
Kisah akan selalu sampai pada protagonis yang memerankan cerita di dalamnya.
Senang, sedih, kecewa, marah, benci, menjadi bagian utama yang dilewatinya sebagai pelengkap.
Terdapat luka tak kasat mata yang kerap kali datang layaknya bumbu untuk menambah citra rasa drama terjalin.
Air mata menjadi saksi bisu bagaimana episode demi episode memilukan itu hadir.
Entah sampai kapan semua ini berakhir? Ucap diri pada waktu yang masih menimbulkan kekecewaan.
Seiring berjalannya waktu, seiring roda berputar, masa akan memberikan kesempatan pada kebahagiaan untuk mengikis kesedihan.
Hari demi hari berlalu, setiap saat ada sebuah cerita yang kerap kali hadir menambah koleksi momen kebersamaan.
Empat bulan terlewati begitu cepat. Hari ini tepat di pertengahan tahun, putri kedua Alina serta anak kandung pertama Zaidan tengah berulang tahun.
Kediaman keluarga mereka disulap menjadi pesta perayaan yang mengundang banyak anak-anak yatim ke sana.
Selain dari keluarganya di panti asuhan kasih sayang bunda, Alina dan Zaidan juga turut menghadirkan anak-anak yang lain.
Mereka berbaur satu sama lain untuk melakukan pengajian bersama mendoakan yang terbaik bagi Zenia.
Zenia Husna Zulfan, hari ini berulang tahun ke satu. Batita itu nampak cantik dalam balutan gamis berwarna merah muda dengan hijab simple membuat kedua pipi bulatnya semakin menonjol.
Alina yang tengah menggendongnya pun seketika menjadi pusat perhatian. Mereka ikut senang menyaksikan air muka cerah wanita itu.
Satu persatu sanak keluarga juga hadir turut memeriahkan. Tidak lama setelah itu pengajian berkumandang, ayat-ayat suci AL-Qur'an bergema ke segala penjuru ruangan.
Beberapa saat berlalu, setelah pengajian selesai digelar, Alina dan Zaidan membagikan amplop berisi uang serta makanan untuk mereka, Raihan pun turut membantu dengan senang.
"Alhamdulillah, acaranya lancar. Kenapa kalian tidak mau merayakannya di hotel kita saja?" tanya Moana menikmati kue ulang tahun sang cucu.
Keluarga mereka pun berkumpul bersama di ruang sebelah. Alina yang tengah berada di samping mertuanya pun langsung menoleh.
__ADS_1
"Aku ingin seperti ini saja, Mah. Aku maupun mas Zaidan ingin mengajarkan kesederhanaan dan tidak tinggi hati atas rezeki yang sudah Allah kasih. Serta kami juga ingin Zenia maupun Raihan bisa lebih dekat kepada Allah," balas Alina hangat.
Moana terperangah sembari mengangguk singkat. "MasyaAllah, Mamah juga setuju. Berikan pendidikan agama sedini mungkin. Karena jika sudah besar akan sulit, lihat saja Ayahnya Zenia dia harus terjerumus dulu pada dunia gelap. Meskipun yah, Mamah tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, sebab Mamah dan ayah juga yang salah."
"Tapi Alhamdulillah, Mah. Sekarang mas Zaidan bisa menjadi imam yang baik untuk kami," balas Alina.
"Itu berkat kamu juga, Sayang. Mamah bersyukur Zaidan bisa bertemu denganmu dan memilih untuk mempersunting mu. Bersamamu Alina, dia bisa menemukan hidayah dan lebih dekat kepada Allah. Juga ... Mamah terkena imbasnya. Kami bisa berubah bersama-sama pada saat kamu hadir di keluarga ini," ungkap Moana, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
Alina pun merasakan hal yang sama. Ia tidak kuasa membendung air mata kebahagiaan dan berkali-kali mengangguk.
"MasyaAllah, tabaraqallah, jalan yang Allah berikan untuk memberikan hidayah kepada setiap hamba-Nya berbeda-beda. Bukan karena aku hadir di keluarga kalian, Mah ... tetapi memang Allah sudah menakdirkan mas Zaidan maupun Mamah untuk berubah. Alhamdulillah, aku senang bisa menjadi bagian penghijrahaan Mamah dan mas Zaidan," tutur Alina, cairan bening itu meluncur tanpa bisa dicegah.
Moana mengulurkan tangan dan mengusap air mata itu pelan. Seulas senyum lembut pun terpendar di wajah cantiknya yang sudah tidak muda lagi.
"MasyaAllah, kamu memang selalu rendah hati. Inilah yang membuat Mamah menyukaimu, terima kasih sudah hadir di kehidupan kami," kata Moana lagi.
Alina hanya mengangguk-angguk mengerti. Karena bisa bertemu dengan Zaidan dan juga keluarganya adalah anugerah terindah untuknya. Mereka jugalah yang sudah memberikan pelajaran berharga, yaitu ia bisa menerima kejadian pahit masa lalu.
Sampai pada akhirnya ia bisa mengecap manis kebahagiaan di kehidupan rumah tangga keduanya bersama Zaidan.
"Wah, cucu Nenek sangat cantik." Moana langsung beralih pada Zenia dan menggendongnya.
Cucu perempuannya itu pun melebarkan senyum manis. Ia senang dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.
Dalam diam Alina menyapukan pandangan. Di sana ia melihat banyak sekali keluarga Zaidan yang datang, mulai dari tetua Zulfan sampai anak cucunya pun turut hadir.
Ada sedikit selingan dalam hatinya, kata andai tercetus di sana.
"Andai saja ibu masih ada, apa ibu bisa tersenyum seperti Mamah?" benak Alina sembari memandangi ibu mertuanya lagi.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya sang suami datang mendekat.
Entah sadar atau tidak Zaidan membubuhkan ciuman kilat di pipi sebelah kanan. Alina terkejut dan memandanginya lekat.
__ADS_1
"Apa yang Mas lakukan? Di sini banyak orang dan juga ada anak kecil," ucap Alina teredam.
Zaidan terkekeh pelan lalu mengambil toples keripik singkong kesukaannya. Tanpa rasa bersalah ia menikmatinya membuat Alina mendelik pelan.
Namun, ia juga bersyukur di hari bahagia sang putri, kakak pertamanya datang ke sana bersama suami dan juga anaknya.
...***...
Di balkon kakak beradik itu tengah menikmati waktu bersama. Di temani dua gelas teh hangat Alina dan Jihan menyaksikan sang raja siang pulang ke peraduan.
"Terima kasih, Teteh sudah menyempatkan datang ke sini," kata Alina menoleh pada sang kakak.
Jihan pun membalas tatapan hangat sang adik. "Sama-sama, ini pertama kalinya Teteh datang ke acara keluarga seperti sekarang. Kamu benar-benar beruntung bisa dipersunting oleh Zaidan."
"Em, Teteh benar tetapi, sebelum aku berada di titik ini sudah banyak jalan penuh liku nan terjal yang di jalani. Aku-"
"Tidak apa-apa, semua kebahagiaan pasti melewati rasa sakit terlebih dahulu."
"Teteh, sudah mengetahuinya dari ibu panti. Karena selama ini Teteh diam-diam mencari tahu keadaanmu. Teteh turut prihatin untuk pernikahan pertamamu. Namun, sekarang kamu sudah mencapai kebahagiaan ... Teteh sangat lega dan juga senang," ungkap Jihan membuat Alina terharu.
"Terima kasih, Teh. Terima kasih untuk menunjukkan diri jika aku masih mempunyai keluarga. Meskipun ibu sudah tidak ada, tetapi ... aku bersyukur Allah memberikan kesempatan ini padaku." Alina menunduk menyembunyikan air mata yang kembali mengalir.
Jihan meletakkan gelas teh di atas meja dan beranjak dari duduk mendekati Alina. Ia menggenggam hangat tangan adiknya membuat sang empunya mendongak.
"Jangan menangis, mulai sekarang hiduplah dengan bahagia bersama keluargamu. Jangan membandingkan keluarga kita ... karena kita istimewa dengan caranya masing-masing," ucap Jihan lembut.
Seketika itu juga Alina langsung melemparkan diri ke dalam pelukan sang kakak. Ia menangis, meraung menumpahkan segala perasaan yang datang menerjang.
Jihan mengulas senyum mengerti dan membalas pelukannya tak kalah erat. Dua saudara yang terpisah oleh keadaan itu pun kini bisa dipersatukan kembali.
Meskipun tanpa kehadiran orang tua, Alina dan Jihan bersyukur Allah mempertemukannya lagi.
Alina merasa memeluk ibu kandungnya, sebab kakak perempuan pertama layaknya pengganti seorang ibu.
__ADS_1
...Bersambung......