
Raihan mematung saat pertanyaan mendebarkan terlontar dari Moana. Manik hitam legamnya melebar membuntukan pikiran.
Bocah itu terdiam tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Di tengah kebingungan tersebut sosok tinggi berdiri tepat di belakangnya.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya titip Raihan. Saya tahu kesalahan ini sangat besar, semoga kalian bahagia selalu." Suara serak nan lemah menyapa indera pendengaran.
Setelah mengatakan itu Azam pergi tanpa memberi Moana kesempatan untuk membalasnya. Sang nyonya terkejut dan bergerak kikuk memandangi kepergian Azam dan Raihan bergantian.
"Nenek, bisakah kita istirahat sekarang? Raihan sudah mengantuk," kata Raihan sambil mengucek kedua mata.
Moana mengangguk ragu dan menggandengnya kuat. "Baiklah, ayo tidur."
Apa aku salah bicara? Pikirnya gamang. Moana terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Diusia yang masih sangat muda Raihan sudah dihadapkan dengan permasalahan yang begitu pelik. Moana kagum atas sikap dewasa yang dimilikinya.
...***...
Fajar menyingsing mengenyahkan kegelapan malam menggantinya dengan sang raja siang. Sinar mentari perlahan menyengat memberikan kehangatan pada setiap insan.
Harapan baru kian melebur menjadi satu bersama mimpi indah semalam. Akan tertulis di dalam sejarah kehidupan bagaimana kebahagiaan tercipta.
Luapan panorama suka cita sudah tidak bisa dibendung. Kata-kata tidak akan pernah bisa melukiskan seperti apa kesenangan yang mengendap dalam dada.
Status sebagai seorang istri kembali diemban. Saat pertama kali membuka mata wajah tampan sang suamilah yang tertangkap pandangan.
Denyut jantung berdegup kencang merasakan kembali jatuh cinta pada pria lain. Alina pikir sudah tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk bertahta di hatinya.
Namun, ia salah kesungguhan yang diberikan Zaidan meruntuhkan itu semua. Ia bisa duduk di singgasana cinta dan menduduki tingkat tertinggi dalam sanubari.
"Selamat pagi, Sayang. Apa wajahku setampan itu sampai kamu tidak berhenti memandanginya?" Suara serak khas bangun tidur menyapa.
Alina terpaku dan langsung memalingkan wajah, dan sedetik kemudian kelopak mata yang semula tertutup terbuka pelan. Manik cokelat susu beningnya kembali terlihat dan satu yang tertangkap pandangan pipi merona sang istri.
Zaidan langsung membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya. Perlakuan tersebut membuat Alina mendongak lagi membalas tatapan sang suami.
"Kamu menggemaskan sekali, sepertinya ... aku tidak bisa membiarkanmu keluar kamar hari ini," godanya membuat Alina memberikan cubitan kecil di perutnya.
"Aw sakit, Sayang."
__ADS_1
"Berhenti menggodaku, Mas. Menyebalkan sekali." Bibir ranumnya mengerucut seraya memberikan tatapan tajam.
Zaidan tertawa pelan dan seketika itu juga menarik tubuh Alina merapat padanya. Gesekan yang terjadi di antara kulit mereka mengingatkan keduanya pada aktivitas semalam dan juga setelah melaksanakan kewajiban.
Wajah Alina dan Zaidan pun merah padam serta meyakini diri sendiri jika mereka sudah benar-benar sah menjadi suami-istri.
Pernikahan kedua Alina begitu mendebarkan dan penuh keharuan. Ingatannya pun kembali pada acara tadi malam.
Ia sudah mengacaukan pesta dengan keadaannya yang tidak bisa dikontrol. Ia tiba-tiba saja merasa sesak setalah mendengar perkataan tajam Azam.
Keheningan yang tercipta membuat ia semakin overthinking. Ia menengadah melihat dagu tegas sang suami. Perasaan tidak enak seketika menyapa kuat membuatnya semakin bersalah.
"Mas," panggilnya.
"Hm? Apa sayang?" tanya Zaidan hangat.
"Aku ... aku minta maaf sudah mengacaukan pesta pernikahan kita kemarin. Aku juga sudah mempermalukan keluargamu, Mas. Aku-"
"Sayang." Zaidan merenggangkan pelukan dan beralih menangkup pipi sang istri.
Alina pun mendongak melihat ketegasan serta keseriusan di sana. "Kamu sama sekali tidak mengacaukan atau mempermalukan keluarga kita. Kejadian itu tidak pernah kita duga, semua sudah menjadi bagian dari rencana-Nya."
Alina melebarkan matanya lagi tidak menyangka dengan kelakuan suami barunya. Tanpa mengatakan sepatah kata ia mengangguk pelan.
Zaidan kembali menarik pujaan hatinya dan membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di puncak kepala Alina. Lengkungan bulan sabit itu tidak kuasa dibendung dan terbentuk dengan indah di wajah ayunya.
Alina benar-benar bahagia mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik. Kejadian kemarin telah memberinya sebuah pelarajan, jika kesabaran akan berbuah manis.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembulan pagi. Semua orang bergegas menuju kantin hotel untuk menikmati sarapan.
Pasangan Zara dan Dimas sudah berada di sana duduk berdampingan dengan Naura di tengah-tengah mereka. Gadis manis itu terus berceloteh betapa bahagianya ia sekarang.
Mendapatkan ayah yang baik adalah mimpinya sejak lama. Namun, ia terus memendam keinginannya agar tidak membuat sang ibu bersedih.
"Makannya jangan sampai belepotan, Sayang." Dengan cekatan Dimas membersihkan kedua sudut gadis kecilnya.
__ADS_1
"Tuh dengarkan apa kata Papah," lanjut Zara seraya memasukan sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulut.
Naura menoleh sekilas pada sang ibu dan mengangguk semangat pada ayah barunya. "Naura akan mendengarkan apa kata Papah."
"Anak baik." Dimas mencubit pelan pipi tembab Naura.
Zara memandanginya dalam diam tidak menyangka jika buah hatinya bisa seakrab itu dengan sang suami. Namun, jauh di lubuk hatinya paling dalam ia bersyukur bisa dipersunting oleh pria sebaik Dimas yang mampu menerimanya dan Naura apa adanya.
Tidak lama berselang tatapannya pun beralih ke depan, lensa abu mudanya melebar melihat pengantin baru di sana. Zara tersenyum senang saat melihat mereka saling bergandengan tangan.
"Pengantin baru, bikin iri saja," celotehnya menahan tawa kala Alina dan Zaidan duduk di seberangnya.
Bola mata Alina mengitari meja persegi panjang yang sudah tertata rapih dengan tersajinya berbagai masakan. Ia lalu mengambilkan sepiring nasi untuk sang suami dan menatap lekat Zara tepat di depannya.
"Jika kamu tidak lupa kalian juga pengantin baru," ungkapnya.
Seketika Zara tertawa melihat wajah merona Alina, sedangkan Zaidan dan Dimas berbicara banyak hal mengenai bisnis.
Di tengah kesibukan para suami, Zara mencondongkan tubuh sedikit ke depan lalu berbisik. "Jadi, apa semalam kalian melakukannya?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba tersebut membuat Alina tersedak. Buru-buru Zaidan menjulurkan segelas air putih dan diminum sang istri sampai tandas.
Ia lalu mendelik pada Zara lalu berkata dengan suara teredam. "Apa yang kamu tanyakan?"
Lagi dan lagi Zara terkikik melihat reaksinya. "Tidak usah malu, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri."
Alina menyuapkan sesuap nasi sambil menatap tajam ke Zara. Wanita berhijab merah muda itu kembali tertawa lepas.
"Apa yang dari tadi Mamah tertawakan?" tanya Naura mengundang perhatian.
"Ah, tidak Sayang. Mamah hanya sedang menggoda Tante Alina. Bukankah Tante Alina sangat lucu?" Zara menjawil pelan hidung bangir buah hatinya.
"Em, Tante Alina memang lucu dan cantik," tutur Naura jujur.
"Terima kasih, Sayang," balas Alina menatap hangat putri sahabatnya.
Namun, di tengah kesenangan itu seketika Alina merasakan firasat tidak enak. Insting sebagai ibu beredar kala tidak mendapati buah hatinya di manapun.
__ADS_1
"Apa mamah tidak membawa Raihan sarapan?" benaknya.
...Bersambung......