
Di tengah kelimpungan secercah cahaya kembali datang menebar sebuah harapan. Ia mendengar langkah kaki mendekat membuat kepalanya dengan cepat mendongak.
Zaidan menghela napas lega menyaksikan sang pujaan tepat di depan mata sendiri. Secepat kilat ia melemparkan diri memeluk istrinya erat.
"Ma-Mas Zaidan? Kenapa Mas sudah pulang? Ini kan masih jam kerja? Apa Mas mau makan siang di rumah?" tanya Alina beruntun, terkejut mendapati suaminya telah ada di rumah.
Zaidan menggelengkan kepala pelan tidak langsung menjawab pertanyaan. Alina hanya membiarkannya saja dan membalas pelukan itu tak kalah erat.
Ia lelah sungguh dirinya sangat lelah setelah pertemuan rahasia bersama Dawas. Alina tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Zaidan. Ia tidak mau sang suami terus khawatir dan menimbulkan masalah baru.
"Meskipun aku tahu tidak baik menyembunyikan sesuatu dari suami sendiri, tapi ... aku masih belum mau menceritakan yang sebenarnya. Aku minta maaf, Mas. Setelah semuanya baik-baik saja aku akan mengatakannya padamu jika ... aku bertemu dengan kakekmu," benaknya meracau.
Setelah beberapa saat Zaidan melepaskan pelukan lalu menangkup kedua bahu Alina. Pandangan mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain.
Senyum lemah terpendar di wajah tampan Zaidan, ia merunduk membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di dahi lebar Alina.
Sang empunya menutup kelopaknya pelan menikmati setiap sentuhan yang dilayangkan. Ia ingin menangis, tapi ditahan sekuat tenaga tidak mau membuat suaminya salah paham.
Zaidan pun mengakhirinya dan beralih menangkup kedua pipi pasangan halalnya. "Saat aku pulang tadi dan tidak mendapatimu ... kamu tahu seberapa khwatirnya aku? Aku sangat takut kehilanganmu, Sayang, dan ... saat mendengar kamu pergi aku benar-benar takut."
Alina mengulas senyum simpul lalu menggenggam kedua lengan suaminya erat. "Ke mana aku bisa pergi jika rumahku hanya bersamamu? Aku tidak akan pernah pergi ke manapun, sebelum kamu yang memintanyam Mas."
Pernyataan yang terlontar dari bibir menawan sang istri meluluh lantahkan pertahanan Zaidan. Ia tercengang sekaligus senang mendengar kata demi kata tersebut.
Perasaannya berkali-kali lipat berbunga-bunga bagaikan kupu-kupu bertebaran di dalam dada. Hangat dan senang itulah yang dirasakan Zaidan.
"Em, begitu pula denganku. Ke manapun aku pergi jika tanpa adanya dirimu maka tidak ada yang bisa disebut rumah. Kamu satu-satunya tempatku berpulang, Sayang dan ... aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi," balas Zaidan tersenyum lembut.
Mereka saling melemparkan kata-kata manis di pekarangan rumah membuat angin iri hingga memberikan sapuan ke wajah masing-masing. Lengkungan bulan sabit pun hadir menyayangi kehangatan sang raja siang.
...***...
__ADS_1
Setelah menikmati makan siang dan melaksanakan kewajiban bersama, pasangan suami istri tersebut kini tengah berada di kamar. Keduanya duduk berdampingan seraya bersandar di kepala ranjang.
Cuaca yang tiba-tiba saja mendung membuat mereka nyaman berada di ruangan pribadinya. Zaidan merangkul istrinya hangat membuat Alina bersandar di dada bidangnya.
"Sayang." Panggil Zaidan pelan.
"Hm, iya Mas?" jawab Alina hangat.
Zaidan terus memandangi wajah ayu istrinya dalam diam. Ia ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia takut menambah beban pada Alina yang tengah mengandung buah hatinya dan mempengaruhinya.
"Apa ada yang ingin Mas sampaikan?" tanya Alina sembari mendongak menyaksikan suaminya melamun.
"Mas," panggil Alina sedikit kencang.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu di kantor? Kenapa Mas pulang cepat hari ini?" tanya Alina beruntun lagi.
Zaidan tersadar dan kembali menatap ke dalam manik bulan istrinya. "Aku ... sudah kehilangan jabatan di perusahaan. Kakek benar-benar mengambil alih apa yang sudah menjadi milikku."
Zaidan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap lekat manik jelaga tepat di depannya.
"Sebenarnya ... sebenarnya kakek sudah melengseranku dari jabatan pemimpin perusahaan. Sekarang ... aku sudah tidak punya pekerjaan lagi. Aku minta maaf semuanya menjadi kacau seperti ini," keluhnya.
Alina terkejut tidak menyangka jika Dawas bertindak setega itu. Ia tahu keberadaannya hanya menambah beban bagi sang suami.
Namun, ia juga tidak bisa untuk meninggalkan Zaidan begitu saja. Perasaan cinta itu tumbuh begitu cepat dan semakin kuat. Ia tidak bisa melepaskan pernikahan mereka hanya untuk keegoisan semata. Ia sudah berjanji di hadapan Allah untuk kedua kalinya yang tidak bisa dirinya ingkari kembali.
"Aku ingin pergi agar Mas bisa mendapatkan semuanya lagi, aku-"
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Aku tidak akan membairkanmu pergi dari hidupku. TIDAK AKAN!" tegas Zaidan.
Seulas senyum terpendar di bibir ranum Alina. "Aku belum selesai bicara, Sayang."
__ADS_1
Zaidan menggaruk pangkal lehernya kikuk seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Alina pun langsung menggenggam kedua tangan suaminya erat kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu, Mas. Karena ... karena aku sangat mencintaimu. Katakanlah aku memang egois menginginkanmu untuk diriku sendiri, tetapi ... aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin gagal dalam pernikahan lagi. kita sudah berjanji di hadapan Allah agar-"
Belum sempat Alina menyelesaikan ucapannya, Zaidan mencelanya lagi dengan memeluknya begitu erat. Kedua iris istrinya melebar sempurna dengan jantung berdegup kencang.
Alina merasakan tubuh tegap itu sedikit bergetar, ia yakin jika saat ini Zaidan tengah memendam kepedihan serta kekecewaan. Ada air mata yang tidak ingin ia perlihatkan, suaminya menangis dalam diam berharap keheningan mengambil alih.
Detikan jam bergerak menemani kehampaan kian membayang. Kehilangan harta bukan menjadi masalah besar bagi mereka. Baik Alina maupun Zaidan, keduanya meyakini jika rezeki itu datangnya dari Allah.
Allah sudah mengatur rezeki bagi hamba-Nya yang mau berusaha serta berikhtiar. Satu pintu rezeki tertutup maka pintu-pintu yang lain pun akan terbuka.
Perlahan-lahan tangan ramping Alina terangkat membalas pelukan. Ia mengusap kepala Zaidan berkali-kali mencoba menenangkan.
Sesekali ia memberikan kecupan hangat di ceruk leher suaminya. Dengan gerakan impulsif tersebut Alina ingin mengatakan jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan Zaidan bagaimanapun rumitnya ujian yang datang menghadang.
Tanpa ada kata yang terucap, keduanya saling mendekap satu sama lain. Kejadian di luar kendali itu menghadirkan kejutan tak terduga. Namun, di balik itu hubungan mereka semakin erat dan tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalamnya.
"Apa nanti jika aku sudah tidak punya apa-apa kamu masih mau bersamaku?"
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Zaidan, Alina segera mendorong kedua bahunya menjauh. Tatapan nyalang ia berikan membuat sang lawan bicara mengatupkan mulut rapat.
Alina memberikan sorot mata serius dengan dada naik turun. Ia mencengkram kedua bahu suaminya erat menyalurkan kekesalan. Bibir ranum itu merenggut seraya menahan emosi saat mendapatkan pertanyaan bodoh dari suaminya.
Seketika Zaidan tahu jika dirinya sudah melakukan kesalahan hingga membuat Alina kesal.
"Dari mana datangnya pertanyaan tadi? Apa Mas juga memandangku seperti itu? Menganggapku yang menerimamu hanya karena harta? Aku tersinggung Mas ... aku benar-benar tidak percaya kamu memberikanku pertanyaan seperti itu. Aku hanya-"
Zaidan kembali memeluknya erat menyandarkan wajah bersalah di pundak sempit sang istri. Air mata mengalir tak tertahankan membuat hijab hitam Alina basah.
"Aku minta maaf ... aku benar-benar minta maaf," ujarnya berulang-ulang kali membuat Alina hanya menghela napas.
__ADS_1
...Bersambung......