
Permainan tarik ulur tengah digelar dalam kehidupan seorang Azam. Seseorang datang dan pergi seiring berjalannya waktu. Misteri tentang besok tidak ada yang tahu, terkadang memberikan kejutan tak terduga ataupun malapetaka menyakitkan.
Gerbang takdir tengah bermain dan menari indah dalam sanubari. Azam tertegun kala mendengar penuturan sang sekertaris, Zara Savina. Wanita cantik blasteran Indonesia-Amerika tersebut sudah menjadi temannya sejak merintis karier di kantor menggantikan sang ayah.
Zara masuk ke dalam perusahaan bersamaan dengan ia menduduki jabatan sebagai pemilik. Azam senang kala mendapatkan sekertaris seusianya. Karena terkadang ia akan merasa canggung jika harus bekerja dalam waktu yang sama dengan seseorang lebih tua darinya.
"Bisakah kamu melihatku? Aku mencintaimu dari dulu."
Perkataan Zara terus berdengung dalam pendengaran membuat ia menunduk menyembunyikan wajah kebingungan. Jari jemari saling berpautan bertumpu di kedua paha memikirkan apa yang baru saja menimpa.
"Aku hampir menyerah saat tahu kamu menikah dengan Yasmin setelah kita bekerja lima bulan kemudian. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku tidak tahu jika rasa kagum itu berubah menjadi perasaan menyulitkan seperti ini. Namun, waktu tahu kamu menikah kembali dengan wanita bernama Alina, aku tidak ingin menyerah dan semakin ingin mendapatkanmu."
Kata demi kata terus meluncur di celah bibir ranum Zara. Senyum pun terpendar menambah kecantikannya. Sosok Zara sudah dianggap saudara sendiri oleh Azam, keberadaannya mampu menyelesaikan masalah kala pekerjaan datang tiada henti.
Zara, wanita pintar, mandiri dan juga berkelas. Azam mengagguminya sebagai rekan bisnis semata. Tetapi, ia tidak menyangka jika perasaan yang disebut cinta hadir di tengah-tengah hubungan atasan dan bawahan tersebut.
Azam jatuh ke dalam lamunan terlalu dalam memikirkan kejadiam demi kejadian yang terus hinggap dalam kehidupan. Memiliki wajah rupawan tidak seharusnya mendapatkan keberuntungan, Azam harus terjebak dalam masa yang membingungkan.
"Pernikahan keduamu, aku tidak bisa menerimanya. Bagaimana mungkin kamu menikahi wanita seperti, Alina? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Zara terus mencecarnya dengan pertanyaan. Azam belum mengatakan sepatah kata hingga beberapa detik, ia kembali mendongak dan memandang lurus ke depan menghindari tatapan sang sekertaris.
"Sepertinya, kita tidak berada dalam hubungan untuk bisa berbicara hal pribadi. Aku menghargai perasaanmu, tapi maaf tidak bisa membalasnya. Aku sudah beristri, tidak hanya satu."
Setelah mengatakan itu Azam beranjak dari kursi kebesaran hendak meninggalkan Zara. Namun, suara lembut kembali menghentikan. Azam memunggunginya dalam diam di ambang pintu mendengarkan opini Zara yang terus terlontar.
__ADS_1
"Apa kamu akan mempertahankan pernikahan dengan Alina? Bahkan kamu sendiri juga tahu jika bayi yang ada dalam kandungannya bukanlah darah dagingmu."
Zara terus berusaha meyakinkan Azam yang kini mengepalkan kedua tangan erat. Bola mata kelerengnya bergetar mengantarkan keristal bening merembes keluar. Punggung tegap nan rapuh di hadapannya terlihat begitu jauh.
Azam berada di dekatnya, tapi rasanya tidak mudah untuk digapai.
"Tidak bisakah kamu meli-"
"Apa kamu sudah selesai bicara? Dari sini kita hanya akan kembali sebagai atasan dan bawahan. Saya harap Anda bisa professional dalam bekerja."
Azam melangkahkan kaki tanpa seklipun menatap ke arahnya. Seketika itu juga bendungan dikedua mata pecah mengalirkan cairan bening meluncur deras di kedua pipi.
Penolakan secara tidak langsung dari pria dicintainya mengantarkan luka. Bertahun-tahun perasaan itu bersemayam dalam hati dan dengan hitungan detik roboh berganti kepedihan. Zara tidak bisa menerimanya.
...***...
Beberapa saat kemudian Azam tiba di rumah sakit. Kedua kaki jenjangnya menapaki lorong dengan perasaan menggebu. Napasnya naik turun seolah sudah berlarian sepanjang hari, keringat dingin pun muncul dan seketika ia menghentikan langkah dan bersandar di tembok.
Keheningan menjadi teman setia kesendirian. Azam memandang sekitaran tidak ada satu orang pun terlihat. Beberapa bulan terlewat dan tempat tersebut sudah tidak asing lagi baginya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Setelah tenang ia kembali berjalan menuju salah satu ruangan.
Namun, sebelum ia datang ke sana netranya beradu pandang dengan sang sahabat. Dokter muda tersebut langsung berjalan cepat mendekat dan melayangkan tatapan serius. Azam menundukan kepala dalam menghindarinya.
"Azam? Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu sakit?" Tanya Angga beruntun khawatir melihat keadaan sahabatnya.
"Sudah dua bulan Alina menghilang, aku tidak tahu harus bagaimana. Apa menurutmu-" Jeda sejenak Azam mendongak seraya mencengram kerah kemeja Angga. "Apa kamu juga berpikir jika bayi yang ada dalam kandungannya bukan milikku? Zara saat itu melihat Alina datang ke rumah sakit bersama pria lain. Apa dia sudah berselingkuh dariku?"
__ADS_1
Netra kecoklatan Angga melebar dengan menarik paksa kedua tangan Azam dan mencengkram lengannya erat. Sorot mata kecewa terlihat jelas di sana, Azam termangu baru kali ini melihat sang sahabat seperti itu.
"Kamu terlalu mudah terprovokasi dengan ucapan orang lain. Sebenarnya siapa yang menjalani rumah tangga itu, kamu atau orang lain? Jika kamu percaya dengan mereka apa gunanya janji pernikahan kalian? Bukankah ketika dua orang menikah harus ada kepercayaan di dalamnya?"
"Kami tidak saling mencintai. Tidak, Alina mencintaiku. Tapi, ak-"
"Kamu orang plin-plan yang pernah kutemui. Asal kamu tahu, waktu itu aku bertemu dengan Alina di rumah sakit untuk pemeriksaan. Aku menanyakan di mana suaminya berada, tapi kamu tahu apa yang dia katakan?"
Azam terdiam menunggu perkataan Angga selanjutnya. Dengan seringaian tajam dokter tampan tersebut kembali berbicara.
"Alina bilang suaminya sedang sibuk bekerja dan ia tidak apa-apa melakukan pemeriksaan sendiri. Aku tahu ada kesedihan di balik senyum yang ia tampilkan waktu itu. Jadi, bagaimana bisa Alina bisa berselingkuh darimu? Dia sangat mencintaimu. Aku tidak menyangka, Azam yang kukenal ternyata sangat bodoh. Kamu sudah kehilangan orang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus."
Perkataan Angga seketika mehujami ulu hati. Rasa bersalah semakin bertambah besar, ia terlalu termakan berita tidak benar dari Zara. Wanita itu mencintainya dan sudah pasti ia akan melakukan seribu cara untuk bisa bersama.
Azam termangu dengan tatapan kosong dan merasakan perih dalam dada. Angga melepaskan cengkaraman dan berjalan meninggalkan sang sahabat begitu saja.
Seketika hening menyelimuti kegundahan. Azam jatuh ke dalam pikirannya sendiri. Bayangan beberapa bulan ke belakang kembali berputar. Senyum manis nan tulus istri kedua terbayang membuatnya menekan dada sebelah kiri kuat.
Azam merasakan kehampaan berkali-kali menyapu keheningan. Ia sadar jika Alina tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadapnya. Justru, sebaliknya ia yang sudah menyakiti sang istri berkali-kali.
"Aku minta maaf, Alina." Lirihnya pelan.
Terlambat, sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa kembali lagi.
Terkadang untuk sadar akan keberadaan seseorang yang paling berharga harus melalui kehilangan.
__ADS_1
Azam menyadari jika perasaan dalam hati benar adanya untuk Alina. Namun, semua tidak bisa kembali ke masa itu dan hanya penyesalan yang terus mendatangi.