
Sang raja siang tengah tersenyum hangat di singgasananya. Menyebarkan keceriaan pada setiap insan di dunia dengan cahayanya yang menyilaukan.
Rindu merupakan satu kata berjuta makna. Di dalamnya mengundang keinginan sebuah pertemuan. Namun, adanya perisahan tidak mudah untuk melakukan pelepasan kerinduan tersebut.
Cakrawala membentang memperlihatkan warna biru sepanjang mata memandang. Cerahnya langit pagi itu mengantarkan awan kelabu dikedua mata ibu dan anak yang masih berada di kamar hotel.
Alina sadar dirinya sudah membuat Raihan menjadi anak yang terlahir dari keluarga broken home. Tidak mudah memang menjalani hari tanpa kasih sayang dan dampingan orang tua, tetapi Raihan harus menjalaninya di usia yang masih sangat muda.
"Selama ini Raihan selalu berbohong pada teman-teman tentang ayah. Raihan iri Mah mendengar mereka menceritakan mengenai ayah mereka yang begitu baik. Raihan bingung harus bagaimana sekarang, Mah. Raihan-"
Dengan cepat Alina langsung memeluknya erat. Ia menangis sejadi-jadinya melepaskan segala beban dalam dada. Ia tidak menduga jika akan sejauh ini keadaan mengenai perpisahannya dengan Azam.
Selama beberapa bulan belakang ini ia melihat Raihan begitu ceria. Ia pikir sang anak sudah menerima keadaan mereka. Namun, pada kenyataannya semua itu hanya sebatas menutupi luka menganga.
"Aku sudah gagal menjadi seorang ibu, ya Allah kenapa harus seperti ini? Raihan maafkan Mamah," benaknya.
Raihan terpaku mendengar isak lirih sang ibu, ia takut sudah menyakitinya atau melakukan hal yang salah. Di saat ia hendak mengucapkan sepatah kata, suara langkah kaki seseorang mengejutkan mereka.
"Sayang." Sampai panggilan lembut itu membuat sang ibu melepaskan pelukan dan mendongak melihat suaminya datang.
Raihan mengamati dalam diam bagaimana wajah berair dengan mata hangat sang ibu. Alina pun lalu mendudukan Raihan di sofa tunggal.
Ia berdiri berhadapan bersama suami barunya dan mereka saling bertatapan dengan sorot mendamba. Perlahan Raihan turun dari duduk masih mengamati dua orang di hadapannya.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan hangat nan lembut dilayangkan Zaidan. Tangan tegasnya menangkup pelan pipi kanan sang istri.
Alina menutup mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Ia tidak mengatakan apa pun dan hanya kembali menangis.
Melihat pasangan halalnya terisak lagi, Zaidan langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Seketika tangis Alina pecah dan teredam di dada bidang suaminya.
__ADS_1
Melihat sang ibu seperti itu Raihan kedua manik bulannya terbelalak lebar. Tiba-tiba saja dadanya terasa sakit tanpa alasan. Ia menggelengkan kepala beberapa kali saat menyaksikan dua orang dewasa itu saling mendekap satu sama lain.
Seolah keberadaannya tidak diinginkan, Raihan melarikan diri dari sana dengan air mata sudah mengalir kembali.
"Mamah sudah tidak membutuhkan Raihan lagi ... Mamah menangis karena Raihan," benaknya seraya terus berlari keluar hotel.
Jalanan terasa begitu menyengat kala kaki tanpa alas menapaki trotoar. Seorang anak yang baru saja menginjak usia delapan tahun terus berlari menerjang hawa panas.
Tubuh kecilnya terus bersinggungan dengan beberapa pejalan kaki lain. Ada yang mengumpat dan ada pula yang menyuruhnya untuk berhati-hati.
Namun, Raihan tidak menggubris semua itu. Ia berpikir harus pergi sejauh mungkin meninggalkan segala kepelikan di belakang.
"Baru sehari mamah menikah dengan paman Zaidan dan sudah melupakan Raihan begitu saja? Semalam juga mamah tidak mendatangi Raihan dan menghilang entah ke mana. Raihan merasa asing dengan nenek Moana yang sebelumnya tidak pernah bertemu."
"Apakah ... apakah mereka sudah tidak menginginkan Raihan lagi? Apa Raihan menjadi penghalang kebahagiaan mereka? Ayah dan mamah sudah menemukan kebahagiaannya, sekarang Raihan tidak dipedulikan. Sakit sekali ya Allah ... apa yang harus Raihan lakukan?" Raihan terus bermonolog dalam diam dengan berpikir pesimis.
Ia terus menangis tanpa henti tidak peduli ke mana kakinya melangkah, ia akan tetap berlari sampai ujung dunia sekalipun. Keadaannya sudah membuat ia tidak bisa bertahan lagi, terlalu sakit dan mmebuatnya tidak berdaya.
...***...
Setelah beberapa saat saling mendekap satu sama lain, Alina melepaskan pelukan dan menoleh ke belakang. Ia terkejut kala tidak mendapati buah hatinya di sana, maniknya melebar dengan jantung berdegup kencang.
"Sayang, Raihan? RAIHAN?" Panggilnya kencang.
Namun, tidak ada sahutan apa pun di setiap penjuru kamar. Ia pun panik dan menelusuri setiap tempat yang bisa dijangkaunya.
"Mas Raihan, Mas? Raihan pergi?" tanyanya pada sang suami yang sedari tadi mengekorinya.
Mendengar pertanyaan tersebut Zaidan pun terkejut tidak tahu jika anak sambungnya sudah tidak ada di tempat. Mereka terlalu larut dengan dunianya sendiri dan menutup mata sampai tidak sadar jika Raihan pergi dari hotel.
__ADS_1
"Tenang Sayang, jangan panik. Kita coba tanya pada resepsionis di depan," ajaknya.
Alina mengangguk setuju dan bergegas menuju lantai satu. Setibanya di sana mereka langsung memberondong pegawai wanita yang sedang berjaga.
"Nona, apa Anda melihat seorang anak kecil keluar dari hotal? Ciri-cirinya, em ... tinggi kurang lebih seratus enam belas sentimeter, dia memakai kemeja garis-garis dan celana jenas berwarna hitam," tutur Alina menggebu.
"Ah, sepertinya saya melihatnya tadi. Anak itu keluar dari hotel sambil berlari, dia-" ucapan wanita itu pun terpotong cepat saat Alina langsung berlari begitu saja dari sana.
Zaidan mengucapkan terima kasih dan menyusul sang istri. Kejadian itu mengundang perhatian Zara dan Dimas yang baru saja keluar dari pintu lift.
Mereka menuatkan alis saat melihat dua sosok yang dikenalnya berlarian keluar.
"Bukankah itu Alina dan mas Zaidan? Apa yang terjadi kenapa berlarian keluar hotel? Bukankah kita akan pulang besok?" tanya Zara heran.
Dimas yang tengah berdiri di sampingnya mengangguk singkat dan mengikuti arah pandang sang istri. "Sepertinya ada yang tidak beres, Sayang. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi."
"Benarkah? Kalau begitu kita harus segera menyusul mereka." Tanpa mendengar jawaban suaminya, Zara pun berlari dari sana hendak menyusul sang sahabat, melihat itu Dimas juga mengikutinya.
Alina sudah tiba di trotoar, napasnya naik turun seraya memandang ke arah sekitar. Banyak orang berlalu lalang di sana menatapnya heran.
Mereka saling menuatkan alis dalam melihat Alina yang berhenti di tengah-tengah jalan. Hal tersebut sama sekali tidak diindahkan olehnya, karena keberadaan sang buah hati jauh lebih penting.
"Sayang kamu di mana, nak? Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu Mamah?" cicitnya gelisah.
Ia pun kembali melangkahkan kaki menyusuri jalanan dan sesekali bertanya pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Namun, tidak ada satu pun dari mereka melihat seorang anak dengan ciri-ciri yang Alina sebutkan.
Seketika kegelisahan semakin menguap, ini pertama kalinya Raihan kabur tanpa mengatakan apa pun. Ia takut sesuatu hal terjadi pada buah hatinya. Karena sebelum sang anak menghilang keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Ya Allah, Raihan kamu pergi ke mana, sayang?" racau Alina kacau.
__ADS_1
...Bersambung......