
Sepasang netra bening tengah memandangi ketiga sosok yang tengah asyik mengumbar tawa di depannya.
Ruangan berbentuk kotak luas itu di isi dengan celotehan demi celotehan berdengung nyaman dalam indera pendengaran.
Sang kepala keluarga tersenyum manis menyaksikan mereka. Zaidan yang tengah duduk di dekat jendela besar di sofa tunggal meletakkan tablet di atas meja.
Ia beranjak lalu berjalan mendekati istri dan kedua anaknya. Ia tidak kuat dengan godaan mereka yang seakan menariknya untuk mendekat.
"Kena kalian." Zidan berteriak kencang seraya memeluk Raihan erat.
"Kyaaa, Ayah licik mengejutkanku yang sedang lengah." Raihan terpekik memandangi sang ayah sambung senang.
"Monster besar sudah datang, sekarang akan mengalahkan superhiro Mamah." Zaidan membaringkan tubuh sang putra dan menggelitikinya.
Suara tawa ringan bergema menarik atensi untuk melihatnya. Alina pun ikut tertawa senang menyaksikan ayah dan anak itu.
"Sudah Ayah ... sudah ... Raihan tidak sanggup lagi." Raihan mencoba menahan serangan Zaidan yang terus datang bertubi-tubi.
"Apa? Ayah tidak mendengar apa-apa." Zaidan menggodanya.
"Kata Raihan ... Raihan sudah tidak kuat lagi." Bocah sembilan tahun itu semakin tergelak seiring Zaidan yang menggelitikinya lagi dan lagi.
"Masa iya superhero Mamah kalah?" ujar Zaidan menyindirnya menatap manik berair sang putra.
Raihan yang tengah mengatur napasnya pun, membalas sepasang netra itu.
"Raihan tidak kuat kalau digelitiki, Ayah. Raihan tetap akan menjadi superheronya Mamah," kata anak itu lantang dengan mengangkat kepalan kedua tangan tinggi-tinggi.
"Em, apa Raihan tidak mau menjadi superhero Ayah?" tanya Zaidan lagi.
"Em." Raihan meletakkan jari telunjuk di dagu. "Aku pikir Ayah adalah superhero di atas superhero. Jadi, Ayah yang harus melindungi kita," ungkapnya menggebu.
Zaidan gemas dan mencubit pelan hidung bangirnya. Raihan kembali tergelak akan aksi manis sang ayah.
"Apa kalian melupakan Mamah?" tanya Alina menyadarkan mereka yang tengah mengumbar keakraban.
Seketika itu juga Raihan bangkit dari berbaring dan langsung duduk di dekat Alina yang tengah menggendong Zenia.
Bayi berusia tiga bulan itu anteng menikmati makanannya. Ia terus menyusu tidak peduli ayah serta kakaknya tengah bermain bersama.
Melihat kebersamaan ketiganya, Zaidan merangkul mereka ke dalam pelukan. Kecupan hangat mendarat di puncak kepala istri dan kedua anaknya.
"Harta paling berharganya, Ayah. Ayah sangat menyayangi kalian," ungkap Zaidan.
__ADS_1
Atmosfer di sekitar berubah menjadi syahdu. Simfoni merdu menelisik ke setiap relung hati terdalam mengantarkan pada kegembiraan.
Raksi kebahagiaan menyebar ke segala penjuru ruangan. Indahnya kehangatan akan sebuah keluarga mengalirkan harmonis yang menari dalam bayang.
Alina menutup kedua mata rapat, meletakkan kepala berhijabnya di dada bidang sang suami.
Detak jantung Zidan mengalun layaknya sebuah lagu menenangkan sepanjang hidupnya.
"Ya Allah, terima kasih sudah memberikan keluarga yang sangat harmonis. Meskipun banyak sekali rintangan menghadang, tetapi itu sebagai tanda baiknya ikatan yang kita bina," monolognya dalam diam.
Ia membuka mata lagi memandangi rahang tegas sang suami. Aroma maskulin yang menguar memberikan rasa perlindungan.
...***...
Malam semakin larut, pasangan suami istri itu tengah terbuai akan kenikmatan waktu bersama. Indahnya setiap detik yang terlewati memberikan kenangan berarti.
Memang tidak ada yang salah dengan ujian serta cobaan. Kedatangannya mengantarkan pada muara kebahagiaan.
Air mata yang sudah dikeluarkan berganti senyum cerah. Hanya ada bayangan serta memori akan kejadian yang sudah berlalu dan dijadikan sebagai pelajaran berharga.
"Aku bahagia dan sangat beruntung," kata Alina yang tengah memandangi kedua buah hatinya.
Zadian yang sedang berbaring seraya memeluk sang istri dari belakang ikut membelai wajah cantik Zenia.
Alina menyunggingkan senyum manis dan mengambil tangan sang suami lalu dikecupnya hangat.
Ia memberikan ciuman hangat di pangkal leher Alina. Sang empunya terkejut dan seketika membalikan badan.
Sepasang mata elang yang tengah memangsa buruan pun memindainya lekat.
Alina menangkup pipi suaminya hangat seraya mengembangkan senyum lembut.
"Masa indah ini akan menjadi kenangan berharga untukku. Terima kasih untuk tidak menyerah dan memperjuangkan pernikahan kita."
"Meskipun banyak sekali ujian yang menghadang, memberikan ombak kuat menerjang, tetapi ... kesetiaan serta kepercayaan yang kita bangun ... bisa memperkuat dan mempererat pernikahan kita," kata Alina panjang lebar.
Zaidan menarik tangan sang istri dan mengecupnya perlahan. Semburat merah jambu menyebar di kedua pipi putih Alina.
Mereka saling pandang menyelami keindahan serta kecantikan manik masing-masing.
Hanya detikan jam yang menemani kebersamaan dua sejoli tersebut.
Cinta sejatinya memerlukan keyakinan dan saling percaya. Jika kedua itu sudah dimiliki maka hubungan ikatan suci pernikahan bisa bertahan dengan baik.
__ADS_1
Banyak sekali godaan serta cobaan yang datang menghadang. Namun, di dalamnya terdapat kebaikan yang tidak akan pernah terbayangkan.
...***...
Masih banyak misteri yang tidak bisa dipecahkan dalam kehidupan ini. Bagaikan kedipan mata kedatangannya tidak terdeteksi.
Hancur lebur menjadi satu kesatuan atas pecahan kisah yang hadir sebagai balasan sebuah perbuatan.
Musibah tengah mendatangi seorang pianis muda berbakat, Zanna Zyva. Di usianya yang ke dua puluh sembilan tahun harus mendapatkan nasib malang.
Ia mengalami kecelakaan tragis yang mengharuskannya terbaring di rumah sakit.
Terhitung sejak kejadian itu terjadi, tepat pada hari ini Zanna sudah di rawat di rumah sakit pusat selama hampir satu bulan. Ia mengalami koma akibat benturan yang dialaminya.
Selama itu pula hanya Alina yang sering datang menjenguk. Terkadang Zaidan menemani hanya sebagai bentuk iba semata.
Kali ini Alina pun kembali mengunjunginya. Ia membawa sekeranjang buah kala mendapati kondisi Zanna yang berangsur-angsur membaik.
Tadi malam Angga memberitahu jika keadaan sang pianis stabil. Ia sudah bisa menggerakkan jari jemarinya dan mulai merespon seruan orang yang berbicara dengannya.
"Alina?" tanya Angga yang baru saja keluar dari ruangan Zanna.
Alina tersenyum cerah membalas tatapannya lalu berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alina penasaran.
"Seperti yang aku katakan semalam, sudah sangat membaik. Dokter yang menanganinya mengatakan jika dia bisa sadar dalam waktu dekat," jelasnya.
Alina menghela napas lega seraya mengusap dadanya pelan.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga hari ini Zanna bisa sadar," harapnya. Angga mengangguk setuju.
Sejak di rawat di sana hanya Angga yang sering menjenguk serta memberikan perawatan terbaik membantu rekan kerjanya.
Karena bagaimanapun juga wanita itu sedang mengalami musibah dan tidak seharusnya menyimpan dendam ataupun kebencian.
"Mas bangga dan salut dengan keputusanmu ini. Kamu selalu menjenguk Zanna, meskipun dia pernah hampir merebut Zaidan, tetapi ... kamu masih baik padanya."
"Bahkan kamu mengatakan padaku untuk tidak menyimpan dendam. Kamu satu-satunya orang yang begitu tulus memperlakukan musuh dengan baik. Meskipun sampai detik ini keluarga Zanna masih enggan menjenguknya," tutur Angga menjelaskan situasi yang terjadi.
Alina tersenyum simpul dan mengeratkan pegangan di keranjang buah.
"Dia bukan musuh, hanya orang yang sedang terjebak pada emosi semata. Karena bagiku ... tidak seharusnya kita membalas apa yang orang lain perbuat. Jika kita melakukan hal yang sama ... jadi, apa bedanya kita dengan orang itu? Aku hanya ingin berbuat baik untuk diriku juga. Allah saja Maha Pengampun, aku yang sebagai hamba-Nya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan," balas Alina.
__ADS_1
Angga melengkungkan kedua sudut bibirnya sempurna, bangga atas apa yang Alina lakukan.
...Bersambung......