Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 136 (Season 3)


__ADS_3

Tiga bulan berlalu begitu cepat, hari-hari yang telah lalu memberikan kenangan berharga. Setiap hari hanya ada kelimpahan kebahagiaan yang terus mendera.


Rasa syukur terus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi yang telah memberikan rahmat-Nya dengan sungguh luar biasa. Kali ini air mata yang hadir hanya sebagai tanda kesenangan itu dirasakan terus menerus.


Seiring berjalannya waktu pedih nan perih sedikit demi sedikit menghilang dan berganti dengan senyum keceriaan.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S Ar-Rahman: 13)


Setiap hembusan napas, setiap rezeki yang diberikan, dan setiap kesempatan untuk membuka mata kembali serta hidayah, telah Allah berikan dan hal tersebut secara cuma-cuma. Allah maha baik memberikan kebaikan kepada setiap hamba-Nya.


Nikmat-Nya sungguh luar biasa, meskipun terkadang harus dibalut dengan linangan air mata. Isak tangis kala sesak di dada begitu pengap sebagi tanda jika ujian itu datang menerjang. Namun, setelahnya kebahagiaan menyertai.


Alina menjadi salah satu dari sekian banyak cerita yang hinggap ke dalam diri setiap insan. Lika-liku perjalanan hidup sudah dilaluinya dengan penuh derai kesedihan.


Dulu, begitu banyak kekecewaan serta kepedihan dalam bayang terus menerjang, tetapi sekarang ia tengah mengecap manisnya cinta sesungguhnya.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Setelah mengantar Raihan untuk tidur, Alina berjalan menuruni satu persatu anak tangga mencari keberadaan sang suami.


"Ke mana perginya mas Zaidan? Bukankah besok kita harus pergi ke rumah mamah?" gumamnya sambil mengitari ruangan di lantai satu.


Sampai pandangannya pun berhenti tepat di sebuah pintu jati yang tidak jauh dari keberadaannya. Kedua kaki itu kembali melangkah membawanya mendekat.


"Apa mas Zaidan ada di dalam?" tanyanya pada diri sendiri.


Tangan lentik itu terulur menggenggam handle pintu dan menariknya ke bawah. Hening menyambut saat ia membukanya lebar dan hanya terlihat kursi kebesaran sang suami menatapnya.


Alina pun masuk kala merasakan keberadaan sang suami.


"Apa mungkin mas Zaidan ada di ruangan itu?" Pandangannya pun menatap lekat pintu silver yang berada di belakang lemari.


Ia kembali berjalan semakin dalam dan menemukan jika pintu tersebut setengah terbuka. Rasa penasaran semakin mendorong ia untuk mendekat dan terus mendekat.


Tidak lama berselang Alina sudah berada di sebuah ruangan yang tidak pernah Zaidan singgung. Dengan perlahan ia mencari keberadaan suaminya hingga langkah itu terhenti tepat di ujung lorong.


Sofa tunggal berwarna cokelat tua memperlihatkan bagaimana sang penghuni tengah duduk begitu berwibawa. Di tangannya terdapat selembar foto yang membuat Alina mengerutkan kening dalam.


Zaidan masih tidak menyadari jika di sana ada sosok lain yang tengah memerhatikannya. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri dngane pikiran berkelana ke mana-mana.


Helaan napas yang terhembus pelan nan dalam dari suaminya pun menghentikan langkah Alina. Iris cokelat beningnya terus memandang lurus ke arah pasangan halalnya memberikan satu tanda tanya besar.

__ADS_1


"Apa yang sedang Mas Zaidan pikirkan? Kenapa dia mendesah begitu berat?" benaknya bertanya-tanya.


"Perjanjian yang konyol." Perkataan lirih dari Zaidan kembali membuat Alina tidak mengerti.


Beberapa saat hanya ada keheningan menyapa keduanya. Karena rasa penasaran itu semakin kuat dan terus menerus mendorong untuk mendekat, pada akhirnya Alina melangkahkan kaki lagi.


"Apa yang Mas lakukan?" Pertanyaan tersebut seketika membuat Zaidan terkejut bukan main.


Ia terlonjak kaget dan langsung mendongak menatap ke dalam manik istrinya. "A-ah, Sayang?" gugupnya sambil memasukan selembar foto tadi ke dalam saku celana.


Tanpa sengaja Alina melihat potret yang ada di dalamnya dan tiba-tiba saja jantungnya berdegup tidak karuan. Ia terdiam tidak merespon apa pun lagi kala Zaidan masih memandanginya.


Senyum tercetus di wajah tampan itu, Zaidan pun menarik tangan Alina yang membuat sang empunya terlonjak dan seketika mendarat di pangkuan sang suami.


Cahaya remang dari sinar bulan yang masuk melalui jendela di atas mereka menerangi kilauan wajah keduanya. Cantik dan tampan, perpaduan sempurna mengiringi kisah seorang Alina serta Zaidan.


Keduanya saling pandang mengagumi bola mata masing-masing. Tangan yang masih di genggam suaminya di letakan di atas bahu membuat Alina mengangkat tangan kiri dan mengalungkan lengan di leher jenjang Zaidan.


Aroma citrus beradu dengan vanilla menjadi satu kesatuan harmoni yang selama ini menemani keduanya. Napas berhembus dengan tenang menarik satu sama lain untuk mendekat.


Pelan nan pasti, hangatnya benda kenyal yang saling bertubrukan begitu memabukan. Di awali dengan sentuhan lembut berubah menjadi ******* yang sedikit menggariahkan.


Deretan buku-buku yang terpajang di rak-rak menjadi saksi bisu tentang bagaimana cinta itu terbentuk. Heningnya malam menambah melodi syahdu yang terus berkecipak.


Beberapa saat kemudian kedunya saling menjauhkan wajah, pandangan mereka masih bertemu mengalirkan bulan sabit di bibir merah itu.


Zaidan memeluk pinggang istrinya posesif seraya menengadah memandangi wajah bersemu Alina.


"Kebiasaan, tidak di mana-mana, Mas selalu saja menyerangku," keluh Alina.


Zaidan terkekeh gemas dan mengecup lembut hidung pujaan hatinya. "Tidak apa-apa, lagipula kamu istriku. Kita sudah menikah dan sudah halal melakukan apa pun dan lagi ... kamu sangat menggemaskan sekali, Sayang. Aku selalu ingin memakanmu."


Dengan tingkah malu-malu kucing Alina memukul pelan dada bidang sang suami. Zaidan melenguh berpura-pura kesakitan dan memeluk pasangan hidupnya erat.


Aroma khas yang timbul dari kelenjar sang pujaan membuat ia semakin tersenyum lebar. Kepala bersurai hitam legam itu bersandar nyaman di bahu sempit Alina.


Perlahan wanita yang sudah menyandang sebagai nyonya Zaidan Zulfan itu pun mengusap surainya lembut.


"Apa yang sedang Mas lakukan di sini, hm? Ini sudah malam kenapa masih berkeliaran?" tanya Alina penasaran kala bayangan foto tadi hinggap dalam ingatan.

__ADS_1


Zaidan tidak langsung menjawab dan terdiam beberapa saat. Ia mencoba menenangkan diri mendengar perkataan istrinya barusan.


"Apa kamu menungguku di kamar? Kamu pasti membayangkan permainan apa yang akan kita lakukan malam ini, kan?"


Mendengar penuturan tersebut Alina kembali memukul dadanya dan sekarang sedikit brutal. Zaidan terkekeh senang dan semakin mengeratkan pelukan.


"A-apa yang Mas katakan? Dasar mesum." Wajah Alina semakin merah.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Lagipula apa yang kamu pikirkan, kita akan bermain game bukan?"


Alina hanya berdecih dan membiarkan suaminya melakukan apa yang ia mau. Zaidan menghentikan aksi tawanya lalu menghembuskan napas pelan.


"Aku ... aku hanya tidak bisa tidur," katanya setelah beberapa detik.


"Memang ini masih bukan jam tidur kamu, Mas," kata Alina mengingatkan.


Zaidan terperangah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia lagi-lagi membungkam mulut membiarkan keheningan mengambil alih.


Namun, Alina masih penasaran akan penemuannya beberapa saat lalu. Ia pun kembali buka suara dan masih mengusap sayang kepala suaminya.


"Sebenarnya ini ruangan apa, Mas? Kenapa selama ini Mas tidak mengatakannya padaku? Dan ... dua bulan lalu aku menemukan ruangan ini, maaf ... aku tidak mengatakan apa pun," ungkapnya.


Zaidan terpaku dan menikamti sentuhan hangat Alina. Tidak lama setelah itu ia merenggangkan pelukan dan kembali menengadah menatap manik bulan di hadapannya.


"Ruangan ini tidak istimewa, aku membangunnya hanya untuk digunakan sebagai gudang agar memudahkan menyimpan dokumen pekerjaan saja," balasnya.


"Aku juga tidak sengaja menemukan album fotomu. Mas terlihat lucu sekali saat masih kecil," jelas Alina lagi.


"A-apa?" Zaidan terlihat malu.


"Tidak usah malu, Mas. Aku sudah melihat semuanya." Alina terkikik gemas melihat tingkah sang suami.


Zaidan memerhatikannya membuat perasaan semakin menghangat. "Album foto mana yang kamu buka?" tanyanya penasaran.


Alina menunjuk ke samping di mana di sana ada rak buku besar. "Di sana, barisan paling akhir," ungkapnya lagi.


Zaidan mengikuti arah tunjuknya dan seketika kedua manik itu membola. Alina yang tidak mendengar apa pun menoleh dan menapati suaminya terkejut.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2