
Suara tumpukan dokumen yang dibanting ke atas meja bergema. Ruangan berbentuk segipanjang itu menampilkan sang pemimpin perusahaan dilanda amarah.
Wajah putihnya memerah seraya berkacak pinggang terus menatap ketiga karyawannya. Ia tidak menyangka jika kedatangannya kembali untuk bekerja mendapatkan kabar tidak mengenakan.
Ia tidak percaya jika akhirnya sang kakek mencabut semua aset yang dimilikinya. Perusahaan yang sudah sepuluh tahun ia pegang kini dialihkan.
Jabatan sebagai CEO bukan menjadi miliknya lagi. Hal tersebut membuat Zaidan tercengang dan tidak habis pikir dengan kelakuan kekanak-kanakan kakeknya.
Baru saja tiba di tempat kerja, Zaidan sudah disuguhkan dengan pemberitahuan jika kedudukannya sudah dilengserkan.
Ia naik pitam, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu cepat atau lambat kakeknya akan berontak serta melakukan yang diinginkannya.
Ia menghela napas kasar lalu mengusap wajah gusar. Pandangan itu kembali menatap ketiga pria di hadapannya sembari tersenyum lemah.
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu saya mengenai hal ini. Kalian bisa kembali bekerja," titah Zaidan kemudian.
Ketiganya saling pandang lalu menatapnya dalam. "Tapi Pak, siapa yang akan menggantikan posisi Anda sekarang?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya juga tidak tahu, tapi yang jelas tetua kami sedang mengaturnya," balas Zaidan tersenyum masam.
"Apa yang akan terjadi pada kami nanti, Pak? Sebenarnya kami lebih nyaman bekerja dengan Anda, kami takut mendapatkan pemimpin yang tidak memikirkan karyawan kecil," ujar mereka bergantian.
"Tidak usah khawatir, saya yakin siapa pun nanti yang menggantikan posisi CEO ini merupakan orang pilihan. Lebih baik sekarang kalian kembali bekerja dan jangan terlalu memikrikan masalah ini," kata Zaidan lagi mencoba meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Kami harap Pak Zaidan masih menempati posisi tersebut," sambar yang lain.
Zaidan mengangguk dan kembali memberikan senyum baik-baik saja. Ketiganya lalu mengangguk pelan lalu pergi dari ruangan.
Lagi dan lagi Zaidan menghela napas seraya mendudukan diri di kursi kebesarannya. Ia memijit pelipis pelan tidak menyangka dan menduga kejadian ini datangnya begitu cepat.
Di tengah kesendirian pintu ruangan tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik mengenakan rok mini dengan blazer hitam menyembul masuk.
Rambut panjang dikuncir kuda memperlihatkan lehernya yang jenjang. Zaidan yang tengah menutup mata pun kembali membuka kelopaknya.
__ADS_1
Kepala bersurai hitam lembutnya menoleh ke samping di mana wanita itu tengah tersenyum manis.
"Mas," panggilnya halus.
Zaidan langsung berdiri dari duduk membereskan semua kekacauan di meja. Ia menyibukan diri untuk tidak memandang wanita yang bukan mahram di sana.
"Mas," panggilnya lagi.
"Maaf Zanna, aku sibuk. Lain kali saja kita bicara." Setelah mengatakan itu Zaidan menyambar mantel yang tersampir di gantungan kayu berada di belakangnya.
Tanpa menoleh sedikit pun Zaidan terus berjalan melewati Zanna membuat wanita yang berprofesi sebagai pianis itu menghentakan kaki.
"MAS." Ia meninggikan suara dan menyambar lengan kanan Zaidan.
Seketika itu juga sang empunya langsung menghempaskan lengannya kasar. "Jangan menyentuhku kita bukan mahram ... dan lagi pakaian apa yang kamu kenakan? Jangan berpergian seperti itu, bisa mengundang hal lain yang tidak bisa kamu bayangkan. Juga ... jangan pernah menemuiku untuk hal-hal yang tidak jelas. Karena aku sudah menikah."
Zaidan pun benar-benar pergi menyisakan ketidakpercayaan dalam diri Zanna. Wanita itu cengo menatap punggung tegap sang teman kecil terus menjauh.
"Apa-apaan dia itu? Apa dia tidak tahu fashion? Dari dulu aku memang seperti ini, apa dia lupa? Wanita itu sudah merubah mas Zaidan menjadi tidak asyik lagi," gumamnya.
Sampai satu ide pun tercetus dalam benak membuat bibir merah meronanya melebar sempurna. "Aku tahu ... aku bisa menggunakan foto itu untuk membuat rumah tangga mereka berantakan. Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja, Mas. Terlebih kamu memilih wanita rendahan itu di bandingkan aku?"
"Aku tidak bisa menerimanya. Dulu, andai saja tidak ada kejadian itu kita pasti sudah menikah," gumamnya lagi dan lagi.
Zanna teringat satu tahun ke belakang di mana ia dan Zaidan hampir bertunangan. Perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga berjalan lancar sampai tiga bulan lamanya.
Namun, saat itu ia tidak ingin menikah dulu dan mengikhlaskan kariernya begitu saja. Satu tahun lalu sebagai seorang pianis ia tengah berada di puncak-puncaknya.
Ia tidak bisa mengorbankan apa yang sudah dirinya perjuangkan hanya demi sebuah hubungan serius. Namun, ternyata pilihannya salah, Zaidan memilih untuk mengakhiri hubungan mereka dan pergi begitu saja.
Zanna yang tidak terlalu memikirkannya hanya membiarkannya saja. Ia berpikir jika sampai kapan pun Zaidan akan kembali padanya. Karena bagaimanapun mereka, kedua keluarganya, sudah saling mengenal.
Maka mudah bagi ia dan Zaidan untuk bersama lagi, tetapi pada akhirnya pemikiran tersebut meleset begitu jauh. Setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu, ia mendapati Zaidan sudah menikah.
__ADS_1
Ia juga tidak menduga jika Zaidan menikah dengan wanita biasa yang jauh di bawahnya. Ia begitu tertekan jika harus dibandingkan dengan Alina.
...***...
Beberapa saat kemudian Zaidan tiba di rumah. Para pelayan terkejut mendapati sang majikan kembali begitu cepat.
Mereka juga mengerti ada permasalahan yang terjadi di keluarga Zulfan. Menyaksiakn sosoknya, maid-maid itu saling pandang dan mendorong satu sama lain untuk menjelaskan situasi yang terjadi.
Zaidan yang menyaksikan hal tersebut mengerutkan dahi, heran. Ia menyapu seluruh ruangan yang tertangkap pandangan dan merasakan hal berbeda.
"Kenapa rumah terasa sepi? Ke mana nyonya pergi?" tanya Zaidan pada para pelayannya.
Salah satu dari mereka dengan takut-takut berjalan mendekat hendak memberitahu sesuatu. "Nyo-nyonya pergi Tuan."
"Pergi? Ke mana Alina pergi?" tanyanya dengan nada suara meninggi.
"Ka-kami juga tidak tahu. Nyonya ... Nyonya hanya mengatakan pergi keluar sebentar dan tidak mau diantar supir," jelasnya.
Mendengar penuturan tersebut manik jelaga Zaidan membola. Buru-buru ia merogoh benda pintar di saku mantel seraya melemparkan tas kerja ke sembarang arah.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" tanyanya sambil sibuk menekan angka-angka.
"Ma-maafkan kami Tuan."
Zaidan menggeram dan berjalan ke halaman depan dengan ponsel di telinga. Panggilan itu pun tersambung, tapi sang empunya tidak menjawab.
Berkali-kali ia menghubungi sang istri, tetapi Alina masih belum juga mengangkat telepon. Ia sudah berada di pekarangan menatap ke depan berharap pasangannya datang.
"Ya Allah, Alina kamu ke mana, sayang?" gumamnya sambil sibuk menelepon nomor yang sama.
Jam sudah menunjukan pukul makan siang, sampai saat ini Alina pun masih belum datang. Khawatir, cemas, takut kembali menghujami perasaan.
Zaidan semakin memikirkan hal buruk kala mengingat kembali apa yang sudah menimpanya. Ia takut sang kakek bertindak gegabah dan membuat Alina beserta calon anaknya kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Ya Allah, Alina." Ia mengusap wajah gusar dan kembali menghubunginya
...Bersambung......