
Sebelum mencapai mobil, langkah ayah dua anak itu pun terhenti saat beberapa bocah menarik atensinya.
Anak bertubuh gempal itu maju ke depan seraya mengatakan, "Raihan, kenapa Ayahmu berbeda? Bukannya Ayahmu yang selalu mengantarkan ke sekolah?"
Seketika itu juga perhatian ayah dan anak tersebut berbalik ke belakang.
Azam menurunkan Raihan membuat sang jagoan menatap teman sekelasnya.
"Ayahku memang ada dua, kamu mau apa?" Tantang Raihan tanpa gentar.
Bocah tambun itu menoleh ke belakang di mana kedua temannya yang lain tengah syok bersamaan.
"Apa? Kenapa seperti itu?" tanya yang lain.
"Karena orang tuaku hebat. Sudah yah aku mau menikmati kue donat dulu buatan ibuku yang lain." Tanpa malu Raihan mengungkapkan keberadaan Jasmin.
Ketiga temannya seketika cengo mendengar penuturannya. Mereka memandangi Raihan yang tengah tersenyum penuh arti seraya memasuki mobil.
Suara pintu tertutup itu seketika mengembalikan kesadaran ketiganya.
"A-apa tadi dia mengatakan ibu yang lain? Ja-jadi Raihan?" tutur bocah berambut cepak.
"Dia punya dua ayah dan dua ibu," balas teman sebelahnya menjelaskan.
Fadil, bocah berbobot berisi itu mengepalkan tangan menyaksikan kendaraan yang ditumpangi Raihan semakin menjauh.
"Kenapa bisa seperti itu?" benaknya.
Jalanan nampak lengang siang ini, langit begitu cerah dengan awan putih berarak mengikuti arah angin. Mentari pun bersinar terang dengan burung berkicau menambah kesyahduan.
Sesekali Azam yang tengah menyetir menoleh pada sang putra. Ia menyaksikan Raihan sedang menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri mengikuti irama.
Senyum manis pun mengembang menyaksikan kelucuan putra keduanya.
"Apa tidak apa-apa mengatakan hal seperti tadi kepada teman-temanmu?" kata Azam memulai pembicaraan.
Raihan pun membalas tatapannya, raut muka cerah nan gembira tercetus di sana.
"Sama sekali tidak, aku ... justru bangga memiliki kalian," jawabnya jujur.
Azam terharu kala sang jagoan selalu saja memberikan kejutan tak terduga.
Ia langsung memalingkan wajah kembali ke depan seraya mencengkram stir mobil. Lengkungan bulan sabit pun berpendar bersamaan embun merembes di kedua manik jelaganya.
"Ya Allah, terima kasih sudah menganugerahkan putra sebaik dan sesholeh ini. Hamba minta maaf pernah mengabaikannya," benak Azam kemudian, "Sayang ... Ayah benar-benar minta maaf untuk kesalahan di masa lalu. Ayah janji ... Ayah akan memberikan segalanya untukmu dan juga kak Aqeela. Ayah tidak akan membeda-bedakan kalian lagi. MasyaAllah kamu sangat baik, Sayang," lanjutnya lagi kembali memperhatikan buah hatinya.
...***...
__ADS_1
Setelah menjemput sang kakak, mereka pun tiba di rumah. Azam, Raihan, dan Aqeela bergegas masuk ke dalam.
Belum sempat membuka pintu, ketiganya dikejutkan dengan Jasmin yang sudah lebih dulu berada di sana.
Bibir ranumnya melengkung sempurna menyambut kepulangan mereka.
"MasyaAllah, Sayang. Selamat datang di rumah." Jasmin merentangkan kedua tangan sambil bersimpuh menatap pada Raihan.
Anak itu pun seketika berlari kecil dan juga ikut merentangkan tangan. Seketika ia langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibu sambung.
"Assalamu'alaikum Ibu, Raihan pulang," katanya hangat.
Jasmin mengelus surainya pelan, " Em, Wa'alaikumsalam, Sayang. Selamat datang di rumah," balasnya lagi.
Raihan pun melepaskan pelukan lalu memandangi manik cokelat bening di hadapannya.
"Aku dengar, Ibu membuat kue donat?" tanyanya langsung sembari mengacungkan jari telunjuk.
"Hm, kamu dengar dari siapa Sayang?" Jasmin mengusap pipi kirinya lembut.
"Ayah," balas Raihan menunjuk sang ayah yang sedari tadi berdiri di belakang.
"Ayah memang selalu membocorkan rahasia. Jadi, bukan kejutan lagi," keluh Jasmin.
Raihan terkekeh senang dibuatnya. Jasmin pun mencubit gemas pipi gembilnya.
"Em, ayo Kak." Raihan mengangguk semangat mendongak melihat sang kakak.
Aqeela pun membawa adik kecilnya ke dalam. Jasmin bangkit dan berdiri di samping sang suami.
Azam merangkul bahu sempit istrinya menyaksikan kedua putra-putri mereka.
Beberapa saat kemudian, keluarga kecil itu pun tengah menikmati makan siang bersama.
Gelak tawa berdengung di ruangan menambah keakraban. Raihan begitu senang kehadirannya sangat diterima di dua keluarga ayah serta ibu kandungnya.
"Sudah makannya? Nanti setelah ini kita makan donat bersama, yah. Sekarang Raihan dan Kakak bereskan peralatan makan dan duduk di ruang keluarga," titah Jasmin.
"Baik Mah."
"Baik, Bu."
Jawab mereka bersamaan. Jasmin tersenyum lebar atas kekompakan mereka.
Tidak lama setelah itu, keempat anggota keluarga duduk bersama di atas karpet bulu di ruang keluarga.
Di tengah-tengah mereka berbagai makanan manis pun tersebar. Dengan penuh semangat Raihan menikmati kue donat cokelat dan strawberry hingga topingnya belepotan di sekitar mulut.
__ADS_1
Jasmin mengelapnya lembut sembari menatap senang putra sambungnya.
"Anak tampannya Ibu, makannya belepotan sekali sih Sayang," tuturnya hangat.
"Karena donat buatan Ibu enak sekali. Aku tidak bisa menahan diri," ungkap Raihan ceria.
"Kamu memang pencinta kue manis, apalagi buatan Mamah. Setiap kali kamu datang Mamah pasti membuat donat," timpal Aqeela yang tengah memakan kue kookies.
"Biar saja, Ibu sayang Raihan jadi selalu memanjakan ku." Raihan menatap penuh bangga pada sang kakak.
"Ish, Ayah, Mamah jangan terus memanjakan Raihan. Lihat dia jadi kelewatan." Aqeela menunjuk tepat di wajah berseri sang adik.
Raihan nyengir polos, "biar saja, agar nanti kalau aku sudah besar bisa melindungi Kak Aqeela, Ibu Jasmin, dan mamah Alina."
"Owh, MasyaAllah, superhero nya Ibu dan mamah." Jasmin menjawil hidung bangirnya pelan. Raihan kembali terkekeh senang dibuatnya.
Aqeela dalam diam pun mengembangkan senyum haru.
"Ayah bangga padamu, Sayang," timpal Azam yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.
"Oh iya Ayah, lusa di sekolahku akan ada acara ... ibu guru menyuruh kami semua untuk mengundang orang tua. Karena itu aku ingin mengajak Ayah dan Ibu juga datang yah, nanti," ungkap Raihan kemudian.
"Baiklah, Ayah dan Ibu akan datang bersama Mamah Alina dan Ayah Zaidan," balasnya. Raihan mengangguk semangat.
"Benarkah kamu mengundang Ibu? Apa tidak apa-apa?" tanya Jasmin menarik perhatian.
Raihan menatap pada sang ibu lekat. "Tentu saja tidak apa-apa. Aku ingin Ibu juga datang."
Seketika itu juga Jasmin langsung merengkuh hangat tubuh kecil jagoannya.
"Terima kasih, Sayang." Raihan yang mengerti pun melengkungkan bulan sabit sempurna.
"Aku sayang Ibu."
Pendengar penuturan tersebut membuat Jasmin tidak kuasa membendung haru. Air mata menetes tak tertahankan.
Ia jadi teringat akan masa-masa kebersamaannya bersama Alina saat wanita itu masih menjadi madunya.
Ia sering memperlihatkan kemesraan bersama Azam tanpa memikirkan perasaannya.
Rasa bersalah pun timbul membuat ia akan menebusnya dengan menyayangi Raihan seperti anak kandung.
"Ibu juga sangat menyayangimu, Sayang," balasnya tulus.
Aqeela dan Azam yang menyaksikan itu pun mengulas senyum lembut. Mereka saling pandang ikut merasakan kebahagiaan.
Azam pun merangkul putri pertamanya sayang. Ia bersyukur keadaan sudah menjadi lebih baik. Tidak salah ia menikahi Alina waktu itu, meskipun terdapat kesakitan menyertai, tetapi balasannya sungguh luar biasa.
__ADS_1
...Bersambung......