Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 140 (Season 3)


__ADS_3

Di tempat berbeda, di waktu yang sama, Alina tengah berkendara menaiki taksi bersama Raihan. Sepanjang jalan sang buah hati terus memerhatikan ibunya yang sedari tadi diam tanpa bersuara.


Keadaan tersebut sama seperti mereka meninggalkan kediaman Azam satu tahun lalu. Di mana Alina memendam perasaan terdalam tanpa memberitahu putra kecilnya.


Rasa penasaran semakin menyeruak membuat Raihan menggenggam tangan ibunya kencang. Alina yang merasakan itu pun terperangah lalu menunduk menatap langsung ke dalam manik sang jantung hati.


"Sayang," panggilnya halus.


"Apa ada sesuatu terjadi, Mah? Kenapa Mamah diam terus dari tadi? Juga, kenapa ayah tidak pergi bersama kita?" tanya Raihan beruntun.


Alina membuang napas pelan, tangan rampingnya terangakt mengusap puncak kepala Raihan pelan. Belum sempat ia menjawab pertanyaannya rasa mual itu pun kembali menghujani.


Raihan yang melihat itu melupakan rasa penasarannya dan berubah menjadi khawatir. Ia berkata kepada supir taksi untuk membawa mereka ke rumah sakit.


Tidak lama berselang ibu dan anak itu pun tiba di tempat tujuan. Buru-buru Raihan membawa ibunya masuk ke dalam untuk segera berobat.


Namun, sayangnya mereka harus mengantri terlebih dahulu dan duduk di kursi tunggu. Dengan setia Raihan menggenggam hangat tangan Alina.


Sang empunya tersenyum lemah menatap wajah tegas Raihan yang begitu mencemaskan dirinya.


"Sayang, kamu tidak usah khawatir. Mamah pasti akan baik-baik saja," kata Alina mencoba menenangkan.


Tanpa memalingkan wajah Raihan menjawab perkataan sang ibu. "Bagaimana Raihan tidak khawatir, wajah Mamah pucat dan dari pagi tadi ... Mamah muntah-muntah."


Mendengar nada serius yang diucapkan putra pertamanya membuat perasaan Alina menghangat. Kejadian beberapa saat lalu seketika menguap berganti kelegaan tiada tara.


Ia pun merangkul Raihan ke dalam pelukan dan memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.


"Terima kasih," ucapnya pelan.


"Setidaknya aku masih memiliki Raihan ... anak adalah obat dari segalanya. Terima kasih ya Allah, Engkau sudah menitipkan putra sebaik dan sepintar Raihan. Semoga kelak ia menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi banyak orang," monolognya dalam diam.


Menit demi menit berlalu begitu cepat, satu persatu pasien rumah sakit yang berdatangan bergiliran untuk diperiksa. Di tengah menunggu, Raihan tidak sengaja menoleh ke samping kiri di mana lorong panjang itu memperlihatkan dua orang dewasa tengah berjalan beriringan.


Ia pun turun dari kursi seraya memanggil salah satu dari mereka.


"Ayah!"

__ADS_1


Azam yang tengah berjalan mendekat menghentikan langkah dan menatap lurus ke depan. Kedua matanya membola sempurna tidak menyangka bertemu anaknya di sana.


"Raihan?"


Buru-buru ia berlari kecil mendekati sang putra lalu menggendongnya. Raihan memeluk leher Azam kuat menyembunyikan wajah di bahu lebarnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Sayang?" tanya Azam penasaran.


Raihan melonggarkan pelukan kemudian memandangi wajah sang ayah kandung.


"Mamah ... dari tadi muntah-muntah terus. Raihan mengantarnya ke rumah sakit," jelas Raihan membuat perhatian Azam beralih pada wanita yang tengah duduk di kursi paling ujung.


Merasa di perhatikan Alina mengangkat kepala lalu menoleh ke samping melihat mantan suaminya berada. Ia beranjak saat melihat mereka berjalan mendekat.


"Alina apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Jasmin yang sedari tadi mengekori suaminya.


"Oh Mbak Jasmin, Mas Azam? Aku ... aku sedikit pusing saja," balasnya kemudian.


"Di mana suamimu?" Kini giliran Azam bertanya saat tidak mendapati Zaidan di manapun.


"Ayah tidak ikut bersama kami. Ayah-"


Melihat tatapan ibunya anak itu pun tutup mulut seraya menunduk dalam. Azam merasakan sesuatu sudah terjadi dan hanya bisa diam tidak ingin ikut campur.


"Kalau begitu kami yang akan menemanimu, iyakan Mas?" Jasmin menoleh pada suaminya.


"Em, itu benar."


"Yee, akhirnya Mamah ada teman," kata Raihan senang.


Jasmin pun membimbing Alina untuk kembali ke kursi. Dua wanita yang sempat menjadi madu itu duduk berdampingan sambil menatap lurus ke depan, sedangkan Azam membawa Raihan main beberapa meter dari keberadaan mereka.


"Apa yang Mbak Jasmin lakukan di sini? Apa Mbak sakit?" tanya Alina memulai pembicaraan.


"Mbak baik-baik saja. Mbak hanya melakukan konsultasi dengan Dokter Angga untuk melihat apa sel kanker itu masih ada atau tidak. Karena jujur ... Mbak takut penyakit itu datang lagi," jelas Jasmin.


Alina terdiam tidak langsung menjawab perkataannya. Ia menyadari jika hubungan Angga dan sahabatnya, Azam sudah mulai membaik lagi. Dalam hati ia mengucap syukur jika mereka bisa berteman seperti sedia kala.

__ADS_1


"Aku yakin Mbak sudah sembuh," balas Alina kemudian.


"Em, aamiin. Karena penyakit itu kita bisa bertemu, memang takdir tidak ada yang tahu. Allah selalu mempunyai kejutan tidak terduga," kata Jasmin lagi melebarkan senyum manis.


Alina hanya mengangguk sambil menyaksikan interaksi ayan dan anak di hadapannya. Ia juga bersyukur hubungan mereka sudah seperti orang tua dan anak sesungguhnya.


"Mbak juga bersyukur Yasmin bisa menemukan pendonor yang cocok untuk Mbak. Meskipun yah, setelahnya kejadian tidak diinginkan terjadi. Mbak minta maaf sudah banyak merepotkanmu, Alina."


Alina menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak usah minta maaf, Mbak. Karena dari kejadian itu kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik. Aku tidak pernah menyesali atas apa yang sudah terjadi."


"Kamu benar."


Tidak lama setelah itu giliran Alina pun dipanggil. Azam dan Raihan bergegas mendekat lalu mengikuti mereka masuk ke dalam.


Alina tengah berada dalam penanganan sang dokter. Wanita berhijab hitam panjang itu pun melakukan pemersiksaan yang begitu mendetail.


Beberapa menit kemudian hasil mengenai kondisi Alina mendebarkan mereka berempat. Alina termasuk ketiga orang yang menemaninya harap-harap cemas dengan hasil sang dokter.


Wanita berkacamata dengan hijab instan itu pun mengulas senyum saat membuka surat dalam genggaman. Dokter bername tag Seruni mendongak menatap ke dalam mata sang pasien.


"Selamat yah Bu, Anda tengah mengandung dan usia janin berada di minggu ketiga," jelasnya.


Alina melebarkan mata tidak percaya, mulut kemerahannya terbuka dengan jantung berdegup kencang. Saat surat itu diulurkan ke hadapannya ia langsung membawa dan membacanya dengan seksama.


Di dalamnya terdapat deretan huruf-huruf yang menjelaskan jika ia benar-benar tengah mengandung. Alat test pack yang ia gunakan tadi pun menunjukan garis dua membuatnya menitikan air mata.


"Ya Allah, terima kasih, Dok," balasnya haru.


Raihan yang masih berada dalam gendongan sang ayah pun menatap ibunya khawatir. Ia takut sesuatu terjadi pada Alina, terlebih saat Jasmin memeluknya erat dan mengucapkan selamat.


"Ayah kenapa Mamah menangis?" tanyanya yang tengah berdiri di belakang mereka.


"Mamah sedang mengandung adikmu, Sayang. Kamu senang?" tanya Azam menatap buah hatinya.


"Benarkah?" tanya Raihan terkejut.


Azam mengangguk yakin dan membubuhkan ciuman singakt di pipi kanannya. "Itu benar, Sayang."

__ADS_1


Raihan tidak kuasa membendung kebahagiaan lalu meminta turun dari gendongan sang ayah. Azam pun menuruti keinginanannya dan melihat sang buah hati mendekati Alina yang langsung membuat mereka saling berpelukan.


...Bersambung.......


__ADS_2