
Malam menjelang, keluarga Zaidan tengah berada di perjalanan menuju suatu tempat. Siang tadi sang kepala keluarga menyusul istri dan kedua anaknya di rumah sakit.
Tanpa diduga ia menyaksikan kembali kelembutan yang istrinya lakukan. Zaidan semakin jatuh dan jatuh begitu dalam pada pesona Alina.
Ia bangga dan takjub atas kebaikan yang diberikannya. Ia banyak belajar dari sang istri jika tidak usah membalas apa yang sudah orang lakukan pada kita, cukup menjadi diri sendiri dan serahkan semuanya pada Allah semata.
"Sayang, apa kamu yakin mau datang ke tempat itu lagi? Bahkan sudah tiga kali kamu pergi ke sana dan hasilnya sama saja ... mereka tidak mau menemuimu," kata Zaidan sembari menyetir.
Alina mengangguk sekilas dan menatap suaminya. "Aku sangat yakin dan ... aku tidak bisa menunggu lagi. Mas tahu kan seminggu yang lalu Zanna hampir menjatuhkan dirinya dari atap? Aku tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali."
Zaidan langsung menggenggam jari jemari sang istri menggunakan sebelah tangan. "Jangan khawatir, Zanna tidak mungkin melakukan kesalahan itu lagi." Alina mengangguk dan tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobil di sebelah gerbang, keluarga itu pun turun dari kendaraan.
Zaidan memangku Raihan yang sudah terlelap, sedangkan Alina menggendong Zenia. Bayi itu pun pulas dalam dekapan sang ibu.
Berkali-kali mereka menekan bel, tetapi masih belum ada yang menyahut. Tidak lama berselang seorang maid datang membuka pagar.
"Tuan dan Nyonya sedang tidak menerima tamu," jelasnya acuh tak acuh.
"Saya mohon sekali ini saja, izinkan kami menemui beliau. Kami berjanji ini kunjungan terakhir, saya mohon," pinta Alina sangat.
Tidak jauh dari keberadaan mereka, manik kelam sang tuan mengintainya. Tuan besar itu berdehem menyaksikan jika kedua orang di sana sedang membawa anak kecil.
"Masuklah! Tidak baik membawa anak-anak di malam hari," ungkapnya.
Mendapatkan lampu hijau Alina dan Zaidan saling pandang melempar senyum senang. Sang maid pun membukakan pagar lebar mempersilakan mereka masuk.
...***...
__ADS_1
Nuansa gold begitu kental di mansion keluarga Zyva. Di ruang tamu itu di isi lima orang dewasa dan dua anak kecil. Alina dan Zaidan duduk bersebelahan menatap tetua Zyva, serta orang tua Zanna.
"Sebelumnya terima kasih sudah mengizinkan kami untuk menemui kalian. Kedatangan kami ke sini ingin memberitahukan perihal Zanna. Dia-"
"Saya tidak mau mendengar apa pun lagi mengenai anak itu." Suara serak yang tertahan itu seketika menghentikan ucapan Zaidan.
Sang tetua Zyva menatap pasangan muda di hadapannya bergantian. Alina yang melihat sorot mata tidak bersahabat itu pun mengerti bagaimana perasaan mereka.
"Sebelumnya, silakan lihat ini." Alina lalu menjulurkan layar ponsel ke hadapan ketiga orang di depannya.
Orang tua Zanna dan kakeknya pun melihat apa yang ada di dalamnya. Layar itu memperlihatkan bagaimana kondisi Zanna selama berada di rumah sakit.
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan pada kami untuk bertemu dengan kalian. Ini kunjungan keempat kalinya saya ke kediaman Zvya. Saya ingin menyampaikan jika Zanna mengalami kelumpuhan sementara."
"Dia sangat membutuhkan dukungan keluarga untuk penyembuhannya. Tidak hanya fisik, tetapi juga batin dan mental. Zanna pada dasarnya adalah wanita yang baik, meskipun aku tidak terlalu mengenalnya, tetapi selama dua minggu terakhir ini kami sering bersama."
"Semua yang ia dapatkan selama ini hanya sebatas formalitas semata. Zanna yang menjadi seorang pianis juga hanya ingin membanggakan kalian, karena sudah bisa memenuhi harapan keluarganya. Mengenai video syur yang kita ketahui, itu bukanlah Zanna."
"Dia-" Alina meletakan selembar foto yang sudah dibawanya sejak tadi dalam mantel. "Pria itu sudah memanipulasi video tersebut. Rekaman yang sebenarnya adalah orang asing, mereka memanfaatkannya untuk menjebak suami saya. Karena Zanna terlalu obsesi kepada Zaidan," ucap Alina panjang lebar.
Atensi ketiga orang paruh baya itu pun tertarik kembali. Mereka menatap Alina lekat dengan pandangan yang berantakan.
Mentari, Daffa, serta Ahnaf tidak percaya jika Zanna sudah melakukan sejauh itu untuk memperkeruh hubungan pernikahan orang lain.
Mereka hanya tahu waktu itu Zanna pergi ke Kota Z untuk tampil di sebuah pesta. Namun, tanpa ketiganya sadari ia bertemu dengan presdir Kang dan bekerja sama guna menjatuhkan perusahaan Aguritine milik Moana.
Namun, keadaan semakin runyam. Banyak pihak yang terlibat membuat pria asal negara K itu kelimpungan dan pada akhirnya mendapatkan ganjaran.
"A-apa Nak? Zanna melakukan itu?" Mentrai menatap Alina sayu.
__ADS_1
Tanpa mengelak kepala berhijab Alina mengangguk. Sebagai seorang ibu, ia mengerti bagaimana perasaan wanita paruh baya di depannya ini.
"Namun, meskipun begitu saya tidak ingin memperpanjang masalah. Karena Zanna sendiri juga sudah mendapatkan balasannya ... tetapi, saya tidak bisa membiarkan dia berjuang sendirian. Selama ini saya sering menunjunginya di rumah sakit bahkan-" Alina tidak kuasa melanjutkan ucapannya.
Ia menelan saliva kuat membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja kering. Zaidan mengusap punggung istrinya pelan menyalurkan kekuatan.
"Bahkan Zanna hampir melakukan percobaan bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya di atap rumah sakit." Air mata tak terbendung lagi, tumpah ruah di pipi putihnya.
Dengan sigap Zaidan mengusapnya lembut lalu menatap orang tua dari sahabat masa kecilnya.
"Mah, Pah, Kek, aku harap kalian bisa menemui Zanna. Saat ini dia hanya membutuhkan kalian di sisinya. Kita semua juga pasti punya salah yang sangat besar, jadi ... tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada Zanna."
"Dia hanya sedang tersesat, untuk itu kita harus merangkulnya untuk kembali pada jalan kebenaran. Aku juga sudah memaafkan semua kesalahannya baik di masa lalu maupun sekarang. Juga ... aku masih menganggap Zanna seperti adikku sendiri."
"Mamah, Papah, dan Kakek adalah orang baik yang selama ini sudah memperlakukanku dengan baik pula. Maka aku minta kalian bisa memaafkan Zanna, jangan dengarkan apa kata orang. Karena keluarga adalah segalanya," ucap Zaidan mengutarakan perasaan.
Mentari dan Daffa saling pandang. Mereka merasa tertampar atas ucapan pasangan suami istri muda ini.
Sudah satu bulan lebih mereka tidak mengetahui keadaan Zanna dan sekarang mendengarnya dari orang yang sudah putrinya sakiti.
Mereka tidak percaya jika keadaan sang buah hati begitu buruk. Mentari hanya bisa menangis atas apa yang terjadi pada Zanna.
Daffa dan Ahnaf juga terkejut jika anak serta cucunya bisa mempunyai niat gila seperti itu. Namun, bagaimanapun juga keadaan Zanna membuat kondisinya benar-benar tidak stabil.
"Terima kasih untuk tidak menyerah menemui kami dan ... terima kasih sudah menemani Zanna selama di rumah sakit." Mentari menatap lekat Alina kembali.
Wanita berhijab itu pun menyunggingkan senyum tulus lalu mengangguk singkat. Ia merasa lega sudah menceritakan semua keadaan Zanna dan berharap keluarganya bisa terbuka serta menerimanya lagi.
...Bersambung......
__ADS_1