Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 66 (Season 2)


__ADS_3

Angin sore menyambut, memeluk keduanya yang saling melempar pandangan. Senyum manis masih setia bertengger indah di wajah cantik Alina, sedangkan lawan bicaranya mematung tidak percaya.


Manik berlensa hitam pekat itu pun melebar dengan mulut ranum sedikit terbuka. Perlahan kedua alis saling berpautan dan terus memandangi Alina.


"A-apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Zara takut-takut.


Alina semakin melebarkan senyum seraya berjalan mendekat. Ia meletakan kedua tangan di saku cardigan dan kaki yang terbungkus sepatu boots itu pun terus melangkah perlahan.


Instingnya mengatakan sesuatu tidak benar, Zara mundur ke belakang menghindari Alina.


"Kenapa kamu menghindariku? Bukankah kamu mau tahu dari mana aku bisa mendapatkan nama itu?" tanya Alina kemudian.


Zara menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Aku tidak mau tahu. Aku peringatkan yah Alina, jangan bawa-bawa nama itu ke dalam urusan kita."


"Urusan kita? Bukankah itu termasuk aku, kamu, Yasmin, mas Azam dan juga ... keluarga kita? Satu-satunya orang yang harus kita lindungi adalah keluarga. Itu yang saat ini sedang aku perjuangkan. Kamu tahu, orang paling berharga buatku sekarang bukan mas Azam melainkan ... anakku," ungkap Alina, sebelah sudut bibirnya terangkat dengan sorot mata tajam.


"Yah, sepertinya kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Sampai jumpa lagi, jangan dulu menyerah permaianan kita baru saja dimulai," lanjutnya. Ia pun mengenakan kacamata hitam dan berjalan melewati Zara seraya berbisik tepat di daun telinganya.


Mendengar hal tersebut membuat sang empunya melebarkan mata tidak percaya. Degup jantung bertalu kencang ia tidak menyangka jika Alina sudah berubah.


"Beraninya dia," gertak Zara sambil mengepalkan kedua tangan kuat.


...***...


"Aku tahu, Mas sedang bermain api di belakangku."


Perkataan itu menyambut kedatangannya yang baru saja selesai mandi. Azam terdiam di tempatnya berdiri, perlahan menolehkan kepala ke samping kanan di mana Alina tengah duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur.


Sambil bermain dengan ponsel sang istri acuh tak acuh. Ia tahu kini tatapan sang suami mengarah tepat padanya.


Sekilas Alina memandangi Azam dan kembali sibuk bersama dunianya. Senyum kecut pun hadir kala tidak ada sahutan apa pun dari pria di hadapannya.


"Apa Mas terkejut aku mengetahuinya? Bukankah malam itu sudah menjadi pertanda jika rumah tangga kita sudah tidak baik-baik saja. Hancur, semuanya berantakan layaknya figura yang aku buang," jelas Alina kemudian.

__ADS_1


Azam termangu, lidahnya kelu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Ia tidak menyangka jika akan ketahuan begitu cepat. Ia belum belum siap menghadapi badai menerjangnya cepat.


"Ke-kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu sudah tidak mau mempertahakan rumah tangga kita?"


Pertanyaan Azam menarik perhatian, Alina meletakan ponsel di atas nakas lalu beranjak dari duduknya. Ia berdiri tidak jauh dan membalas tatapan sang suami.


"Untuk apa mempertahankan pernikahan toxic seperti ini? Dari awal Mas memang tidak pernah mencintaiku. Kata-kata itu hanya sebatas kewajiban tanpa ada ketulusan, aku sudah salah menilai kebaikanmu selama ini. Aku sadar, cinta pertama tidak mudah untuk dilupakan. Mbak Yasmin memang sudah pergi, tetapi penggantinya kini telah hadir. Aku tidak bisa seperti mbak Yasmin yang rela di madu ... lebih baik aku mundur daripada harus berbagi suami," ungkap Alina menggebu.


Ia menahan sesak dalam dada yang terus berlomba minta dikeluarkan. Sudah cukup, Alina tidak bisa memperlihatkan kelemahannya lagi di hadapan Azam. Bagaimanapun ia meminta, bersabar, dan berharap sang suami membalas perasaannya, itu tidak mungkin terjadi.


Tahun demi tahun yang sudah mereka habiskan tidak memiliki arti apa pun. Semuanya semu hanya fatamorgana kebahagiaan mengendap dalam keinginan. Kenyataannya masih ada bayang-bayang masa lalu yang sulit dilupakan.


"Katanya kamu mencintaiku, Mas, tetapi nyatanya kamu berkhianat," lanjutnya sambil mendelik tajam.


Azam menunduk perlahan, kepala bersurai hitam legamnya terjatuh menutupi pandangan. Ia mengepal kedua tangan kuat kala menyadari jika situasi semakin runyam.


Ia salah sudah mendua di belakang sang istri. Delapan tahun lamanya, ia tidak bisa melepaskan kepergian Yasmin. Ia selalu dihantui kebersamaannya bersama istri pertama dan pernah menganggap Alina sebagai Yasmin.


Ia bersalah sangat bersalah, kapal yang dirinya bawa di lautan lepas ternyata keluar jalur. Sebagai nahkoda ia begitu labil dalam mempertahankan laju kapalnya dan melupakan jika penumpang bisa saja terjatuh serta hilang atas kecerobohannya sendiri.


"Aku minta maaf ... aku tidak bisa menahan perasaan itu. Sebenarnya ... kami sudah menikah sirih, aku menikahi Yasmin satu bulan yang lalu," ungkap Azam.


Waktu itu ia memutuskan untuk melamar Yasmin guna mencegah hal tidak diinginkan. Tanpa diduga sang desainer interior tersebut menyetujuinya. Mereka pun menikah di kantor urusan agama, tanpa adanya kemewahan maupun tamu undangan.


Pernikahan keduaya hanya dihadiri oleh saksi saja. Azam pun memberikan aparemen mewah sebagai kado pernikahan untuk Yasmin.


Selama satu bulan ke belakang ia sering pulang telat ke rumah dan alasannya Azam menghabiskan waktu terlebih dahulu bersama Yasmin. Rahasia itu tidak ada yang tahu selain, dirinya, Yasmin, dan Allah.


Bak petir menyambar di siang bolong Alina tidak menyangka mendengar kejujuran sang suami. Ia melepaskan pandangan dari sosok Azam seraya menggelengkan kepala tidak percaya.


Seketika itu juga napasnya naik turun menahan emosi yang membuncah. Sekuat apa pun dirinya menahan, air mata lolos begitu saja mendengar pengakuan tidak terduga.


Alina tertawa di atas perih, kata pernikahan bagaikan anak panah melesat tepat sasaran. Dadanya sesak, hatinya seolah disayat belati tak kasat mata. Perih, pedih, sakit, dan terluka menjadi satu membuat ia tertegun.

__ADS_1


Alina duduk di tepi tempat tidur masih belum mengatakan apa pun. Selama mencari bukti untuk membuat Yasmin dan Zara jera, ia melupakan fakta mengenai pengkhianatan sang suami.


Namun, tanpa diduga Azam mengakuinya sendiri. Berita itu bagaikan kejadian mengerikan yang pernah Alina alami. Ia tidak menyangka sudah memiliki madu tanpa sepengetahuan dan seizinnya. Ia memang berbeda dengan mendiang Yasmin, keberadaannya hanya dianggap sebagai angin lalu.


"Aku minta maaf," sesal Azam.


Ia melangkah mendekati Alina lalu berjongkok di hadapannya. Ia menengadah melihat wajah sang istri sudah basah. Kedua tangannya pun terulur menangkup pipi hangat itu dan dengan cepat sang empunya menepisnya.


"Jangan pernah Mas menyentuhku lagi. Aku berniat untuk mempertahankan rumah tangga kita demi anak-anak, tapi rasanya ... aku tidak akan bisa bertahan. Terima kasih atas luka yang Mas berikan itu memberikanku kekuatan jika-" Alina bangkit dari duduk dan memandang ke bawah tepat ke dalam manik Azam.


"Jika pernikahan bukanlah sebuah permainan. Nikmatilah permainan yang sudah kalian lakukan, sebagai tuan rumah aku akan bergabung."


Setelah mengatakan itu Alina melangkahkan kaki menjauh, tetapi sebelum keluar kamar ia berkata. "Aku bukan wanita yang bisa dikekang oleh siapa pun. Aku sudah dibesarkan dengan kepedihan, maka nikmati atas apa yang akan terjadi."


Pintu tertutup Azam terkulai lemas merasakan dadanya seperti ditusuk duri. Ia memandangi ruangan yang sudah tujuh tahun dihabiskan bersama Alina.


Di tempat itu keduanya berbagi keluh kesah dan membunuh waktu dengan kenikmatan tiada tara. Namun, kemunculan Yasmin Fauziah meruntuhkan pertahanan. Azam gelap mata menganggap wanita itu sebagai mendiang sang istri.


Ia sudah bermain-main bersama seseorang yang mencintainya dengan tulus. Setelah kepergian Yasmin ia depresi dan tidak semangat untuk menjalani kehidupan. Keberadaan Alina yang setia menjaga dan merawatnya berhasil memberikan kesembuhan.


Cinta sempat hadir, tetapi ia sadar bayang-bayang Yasmin terus menghantuinya hingga membuat perasaan itu kembali muncul.


Tanpa Alina sadari ia sering menghabiskan waktu di kamar pribadinya bersama Yasmin. Ia terus mengingat kebersamaan mereka tanpa menyadari kenyataan jika istri pertama sudah tiada.


"Ya Allah, apa yang hamba lakukan? Aku sudah sangat menyakiti Alina," lirihnya pada keheningan.


Api sudah menyala dan ia memberikan bensin ke dalamnya. Kobaran itu perlahan-lahan bisa melahap situasinya sekarang.


Keadaan tidak mungkin bisa baik-baik saja, Azam juga melupakan jika dirinya memiliki seorang putri dan putra yang tulus menyayanginya.


Pengkhianatan serta kebohongan tengah ia lakukan, hanya menunggu masa kapan semua itu akan meledak seperti bom atom.


Alina sudah berada di ruangan Yasmin lagi. Ia berdiri mematung di tengah-tengah memandang sekitar. Wajahnya yang dingin sarat kepedihan mendalam memberikan ia keyakinan untuk mengakhiri semuanya. Ia tidak bisa terus egois mencoba yang terbaik bagi keluarganya.

__ADS_1


"Sedangkan orang yang aku pertahankan saja tidak mau memberikan kebahagiaan itu dengan tulus. Aku tidak bisa mengorban perasaanku lagi," lirihnya. 


__ADS_2