Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 118 (Season 2)


__ADS_3

Gelenyar rasa sakit masih ada dan menari di atas cakrawala illusi. Memori indah yang pernah terlewati dari masa lalu hinggap lagi mengantarkan ketidakberdayaan pada masa kini.


Seburuk apa pun perlakuan seorang ayah tetap harus dihormati. Karena bagaimanapun juga dia adalah orang tua yang sudah berjasa dalam kehidupan.


Di usia yang masih sangat muda, Raihan dituntut untuk menerima berbagai keadaan dalam keluarganya. Ia menjadi anak korban broken home atas keegosian yang dilakukan sang ayah.


Sekali lagi ia hanya korban, ia didesak harus mengerti atas semua kondisi yang terjadi. Jauh dari dalam pikiran anak-anaknya, ia tetap menginginkan kehidupan harmonis bersama ayah dan ibu.


Namun, lagi-lagi apa yang terjadi pada sang ibu harus meruntuhkan istana keluarga. Tanpa Alina ketahui sebenarnya Raihan selalu iri pada teman-temannya di sekolah.


Mereka selalu membicarakan bagaimana seru dan menyenangkannya bisa menghabiskan libur bersama ibu serta ayah. Sesuatu hal yang sudah menghilang dalam diri Raihan, yaitu bisa tergelak bersama sang ayah.


Cerita teman-temannya seketika membuat ia terdiam. Raihan hanya bisa mematung dan terus membairkan ketiga teman sekelasnya berceloteh.


"Kalian tahu minggu kemarin ayahku baru saja membelikan mainan baru, mobil-mobilan besar. Hebat sekali suara mesinnya sangat halus."


"Aku juga diajak main oleh ayah ke taman bermain minggu kemarin.


"Aku dan ayah hanya membakar daging saja di rumah. Daging yang ayah beli sangat enak."


Itulah perkataan yang membuat Raihan tidak bisa berkutik. Situasi dalam keluarganya sudah berbeda, ayah dan ibu telah berpisah membuat ia harus kehilangan salah satu.


"Bagaimana denganmu, Han? Apa ayahmu juga sering membelikan mainan atau mengajakmu bermain?" tanya temannya yang bertubuh gempal waktu di sekolah.


Raihan yang sedari tadi termenung mendengar cerita mereka terkejut bukan main. Ketiga temannya sedang menatapnya dan menunggu jawaban.


"A-yahku sangat baik. Dia juga sering membelikanku mainan dan mengajak kami liburan."

__ADS_1


Bohong, semua yang dikatakan Raihan dusta adanya. Ia terpaksa menutupi apa yang terjadi pada keluarganya. Kata-kata itu sudah terjadi beberapa tahun lalu saat ia berusia lima tahun. Namun, semuanya hanya sementara sebab dulu ia tidak tahu kebenarannya.


Sekarang ia hanya bisa menampilkan senyum penuh kepalsuan menutupi segala luka hati. Rumah yang disebut istana kebahagiaan hancur berantakan. Hati kecilnya berbisik lirih jika sebenarnya ia enggan jika kedua orang tua harus berpisah.


Raihan merupakan salah satu dari sekian banyak anak yang menjadi korban broken home. Meskipun sang ibu tidak mengatakan apa pun mengenai perpisahan mereka, tetapi ia tahu apa yang sedang terjadi pada orang tuanya.


Ia lagi-lagi dipaksa mengerti dan mengambil sebuah keputusan yang jauh dari pikiran seorang anak berusia delapan tahun. Bulan berganti bulan keadaan keluarganya menjadikan sosok Raihan tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah.


Baik ataupun buruk sosok ayah, ia tetap orang tua yang harus dihormati dan disayangi. Begitu pula dengan Raihan, meskipun sikap sang ayah kepadanya berbeda, tetapi satu nama itu akan selalu ada di hatinya.


"Mah, apa kita benar-benar sudah tidak bisa kembali bersama ayah?" Pertanyaan polos itu tercetus dari celah bibir kemerahannya.


Alina yang masih memangkunya di sofa tercengang dengan gamang. Dari mana pertanyaan itu berasal? Pikirnya.


"Apa Raihan ingin tinggal bersama ayah?" tanya balik sang ibu setelah sekian lama bungkam.


"Mah, kenapa Raihan haus memilih di antara kalian? Mah, apa perkataan Raihan tadi malam sudah membuat ayah sedih? Semalam, ayah meminta maaf dan menangis di depan Raihan, tapi ... Raihan tidak mengatakan apa pun dan meninggalkan ayah begitu saja."


Tubuh kecilnya kembali bergetar, isak tangis pun terdengar memilukan. Alina terkejut mendengar pengakuan sang buah hati.


"A-apa? Ayah minta maaf?" Raihan hanya mengangguk singkat.


"Itu berarti ayah benar-benar sudah mengakui kesalahannya. Apa Raihan sudah memaafkan ayah?" tanya Alina lagi.


Lama Raihan terlena dengan pikirannya sendiri, dentingan jam di dalam kamar menemani kesepian. Ia lalu merenggangkan pelukan dan mendongak menatap ke dalam manik bening sang ibu.


"Raihan tidak pernah membenci ayah, Mah. Raihan hanya ... sedih saat tahu ayah lebih menyayangi kak Aqeela. Raihan tidak ingin melihat ayah ataupun Mamah menangis, tapi semalam ... ayah menangis. Raihan juga mengatakan jika ayah sering berada di kamar itu dan menyebut nama Yasmin," tutur Raihan kembali.

__ADS_1


Alina terpaku dan tidak percaya buah hatinya bisa mengetahui sejauh itu. Ia ataupun Azam sama-sama tidak tahu jika Raihan mengamati gerak-gerik orang tuanya.


"Tante Yasmin itu ... ibunya kak Aqeela kan, Mah? Jadi, selama ini ayah lebih menyayangi Tante Yasmin daripada kita?" Pertanyaan lain lolos begitu saja.


"Sayang, kamu masih terlalu muda untuk mengerti keadaan kami, tetapi ... Mamah dan ayah sudah tidak bisa bersama lagi. Raihan tahu sendiri bukan jika Mamah sering menangis jika bersama ayah? Mamah juga senang jika Raihan tidak membenci ayah. Karena bagaimanapun ayah Azam tetap akan menjadi ayah kandungmu, Sayang," balas Alina.


Raihan mengangguk lemah dan mengusap air matanya kasar. "Jika ... jika ayah meminta Raihan untuk tinggal bersamanya, apa Mamah akan mengizinkan?"


Pertanyaannya kali ini membuat Alina tidak bisa berkutik. Jauh dari lubuk hatinya ia takut jika hal tersebut sampai terjadi. Namun, ia juga sadar mereka adalah ayah dan anak yang tidak bisa dipisahkan begitu saja.


"Apa Raihan ingin tinggal bersama ayah?"


Raihan termenung lalu menunduk singkat dan kembali mengangkat kepalanya. "Raihan ... ingin tinggal bersama ayah dan Mamah." Itulah harapan setiap anak.


Siapa pun tidak ingin melihat ibu dan ayahnya berpisah. Karena seorang anak butuh perhatian dari kedua orang tuanya. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan maka perpisahan lebih baik. Perisahan bukan akhir dari segalanya, tapi awal untuk berubah ke arah yang lebih baik.


"Mamah minta maaf yah, Sayang. Mamah dan ayah tidak bisa bersama lagi. Mamah dan ayah sudah berpisah sekarang. Juga ... kamu memiliki ayah baru yaitu paman Zaidan," jelas Alina mengatakan kenyataan yang terjadi.


Mendengar pengakuan dari ibunya mengundang lagi air mata. Keristal bening terus berjatuhan dikedua pipi tembabnya.


Raihan pikir jika kepergian mereka waktu itu untuk meninggalkan sang ayah hanyalah sementara. Namun, ternyata untuk selamanya, ayah dan ibu tidak bisa kembali bersama. Di dalam hidupnya sudah ada orang lain yang akan menjadi ayah barunya.


Kehidupan seorang Raihan akan berubah tanpa adanya ayah kandung. Ketakutan itu melekat dalam dirinya, ia juga tahu jika Zaidan merupakan pria baik yang bisa membuat ibunya tersenyum.


Namun, di dasar hatinya paling dalam ia berikir jika ayah kandungnya saja tidak menyayanginya sepenuh hati, apalagi orang lain yang tidak ada hubungan darah apa pun dengannya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2