
Bak ditimpa batu berton-ton beratnya, pundak Alina mendapatkan beban yang sangat berat. Ia terkejut saat mendapati buah hatinya mengalami trauma.
Anak tidak berdosa itu harus menanggung sakit akibat kelakuan orang tuanya. Alina pun tidak sepenuhnya menyalahkan Azam, bagaimanapun ia juga bersalah.
Anak adalah titipan dari sang pencipta yang harus dijaga dan dilindungi sepenuh hati. Memberinya cinta dan kasih sayang merupakan tugas orang tua, tetapi Alina berpikir sudah gagal memberikan itu semua.
Ia terlalu percaya diri dan menganggap apa yang dilakukannya selama ini benar adanya. Ia tidak tahu jika pernikahan kedua bisa memberikan dampak luar biasa pada sang anak.
Di tengah kesibukan memikirkan segala problematika yang terjadi saat ini, Alina dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Alina?" Suara itu membuatnya mendongak mendapati pria berjas putih lainnya.
"Mas Angga?" Panggilnya balik.
Melihat wajah lemas itu Angga menautkan alis tajam dan duduk begitu saja di sebelahnya. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya kemudian.
"Oh yah, baru kemarin aku bekerja di rumah sakit ini dan sekarang ... aku sedang tugas shift malam. Selamat atas pernikahan kalian, tunggu ... bukankah seharusnya kamu masih berbulan madu? Kenapa ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanyanya beruntun.
Alina mendengus pelan dan tersenyum lemah. "Aku baru tahu jika Mas Angga begitu penasaran."
Angga hanya menggaruk belakang kepala kikuk dan menunggu jawabn Alina selanjutnya. "Raihan ... kecelakaan."
"APA?" teriaknya cepat.
Alina pun menceritakan semua rangkaian kejadiannya. Mulai dari pertemuan Raihan dengan Azam, sikap sang buah hati di pagi hari, ia berpelukan tepat di depan mata kepala anaknya sendiri, sampai kejadian mengerikan itu terjadi.
"Kata Dokter Ghani, Raihan mengalmai trauma juga. Ini semua salahku yang tidak bisa menjaganya dengan benar. Aku ibu yang sangat buruk ... aku tidak bisa melindunginya dengan baik. Aku ibu yang tidak berguna." Alina terus menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Syut, hei Alina, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu ibu luar biasa, sudah berjuang sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk Raihan."
"Selama aku mengenalmu ... aku mengerti bagaimana perjuangan seorang ibu, terlebih dengan kondisi rumah tangga yang tidak stabil. Karena dulu ibuku mengalami hal serupa sepertimu. Ibu ... melihat ayah berselingkuh dan tetap bertahan sampai napasnya berhembus untuk terakhir kali."
"Setelah melihat kesungguhanmu untuk mencari kebenaran mengenai apa yang terjadi pada keluarga kalian dan memutuskan untuk berpisah dengan Azam ... aku berpikir kenapa dulu ibu juga tidak pergi saja meninggalkan ayah daripada harus tersiksa batin hingga meninggal? Karena aku pikir meninggalkan sumber sakit itu merupakan pilihan yang terbaik."
"Melihatmu sama seperti aku melihat ibu. Jadi, Alina kamu jangan menyalahkan diri sendiri, apa yang sudah terjadi bukan karena kamu salah, tetapi ... semua ini sudah menjadi kehendak yang di atas. Allah tahu apa yang terbaik untuk kalian," tutur Angga panjang lebar.
Alina kembali terkejut dan tidak menyangka jika pria yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri ini pun mengalami hal serupa.
"Dulu aku juga sempat mengalami depresi. Karena tahu ayah dan ibuku sering bertengkar juga ... tanpa sepengetahuan ibu aku melihat ayah bermesraan dengan wanita lain di rumah. Aku marah, benci, dan tidak menganggap dia ayahku lagi."
"Aku sempat menyalahkan diri sendiri dan mengalami kecelakaan juga, tapi ... apa kamu tahu?" Angga menjeda ceritanya dan mendongak menatap langit-langit, sedangkan Alina masih diam mendengarkan.
"Berkat kecelakaan itu ayah dan ibu bekerja sama untuk menyembuhkanku, meskipun hubungan gelap ayah masih tetap berjalan. Namun, aku bersyukur di hadapanku mereka bersikap layaknya orang tua yang saling mencintai dan memaafkan."
"Dari sana aku belajar memaafkan dan menerima semua keadaan, jika ... hidup tidak akan selamanya berada di atas tawa, tetapi berkat adanya derita mendatangkan kebahagiaan."
"Mas Angga adalah anak yang baik. Meskipun berada di tengah-tengah goncangan yang melanda, Mas bisa membuktikan pada semua orang jika ... anak dari keluarga toxic mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Sekarang Mas sudah menjadi dokter pasti ayah dan ibu bangga padamu," balas Alina memandanginya lekat.
Angga mendengus pelan dan tersenyum semakin lebar. "Aku harap seperti itu, tetapi sebelum mendapatkan gelar dokter ibu sudah dipanggil duluan oleh sang maha pencipta, sedangkan ayah ... aku tidak tahu di mana lagi ia berada."
Mulut Alina terbuka pelan tidak percaya mendengar penuturannya. "Aku turut berduka, tetapi ... aku yakin di atas sana ibu Mas sedang tersenyum bangga melihat anaknya berjaya." Kepala berhijab itu mendongak.
"Dan suatu saat ayah Mas juga bisa sadar dan menyesali perbuatannya."
"Em, aku harap seperti itu. Jadi, untuk sekarang kamu harus bekerja sama dengan Azam demi kesembuhan Raihan. Aku yakin dia pasti akan sembuh dengan cepat, lupakan masa lalu, lupakan kejadian yang pernah menimpa kalian. Egoislah sedikit untuk kebaikan buah hati kalian. Karena Raihan pada awalnya tidak tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya," nasehat Angga.
__ADS_1
Alina mengangguk cepat. "Mas benar, terima kasih atas nasihat dan cerita luar biasanya. Aku yakin ... aku bisa melakukan itu semua untuk Raihan."
"Aku senang mendengarnya, kalau begitu aku harus kembali bertugas. Wah, kamu benar-benar menyita waktuku." Angga beranjak dari duduk sambil melihat arloji melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Alina pun terkekeh pelan melihatnya, "Mas sendiri yang duduk di sini."
Angga pun terkikik dibuatnya, "Baiklah kalau begitu aku akan memeriksa beberapa pasien dan akan kembali menjenguk ponakanku setelah selesai."
"Iya, pergilah." Alina menggendikan dagu ke depan mengusirnya secara halus.
Angga hanya mengangguk singkat lalu tersenyum lembut dan setelah itu pergi dari hadapan Alina.
Sepeninggalan Angga, Alina kembali sendirian. Kata-kata dokter spesialis kanker itu terus terngiang di indera pendengaran.
Tidak lama berselang Zaidan pun datang lalu duduk di sebelah kirinya. Alina menatapnya sendu dan air mata kembali menitik.
Zaidan menghapusnya pelan dan memberikan senyum hangat. Ia kemudian membubuhkan kecupan lembut di puncak kepalanya.
"Hei, jangan menangis, Sayang. Aku sudah mendengar semuanya. Benar apa kata Dokter Angga, jika kamu harus bekerja sama dengan Azam demi kesembuhan Raihan," katanya.
Kedua manik Alina melebar sempurna, "apa Mas tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Karena bagaimanapun juga Raihan adalah anakku. Aku ingin dia sembuh seperti sedia kala. Aku juga minta maaf tidak memperhatikannya dan membuatnya kecelakaan. Aku-"
"Mas tidak salah apa-apa. Aku juga kurang berhati-hati dalam mengawasinya."
"Untuk itu mulai sekarang kamu dan Azam harus melakukan yang terbaik. Tunjukan pada Raihan jika kalian sangat menyayanginya. Aku yakin keadaan Raihan pasti akan jauh lebih baik."
__ADS_1
Alina hanya mengangguk dan bersyukur bisa dipertemukan dengan pria sebaik Zaidan. Ia mengerti bagaimana kondisi mereka saat ini.
...Bersambung......