
Langit masih mengeluarkan tangisannya, guntur terus bersahutan memberikan ketegangan. Angin perlahan berhembus mengantarkan udara dingin tak berkesudahan. Rintik air hujan menjadi musik pengiring kepedihan.
Tidak ada yang berbicara hanya suara alam mendominasi. Di dalam ruangan berbentuk segiempat itu hanya ada isak tangisan yang mendera. Hilang sudah kepercayaan, kekecewaan menjadi batu loncatan untuk tidak lagi mengakui. Harapan tinggalah harapan, ilusi tak bertepi menjadi angan-angan semata. Keinginan untuk bersama orang yang dicintai kabur bersama imajinasi menari indah dalam takdir.
Hidup terkadang menyimpan kejutan yang tidak bisa ditebak. Skenario Allah menjadi salah satu rencana terbaik untuk menjadi pegangan setiap insan. Tidak ada yang salah dengan rencana-Nya, di balik ujian Allah mengandungkan kebahagiaan dan di balik air mata masih tersimpan senyum keceriaan.
...Fa inna ma'al usri yusroo...
..."Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (Q.S Al-Insyirah : 5)...
Namun, disaat cobaan itu datang terkadang mengundang luka dan air mata yang tidak berkesudahan. Sedih dan rasa tidak percaya menjadi kata yang menggambarkannya. Bunga yang semula tumbuh dengan indah secepat kilat layu diterpa badai.
"Mas tahu bagaimana takutnya saat melihat darah hari itu dan dokter mengatakan aku mengalami pendarahan? Aku sudah mengatakan itu, bukan? Aku takut, sangat takut kehilangan bayi ini. Aku berpikir jika mengandungnya Mas bisa berbalik mencintaiku. Aku senang ketika Mas menenangkanku waktu pertama kali tahu tentang kehamilan ini. Aku berpikir, ternyata Mas Azam mempunyai perasaan yang sama. Aku bahagia dengan hari-hari indah yang pernah kita habiskan bersama," Alina menjeda kata-katanya kala sesak dalam dada terus datang menerpa.
Kepala berhijabnya tertunduk tidak kuasa melihat ke depan dan dalam diam Azam memperhatikan. Ia terus menunggu apa yang akan selanjutnya Alina katakan. Bersama dengan detikan jam di dinding suaranya seketika menendang indera pendengarannya, lagi.
"Aku yang seorang yatim piatu berharap mendapatkan keluarga yang bisa memberikan kasih sayang. Aku senang saat kita pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama berpisah. Aku yang sudah menyimpan perasaan selama bertahun-tahun terkejut kala mendapati Mas Azam telah menikah. Aku berusaha untuk mengubur semuanya. Namun, tiba-tiba saja mbak Yasmin memintaku untuk menjadi istri kedua. Aku hancur waktu itu dan tidak ada kebahagiaan yang dirasakan. Karena bisa bersanding dengan pria yang kucintai. Aku sakit mendengar pembicaraan orang lain mengenai pernikahan ini. Mereka menganggap aku sebagai orang ketiga yang tidak berperasaan memanfaatkan keadaan mbak Yasmin. Sepersen pun aku tidak pernah menginginkan harta Mas Azam. Aku tulus mencintaimu. Harus dengan cara apa aku membuktikannya, Mas?! Agar Mas mau percaya jika anak ini memang darah dagingmu."
Ungkapan perasaan Alina selama bertahun-tahun pun tersampaikan sudah, dengan linangan air mata gambaran tentang masa lalu berputar dalam ingatan. Ia berusaha menampik perasaan itu, tapi tetap saja waktu mengatakan jika dirinya sudah jatuh cinta kepada anak sang donatur.
__ADS_1
Setiap kali Azam datang dengan orang tuanya ke panti, diam-diam Alina selalu memperhatikannya dari jauh. Namun, bocah berumur sepuluh tahun itu mendatanginya dan membuat mereka berteman. Sayang, setelah tiga tahun mereka bersama Azam harus pindah keluar kota. Pertemanan mereka pun merenggang dan pada akhirnya tidak lagi saling menyapa.
Bersamaan dengan itu pula rasa kehilangan dan juga kepedulian seperti menghantui Alina. Ia pikir perasaan tersebut hanya sebatas kerinduan pada seorang teman ataupun keluarga. Tetapi, sejak berubah menjadi seorang gadis ia salah mengartikan mengenai perasaan. Tanpa disadarinya ia jatuh cinta untuk waktu yang sangat lama.
Tahun demi tahun ia lalui tanpa kepastian. Ia berharap dan terus berdo'a bisa bertemu kembali dengan Azam. Ia ingin memastikan sendiri rasa suka yang terus mendiami hatinya. Karena terlalu lama hadir dalam kehidupan, Alina tidak ingin terus seperti itu.
Takdir Allah menjawab do'anya, mereka kembali dipertemukan dengan keadaan yang mengejutkan. Azam sudah menikah dengan seorang wanita cantik, berpendidkan dan dari keluarga terpandang. Alina pun memutuskan untuk berhenti mengaguminya. Namun, ternyata takdir kembali berkata lain. Ia diharuskan menikah dengan Azam dan menjadi istri kedua.
Teringat akan hari-hari itu membuat Alina tersenyum masam. Perlahan kepalanya mendongak membalas tatapan sang suami.
"Terima kasih untuk hari-hari bahagia yang sudah Mas berikan. Aku lelah dan ingin menyerah. Tetapi, izinkan aku mencintaimu untuk terakhir kali." Senyum lemah pun hadir mengiringi setiap keritasl bening yang terus berjatuhan.
Mendengar perkataan Alina terakhir membuat jantung Azam berdegup tidak karuan. Ia terperangah dan tidak percaya sang istri bisa berkata demikian. Ia kembali dikejutkan kala Alina turun dari tempat tidur lalu berjalan melewatinya begitu saja.
"Mau ke mana kamu?" Tanya Azam cepat dan berbalik melihatnya.
Alina yang tengah berdiri memunggungi sang suami menjawab, "aku pergi, terima kasih untuk semuanya. Aku harap Mas Azam bisa berbahagia bersama mbak Yasmin. Aku minta maaf jika selama ini mengganggu rumah tangga kalian."
"Apa yang kamu bicarakan? Apa kamu pergi ingin bersama pria itu?"
__ADS_1
Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi Alina pergi dari hadapannya begitu saja. Sepeninggalan sang istri Azam menggeram dan menjambak rambutnya frustasi. Ia pun melemparkan barang-barang di dalam kamar itu membuat keadaan kacau balau.
Setelah mengamuk ia pun duduk di bawah lantai dan bersandar pada tempat tidur. Air mata mengalir mengiringi keadaan yang terus bertambah runyam.
...***...
Sakit, hanya satu kata yang bisa menggambarkan keadaan Alina saat ini. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, tidak ada tujuan yang bisa dipikirkannya. Ia pun duduk seorang diri di taman yang tidak jauh dari kediaman sang suami.
Angin malam berhembus membuat tubuhnya mengigil. Ia melingkarkan kedua tangan di atas perut melindungi sang buah hati. Perlahan ia menghirup napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Itu dilakukan berkali-kali berusaha menenangkan diri. Karena tiba-tiba saja ia merasakan kram lagi. ketakutan pun muncul dan sekuat tenaga mencoba menepiskan kejadian menyakitkan yang baru saja datang.
"Sayang, Mamah tidak apa-apa. Baik-baik yah di dalam sana, mulai saat ini kita akan hidup berdua saja." Gumamnya menunduk ke bawah.
Satu tendangan dari sang buah hati meresponnya cepat. Bersamaan dengan itu cairan bening terus meluncur tak tertahankan. Ia berusaha tegar dan kuat untuk bisa bertahan demi sang jabang bayi. Setelah keluar dari rumah suaminya ia masih belum bisa memikirkan apa yang akan dilakukan ke depannya. Namun, menghindari sumber rasa sakit menjadi tindakan terbaik yang bisa Alina lakukan sekarang.
Sedangkan di kediaman Azam, Sarah diam mematung di dalam kamar Aqeela kala mendengar pertengkaran yang terjadi. Ia tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka dan hanya bisa mendo'akan yang terbaik. Ia tidak tahu jika saat itu juga Alina sudah tidak tinggal di sana lagi.
"Ya Allah hamba harap Engkau memberikan perlindungan dan juga kebahagiaan untuk mbak Alina."
Sebait do'a menjadi kekuatan yang bisa ia berikan.
__ADS_1