Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 164 (Season 3)


__ADS_3

Satu tahun lalu Hotel Cassanova


Malam semakin larut, kegelapan semakin intens melingkupi insan di bumi. Keheningan tercipta mengiringi setiap kejadian.


Setelah memesan satu kamar, Calvin Alfaro merangkul Zanna menuju lantai lima. Aroma alkohol begitu menyengat menguar dalam diri wanita itu.


Calvin mendengus pelan lalu memapahnya masuk ke dalam. Setibanya di ruangan pribadi, ia melemparkan tumbuh semampai sang pianis ke tempa tidur.


Kedua tangan berkacak pinggang seraya menghembuskan napas kasar. Ia memandangi kamar mewah itu dan kembali menyeringai.


"Jadi, di tempat inikah wanita itu akan menghabiskan malamnya bersama tuan muda? Sayang sekali, rencanamu tidak berjalan lancar," gumamnya menatap lekat Zanna yang tengah menutup mata.


Napasnya begitu tenang tidak terusik apa pun, ia tertidur lelap tak menyadari apa yang sudah terjadi. Diam-diam Calvin memasang kamera ponselnya di sudut ruangan lalu kembali ke hadapan pianis itu.


Tidak lama berselang Zanna sadar dan langsung duduk di tempat tidur. Mata bulannya menyipit menyesuaikan retina dengan cahaya sekitar.


Dalam keadaan remang serta kepalanya yang berputar, ia menyaksikan satu sosok berdiri di depannya. Senyum pun mengembang kala orang itu ia yakini sebagai pria yang selama ini didambanya.


"Mas Zaidan," panggilnya antusias.


Zanna bangkit dari duduk dan seketika mengalungkan kedua tangan di leher jenjang Calvin membuatnya menyeringai lebar. Ia tidak membalas ataupun melepaskan pelukan itu yang semakin intens.


"Apa kamu tahu siapa aku?" tanyanya kemudian.


Dalam keadaan linglung Zanna menganggukkan kepala. "Mas Zaidan," ujarnya terkekeh senang.


"Bagaimana jika aku orang asing yang belum pernah kamu temui?" tanya Calvin lagi.


Dengan bibir mengerucut Zanna menggeleng beberapa kali. "Itu tidak mungkin. Kamu-" Ia menunjuk tepat di dada lawan bicaranya. "Kamu adalah Mas Zaidan yang sangat aku cintai."


"Kenapa kamu mencintaiku?"

__ADS_1


"Karena aku mencintaimu, apa perlu alasan lagi?"


Setelah mengatakan itu Zanna merenung, kepalanya menunduk membuat rambut hitamnya menutupi sebagian wajah.


Posisi dekat itu pun menyadarkannya jika Zanna tengah menahan tangis. Tubuh rampingnya bergetar kuat, kedua tangan beralih mencengkram kemeja depan Calvin erat.


Ia tidak mengatakan apa pun membiarkan Zanna begitu saja. Ia terus menunggu sampai wanita itu mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak percaya.


"Aku minta ... aku benar-benar minta maaf. Karena sudah egois lebih memilih karier daripada hubungan kita. Aku tahu ... hubungan ini terjadi sebab perjodohan. Namun, asal kamu tahu aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu, mas Zaidan," ujar Zanna menggebu mengangkat kepala cepat.


Wajah cantiknya sudah berlinang air mata dengan hidung merah padam. Menyaksikan pemandangan tepat di depannya membuat perasaan Calvin tergerak. Entah sadar atau tidak ia mengusap punggung Zanna menyalurkan kekuatan.


"Kenapa? Kenapa Mas tidak mengatakan apa-apa? Apa aku tidak bisa mendapatkan maaf darimu? Mas, aku benar-benar mencintaimu," ungkapnya lagi. "Aku ingin bersamamu, kenapa hubungan kita harus berakhir?"


Calvin menghela napas lelah memandangi Zanna dalam. "Aku minta maaf, tapi ... aku bukanlah pria yang kamu maksud. Aku tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada kita."


Mendengar penuturan barusan membuat manik jelaga Zanna melebar. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan pria di hadapannya.


"Aku tidak bercanda, aku-"


Belum sempat Calvin menyelesaikan ucapannya, Zanna langsung menyambar bibirnya begitu saja. Sensasi hangat nan pahit terasa begitu menusuk.


Calvin yang tidak pernah mengkonsumsi alkohol pun seketika terbuai dengan napas Zanna bercampur minuman tersebut.


Seolah kehilangan akal keduanya mengikuti keinginan terdalam. Namun, sebelum ke permainan inti Zanna sedikit mendapatkan kesadarannya.


Ia yang tengah duduk di atas perut Calvin menarik sudut bibir. Ia melihat pria itu sudah dilingkupi keinginan terdalam tengah memandanginya sayu. Di dalam pandangannya sosok Calvin masihlah Zaidan hingga membuat kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.


"Sebentar lagi permainan kita akan dimulai," ujarnya, kemudian turun dari ranjang dan menyalakan kamera ponsel. Ia meletakkannya tepat di atas meja rias yang menghadap langsung tempat tidur.


Setelah persiapan selesai, malam itu mereka menikmati sebuah hubungan terlarang. Baik Zanna maupun Calvin, keduanya sama-sama dirundung napsu belaka.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah itu, mereka hanya menyalurkan keinginan pada diri masing-masing. Tanpa tahu jika pria yang saat ini tidur bersamanya adalah orang asing, yang belum pernah Zanna temui sebelumnya.


Tanpa mengindahkan peringatan Calvin sebelumnya, Zanna hanya mengikuti insting yang salah. Ia sangat yakin jika rencananya untuk mendapatkan Zaidan ke dalam pelukan sudah berjalan lancar.


Di tengah aksinya itu, ia terus menyebut nama Zaidan. Kata cinta pun terlontar seiring penyatuan yang terjadi.


Kurang lebih tiga jam lamanya, mereka pun mengakhiri permainan tersebut. Zanna dan Calvin saling mendekap menyalurkan kehangatan tanpa sehelai benang melekat di tubuh keduanya.


Tatapan manik cokelat itu memandangi wajah merah Zanna yang kembali terlelap. Tangannya terulur mengusap lembut anak rambut di dahi sang pianis.


"Aku tidak percaya sudah tidur dengan wanita ini. Apa yang sudah dilaluinya? Kenapa dia terus mengungkapkan aku tidak sanggup ... aku menyerah. Apa yang ia alami?" benaknya penasaran dan ia pun terlelap, kelelahan.


Pada saat jam menunjukan pukul setengah lima pagi, Zanna terbangun dari tidur. Ia melihat ada tangan kekar memeluknya dari belakang. Senyum pun mengembang saat samar-samar bayangan tadi malam teringat.


Ia berbalik melihat pria itu dalam diam. "Mas Zaidan," ucapnya lirih seraya mengelus pelan pipi sang pria lembut.


Lalu ia pun sedikit mengangkat tubuhnya melihat jika ponselnya masih ada di sana. Ia bangun dan berjalan tertatih untuk mengambil benda pintar itu.


Senyumnya semakin lebar menyaksikan adegan intim ia dan pria yang tengah tertidur. Ia kembali berbaring dan mengambil banyak foto bersama orang yang masih ia yakini sebagai Zaidan.


Setelah jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi, Calvin pun sadar dari tidur panjangnya. Matahari sudah terbit menyinari kamar mereka dengan cahaya hangatnya. Ia terkejut saat melihat Zanna yang masih terlelap.


Buru-buru ia mengambil pakaian dan memakainya begitu saja kemudian melarikan diri dari sana. Tanpa lupa ia menyambar ponsel yang semalam digunakan untuk merekam adegan hubungan terlarang tersebut.


Sepanjang jalan Calvin melamun memikirkan apa yang sudah terjadi. Ia memberitahu Dimas jika pekerjaannya sudah selesai dilaksanakan.


Namun, ada bagian dalam diri yang membuat ia menyesal setelah melakukan hal tersebut. Di dalam taksi ia menggeram, menjambak rambutnya frustasi. Ia berharap untuk tidak lagi bertemu dengan Zanna. Ia tidak ingin dihantui rasa bersalah, sebab sudah membohonginya begitu saja.


DI balik keresahan itu ia menyadari jika semua hal tersebut terjadi akibat rencana busuk Zanna. Ia hanya mengikuti alur dan terjebak di dalamnya.


"Kenapa aku harus membantu keturunan Zulfan itu? Aku tidak bisa menolak jika mas Dimas yang meminta bantuanku. Karena bagaimanapun juga selama ini dia orang yang sudah membantuku menyalurkan dana dari om Farraz," monolognya dalam diam. Mau tidak mau Calvin hanya bisa menerima apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2