang~ sekali sama Ayah dan Mamah. Terima kasih banyak, hadiahnya Ayah, kuenya juga Mamah" ujar Raihan riang saat Azam memberinya begitu banyak hadiah.
Mulai dari mobil-mobilan sampai lego, lengkap di berikan sang ayah. Raihan tidak kuasa membendung kebahagiaan lalu langsung menarik keduanya dan memeluk mereka erat.
"Aku benar-benar, sangat menyayangi Mamah dan Ayah. Meskipun kita tidak bisa bersama satu rumah lagi, tetapi Raihan bersyukur Mamah dan Ayah masih ada di sini ... menemani Raihan," tuturnya lembut.
Alina dan Azam saling pandang terpaku dengan penuturan yang dilayangkan buah hatinya. Sudah tidak ada lagi beban ataupun kepelikan yang menimpa, mulai saat ini dan selamanya mereka hanya akan memikirkan sang putra.
Ketiganya pun menikmati waktu bersama mengikis waktu yang terus berputar. Kehangatan kian menyebar memenuhi ruang inap. Raihan sangat bersyukur apa yang menimpanya memberikan berkah luar biasa.
__ADS_1
"Kue buatan Mamah memang tidak pernah gagal," katanya setelah mereka melepaskan pelukan dan menikamti kue ulang tahun.
"Em, kamu benar. Mamah bisa membuka toko kuenya sendiri di pusat kota," balas Azam menimpalinya.
"Eung, Raihan setuju."
"Itu merepotkan, Mamah hanya akan membuat kue untuk Raihan saja," jawabnya sedikit mendelik ke arah kedua pria berbeda usia tersebut.
Mereka pun tertawa bersama melepaskan kegundahan dalam dada. Hanya ada celotehan ringan yang menambah ikatan persaudaraan.
Seolah tidak ada kejadian mengerikan menimpa Alina dan Azam, keduanya kompak melakukan peran sebagai orang tua yang sangat baik.
...***...
"Apa kamu tidak akan pulang? Kamu harus ingat sudah punya suami lagi sekarang. Kamu juga harus melayanginya dengan baik," kata Azam setelah menemani Raihan tidur.
Sang mantan suami memandangi Alina yang sedang melipat baju di sofa tidak jauh dari keberadaannya. Ia lalu menoleh singkat dan kembali memfokuskan diri dengan pekerjaannya.
"Apa ... nanti Raihan tidak akan menanyakanku? Aku takut saat dia bangun dan tidak menemukanku di sampingnya ... apa yang akan terjadi?" ucap Alina lirih seraya terus memandang ke bawah.
"Tidak usah khawatir. Aku yang akan menjaganya di sini dan nanti jika Raihan menanyakan keberadaanmu ... aku akan menjelaskannya. Dari kemarin kamu belum pulang juga, jangan membuat suamimu lebih khawatir, apalagi kalian masih pengantin baru. Pulanglah," ujar Azam mengingatkan.
Alina terdiam beberapa saat memikirkan perkataannya. Benar apa yang diucapkan Azam, sejak malam pengantin ia belum pulang ke rumahnya.
Rumah? Tapi di mana? Pikirannya gamang. Karena selama ini ia tidak tahu di mana keberadaan mansion keluarga Zulfan.
Setelah lamaran waktu itu Alina hanya dibawa ke hotel untuk mempersipakan segala keperluan. Pernikahan yang terjadi begitu cepat tidak membuat ia mendapatkan kesempatan untuk pergi mengunjung seluruh keluarga Zaidan.
Pada saat seperti ini ia kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ponsel yang sejak kemarin tergeletak kehabisan baterai pun hanya menjadi pajangan semata.
Ia juga takut sudah menjadi istri yang tidak berbakti kepada suami barunya. Helaan napas lelah pun terdengar, Azam berdiri dari duduk dan berjalan mendekat.
__ADS_1
"Ini alamat kediaman suamimu, pergilah dan kembali lagi nanti." Azam menyodorkan benda pintar lainnya ke hadapan Alina.
Kepala berhijab itu mendongak melihat air muka bersahabat di sana. "Mas yakin mau memberikannya padaku?"
"Apa yang kamu katakan? Kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian kemarin, sekarang aku dan kamu hanya bersaudara. Kita hanya akan bekerja sama untuk membesarkan Raihan. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri," tuturnya kembali.
Alina tersenyum senang mendengarnya dan menerima salah satu ponsel sang mantan suami. Ia lalu berdiri dari tempatnya dan mendongak menatap ke dalam manik cokelat bening Azam.
"Baiklah, kalau begitu aku titip Raihan. Besok pagi aku akan kembali," katanya kemudian bersiap pergi.
"Em, tenang saja Raihan juga putraku."
Alina hanya mengangguk singkat dan memberikan ciuman mendalam di dahi sang putra. "Mamah, pulang dulu yah, Sayang. Cepat sembuh, tenang saja Ayah bersama kamu," bisiknya. Setelah itu ia pun pamit pada Azam dan melangkahkan kaki keluar ruangan.
Keheningan menyambut, Azam mengulas senyum simpul melihat Alina yang sudah menghilang. Ia kemudian kembali duduk di kursi sebelah ranjang dan menatap lekat sang putra yang tengah tertidur pulas.
"Cepat sembuh, Sayang," bisiknya lembut.
...***...
Kurang lebih satu jam lamanya, Alina pun berhasil menemukan kediaman keluarga Zulfan. Sedari kepergiannya, ia berputar-putar mencari alamat rumah sang suami.
Supir taksi yang ditumpanginya pun tidak begitu berpengalaman, hingga membuat mereka harus berkali-kali berhenti dan menanyakan pada orang-orang.
Setelah membayar ongkos, Alina pun membuka pintu pagar yang membatasi dunia luar dan bangunan megah di hadapannya.
Suara deritan besi yang saling bergesekan membuat ia tersadar jika saat ini dirinya sudah berdiri berhadapan dengan rumah megah milik keluarga Zulfan.
"MasyaAllah, rumahnya lebih besar dari mas Azam. Aku ... tidak bisa masuk ke dalamnya. Bagaimana jika orang-orang di sana tidak menerimaku dengan baik?" Alina menghela napas dan menggelengkan kepala beberapa kali.
"Tidak aku harus menemui mas Zaidan. Rumah ini satu-satunya tempat yang kemungkinan besar mas Zaidan berada," gumamnya meyakinkan diri sendiri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia pun memberanikan diri melangkahkan kaki mendekat ke pintu masuk.
...Bersambung......