
Tepat saat jarum jam menunjukan angka empat, dua kejadian datang bersamaan, bertubrukan dan saling membutuhkan kehadiran. Cakrawala yang semula memperlihatkan keindahan senja perlahan mendatangkan gelap.
Malam semakin larut, langit begitu kelam menampilkan aura mencekam. Bintang maupun bulan enggan keluar dan menyerahkan diri pada kepekatan.
Di tengah keheningan, dua rumah sakit dengan jarak sekitar satu kilometer mendapatkan kegaduhan yang berbeda. Para petugas medis sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik kepada pasien masing-masing.
Harapan bergema dalam sanubari insan pemilik kehidupan masing-masing. Sore tadi, Alina merasakan perutnya kontraksi, buru-buru ia menghubungi taksi online untuk membawanya ke rumah sakit. Setibanya di sana air ketuban pecah dan ia sudah mengalami pembukaan kedua.
Alina kembali harus menunggu dengan sabar sampai siap untuk melahirkan.
Berita tersebut sampai pada telinga Angga yang kebetulan mempercayakan Alina pada dokter kandungan kenalannya. Wanita berumur empat puluhan tersebut menghubunginya dan memberi kabar jika Alina akan melahirkan.
Dengan air muka tegang Angga mendekati Azam yang tengah bersikukuh duduk di depan ruangan Yasmin. Suara sepatu pantopel yang menggebu membuatnya mendongak dan mendapati sang sahabat dengan dada naik turun.
"Ang-"
"Alina akan melahirkan, dia sekarang berada di rumah sakit mekar. Apa yang akan kamu lakukan?"
Bersamaan dengan itu peringatan di ruangan Yasmin terdengar. Angga yang belum sempat mendengar jawaban Azam pun langsung masuk ke dalam dan beberapa tenaga medis lain ikut berdatangan.
Degup jantung Azam meningkat kala menyaksikan adegan mengerikan tepat di depan kedua mata kepalanya sendiri. Liquid bening mengalir tak tertahankan melihat Yasmin tengah kritis. Kondisinya semakin memburuk dan memburuk, ketakutan menguasai membuat Azam mengapal kedua tangan erat.
"Angga, aku percayakan Yasmin padamu," gumamnya.
Selang beberapa menit ia pun melangkahkan kaki pergi. Kendaraan roda empat tersebut berdecit membelah angin malam yang kian berhembus. Tidak lama berselang Azam pun tiba dan sekuat tenaga berlari menuju ruangan sang istri kedua.
Beberapa saat kemudian ia pun sampai ke lantai tiga ruang bersalin. Di sana ia melihat Alina yang tengah berusaha menahan sakitnya kontraksi. Ia terkejut kala netranya melihat ke arah pintu masuk dan mendapati sang suami. Manik kecoklatannya melebar serta mulut pucatnya terbuka menangkap raut kekhawatiran Azam. Kepala terbungkus hijabnya menggeleng beberapa kali seraya kedua tangan mencengkram ranjang.
Seulas senyum terpendar di bibir menawan Azam lalu berjalan mendekati Alina. Ia mengenggam tangan kanannya kuat dan berkali-kali membubuhkan kecupan hangat di dahi sang istri. Bersamaan dengan kedatangannya persalinan pun dilakukan, keinginan sang jabang bayi pun terwujud, jika ia ingin disaksikan oleh ayahnya saat hadir ke dunia.
Dokter Zahira terkejut dengan kedatangan Azam dan mempersilakannya untuk menemani Alina. Karena dengan keberadaan sang suami bisa memberikan kekuatan pada seorang ibu yang tengah melahirkan. Keberadaan suami sangat berpengaruh bagi mental istri guna mengerahkan sekuat tenaga demi melahirkan buah hati mereka.
Bulir demi bulir keringat pun bermunculan di pelipis Alina, tanpa henti Azam mengucapkan kata-kata semangat dengan kecupan kembali mendarat di dahi dan punggung tangannya. Momen mendebarkan tersebut memberikan kehangatan dalam dada.
__ADS_1
Alina tidak menyangka jika dipersalinan pertama sang suami berada di sampingnya. Perasaan itu datang lagi dan lagi tanpa bisa dibantah.
Di sini Alina berjuang untuk memberikan kehidupan untuk malaikat kecilnya, sedangkan di sana Yasmin berusaha mempertahankan hidup yang sudah berada diambang batas. Situasi sama dengan adegan berbeda mengalirkan air mata tak berkesudahan.
Azam menangis dalam diam kala keadaan mendebarkan datang di waktu bersamaan.
...***...
Suara tangisan sang bayi menggema dalam ruangan, Alina berhasil melahirkan putra pertamanya dengan baik. Azam kembali memberikan ciuman di dahi yang begitu dalam, tersirat di sana jika ia sangat sangat mencintai istri keduanya.
Di tengah-tengah kesadarannya, Alina masih bisa melihat keharuan dan sorot mata hangat sang suami. Dengan napas tersengal-sengal, ia mengangkat tangan kanannya yang bergetar dan bersandar di pipi hangat Azam. Senyum lemah pun hadir memberikan ketakutan dalam dirinya.
"Terima kasih, kembalilah aku mohon," ucap Alina lirih.
"Apa maksudmu?"
Alina menarik napas panjang menahan kesakitan dalam diri, matanya yang teduh menatap lekat wajah tampan sang suami. Ia tidak menyesali apa yang sudah terjadi, rasa syukur datang mengenyahkan semua kepedihan di masa lalu.
"Kembalilah pada wanita yang kamu cintai, jika waktuku tidak banyak...... aku mo-hon jag-a anak ki-ta dengan ba-ik-"
"Apa yang kamu katakan? Ki-kita akan membesarkan a-nak itu bersama-sama. Jangan pernah berkata seperti itu lagi, ak-"
"Aku mohon........aku bahagia sudah berhasil melahirkan anak kita dengan selamat. Mas-"
"Alina aku mohon jangan mengatakan apa pun lagi...... aku mohon."
Azam menggenggam jari jemari Alina yang berada di pipinya dan memberikan ciuman di punggung tangannya dalam.
"Mas, aku sudah tidak sanggup lagi. Sangat sakit, Mas."
"Aku minta maaf, Al. Aku mohon bertahanlah untukku........ tidak untuk anak kita. Aku mohon."
Azam terus memohon dan berharap Alina tidak lagi mengatakan hal yang membuatnya ketakutan. Namun, di tengah situasi mencekam tersebut Alina mengembangkan senyum pucat memberikan kengerian, seketika air mata berlinang menghadirkan kepedihan.
__ADS_1
"Tidak Mas, bukankah lebih baik aku yang pergi? Mas bisa membesarkan anak kita bersama mbak Yasmin-" jeda sejenak Alina kembali menarik napas. "Wanita yang sangat Mas cintai."
Setelah mengatakan itu kedua matanya menutup rapat, Alina tidak sadarkan diri memberikan pukulan telak. Azam menggoyang-goyangkan tubuh lemah istrinya berusaha mengembalikan kesadaran Alina. Perbuatan tersebut membahayakan sehingga petugas medis pun menarik paksa Azam dan mengeluarkannya dari ruangan.
Kedua kaki sudah tidak bisa menahan berat badannya sendiri, Azam ambruk tepat di depan kamar bersalin Alina. Air mata terus berjatuhan dengan rasa takut terus menguasai dan memupuk kenyataan.
"Aku mencintaimu, Al. Sangat mencintaimu," lirihnya.
Kata cinta terus bergelora, bergema, mengalun berharap bisa tersampaikan pada sang terkasih. Angan menebar raksi penuh asa berusaha menggundang kebaikan. Namun, yang ada hanyalah kehampaan, perasaan terdalam mengambang dalam bayang.
"Ya Allah, ya Rahman, Ya Rahim berikanlah kekuatan bagi hamba untuk melewati ini semua. Hamba pasrahkan semua pada-Mu, ya Allah. Tapi, hamba mohon selamatkanlah Alina," lanjutnya lagi dengan rasa sakit yang terus bersemayam dalam dada.
"Kenapa Mas datang ke sini?" tanya Alina.
"Aku ingin menemanimu. Sayang, kamu harus kuat melahirkan anak kita. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu."
"Bagaimana dengan mbak Yasmin?"
"Aku yakin Allah pasti merencanakan yang terbaik."
"Aku sangat khawatir, kembalilah Mas, temani mbak Yasmin."
"Tidak Sayang, aku akan tetap di sini menemanimu."
"Kenapa?"
"Bukankah aku tadi sudah mengatakannya? Jika aku sangat mencintaimu."
Percakapan singkat tadi kembali bergema, kata cinta terus keluar dari bibir kemerahannya. Azam tidak menampik jika perasaan itu sudah lama berada dalam hatinya. Butuh waktu dan keadaan yang bisa membuatnya menyadari hal tersebut, jika Alina wanita yang dicintainya.
Dari dulu hingga sekarang.
Cinta pertama memang tidak mudah untuk dilupakan seberapa keras menghilangkan, tetap saja jejak kebersamaan akan terus ada dan melekat dalam ingatan.
__ADS_1
Kenangan masa kecil hingga remaja menghadirkan sebuah perasaan yang tidak bisa dibantah. Tidak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan, tanpa ada cinta di dalamnya. Itulah yang tengah dirasakan Azam saat ini.