Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 13


__ADS_3

Nyatanya kecemburuan tidak bisa dihindari, sekuat apapun menahan tetap saja terasa mengganggu. Orang tercinta bersama wanita lain tidak mudah untuk dilihat. Penuh aroma kekesalan dan kepalsuan. Menjadi yang kedua tidak semudah dibayangkan, harus ekstra kuat kala suami berbagi cintanya untuk yang pertama.


Dari awal itulah konsekuensi yang harus Alina terima. Ia hadir dan tercatat dalam kamus hidup seorang Azam setelah Yasmin. Cinta pertama pria itu lebih dulu menduduki singgasana hatinya menggeser dirinya yang sebatas teman masa kecil. Seorang adik yang kini berubah menjadi istri kedua.


Senyum hadir di balik topeng baik-baik saja. Namun, ekspresi tersebut menandakan jika hatinya tidak baik-baik saja.


Satu minggu ia mengecap manisnya kebersamaan rumah tangga dengan sang suami, kini waktu memperingatinya untuk mendongak ke atas. Di hati Azam bukan hanya ada Alina seorang, tapi Yasmin yang menempati posisi tertinggi.


"Hahaha kamu tahu Yasmin? Aqeela sudah pandai, sekarang dia hampir bisa tengkurap sendiri."


Suara tawa Azam menggema dalam ruang inap tersebut.


Hari ini mereka bertiga menjenguk Yasmin atas inisiatif Alina. Ia tidak bisa bersikap egois dan membiarkan Azam terus bersamanya. Yasmin masih membutuhkan sang suami untuk berada di sampingnya dan menyemangatinya melawam penyakit ganas.


Alina yang tengah duduk tidak jauh dari keberadaan mereka melengkungkan senyum melihat interaksi itu. Hal wajar bagi pasangan suami istri untuk bercanda dan tertawa meluapkan kerinduan akan kasih sayang.


"Benarkah? Anak Mamah sudah besar ternyata." Balas Yasmin seraya mengelus puncak sang buah hati yang berada dalam gendongan Azam.


"Kita akan membesarkannya bersama."


Mendengar hal tersebut membuat Alina membulatkan matanya sempurna dengan jantung berdegup kencang. Ia tersadarkan akan sesuatu saat melihat sorot mata dari kedua orang di hadapannya.


"Tidak mungkin ada aku di antara kita yang kamu ucapkan, kan Mas? Aku sadar jika posisi ini hanya sementara. Jadi yang kedua tidak selamanya menjadi prioritas. Sabar Alina, dari awal memang seperti ini. Kamu datang untuk melengkapi kekurangan mereka," tutur Alina dalam benak.


Atmosfir yang berada di antara keluarga itu begitu hangat. Alina hanya bisa tersenyum masam kala keberadaannya seperti bayangan. Kenangan kemarin mampir begitu saja dalam ingatan. Kebahagiaan singkat tersebut seperti sekejap mata.


"Alina, apa yang kamu pikirkan?"

__ADS_1


Pertanyaan Yasmin membuyarkan lamunannya. Alina terperanjat dan langsung menetap ke dalam manik kecoklatan di sana lalu beralih pada suaminya. Ia gelagapan saat perhatian mereka mengarah padanya.


"A-ahhh, tidak ada Mbak. Aku hanya sedang memikirkan, kapan Mbak pulang dari rumah sakit?" senyum palsu hadir menutupi hatinya.


"Tunggu, apa yang aku pikirkan? Jika Mbak Yasmin keluar dari rumah sakit itu artinya rumah tangga kami akan seperti biasa lagi. E-ehh tunggu dulu, Ya Allah Alina apa yang kamu pikirkan. Buang pikiran jahat itu, astaghfirullah. Ya Allah sembuhkanlah Mbak Yasmin, aku ingin melihat kebahagiaan Mas Azam lagi. Meskipun............. bukan karena aku."


Kembali lamunan mengambil alih. Alina bengong beberapa saat hanya memandang ke depan tanpa bersuara. Azam memperhatikannya dalam diam lalu beranjak dari duduk berjalan mendekat.


Tidak terduga Azam bersimpuh di hadapan Alina seraya menggenggam tangannya hangat. Sontak perlakuannya membuat Alina terperanjat. Hampir saja ia terjengkang ke belakang jika tidak Azam menyangganya.


"Apa yang kamu pikirkan, hmm?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya dengan nada lembut membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Alina gelagapan seraya memandangi Azam dan Yasmin bergantian. Ada perasaan tidak enak menyapa hatinya kala melihat senyum lebar di wajah istri pertama suaminya.


"A-aku tidak memikirkan apapun. Ak-"


"Kata dokter aku sudah bisa keluar dari rumah sakit, sekitar tiga hari lagi. Ya Allah aku senang sekali bisa melihat kalian akrab seperti itu."


"Ehh!!"


Alina tidak mengerti dengan ucapan yang baru saja Yasmin katakan. Bukankah seharusnya wanita itu cemburu melihat suaminya bersama wanita lain? Meskipun dia istri keduanya? Pikir Alina berkecambuk.


"Pasti kamu berpikir, kenapa aku bersikap seperti ini dan seharusnya aku cemburukan?"


Untuk kesekian kalinya Alina terkejut, Yasmin seperti membaca pikirannya. Ia hanya terdiam tidak tahu harus menjawab seperti apa.


"Semua itu tertulis jelas di wajahmu, Alina. Mbak senang, sungguh. Kalian bisa akrab dengan cepat. Hmm, apa yang sebenarnya terjadi?" Kata Yasmin meletakan jari telunjuknya di dagu dan kedua mata memandang ke atas. Ia sedang berpikir apa yang membuat suami dan madunya bisa akrab seperti itu.

__ADS_1


"I-itu ka-kami ha-nya"


Alina sangat gugup saat Yasmin sudah mengetahui jika dirinya dan sang suami sudah baik-baik saja. seketika ia jadi teringat malam-malam yang sudah dihabiskannya bersama Azam. Entah kenapa rasa bersalah mampir begitu saja, meskipun ia sadar jika dirinya juga sudah menjadi seorang istri. Dan melakukan hal itu adalah tugasnya.


"Kamu lucu sekali Alina. Tidak usah gugup, kamukan istri Mas Azam juga." Yasmin tertawa ringan melihat tingkah sang madu.


"Ehh!!"


Alina kembali memandangi wanita yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit tersebut. Rona merah merambat di wajah putihnya membuat ia semakin cantik. Azam melengkungkan kedua sudut bibir, senang kedua istrinya akrab satu sama lain.


Azam lalu memberikan Aqeela kepada ibu sambungnya dan menarik lengan Alina pelan kemudian berjalan mendekati Yasmin.


"Aku tidak akan menjanjikan apapun, tapi aku akan membahagiakan kalian dengan caraku sendiri."


Pria itu pun merangkul kedua istrinya. Yasmin mendaratkan kepala berhijabnya di dada bidang sang suami. Alina menoleh ke samping kanan menatap Yasmin tengah menutup kedua matanya seraya tersenyum lantas mendongak melihat suaminya melakukan hal yang sama.


Ada perasaan abstrak yang tidak bisa Alina gambarkan. Rasanya asam manis meleburkan kegundahan.


Di dalam ruang inap tersebut atmosfir kebersamaan mereka terasa aneh. Alina menoleh ke samping kiri di mana di sana tangan tegap sang suami bersandar di bahunya. Senyum pun mengembang betapa ia sudah dianggap sebagai seorang istri sekarang.


Entah sadar atau tidak ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Azam.


Pemandangan tersebut entah disebut bagaimana, yang jelas keikhlasan hanya bisa diucapkan. Namun, bagaimana hati merasakan? Hanya diri sendiri yang tahu.


Allah menjadi saksi kebersamaan mereka. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari, semua sudah menjadi suratan takdir Sang Maha Kuasa.


Alina akan mengikuti ke mana skenario Allah pergi untuknya. Baik buruk sudah menjadi jalan ceritanya saat ini. Ia hanya akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Peran ganda yang sudah melekat pada posisinya dari awal menjadi kisah baru untuknya tetap bertahan.

__ADS_1


"Aku harus percaya jika rencana Allah yang terbaik. Semoga setelah ini Mas Azam benar-benar memperlakukanku sama seperti Mbak Yasmin. Aku harap tidak ada lagi air mata kesedihan yang keluar," ucapnya dalam benak.


Ia pun menutup kedua matanya menikmati aroma maskulin yang menguar dalam tubuh sang suami.


__ADS_2