
Di salah satu apartemen mewah di ibu kota, dua wanita tengah mengadakan pertemuan. Hujan deras terjadi di luar tidak menyurutkan semangat mereka guna mendiskusikan sesuatu.
Kilat menyambar mengantarkan air turun begitu deras. Sesekli angin dingin datang menyapu wajah sarat ketegasan keduanya.
Yasmin dan Zara duduk berhadapan seraya melipat tangan di depan dada. Sudah hampir tiga bulan mereka membutuhkan satu sama lain untuk mencapai misi.
Tujuan mereka sama, yaitu pengusaha property bernama Rusdyan Azam Zabran. Pria yang hadir dalam kehidupan kedua wanita itu sudah membangkitkan posesif serta dendam.
Tidak ada yang tahu rahasia terdalam dari Yasmin dan Zara. Mereka hanya memanfaatkan satu sama lain tidak peduli apa pun.
"Sepertinya ... Alina sudah tahu kelemahan kita," ucap Zara memulai.
Yasmin mendengus pelan sambil menoleh ke samping sekilas. Sorot mata tegas itu kembali memandangi lawan bicaranya.
"Aku tahu ... tapi aku tidak peduli. Mau dia tahu kelemahanku atau tidak ... aku tetap pada tujuan awal," ungkapnya.
Zara menautkan kening menyadari ada sesuatu yang janggal dalam diri Yasmin.
"Baiklah, itu terserah, tapi mau sampai kapan kamu terus berhubungan dengan mas Azam? Apa ... apa kamu juga mencintainya?" tanya Zara penasaran.
Yasmin tidak langsung menjawab, bibir ranumnya melengkung sempurna memberikan tanda tanya. Ia semakin yakin jika wanita itu memiliki tujuan tertentu.
"Kamu tenang saja, sampai semuanya selesai maka aku akan menyerahkan pria itu. Tidak usah cemburu, aku sama sekali tidak mencintainya," jelas Yasmin.
Zara hanya mengangguk pelan. "Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Alina juga sudah bertindak dan tahu kelemahan kita."
"Maka kita juga harus melakukan apa yang sudah direncanakan," balas Yasmin lagi.
"Karena aku tahu wanita itu belum tahu yang sebenarnya. Maka tidak ada yang namanya kelemahan dalam permainan yang sudah aku ciptakan," lanjut batinnya.
Zara terus memandanginya dalam diam. Ia tidak tahu jika wanita yang ditemuinya beberapa bulan lalu menyimpan sebuah rahasia besar.
...***...
__ADS_1
Angga baru saja menyelsaikan satu operasi besar malam ini. Ia pun berjalan lunglai menuju ruangannya sambil memijat pelan bahu sebelah kiri.
Lorong yang menghubungkan kamar operasi menuju ruangan pribadinya terasa begitu panjang. Tidak ada siapa pun yang ia temui, suara hujan deras di luar menemani kesendirian. Sepi nan hening begitu mendominasi mengantarkan pada situasi mencekam.
Sudah beberapa tahun ia bertugas sebagai dokter spesialis kanker. Selama itu pula dirinya telah banyak menangani pasien dari anak-anak sampai dewasa, termasuk istri dari sahabatnya sendiri, Azam.
Waktu itu merupakan tugas tersulit yang harus dilaksanakan. Ia sudah berusaha keras menyelamatkan Yasmin Zakkiyah untuk tetap bertahan melawan penyakit ganas. Namun, sepertinya takdir berkata lain, istri sang sahabat harus pergi.
Di tengah memikirkan kejadian tujuh tahun lalu, Angga menghentikan langkah tepat di sebelah pintu tangga darurat. Samar-samar ia mendengar seseorang tengah berbicara. Rasa penasaran pun timbul dan secara perlahan ia mendekatkan diri lalu membukanya pelan.
Di sana ia melihat salah satu perawat tengah berbicara bersama seseorang lewat ponsel. Angga hanya beroh ria dan hendak melanjutkan tujuan.
Namun, sebelum ia benar-benar menutup pintu, perkataan dari perawat wanita tersebut menarik perhatian. Angga mematung di tempat mencerna baik-baik ucapannya.
"Tujuh tahun lalu, pasien leukemia yang meninggal itu aku yang membantumu. Bagaimana bisa kamu membuangku begitu saja? Apa kamu mau reputasi rumah sakit ini hancur gara-gara kelakuanmu itu? Aku bisa melakukan lebih dari apa yang kamu pikirkan," ungkapnya.
Angga tertegun, tujuh tahun lalu sama seperti meninggalnya mendiang istri Azam. Tanpa pikir panjang ia bergegas menuju ruangan pribadinya.
Tidak lama berselang ia pun tiba dan langsung mencari-cari dokumen pasien yang pernah ditanganinya. Ia terus mengacak-acan dan mengubek semua barang-barang yang ada di sana.
Dengan jantung berdebar kencang ia membuka dan melihat lembar demi lembar kertas memperlihatkan keadaan Yasmin waktu itu.
Detik demi detik terus berlalu, perlahan kedua alis tajamnya menaut dalam. Ia tidak menyangka atas penemuannya saat ini.
"A-aku tidak percaya ... apa benar seperti ini? Aku harus memeriksa rekaman waktu itu," lirihnya lalu kembali beranjak dari sana tanpa mengindahkan rasa lelah.
...***...
Alina yang baru saja selesai melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga harus kembali menelan pil pahit kala sang putri masih mengabaikannya.
Rasa perih itu semakin bertambah saat seseorang dengan nomor yang sama mengiriminya beberapa foto. Di sana memperlihatkan jika sang suami, anak sambungnya, dan madu yang tidak diharapkan keberadaannya tengah menghabiskan waktu bersama di salah satu pusat perbelanjaan.
Ia pun jatuh terduduk di sofa ruang tamu tidak menyangka apa yang dilihatnya sekarang. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi, tetapi kenyataan menamparnya keras jika keberadaannya saat ini benar-benar hanya dianggap angin lalu.
__ADS_1
"Mamah." Panggilan itu menyentaknya.
Alina menahan air mata dengan menengadahkan kepala ke atas lalu menoleh ke belakang mendapati sang putra.
"Iya, Sayang?" tanyanya.
"Ayah dan kak Aqeela ke mana? Bukankah ini hari libur seharusnya mereka ada, kan?" tanyanya balik.
Alina tahu jika saat ini suami dan anaknya tengah bersama wanita itu. Ia pun berusaha menyembunyikan fakta menyakitkan tersebut di balik senyum.
"Em, ayah dan kakak sedang pergi, Sayang," balasnya.
"Pergi ke mana? Kenapa aku dan Mamah tidak diajak?"
Pertanyaan lain diajukan, Alina tidak tahu harus menjawab seperti apa dan hanya bisa diam beberapa saat.
"Sayang, bisa kamu mendekat?" pintanya.
Raihan mengangguk dan mengikuti suruhan sang ibu. Alina pun menariknya pelan dan membawanya ke pangkuan. Ia memeluknya erat dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya kemudian mengusap punggungnya pelan.
"Mungkin ayah hanya mengantar kakak mengerjakan tugas sekolah, Sayang. Ayah tidak mengajak kita, karena tidak ingin membuat kita bosan," dustanya.
Raihan hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Aku menyayangi, Mamah," ujarnya tiba-tiba dan langsung memeluk sang ibu erat.
Alina melebarkan mata terkejut, "maafkan Mamah, Sayang. Mamah tidak bisa mengatakan yang sebanarnya. Mamah harap kamu mengerti jika ... keluarga kita sedang tidak baik-baik saja," lanjut benaknya. "Tapi sebentar lagi ... tunggu sebentar lagi sampai Mamah memberikan pelajaran kepada mereka yang sudah mengganggu keluarga kita. Setelah itu Mamah dan Raihan bisa hidup baik-baik saja."
Terlalu kejam perlakuan sang suami yang diberikannya kepada Alina. Ia tidak peduli bagaimana luka itu tumbuh di saat waktu mencoba untuk sembuh.
Namun, pada kenyataannya ia hanya dianggap pelampisan dan berusaha menggapai bayangan masa lalu.
Alina tidak mengapa dan mencoba tegar menunggu masa untuk membalas semuanya. Karena roda kehidupan terus berputra dan tidak akan menatap di satu titik.
__ADS_1
"Aku harus menyelamatkan Raihan, bagaimanapun ia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Meskipun tidak harus bersama ayahnya," benaknya lagi.