Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 201 (Season 3)


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Zanna, Alina tidak pernah absen menjenguknya. Bahkan Zaidan sempat melarang untuk tidak sering menemui sang pianis.


Namun, rasa simpati serta tenggang rasa yang dimiliki Alina tidak bisa menyurutkan niatnya untuk terus melihat Zanna. Karena bagaimanapun ia khawatir sekaligus cemas mengenai peristiwa yang menimpa wanita itu.


Meskipun kenyataannya mereka pernah teribat konflik mengenai pria yang sama, tetapi Alina tidak membenci ataupun dendam terhadapnya.


"Jangan terus menerus pergi, Sayang. Kasihan tubuhmu, Zenia dan Raihan membutuhkanmu juga. Besok di rumah saja, yah?" kata Zaidan melihat istrinya membuka cardigan yang baru pulang dari rumah sakit.


Alina yang tengah berdiri di depan lemari pun menoleh sekilas pada sang suami. senyum mengembang di wajah cantiknya seraya meletakan pakaian di hanger dan menyimpannya pada gantungan.


"Baiklah, aku tidak akan menemuinya besok." Alina berbalik menatap Zaidan yang tengah memperhatikannya dalam.


Seakan terhipnotis dan bagaikan ada tarikan magnet, Alina berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di depan Zaidan menyelami ketampanan sang pujaan.


Tangan kanan terulur dan menunjuk pipi putih suaminya. Jari telunjuk itu bermain di sana mengikuti lekuk muka Zaidan.


Hal tersebut membuat sang empunya mengembangkan senyum cerah. Setelah itu Alina menaiki pangkuannya dan mengalungkan kedua tangan di leher jenjang Zaidan.


Zaidan bertambah senang, bahagia tak terkira pemilik separuh napasnya mengambil inisiatif sendiri. Hatinya berbunga-bunga saat pandangan mereka saling bertubrukan.


"Karena besok Mas masih cuti setelah kejadian kemarin, apa kita bisa melakukan hal menyenangkan?" tantang Alina tersenyum menggoda.


Zaidan yang tengah menengadah semakin merapatkan tubuh dan mengalungkan tangan di pinggang Alina seduksi.


"Hm, hal menyenangkan itu ... apa maksudmu, Sayang?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


Alina yang mengerti pun mengikuti permainan sang suami. "Em, seperti itu?"


Tanpa Zaidan sangka, Alina mengecup bibir sintalnya dalam dan penuh penekanan. Ia masih menunggu apa yang hendak pasangan halalnya lagi lakukan.


Tidak mendapatkan balasan, Alina menjauhkan wajah kembali memandangi Zaidan. Bibir ranum itu mengerucut beberapa senti, merengut tajam.


"Hm? Kenapa Mas tidak membalasnya? Apa Mas sudah bosan padaku? Apa Mas membenciku? Kenapa-" ucapan Alina terputus cepat kala Zaidan langsung menyerobot mulut menawan itu yang tidak berhenti mengoceh.


Ia terus memberikan permainannya hingga beberapa detik ke depan. Setelah itu ia mengakhirinya dan menatap Alina dengan pandangan memuja.

__ADS_1


"Mana mungkin aku bosan padamu, Sayang. Aku juga tidak akan pernah bisa membencimu. Karena-" Zaidan menggantung kalimatnya membuat Alina penasaran.


Ia mencengkram kedua bahu suaminya sedikit kencang, Zaidan lalu mencondongkan tubuh ke depan tepat di samping telinga Alina.


"Karena kamu adalah candu bagiku. Aku ingin terus dan terus merasakanmu, Sayang," ucap Zaidan mengumbar kata-kata sensual.


Alina yang mendengar itu pun seketika telinganya memerah. Bulu kuduknya meremang dengan darah berdesir hebat ke sekujur tubuh.


Zaidan menaik dirinya lagi, menghadap Alina melihat reaksinya yang luar biasa. Di tengah pikiran yang masih mengambang, ia dikejutkan dengan sentuhan suaminya lagi.


Alina yang belum siap pun seketika mengalungkan tangan kembali. "Dasar, Mas Zadidan benar-benar," benaknya. Ia tersenyum dalam diam dan mengikuti setiap gerakan serta sentuhan yang diberikan.


Waktu terus berputar memenuhi tugasnya sebagai pengingat. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Kegiatan sepasang insan itu pun masih bergulat dengan segala kenikmatan dunia. Syahdu nan harmonis gelenyar kebahagiaan kembali datang memabukkan perasaan.


Kemarin ujian datang menerjang menjadikan diri untuk senatiasa bersabar serta bertawakal kepada Allah semata.


Allah menguji semata-mata, sebab sayang. Karena Allah ingin memberi sesuatu yang terbaik, tetapi Dia ingin melihat kesungguhan serta keyakinan hamba-Nya.


...***...


Pagi hari yang cerah mengawali hari dengan senyum penuh suka cita. Langit biru membentang serta awan putih menghias menemani sang raja siang.


Raksi kebahagiaan kembali melebur di kediaman keluarga kecil Zaidan. Mereka lagi-lagi harus pindah ke kediaman kemarin meninggalkan apartemen yang baru ditempati.


Aroma penggugah selera menarik penghuni yang lain. Alina lagi-lagi berkutat di hadapan kompor menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Meskipun di sana ada asisten rumah tangga, tetapi dalam urusan makanan Alina lebih senang menyiapkannya sendiri.


"Mamah." Suara serak menyapa.


Alina mendongak mendapati putra pertama tengah memandanginya. Manik bulan itu melebar, bibir kemerahannya pun terbuka.


"Mamah ada di rumah?" heran Raihan. Karena sudah beberapa hari ini Alina selalu pergi setelah menghabiskan sarapan bersama.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Mamah ada di rumah," balas Alina mengembangkan senyum.


Raihan mendekat lalu duduk di meja makan masih memperhatikan sang ibu. Sejak diungsikan ke rumah nenek sambungnya, ia jarang bertemu Alina.


Ibunya itu akan datang jika waktu Zenia minum susu tiba. Anak itu tidak mau meminum susu dari botol membuat Alina harus bolak-balik ke sana.


Karena ia tidak ingin kedua anaknya terpengaruh akibat permasalahan menimpa rumah tangga mereka. Baru tiga hari lalu Raihan dan Zenia kembali berkumpul bersama orang tuanya di satu rumah.


"Apa yang terjadi kali ini? Apa Mamah dan ayah sudah berhasil menyelesaikannya?" Bocah yang kini sudah menginjak sembilan tahun itu pun semakin peka terhadap keluarganya.


Raihan mengerti bagaimana sikap Alina jika tengah menghadapi sebuah masalah. Sang ibu tidak ingin ia ataupun adiknya yang masih bayi ikut terkena dampaknya.


"Mamah jangan memendamnya sendiri. Aku sakit saat melihat Mamah menangis minggu kemarin. Aku juga ingin berbagi kesedihan dengan Mamah," kata Raihan hangat.


Alina terkejut, tidak menyangka sang buah hati semakin terlihat dewasa. Ia mematikan kompor lalu bergegas memeluk Raihan.


Ia membelai punggung sempitnya hangat. "Terima kasih, Sayang. Karena sudah mau mengerti keadaan Mamah. Sungguh, tidak ada yang perlu Raihan khawatirkan ... Mamah dan ayah berhasil mengatasinya."


"Baguslah kalau begitu, Raihan tidak ingin melihat Mamah menangis lagi seperti kemarin," ungkapnya membalas pelukan.


"Em, Mamah janji ... Mamah tidak akan menangis lagi."


"Jika ada sesuatu katakan padaku. Jika ayah tidak ada di sini, aku yang harus menjaga Mamah dan adik bayi," kata Raihan lagi.


Alina tidak kuasa membendung kebahagiaan dan seketika mengecup puncak kepala anaknya sayang. Ia benar-benar bersyukur dianugerahi putra yang sangat mengerti dirinya.


"Baiklah, Mamah mengerti. Karena kamu adalah pelindung bagi Mamah dan adik bayi. Mamah sangat menyayangimu, Sayang," ujar Alina penuh perasaan.


"Raihan juga sayang Mamah."


Pemandangan ibu dan anak itu pun menjadi tontonan menarik bagi asisten rumah tangga. Mereka ikut terharu dengan kedekatan keduanya. Alina dan Raihan memiliki hubungan yang sangat manis dan hangat.


Siapa pun yang melihatnya bisa terbawa suasana, termasuk penghuni rumah berlantai dua tersebut. Keduanya membawa pengaruh positif yang bisa membuat orang lain senang.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2